11TH Junior Staff Course Begins Today

By Siti Zahira Hj Abu Bakar (http://www.mindef.gov.bn/)

Sungai Akar, Tuesday 13 September 2011 – The 11th Junior Staff Course (JSC) for middle officers begins today with the opening ceremony by the Commander of the Royal Brunei Navy (RBN), First Admiral Dato Seri Pahlawan Haji Abdul Halim bin Haji Mohd Hanifah.

Junior Staff Course is designed for officers of both the Royal Brunei Armed Forces (RBAF) and foreign Armed Forces. The course is held in English language and lasts for 14 weeks. The aim of the course are to prepare officers capable to undertake the position of a junior staff officer for Command or Staff appointments in their respective organisation; raise professional qualification, educate participants’ leadership and team members’ qualities; introduce the principles of modern warfare, commanding and management and teach their practical application; implant faithfulness to the homeland, appreciation of the values of Royal Brunei Armed Forces.

20 officers are enrolled in the course, 15 of whom are from the RBAF, one from the Royal Brunei Police Force while 4 are foreign participants from the Republic of Indonesia, Malaysia, the Republic of the Philippines and the Republic of Singapore. The course programme which will be conducted by the Leadership and Management Centre, Defence Academy Royal Brunei Armed Force includes lectures, seminars, exercises, practical activity, tests, examinations and an overseas study trip.

The course participants will be taught the subjects of professional knowledge, leadership and management, communication inclusive of the competency of Information Communication Technology and operational planning. During the overseas study trip, the officers will simulate topics they learned in the classroom to test their critical thinking and planning. Throughout the course, the junior officers would be continuously assessed on their performance, both as an individual and as a member of the team. Moreover, Junior Staff Course is also a pre-requisite for the promotion of Captain to Major. ——————————————————————————–

Advertisements

Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Credit Foto by http://www.wartanews.com

Memang belum rejekinya Timnas kita menang melawan Bahrain maupun Iran. Rakyat dan seluruh pendukung Sang Merah Putih sangat  menginginkan Dwiwarna berkibar di kancah Piala Dunia yang akan datang.  Ada aksi maka selalu akan ada reaksi, puluhan tahun para pendukung timnas menantikan kemenangan Indonesia dan tentunya bukan harapan para pejuang lapangan hijau untuk selalu kalah, karena terlihat usaha yang begitu keras walaupun diluar kemampuan. Kemudian, ada apa dengan suporter kita? Membakar mercon dan menakut-nakuti pemain Barhain kah? Saya rasa pemain Bahrain cuma bisa tertawa mendengar mercon meletus, toh mereka dari tanah Arab yang notabene kanan-kiri depan belakang Negaranya sering meletus bom-bom perang.

Beberapa pertanyaan muncul dari hasil pertandingan Sepak Bola antara Indonesia dan Bahrain. Apakah Bangsa kita memang ditakdirkan menjadi bangsa yang selalu kalah? Tegas saya mengatakan “TIDAK”!! karena sejarah membuktikan bahwa  Bangsa kita termasuk salah satu Bangsa yang tidak bisa ditaklukan oleh tentara Khan Agung dari Mongol. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Bangsa kita tercipta dengan kodrat sebagai Bangsa yang bodoh? “TENTU TIDAK”. Faktor Habibie, metode Habibie merupakan teori yang digunakan Perusahaan Penerbangan seperti Airbus maupun Fokker, sedangkan Habibie adalah orang asli Indonesia dan masih banyak Habibie-Habibie lain di bumi Indonesia ini. Pertanyaan ketiga adalah, apakah Bangsa kita termasuk keturunan Bangsa Barbar yang brutal? “TIDAK”. Bangsa kita adalah keturunan dari ras Mongoloid, sedangkan bangsa barbar adalah dari ras kaukasoid.

