Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

 Setiap Negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif terhadap ruang udara di atas wilayahnya, dan tidak dikenal adanya hak lintas damai (sesuai dengan Konvensi Geneva 1944). Membaca pernyataan tersebut maka akan timbul beberapa pertanyaan penting bagi kita rakyat Indonesia. Seberapa luaskah ruang udara yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia? Seberapa kuatkah kemampuan bangsa Indonesia untuk menjaga wilayah dirgantaranya?

Berbicara tentang batas wilayah ruang udara suatu negara maka tidak lepas dari istilah GSO (Geo Stationery Orbit). GSO adalah ruang udara dimana suatu ruang udara yang dapat digunakan sebagai garis orbit satelit. GSO hanya berada pada ruang udara yang berada di atas garis Khatulistiwa seperti Indonesia, Kolombia, Ekuador, Brazil, Zaire, Uganda dan Kenya. Sedangkan Menurut Prof DR H Priyatna Aburrasyid, SH (mantan  Direktur International Institue of Space Law) panjang GSO yang melintas di atas ruang udara NKRI sejauh sekitar 35 ribu kilometer.

 

                           Credit Foto by Google

Melihat betapa luasnya GSO yang kita miliki, tidak salah jika penulis katakan bahwa kekayaan NKRI di wilayah udara pun sangat besar. Seandainya negara-negara maju yang menggunakan ruang udara NKRI memberikan kontribusi untuk devisa negara. Semua peralatan seperti televisi, radio maupun GPS bahkan persenjataan militer mutakhir pasti menggunakan  teknologi yang berkaitan dengan satelit. Maka sangat besar keuntungan yang akan masuk ke kas negara. Kenyataan berkata sebaliknya, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kita dimasa lampau maka hukum rimba yang berlaku “first come first serve”.

Harus diakui ketidakmampuan bangsa kita sampai saat ini untuk menjaga dan memanfaatkan kekayaan dirgantara Indonesia yang begitu besar. Semua tidak lepas dari peran kekuatan militer yang kita miliki. Kemungkinan besar bangsa yang besar ini tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa di dunia karena tidak mampu bersaing dalam hukum rimba yang telah berjalan puluhan tahun karena kekuatan militer yang masih lemah. Jika dilihat dari data yang ada saat ini, memang alutsista yang Indonesia miliki tergolong banyak, tetapi masih kurang banyak jika dibandingkan dengan luasnya negara ini.

Tidak terlalu muluk-muluk sebenarnya jika kita bermimpi NKRI akan menjadi kekuatan utama di dunia dan menguasai kekuatan dunia, karena potensi yang kita miliki memang sangat besar. Dengan menguasai ruang udara yang seharusnya milik kita maka semua negara-negara didunia akan sangat bergantung pada bangsa yang bertuah ini. Karena Kekaisaran Mongol saja membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat menguasai ¾ wilayah Euroasia dan kekhalifahan muslim dimasa lampau pun untuk dapat menguasai konstantinopel membutuhkan berabad-abad. Jadi bukan mustahil NKRI pun bisa jika mempunyai komitmen berbangsa dan tanah air.

“Hanya sebuah pemikiran awam seseorang yang ingin menjadi lebih baik dari hari ini”

 

Wassalam

SevenEleven

Advertisements

Hasrat Untuk Berubah

Hasrat Untuk Berubah

Ketika aku masih Muda aku bebas berkhayal…

 

Aku bermimpi ingin dapat merubah Dunia…

 

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifan…

 

Aku dapati bahwa Dunia tak kunjung berubah…

 

Maka cita2 itu ku persempit untuk dapat merubah negeriku…

 

Namun tampaknya hasrat itu pun tanpa hasil…

 

Ketika usiaku semakin senja…

 

Dengan semangat yang masih tersisa ku putuskan untuk merubah keluargaku saja…yaitu orang2 terdekatku…

 

Tapi celaka!!mereka pun tak mau di rubah….

