Bermartabat, Jujur, Amanah dan Harga Diri

Bermartabat, Jujur, Amanah dan  Harga Diri

Setiap manusia dilahirkan dengan anugerah sebagai seorang pemimpin. Nabi Adam AS yang bagi semua umat beragama diyakini sebagai manusia pertama di dunia ditakdirkan turun ke Bumi untuk menjadi khalifah/pemimpin. Seorang anak laki-laki lahir kedunia kelak akan menjadi pemimpin bagi keluarganya, demikian dengan seorang anak perempuan yang lahir nantinya akan menjadi pemimpin bagi keluarga dalam mendidik anak-anaknya.

Genggis Khan, terlahir dgn nama Temujin telah mempersatukan hampir dari seluruh wilayah Euroasia. Kesultanan Turki dibawah panji-panji dinasti Ustmaniyah dapat mempertahankan emperiumnya sampai enam abad dengan Konstantinopel sebagai pusat pemerintahan. Hayam Wuruk dengan sang patih Gajah Mada berhasil mempersatukan wilayah Nusantara dan berjaya selama 170 tahun. Beberapa kasus tersebut mengatakan kejayaan suatu bangsa tidak lepas dari peran seorang pemimpin besar yang tentunya accaptable bagi rakyatnya.

Sebagai bagian dari bangsa yang besar, rakyat Indonesia yang berpendidikan sepantasnya tidak hanya menilai keburukan dan kegagalan pemimpin bangsa ini. Di usia yang relatif muda bagi sebuah negara, Indonesia tercatat telah beberapa kali terjadi pergantian pemimpin. Harus diakui bahwa Soekarno sang founding father pada masa perjuangan Nasional paska kemerdekaan telah mampu menyatukan wilayah Nusantara yang saat itu terpecah belah oleh kolonialisme barat dalam Kerajaan-kerajaan kecil menjadi suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian halnya saat masa orde baru, secara kasat mata di bawah kepemimpinan Soeharto selama 30 tahun Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara berkembang di dunia.

Gaung reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 diawali dengan chaos dipenjuru bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pergerakan rakyat yang dipimpin para mahasiswa dan cendikia Republik yang menginginkan perubahan Bangsa Indonesia menuju Bangsa yang bermartabat, jujur, amanah dan punya harga diri. Era reformasi diharapkan menjadi tonggak sejarah kebangkitan nasional kedua bangsa ini. Adalah wajar untuk mengawali suatu bentuk poleksosbud dari sebuah kegagalan menjadi lebih baik tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi akan menjadi tidak wajar jika chaos politik Bangsa ini terus terjadi dan berlarut-larut hingga satu dekade terakhir . Kritik bagi suatu kepemimpinan adalah hal yang wajib ada untuk mengkoreksi menuju kemajuan, akan tetapi kritik adalah bukan dijadikan alat politik untuk menjatuhkan karakter lawan politiknya. Ketika si A menjadi pemenang kemudian B, C, D dan kroni-kroninya berduyun-duyun menggalang massa untuk menghakimi sang pemenang dan ketika si A terjatuh dan si B menjadi pemenangnya maka si C, D dan A  bersatu untuk menjatuhkan si B, demikian seterusnya. Kemudian rakyat hanya bisa menjadi penonton yang menangisi nasib bangsanya.

Seandainya para lakon bangsa ini bisa saling bahu membahu untuk membangun bangsa dengan mengesampingkan kepentingan partai, bukan tidak mungkin akan muncul Gajah Mada, Genghis Khan, Soekarno baru yang bisa memimpin bangsa Indonesia dalam dukungan seluruh komponen bangsa yang bermartabat ini. Karena untuk memperbaiki sendi-sendi bangsa ini tidak cukup dalam 10-15 tahun, menyatukan isi otak dari 250 juta manusia yang berasal dari berbagai suku bangsa juga membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi semua itu bukan mustahil jika masing-masing manusia Indonesia bisa menyadari bahwa bangsa ini membutuhkan kesadaran pribadi  untuk saling bahu membahu membangun bangsa dengan persatuan dan kesatuan tetapi bukan slogan.

Bukan kebanggaan perorangan, bukan pula kebanggan partai dan golongan, tetapi banggalah sebagai bangsa yang bersatu dengan komitmen persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Credit Foto by Google

Setiap rakyat Indonesia seharusnya bisa dan mampu untuk memimpin diri sendiri karena memimpin diri sendiri  lebih sulit daripada memimpin orang banyak. Jika setiap rakyat Indonesia mampu memimpin dirinya sendiri maka bangsa ini akan mampu untuk menahan segala macam emosi untuk merusak bangsa tanpa disadari. Sehingga siapa pun yang menjadi pemimpin di Negeri ribuan pulau ini pun diharapkan memiliki tujuan yang jelas terhadap komitmen kebangkitan Bangsa Indonesia.

Wassalam

SevenEleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s