Kemudian mengapa dalam hampir setiap pertandingan sepak bola bangsa kita sering kalah, bahkan terakhir ketika melawan Bahrain di “kandang” sendiri pun kalah sehingga membakar emosional supporter yang akhirnya membakar mercon kampungan. Jangan jadikan penonton sebagai kambing hitam dengan mengatakan “mental pemain turun, fisik melemah karena pertandingan ditunda 15 menit sehingga badan dingin, moril pemain turun karena suara mercon dll”, karena dari awal pertandingan berlangsung aman dan supporter pun 100% mendukung  timnas Indonesia. Realitanya dukungan dijawab dengan Gol  1-0 diparuh waktu pertama dan Gol 0-2 dibabak kedua. Kembali ke teori antara aksi dan reaksi. Rakyat yang sudah hidup susah hanya ingin sekedar melihat Bendera nya berkibar di Brazil saja masa juga tidak bisa???

Ayo…Bangkit! Bangkit! Bangkit!

Sepak Bola Indonesia harus diawaki oleh pemain-pemain yang pandai dan fisik prima sehingga bisa mengatur strategi serta mengolah bola dengan taktik, bukan oleh orang-orang yang “aji mumpung” tenar buat cari nafkah. Sepak Bola Indonesia harus diisi oleh orang-orang yang pintar dan rela berkorban untuk mengatur oraganisasi PSSI dengan optimal, bukan oleh orang-orang yang menggunakan kepintaran untuk berseteru berebut kursi “panas” Sang Ketua”. Huff…What to say? Nasi sudah menjadi bubur, tetapi makan bubur pun kita tak “Mati”. Mari kita “masak” lagi “berasnya”  agar menjadi “Nasi” yang enak dan matang untuk dinikmati Bangsa Indonesia.

 

Wassalam

 

SevenEleven

Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit

                               Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit                                 
 

Berada di ketinggian 12.000 kaki dari permukaan tanah dengan kecepatan rendah sekitar 180 Kias membawa sebuah pesawat latih dalam penerbangan Navex dari Jogjakarta menuju pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Semua procedure mulai dari brifing pagi sampai dengan cek kesiapan pesawat berlangsung lancar dan aman. Penerbangan dari Adisujtipto menuju Selaparang short stop di Lanud Abdurrahman saleh malang. Catatan satelit cuaca dalam rute Abd-Mtm memang tidak begitu bagus, di beberapa check point terlihat berawan dan berpotensi hujan dengan thunderstorm. Akan tetapi dengan persiapan yang matang penulis memutuskan untuk melanjutkan penerbangan walaupun menggunakan peralatan navigasi konvensional.

Melewati check point “Entas” menuju “Agung” terlihat dari arah tenggara berkumpul awan “CB” dan diprediksi berada di ketinggian 8000 kaki. Penulis menyadari bahwa itulah medan juang yang harus dilewati sebelum landing di Bandara Selaparang. Air Traffic Controller menyampaikan pesan untuk segera turun di ketinggian 6000 kaki dan holding beberapa saat di atas “MTM” yaitu stasiun “VOR” Bandara Selaparang. Entah mengapa sequence landing yang seharusnya sequence number two dimundurkan menjadi sequence number four dan jatah landing “diserobot pesawat lain. Suatu kondisi yang tidak menguntungkan karena seharusnya pihak ATC memahami bahwa pesawat latih ini memasuki cuaca buruk dengan peralatan navigasi seadanya dan dikendalikan oleh siswa walaupun ada seorang Instruktur di kursi belakang bahkan sebelumnya sudah sempat diberi sequence kedua ternyata dimundurkan tanpa alasan yang jelas. Dengan keterbatasan peralatan, jumlah fuel yang semakin menipis dan cuaca buruk penulis ingin  ke Bandara Ngurah Rai yang sesuai perhitungan cukup untuk menuju ke sana, tetapi dengan jarak yang tidak jauh antara Lombok dan Bali sehingga cuaca di sana pun tidak jauh berbeda dengan di Lombok, belum lagi traffic di Bandara Ngurah Rai lebih padat.