 

Kini…sementara aku terbaring tanpa daya dan kursi roda menjadi sahabatku…

 

Tiba2 kusadari…

 

Andaikan saat itu yang ku rubah adalah diriku sendiri…

 

Mungkin saat ini aku telah menjadi panutan bagi keluargaku…

 

Kemudian dengan inspirasi dan dorongan dari mereka mungkin aku bisa merubah negeriku…

 

Kemudian siapa tahu aku dapat merubah dunia menjadi lebih baik…baik..dan baik sekali….

 

Note : Perubahan dimulai dari diri pribadi masing masing…Ayo…sebelum terlambat!!!

 

Dikutip dari tulisan dinding di sebuah padepokan di Kota Hujan…Indonesia…

Menjadi Tamu di Negeri Tercinta

Menjadi Tamu di Negeri Tercinta

TNI Angkatan Udara mempunyai peran penting dalam pengamanan aset Negara. Khusus untuk Pulau Sumatera pengamanan aset negara menjadi tugas dan tanggung jawab dari Lanud Pekanbaru yang memiliki Alutsista sebagai unsur kekuatan udara. Skadron Udara 12 dengan pesawat Hawk 109/209 buatan BAe ( British Aerospace ) secara rutin melaksanakan Operasi Patroli Udara. Skadron Udara 12 merupakan satu-satunya Skadron Udara milik TNI Angkatan Udara yang menjaga keseluruhan Pulau Sumatera dan perairannya.

Riau adalah salah satu provinsi NKRI yang berada di Sumatera Bagian Timur memiliki banyak aset Nasional yang bersifat sangat strategis dan menyangkut hajat hidup bangsa Indonesia. Provinsi tersebut terdapat kilang minyak bumi maupun gas alam walaupun dalam pengelolaannya diserahkan kepada PT. Chevron milik asing. Secara geografis, Riau pun berada ditengah-tengah pusat jalur perdagangan dunia Selat Malaka. Kualitas minyak dari hasil kelapa sawit di wilayah Riau bisa dikatakan sangat baik, itu semua dikarenakan mineral bumi daerah Riau memiliki kandungan minyak yang cukup besar. Jika seseorang berkunjung ke daerah Riau untuk pertama kali kemudian mandi, akan sangat terasa dikulit air dari dalam tanah berminyak. Kemungkinan besar masih banyak kandungan minyak bumi dan gas alam yang belum dieksplor di daerah tersebut.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini banyak rakyat Riau yang menjual aset tanah mereka dalam jumlah yang cukup besar kepada pengusaha yang berasal dari Malaysia dan Singapura. Dengan dalih akan digunakan untuk perusahaan kelapa sawit, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, lama-lama lahan yang begitu luas dan mengandung mineral yang besar akan dikuasai oleh orang asing. Dalam kata lain, kita akan menjadi tamu di negeri sendiri. Padahal salah satu tujuan ditempatkannya sebuah Skadron Udara tempur di Riau adalah untuk menangkal segala ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Kondisi demikian sudah cukup rawan apabila sebagian besar tanah rakyat dibeli pihak asing.

Untuk pulau besar seukuran Sumatera, layaknya memiliki lebih dari satu Skadron Udara tempur. Paling tidak satu Skadron tempur di Sumatera Utara, satu Skadron Udara tempur di Riau, Satu Skadron Udara Intai Maritim di Riau dan satu Skadron Udara Angkut berat di Sumatera Selatan. Mengaktifkan kembali Denrudal yang ada di Dumai dan Banda Aceh, meng-upgrade Radar GCI dan Early Warning di Lhokseumawe, Dumai dan Tanjung Pinang.

Dengan kekuatan pertahanan yang kuat diharapkan pihak asing akan berfikir beribu-ribu kali untuk menguasai aset, tanah dan sumber daya alam yang berada dalam wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentunya dengan menambah pendidikan bela negara dan cinta tanah air kepada masyarakat sekitar bahwa kedaulatan Bangsa menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia sebagaimana tercantum dalam Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.

Wassalam

SevenEleven

Garudaku

Garudaku

Line up center runway…nose wheel straight…hold brake and slam…sorti kedua dari misi telah airborne tidak ada lagi yang dipikirkan selain harus dapat membawa pesawat ini kembali dengan selamat dan misi sukses. Dua pesawat tempur melesat dengan kecepatan 400 knot atau sekitar 800 km/jam di ketinggian 500 ft agl. Diberitakan telah berlayar sebuah kapal Greenpaeace berbendera Belanda di perairan Selat Malaka tanpa Security Clearence dari pihak NKRI.

