Catatan Seorang Pengajar Tentara Langit III ( First Solo Flight )

Pertengahan tahun 2002 adalah saat yang membahagiakan sekaligus cukup membuat hati berdebar-debar bagi saya, karena pada waktu itu telah dibuka Sekolah Penerbang Angkatan 66 di Pangkalan TNI AU Jogjakarta. Bahagia telah terpilih sebagai salah satu calon penerbang TNI AU dan dengan hati berdebar seakan tidak percaya dapat melewati dan lulus dalam seleksi yang cukup ketat persaingannya. Akan tetapi ini adalah awal dari sebuah kepercayaan yang amat besar yang diberikan Negara kepada saya sehingga dengan langkah tegap saya memasuki Ksatrian Wirambara sebagai tempat tinggal selama menjadi siswa Sekolah Penerbang TNI AU. Kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kali dan tak ada rasa ingin menjadikan kesempatan tersebut sia-sia.

Tahap awal dalam pendidikan adalah melaksanakan fase ground school dimana sebuah fase untuk mempelajari beberapa pelajaran seperti; type rating dari kedua pesawat yang digunakan dalam latihan dasar-dasar penerbangan dengan pesawat AS 202 Bravo dan T 34 Charlie; melakukan latihan teori dan praktik jungle and sea survival sebagai bekal awal terhadap suatu kondisi emergency serta memupuk mental kejuangan pantang menyerah; pembinaan kepribadian dan communication skill yang nantinya sangat berguna sebagai melatih kejujuran serta keterbukaan yang sangat bermanfaat didalam dunia penerbangan; serta beberapa teori-teori penting lainnya yang berkaitan dengan ilmu penerbangan (aerodinamika, PLLU dan weather forecast).

Tidak terasa tiga bulan waktu berjalan di sela-sela kesibukan dan kepadatan jadwal sebagai seorang siswa sekbang dan akhirnya kami digeser menuju kota Solo untuk melaksanakan praktik terbang dengan menggunakan pesawat AS 202 Bravo. Kembali sedikit kebimbangan membayang-bayangi pikiran antara ketakutan “mampu” atau “tidak mampu”. Namun, saya harus bisa membunuh semua negative thinking tersebut, karena pasti apapun itu yang manusia pikirkan, yang akan terjadi adalah sesuai dengan apapun yang mereka pikirkan. Jika manusia berpikir “tidak bisa” maka hasilnya akan menjadi “tidak bisa”, sebaliknya jika manusia berpikir “bisa” maka hasilnya pasti akan “bisa” dan tentunya harus diwujudkan dengan usaha yang optimal. YAKIN! Itu saja yang menjawab semua keraguan yang mengganggu pikiran saya.

“Marmo Tower…Lima Mike 2004, Lima Mike 2004…Marmo Tower Go Ahead! Lima Mike 2004 Control by Sierra 6601 Ready for Taxi”.

Demikian call procedure yang saya gunakan setalah lulus cek solo flight untuk pertama kali di dunia penerbangan militer, karena setelah cek tersebut Instruktur checker tanpa shutdown engine (tentunya angin yang dihasilkan dari posisi idle power AS 202 Bravo cukup aman untuk tubuh manusia) segera turun dari pesawat dan meninggalkan saya sendirian di dalam pesawat sehingga saya tidak perlu request for start engine kembali. “Sierra” merupakan callsign siswa Sekolah Penerbang TNI AU yang diambil dari kata singkatan “siswa” atau “S”. Dan dalam dunia penerabanga huruf “S” selalu dibaca dengan kata “sierra”. 6601 adalah sierra number dari siswa Sekolah Penerbang TNI AU Angkatan ke 66 dan “01” hanya melambangkan siswa yang berhasil melaksanakan penerbangan solo untuk pertama kali diangkatannya.

“Ready for Take Off Sierra 6601”…
“Throttle Full Open…speed 40 Kias…unstick…” dan mengudaralah sierra 6601untuk pertama kalinya di angkasa Indonesia Raya. Subhanallah…Menakjubkan! Melihat cakrawala luas ke depan, tanpa batas. Hilang sudah semua keragu-raguan yang pernah menjamuri otak dan pikiran saya di awal memasuki Sekolah Penerbang TNI AU. Flying the aircraft is so amazing! Semakin membulatkan tekad dan cita-cita saya untuk dapat lulus menjadi seorang penerbang pesawat tempur. Sebuah cita-cita saya dari sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama yang merupakan efek dari keracunan film “Perwira dan Ksatria” yang dibintangi aktor Dede Yusuf saat itu. Selalu berpikir “BISA” sehingga otak selalu menstimulasi panca indera untuk terus mau berikhtiar serta diiringi doa orang tua.

“Sierra 6601 Clear to Land”…demikian clearance yang berikan Marmo Tower kepada saya sesaat sebelum mendaratkan pesawat terbang sendirian untuk pertama kali. Tanpa acknowledge clearance saya mendaratkan pesawat tersebut (karena terlalu konsentrasi terhadap speed final approach). Pastinya operator Marmo Tower senior-senior penerbangan sipil yang sedang menunggu giliran landing sangat memahami common error siswa “bermata kuda” ini. Landing safe…keep nose on landing attitude…keep center runway and direction…dan Alhamdulillah. Dan ketika turun dari pesawat selain mendapatkan ucapan selamat dari Instruktur yang mengajari saya sejak awal, ternyata ada tambahan “gigs” sebagai konsekuensi tidak meng-acknowledge clearance dari Marmo Tower saat di final approach. Besar ataupun kecil apapun kesalahan yang saya buat harus ada “bayarannya” agar selalu mengingat kesalahan yang kita buat untuk tidak diulangi lagi dikemudian hari. “Saya berjanji agar tidak mengulangi kecerobohan yang saya lakukan dikemudian hari”. Demikian kalimat yang harus saya tulis berulang-ulang sebanyak seratus kalimat dalam “gigs” tersebut. Hikmahnya adalah saya selalu ingat kesalahan saya tersebut hingga detik ini.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Dan jangan pernah menyerah dengan segala bentuk keragu-raguan. Menjadi seorang penerbang jet tempur sudah saya dapatkan selama hampir sembilan tahun dan ribuan kali terbang solo dengan segala dinamika yang terjadi, walaupun wajah tak setampan Dede Yusuf, tetapi cerita dalam film beliau sudah saya lampaui saat ini. Terus bercita-cita dan pantang menyerah.

“When i was flying away to the cloudy sky…fly to discover of the world…cause you know i am an officer…for my pride, for my nation and for the truth….”

Dari

Seveneleven

6 thoughts on “Catatan Seorang Pengajar Tentara Langit III ( First Solo Flight )

  1. Saya jadi ingat kata kata ini mas:
    “For once you have tasted flight you will walk the earth
    with your eyes turned skywards, for there you have
    been and there you will long to return.”
    Leonardo da Vinci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s