Foto doc pribadi

Tanpa protes kepada pihak ATC akhirnya penulis mencoba untuk mengikuti apa yang telah ditentukan walaupun dengan emosi yang mulai membara. Ketidakpercayaan terhadap siswa di kursi depan pun mulai tumbuh karena ada pepatah dalam penerbangan bahwa “pembunuhmu adalah siswa pandaimu”. Terasa berat stick control  karena penulis beranggapan siswa terlalu tegang karena situasi kurang menguntungkan tersebut. Seakan-akan siswa dari depan menarik stick control terus ke posisi climbing, referensi dari artificial horizon pun menunjukan posisi climbing, sebaliknya penulis menahan stick terus ke depan sambil menginstruksikan “siswa agar jangan tegang!” ternyata diluar dugaan siswa tersebut mengatakan dia menahan stick karena posisi pesawat sudah menukik dengan percepatan 2500 ft/menit ke bawah. Bisa dikatakan jika kesadaran terlambat tidak sampai dua menit pesawat sudah masuk dalam bumi “naudzubillah”. Segera dengan kesadaran dan berpatokan pada vertcal speed indicator penulis mengangkat pesawat sesuai dengan limitasi  performance yang diijinkan.   Alhamdulillah masih dilindungi Allah dan diberi keselamatan. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat walaupun dalam kondisi below weather minima.

Dari kasus tersebut dapat dianalisa bahwa saat itu telah tejadi dispartial orientation pada diri penulis dikarenakan cuaca buruk dan artificial horizon pesawat di kursi belakang sebagai instrument utama yang menujukkan posisi pesawat terhadap sumbu horizontal error. Sehingga penulis tidak mendapatkan referensi yang benar dari indicator tersebut. Beruntung instrument di kursi depan milik siswa masih bagus dan siswa memiliki reaksi yang baik terhadap kondisi tersebut. Suatu pengalaman yang haram untuk dirahasiakan karena tentunya akan sangat berguna bagi dunia penerbangan jika hal-hal demikian dijadikan pelajaran untuk selalu allert dikemudian hari.

Alhamdulillah…Allah telah selamatkan kami….

Wassalam

SevenEleven

Pasukan Garuda Timnas Indonesia (Football Nationalism)

Pasukan Garuda Timnas Indonesia (Football Nationalism)

Garuda…didadaku…Garuda…kebanggaanku…

Ketika mendengarnya seketika otak mengirim signal ke susunan  syaraf tulang belakang dan sampai ke syaraf panca indera sehingga  membangkitkan emosi rasa cinta tanah air serta membuat bulu roma berdiri karena rasa bangga. Pertengahan tahun 2010 dirasakan sebagai tonggak kebangkitan persepakbolaan di tanah air, ketika saat itu pasukan timnas Garuda dengan kostum Merah Putihnya bertarung di lapangan hijau dalam pertandingan sesama Negara ASEAN.

Mulai dari tukang sapu sampai pejabat daerah, PNS bawahan sampai anggota DPR, artis, dokter, pilot dan profesi lainnya disatukan oleh penampilan timnas yang memukau. Mulai dari radio 12 band sampai dengan televisi 50 inch pada saat itu menampilkan acara pertandingan sepak bola dengan penuh harapan. Harapan kemenangan tim nasional Indonesia di tengah-tengah bangsa yang sedang “panas” oleh situasi politik dan korupsi. Bahkan saya yakin koruptor paling kelas kakap pun saat itu ikut menyaksikan pertandingan dari dalam jeruji besi dan berharap Indonesia tampil sebagai juara. Indonesia tampil kembali di ajang Internasional, terutama piala dunia 2014.

Seorang teman berkata, “saya paling tidak suka nonton sepak bola, karena hanya menghabiskan waktu istirahat saja” tetapi saat pertandingan tersebut berlangsung, teman tersebut duduk di kursi paling depan dalam acara “nonton bareng” pertandingan Indonesia vs Malaysia. Indonesia ternyata masih bisa bersatu, Indonesia masih bisa melupakan persaingan dan perebutan kekayaan dan kakuasaan, Indonesia ternyata masih bisa berada dalam satu visi, tim nasional sepak bola Indonesia menyatukan apa yang terpisah dari bangsa ini.