Sebuah misi Recce bertujuan untuk memberi tahu pada dunia bahwa Indonesia memiliki Kekuatan dan tidak ingin dilecehkan sedemikian rupa. Tinggal landas dari salah satu Pangkalan Udara di Riau dan hanya membutuhkan lima menit pesawat sudah menemukan kapal berbendera Belanda tersebut. Identifikasi, kapal berwarna putih bermotif hijau tersebut ternyata memiliki sebuah helly pad. Tetapi yang mengkhawatirkan adalah helly pad tersebut tidak ada sebuah helikopter pun di atasnya dan menandakan helikopter milik greenpeace tersebut telah mengudara. Jika kapal tersebut memasuki Selat Malaka tanpa ijin, dapat dipastikan helikopter tsb pun terbang tanpa ijin.

Apa pun yang terjadi belum memungkinkan untuk mengeksekusi kapal tersebut karena harus melalui beberapa birokrasi tingkat atas untuk melakukannya. Ditambah lagi kapal asing tersebut tidak bersenjata. Tetapi walaupun tidak bersenjata, memasuki wilayah NKRI tanpa ijin telah mengganggu kedaulatan Indonesia pada umumnya dan Black Panther muda pun “terbakar” Nasionalismenya. Menunggu perintah adalah pilihan yang paling tepat. Beruntung dengan tail number “tango tango” (TT) yang artinya adalah tempur taktis yang berarti sasaran tempur taktis yang cenderung diam dan tidak bergerak cepat. Sehingga sambil menunggu perintah sasaran tidak akan bergerak jauh.

Setelah menunggu beberapa menit dengan loiter 25 menit, ruang operasi di home base mem-publish perintah untuk Return to Base. Rupanya dalam proses sortie pertama dan dilanjutkan pada sortie kedua koordinasi telah dilakukan pihak Greenpeace ke pihak Indonesia. Perintah untuk Return to Base tidak dapat dihindari. Sebagai tentara langit berjiwa Sapta Marga, perintah adalah kewajiban. Sambil berputar 180° dan mengambil ancang-ancang melakukan low pass di atas kapal putih bercorak hijau tersebut. Paling tidak dengan getaran sub sonic dari pesawat dapat membuat peralatan avionic dari kapal tersebut mengalami gangguan. Suatu hal yang pantas karena telah melecehkan kedaulatan NKRI.

Swa Bwana Pakca

Wassalam

SevenEleven

Sesuatu Yang Pernah Ada dan Hilang ( Kenapa Tidak Dilanjutkan )

Sejak Selat Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511, secara tidak langsung bangsa besar yang pernah mengalami kejayaan mulai terkubur dan hilang di percaturan politik benua ini dan menjadi bukti bahwa begitu besarnya peranan Selat Malaka dalam percaturan politik dan ekonomi bangsa-bangsa di Nusantara. Di atas bumi dan laut Nusantara yang saat ini bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dianugerahi oleh Sang Khalik sebuah daerah strategis diantara dua benua dan dua samudera.

Menurut Nurani Chandrawati (pengamat politik dari UI) ’’Selat Malaka merupakan jalur perdagangan penting. Amerika Serikat  ingin terlibat dalam penjagaan keamanan di Selat Malaka dari piracy terrorism. Sebab, Amerika khawatir  keamanan energi mereka diganggu di Selat Malaka”.

Kawasan Timur Tengah adalah pensuplai minyak terbesar di dunia, dengan urutan terbesar adalah Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab. Sedang Indonesia adalah satu-satunya jalur pelayaran yang paling ekonomis untuk dapat mensuplai minyak menuju ke Negara-Negara Industri Raksasa seperti China, Jepang, Korea, Australia dan Benua Amerika. Bila dibandingkan dengan pelayaran memalui jalur Samudra Altantik sangatlah riskan karena harus melewati jarak panjang dengan ombak besar tanpa ada daratan yang aman jika terjadi kondisi emergency. Minyak adalah komponen inti bagi Negara-Negara tersebut dalam mengembangkan Industri militer maupun industri strategis lainnya.

Terdapat empat titik strategis yang dimiliki Indonesia yang dapat dilalui kapal-kapal tangker pembawa minyak tersebut. Adalah Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Perairan Laut Banda. Sangat disayangkan pengelolaan kawasan strategis tersebut belum optimal karena selain sering terjadi perompakan oleh gerakan-gerakan teroris di kawasan tersebut telah ikut serta Armada ke Tujuh milik Angkatan Laut Amerika Serikat lengkap dengan kekuatan udaranya yang berdalih membantu keamanan jalur perdagangan Dunia. Selain itu Negara Singapura pun dengan sistem militer paranoidnya telah menguasai ruang udara di sekitar Selat Malaka, terbukti semua pesawat terbang yang terbang melalui atas Selat Malaka wajib melapor kepada controller di Changi Airport sehingga sangat membatasi pergerakan pesawat militer Indonesia dalam pelaksanaan Operasi Patroli Udara. Sebenarnya hal tersebut tidak perlu ada jika NKRI memiliki Angkatan Perang Negara Kepulauan seperti halnya pernah dilakukan Negara Majapahit dimasa Kejayaannya.

Sebuah pencerahan dan pengharapan yang amat besar dengan berkembangnya industri militer Nasional yang pernah jaya dimasa orba kemudian menjadi lesu karena krisis keuangan negara dan saat ini mulai bangkit kembali dengan dikirimnya putra-putra terbaik bangsa ke Negara Korea Selatan untuk sebuah proyek Korean/Indonesian Fighter Experimental. Yaitu sebuah proyek pembuatan pesawat tempur canggih dengan kemampuan All Weather Attack dan Multirole Fighter Aircraft. Di era modern untuk menjadikan sebuah Angkatan Perang Negara Kepulauan maka TNI AU dan TNI AL harus kuat dan dikembangkan secara maksimal. Dengan memiliki industri pesawat tempur nasional yang mandiri sehingga tidak perlu bergantung kepada Negara-Negara lain.

Satu pertanyaan yang semoga menggugah semua yang membaca artikel ini. Sanggupkah kita melaksanakan komitmen ini?

Berikut kita simak Amukti Palapa sang Patih Gajah Mada :

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”

Terjemahannya,
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Majapahit adalah sebuah negara kesatuan dengan kekuatan Maritim yang handal. Saat ini kita perpijak di atas bumi dan laut yang sama dengan Negara Majapahit. Kenapa tidak kita lanjutkan saja sesuatu yang pernah membuat bangsa ini jaya?  Perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi menjadikan kekuatan udara sebagai unsur penting dalam konsep Angkatan Perang Negara Kepulauan. Suka atau tidak perkembangan zaman tidak dapat ditolak. Tanpa mengecilkan arti yang lain, mari kita berfikir tidak sektoral. Semoga Angkatan Perang Negara Kepulauan dapat terwujud di Negara Kepulauan NKRI.

Wassalam

SevenEleven

Ingin Sesuatu Yang Lebih Baik Untuk NKRI ( National Air Power )

“Keunggulan Udara Akan Selalu Dapat Dicapai Dengan Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”. Slogan tersebut dapat kita baca saat kita memasuki gerbang Akademi TNI Angkatan Udara di bawah tugu Aruna dan Aruni. Langit bukanlah habitat manusia, karena manusia diciptakan tanpa sayap. Terinspirasi oleh burung yang dapat bergerak bebas di udara maka Wright bersaudara menciptakan “besi terbang” yang lazim kita ketahui saat ini bernama pesawat terbang. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin mutakhir saat ini pesawat terbang telah menjadi persenjataan handal  dalam dunia kemiliteran. Udara adalah ruang tanpa batas, dengan pesawat terbang yang canggih banyak Negara-Negara di dunia berlomba-lomba untuk mengembangkan Air Power baik untuk defensif maupun ofensif.