Indonesia Menang! Indonesia Menang! Demikian sorak sorai rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, sorak sorai seorang mantan GAM di Provinsi NAD sampai suara seorang OPM di Papua Barat. Semua terpacu oleh nasionalisme yang tidak dibuat-buat. Pertanyaannya, kenapa nasionalisme seperti ini belum bisa diterapkan dalam bidang politik dan ekonomi? Dimana para lakon bangsa memiliki visi yang sama untuk saling mendukung, bahu membahu membangun bangsa ini, agar Bangsa Indonesia tampil di muka dunia sebesar dan seluas Negaranya. Bisakah? Mampukah? Kenapa tidak?

Credit foto by Google

Garuda…didadaku…Garuda…kebanggaanku…

Walaupun malam ini kalian menerima kemenangan yang tertunda ketika melawan Iran dalam pra piala dunia 2014, maju terus persepakbolaan Nasional. Pacu terus semangatmu! Agar semua komponen bangsa ini bersatu dengan nasionalisme yang kalian ciptakan. Pejuang tidak selalu lahir di medan peperangan, tetapi juga lahir di lapangan hijau. Mari kita jawab tantangan ini.

Wassalam

Seven Eleven

Macan Hitam Bumi Bertuah

TUGAS

Sesuai dengan semboyannya “Swa Buana Pakca” yang berarti sayap tanah air, TNI Angkatan Udara bertugas menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia termasuk diantaranya menciptakan Kekuatan Udara yang dapat menjaga aset negara baik berada di darat, laut maupun udara. Pulau Sumatera merupakan bagian dari Indonesia yang di dalamnya masih banyak menyimpan sumber daya alam berlimpah ruah. Dengan begitu banyaknya aset negara yang tersimpan dalam bumi Sumatera tersebut maka TNI Angkatan Udara merasa perlu untuk menempatkan alutsista sebagai wujud nyata dari pelaksanaan tugas-tugasnya.

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, Angkatan Udara bertugas:

  • melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan;
  • menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi;
  • melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara; serta
  • melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

Skadron Udara 12 dalam rangka mendukung tugas pokok TNI AU maka mengemban tugas antara lain; melaksanakan Operasi Lawan Udara Ofensif, Operasi Dukungan Udara dan Operasi Pertahanan Udara.

SEJARAH

Tercatat beberapa kali Skadron Udara 12 mengalami perpindahan Home Base dan pesawat. Pada tahun 1963 Skadron Udara 12 pernah bertugas di Lanud Kemayoran dengan pesawat Mig 19 dan 21. Karena perubahan politik Indonesia dari Rusia ke Amerika Serikat maka semua pesawat buatan Rusia terpaksa di grounded sehingga menyebabkan Skadron Udara 12 dibekukan untuk sementara.

Kemudian pada awal tahun 1980 blok barat memberi kesempatan pada Indonesia untuk mengisi kekosongan selama bertahun-tahun dengan datangnya pesawat A 4 Skyhawk dari Angkatan Udara Israel dan ber-Home Base di Lanud Iswahjudi Madiun. A-4 Skyhawk yang dimiliki TNI Angkatan Udara merupakan pesawat handal Battle Proven karena pernah dipakai dalam pertempuran lima hari antara Israel melawan Negara-Negara Arab. Pada tahun 1983 Skadron Udara 12 dipindahkan ke Kota Pekanbaru Riau melalui “Ops Boyong” untuk mengisi kekosongan pertahanan negara di Wilayah Udara Sumatera sehingga tanggal 2 Mei 1983 dicatat sebagai hari jadi Skadron Udara 12.

OPERASI UDARA DAN LATMA OVERSEAS

Black Panther adalah callsign dari awak pengawal dirgantara di Bumi Lancang Kuning Riau dan satu-satunya Skadron Udara Tempur yang ditempatkan di Wilayah Sumatera. Selama 28 tahun pengabdiannya Skadron Udara 12 melaksanakan beberapa Operasi Udara diantaranya, Operasi Patroli Udara, Operasi Pertahanan Udara dan Operasi Pengamanan AKLI I (Alur Laut Kepulauan Indonesia I). Bahkan sejarah pun mengatakan bahwa Skadron tempur ini pernah ikut menegakkan panji-panji NKRI dalam operasi Dwikora pada masa pemerintahan orde lama.