Air Power pertama kali diaplikasikan pada perang dunia kedua  saat pengeboman Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat kepada Kerajaan Jepang. Jepang menyerah tanpa syarat dan menjadi tonggak sejarah bagi Amerika Serikat menjadi sebuah Negara Adi Daya karena memiliki Air Power yang kuat. Ditahun 1990an Amerika Serikat telah berhasil pula  membombardir Negara Irak yang kita kenal dengan “Perang Teluk”. Dua kasus tersebut telah menunjukan betapa pentingnya peran Air Power untuk dapat menyusup jauh di belakang pertahanan lawan maupun sebagai penangkal, penghancur, memecah belah konsentrasi kekuatan lawan dan sebagai pengalih gerakan kekuatan lawan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah Negara kepulauan yang memiliki kurang lebih 17.500 pulau mulai dari Sabang sampai dengan Merauke. Sudah seharusnya kita mengembangkan Angkatan Perang Negara Kepulauan. Khususnya bagi TNI Angkatan Udara dalam menjaga wilayah yuridiksi Nasional mutlak untuk mengembangkan National Air Power yang dapat menjadi kekuatan penangkal dari masuknya berbagai ancaman dari luar perbatasan. “Jika kita bisa menangkal kekuatan musuh sebelum mereka memasuki Negara Indonesia kenapa harus menunggu mereka datang dan membombardir kita”. Defensif bukan berarti menunggu, tetapi tetap bertahan sampai titik darah penghabisan dengan cara menghalau, mengusir maupun menghancurkan lawan yang terdeteksi mengancam kedaulatan NKRI.

Definisi Air Power

Air power selalu sulit untuk di definisikan, tergantung sejauh mana pemahaman seseorang terhadap Air Power tersebut. British Royal Airforce mendefinisikan Air Power sbb :

“The ability to project power from the air and space to influence the behaviour of people or the course of events”

Kemampuan untuk mengerahkan kekuatan udara guna mempengaruhi kebiasaan emosi, sikap, tingkah laku, opini dan motivasi musuh atau untuk tujuan tertentu.

Air Power menurut William Mitchel, bahwa Air Power adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu di udara termasuk di dalamnya angkutan udara dan tidak ada satu titik pun di dunia ini yang luput dari pengaruh kemampuan pesawat terbang, dengan Air Power dunia akan lebih mudah di kuasai.

Sedangkan Alexander P. De Seversky mengatakan Air Power ditentukan setelah pesawat take off, ketika pesawat tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kekuatan darat dan laut maka hal tersebut bukanlah Air Power, sebaliknya jika pesawat tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi Angkatan Udara dalam mencapai tujuannya maka pesawat tersebut merupakan perangkat Air Power.

Karakteristik Air Power

1. Kecepatan. Kekuatan udara dapat menuju sasaran/target operasi ( troublespot ) dengan cepat sebagai wujud kehadiran militer di Negara berdaulat dan perannya dapat berubah – rubah menyesuaikan kondisi dan kebutuhan saat itu baik sebagai attacker, defence maupun support.

2. Ketinggian. Kekuatan udara jauh dari serangan darat maupun laut.

3. Daya Jangkau. Operasi Udara dapat dilaksanakan dari pangkalan yang jauh dari kekuatan militer musuh. Sebagai contoh, saat Operasi NATO, British RAF ( Royal Air Force ) menerbangkan pesawat tempur Tornado dari pangkalan di German untuk menyerang sasaran di Kosovo. Misi tersebut didukung pula dengan pengisian bahan bakar di Udara.