Dengan menggunakan Pesawat Hawk 109/209 buatan BAe (British Aerospace) yang datang di Indonesia pada tahun 1996, termasuk pesawat canggih dengan peralatan avionic dari generasi ke empat berfungsi untuk memaksimalkan para punggawa udara dalam mengemban tugas mulia tersebut. Dalam beberapa Joint  Excersice dengan negara lain seperti Elang Malindo (Malaysia), Elang Indopura (Singapura) dan Elang Thainesia (Thailand) Skadron Udara 12 senantiasa memberikan hasil terbaik untuk bangsa dengan menunjukan Performance yang handal karena seluruh personelnya memiliki kemampuan yang baik untuk menjadi garda terdepan bagi pertahanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KEMAMPUAN SPESIFIKASI TEKNIK

Pesawat Hawk 109/209 adalah pesawat LIFT (lead in fighter). Akan tetapi karena memiliki peralatan avionic dan armament yang canggih, pesawat ini mampu menjadi pesawat tempur taktis. Hawk 209 varian single seater memiliki radar dengan daya jangkau sejauh 80 Nm atau 160 kilometer, selain itu pesawat ini juga mampu dipersenjatai dengan bom pintar seperti AGM 65 Maverick dengan jarak launch efektif sejauh 7-10 Nm. Selain itu Pesawat Hawk 209 jugamampu untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara sehingga radiun of action pesawat tersebut bisa dua kali lipat dari jarak normalnya.

Skadron Udara 12 juga memiliki teknisi-teknisi hebat yang mampu menginovasikan segala kemampuannya agar kesiapan tempur selalu terjaga. Walaupun beberapa tahun lalu bangsa kita sempat masuk dalam kondisi embargo, para teknisi ini mampu membuat kesiapan pesawat tetap optimal. Di bawah panji-panji Pangkalan TNI Agkatan Udara Pekanbaru bendera “Macan Hitam” tetap berdiri tegak di bumi lancang kuning nan bertuah. Sang “Macan Hitam” menjaga tegaknya Sang Merah Putih di bumi Indonesia dan senantiasa menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI sampai titik darah penghabisan.

SPESIFIKASI TEKNIK

Tipe:    MK 209

Penggunaan    :           Ground Attack/All Weather

Pabrik  : British Aerospace (England)

Motor   : Adour MK 871

Thrust  : 5870 lbs

Kecepatan Maks         :           575 Kts/ 1,2 M

Kecepatan Cruising    :           540 Kts/0,83 M

Kecepatan Stall           :           110 Kts

Tinggi Maks    :           48000 Kaki

Air Defence     :           100 NM (tanpa Airefueling)

Air Interdiction :           250 NM (tanpa Airefueling)

PENUTUP

Demikian sekelumit tentang Skadron Udara 12 sebagai pembela tanah air dan bangsa semoga bias menjadi tauladan bagi seluruh generasi muda maupun semua kalangan.

Bermartabat, Jujur, Amanah dan Harga Diri

Bermartabat, Jujur, Amanah dan  Harga Diri

Setiap manusia dilahirkan dengan anugerah sebagai seorang pemimpin. Nabi Adam AS yang bagi semua umat beragama diyakini sebagai manusia pertama di dunia ditakdirkan turun ke Bumi untuk menjadi khalifah/pemimpin. Seorang anak laki-laki lahir kedunia kelak akan menjadi pemimpin bagi keluarganya, demikian dengan seorang anak perempuan yang lahir nantinya akan menjadi pemimpin bagi keluarga dalam mendidik anak-anaknya.

Genggis Khan, terlahir dgn nama Temujin telah mempersatukan hampir dari seluruh wilayah Euroasia. Kesultanan Turki dibawah panji-panji dinasti Ustmaniyah dapat mempertahankan emperiumnya sampai enam abad dengan Konstantinopel sebagai pusat pemerintahan. Hayam Wuruk dengan sang patih Gajah Mada berhasil mempersatukan wilayah Nusantara dan berjaya selama 170 tahun. Beberapa kasus tersebut mengatakan kejayaan suatu bangsa tidak lepas dari peran seorang pemimpin besar yang tentunya accaptable bagi rakyatnya.

Sebagai bagian dari bangsa yang besar, rakyat Indonesia yang berpendidikan sepantasnya tidak hanya menilai keburukan dan kegagalan pemimpin bangsa ini. Di usia yang relatif muda bagi sebuah negara, Indonesia tercatat telah beberapa kali terjadi pergantian pemimpin. Harus diakui bahwa Soekarno sang founding father pada masa perjuangan Nasional paska kemerdekaan telah mampu menyatukan wilayah Nusantara yang saat itu terpecah belah oleh kolonialisme barat dalam Kerajaan-kerajaan kecil menjadi suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian halnya saat masa orde baru, secara kasat mata di bawah kepemimpinan Soeharto selama 30 tahun Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara berkembang di dunia.

Gaung reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 diawali dengan chaos dipenjuru bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pergerakan rakyat yang dipimpin para mahasiswa dan cendikia Republik yang menginginkan perubahan Bangsa Indonesia menuju Bangsa yang bermartabat, jujur, amanah dan punya harga diri. Era reformasi diharapkan menjadi tonggak sejarah kebangkitan nasional kedua bangsa ini. Adalah wajar untuk mengawali suatu bentuk poleksosbud dari sebuah kegagalan menjadi lebih baik tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi akan menjadi tidak wajar jika chaos politik Bangsa ini terus terjadi dan berlarut-larut hingga satu dekade terakhir . Kritik bagi suatu kepemimpinan adalah hal yang wajib ada untuk mengkoreksi menuju kemajuan, akan tetapi kritik adalah bukan dijadikan alat politik untuk menjatuhkan karakter lawan politiknya. Ketika si A menjadi pemenang kemudian B, C, D dan kroni-kroninya berduyun-duyun menggalang massa untuk menghakimi sang pemenang dan ketika si A terjatuh dan si B menjadi pemenangnya maka si C, D dan A  bersatu untuk menjatuhkan si B, demikian seterusnya. Kemudian rakyat hanya bisa menjadi penonton yang menangisi nasib bangsanya.

Seandainya para lakon bangsa ini bisa saling bahu membahu untuk membangun bangsa dengan mengesampingkan kepentingan partai, bukan tidak mungkin akan muncul Gajah Mada, Genghis Khan, Soekarno baru yang bisa memimpin bangsa Indonesia dalam dukungan seluruh komponen bangsa yang bermartabat ini. Karena untuk memperbaiki sendi-sendi bangsa ini tidak cukup dalam 10-15 tahun, menyatukan isi otak dari 250 juta manusia yang berasal dari berbagai suku bangsa juga membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi semua itu bukan mustahil jika masing-masing manusia Indonesia bisa menyadari bahwa bangsa ini membutuhkan kesadaran pribadi  untuk saling bahu membahu membangun bangsa dengan persatuan dan kesatuan tetapi bukan slogan.

Bukan kebanggaan perorangan, bukan pula kebanggan partai dan golongan, tetapi banggalah sebagai bangsa yang bersatu dengan komitmen persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Credit Foto by Google

Setiap rakyat Indonesia seharusnya bisa dan mampu untuk memimpin diri sendiri karena memimpin diri sendiri  lebih sulit daripada memimpin orang banyak. Jika setiap rakyat Indonesia mampu memimpin dirinya sendiri maka bangsa ini akan mampu untuk menahan segala macam emosi untuk merusak bangsa tanpa disadari. Sehingga siapa pun yang menjadi pemimpin di Negeri ribuan pulau ini pun diharapkan memiliki tujuan yang jelas terhadap komitmen kebangkitan Bangsa Indonesia.

Wassalam

SevenEleven