Keterpurukan perekonomian bangsa sejak pertengahan tahun 1997 telah membawa Bangsa Indonesia pada posisi terjepit. Dapat dimaklumi jika pemerintah lebih konsentrasi pada sektor kesejahteraan Rakyat Indonesia dan berimbas negatif terhadap penyediaan suku cadang alutsista pertahanan Negara. Kondisi yang kurang menguntungkan bagi TNI pada umumnya dan juga bagi TNI AU pada khususnya sebagai pelaksana pertahanan udara yang sangat membutuhkan suku cadang untuk mempertahankan kesiapan operasinya. Ditambah lagi dengan adanya beberapa alutsista yang sudah sangat uzur usianya dan memerlukan peremajaan maupun pergantian dengan unit yang lebih baru dan canggih belum dapat terpenuhi dikarena biaya belanja negara untuk pertahanan udara sangat mahal dan menyebabkan Air Power yang kita miliki lambat laun semakin melemah. Kurang lebih satu dekade setelah kemerosotan ekonomi bangsa TNI AU terpaksa harus meng-grounded beberapa alutsista yang dinilai sudah terlalu uzur dan banyak memakan korban putra-putra terbaik bangsa, bahkan yang terparah adalah pada tahun 2009 dimana dalam satu tahun terjadi empat accident yang menyebabkan pesawat total lost dan memakan korban yang tidak sedikit. Merupakan memori pahit bagi sejarah perkembangan kedirgantaraan Indonesia.

Apa yang terjadi tentunya tidak pernah melemahkan semangat juang serta moril tentara langit yang kita banggakan. Kita yakin bahwa ada saat terjatuh pasti ada saatnya bangun kembali. Dengan mulai membaiknya perekonomian bangsa, pemerintah pun mulai memperhatikan kesejahteraan prajurit serta meng-upgrade beberapa alutsista TNI AU. Harapan begitu besar dan bukan sekedar pengharapan. 10 buah pesawat multirole fighter  telah hadir di langit Indonesia, kehadiran pesawat canggih buatan Rusia tersebut cukup menggetarkan nyali tetangga serumpun maupun tetangga dari belahan bumi selatan. Trauma dengan kebesaran Air Power Indonesia di tahun 60 an, sehingga terlihat sekali para tetangga tersebut euphoria belanja senjata yang secara analisa untuk mencegah kebangkitan kembali “Macan Asia Tenggara” dari tidur panjangnya. Ditambah lagi tahun 2012 akan datang pesawat Super Tucano yang akan mengisi kekosongan di Skadron Udara 21, kemudian pergantian pesawat uzur MK 53 HS Hawk dengan pesawat buatan Korea T-50. Penambahan pesawat F 16 buatan Amerika Serikat serta proyek yang masih kita mimpikan yaitu KFX/IFX sebuah kolaborasi anak-anak bangsa dengan Negara Korea Selatan. Demikian pula dengan penambahan pesawat angkut dan helikopter. Bukan hanya pesawat saja, tetapi di beberapa tempat/spot telah dipasang Radar GCI maupun Early Warning yang setiap saat bisa meng-cover seluruh wilayah kepulauan Indonesia dan mencegah masuknya ancaman dari luar perbatasan Negara Indonesia.

“I see the work of those at the less glamorous but equally critical end,

Keeping the air bridge up and running, keeping our forces supplied,

The medics, the mechanics, the armourers, the analysts, the air traffic controllers.

All the support staff that keep the organisation delivering at the sharp end

It’s not all about fast jets.”

Kata-kata diatas bukanlah buatan penulis, tetapi menurut penulis sangatlah bagus dan dikutip dari paparan Air Power milik British Royal Airforce. Yang intisarinya adalah, untuk menciptakan Air Power yang kuat harus satu paket dengan alutsista pendukung lainnya seperti persenjataan, dukungan spare part, radar dan lainnya agar apa yang menjadi tugas pokok organisasi dapat berhasil dengan sempurna.

Memiliki National Air Power yang kuat seakan akan sudah di depan mata dan betapa bangganya bisa menjaga keutuhan NKRI secara maksimal dengan didukung alutsista yang memadai. Kedepan para tetangga harus berfikir ribuan kali untuk mengklaim wilayah NKRI dan rakyat merasa terlindungi baik di dalam maupun di luar negeri karena tidak perlu ada saudara saudara kita yang merantau di negeri orang yang dilecehkan lagi. Keberhasilan berawal dari usaha, usaha berawal dari rencana dan rencana berawal dari angan-angan. Semoga keutuhan NKRI tetap terjaga.  Kerajaan Sriwijaya telah menjadi Majapahit, Kerajaan Majapahit telah menjadi NKRI dan mari kita jaga agar NKRI tetap HARGA MATI.

Wassalam

SevenEleven

“Yang Terus Bergerak Maju”