Ironis! Tetapi Saya Tetap Bangga Menjadi Indonesia

Kawan,
Bangga menjadi bangsa Indonesia adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi dalam hidup ini. Sebuah anugerah luar biasa kita dilahirkan dari seorang bunda yang asli wanita Indonesia, suatu negeri gemah ripah loh jinawi. Tetapi apa lacur, ketika beranjak remaja menyadari bahwa hidup dizaman orde baru yang sangat kejam dengan segala pengaruh penguasa yang membuat hidup tanpa ekspresi. Tiada yang tidak klimaks di dunia ini sehingga sang penguasa pun terjatuh dari singgasana dan serasa mendapat angin segar di era yang disebut reformasi bebas berekspresi. Sebuah babak baru dan muncul kembali kebanggaan sebagai orang asli Indonesia (bisa disebut asli apapun ras, suku bangsa dan agama asalkan memang benar benar mencintai bangsa ini). Demokrasi bangsa Indonesia menjadi hal terdepan di negara ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar demokrasi adalah hal yang cocok diterapkan ditengah-tengah kemajemukkan bangsa ini? jawaban tergantung dari persepsi anda.

Gaung demokrasi begitu besar di negara 1001 permasalahan ini. Peran media menjadi sangat tak terbatas dengan didukung oleh undang-undang yang seakan-akan lupa bahwa bangsa ini butuh dilindungi dari gencarnya perang informasi diera globalisasi. Kehilangan keseimbangan antara informasi baik dan buruk pun terasa sangat kental saat akhir ini, padahal rakyat sangat butuh berita positive sebagai sarana meningkatkan moril dan jati diri bangsa yang sebenarnya besar ini. Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia sangat sedikit yang tahu bahwa kita punya juara bulu tangkis internasional, kita juga punya anak-anak brilian yang meraih juara matematika, fisika dan ilmu terapan lainnya ditingkat dunia. Masyarakat pun sangat sedikit yang tahu bahwa bangsa ini telah diakui dunia akan kemampuannya menjadi salah satu dari negara-negara BRIC (Brasilia, Rusia, India dan China) serta berbagai macam prestasi lainnya yang tertutup oleh informasi buruk plus sinema elektronik yang selalu menampilkan racun dunia. Permasalahan bangsa yang memiliki 230 juta otak manusia dalam hal ini adalah ketidak mampuan untuk menahan arus informasi tak berimbang ditengah tengah ke-Bhineka Tunggal Eka-an. Karena bangsa ini harus tetap bersatu bukan dipecah belah. Ingat kawan, bangsa kita tidak pernah kalah perang kecuali oleh politik pecah belah/adu domba/devide et impera.

BBM bukanlah blackberry messenger melainkan bahan bakar minyak. baru beberapa minggu sejak tulisan ini dibuat sampai dengan saat ini masih hangat di tengah-tengah masyarakat akan rencana kenaikkan harga bbm tersebut. Mengakibatkan kerusakan dibeberapa tempat akibat ulah mahademo (maaf, sebuah singkatan dari mahasiswa pe-demonstrasi). Sebenarnya saya secara pribadi sangat apresiasi mendalam dengan kepedulian generasi muda yang perhatian terhadap kesejahteraan rakyat, akan tetapi speechless ketika melihat hasil demonstrasi adalah; kerugian 5 miliar rupiah akibat pengrusakkan pagar gedung DPR; kerugian 1,5 miliar bagi jasa marga akibat dari blokade jalan tol; perusakkan kantor polisi; pembakaran ban yang menyebabkan kemacetan sehingga rantai ekonomi bangsa sedikitnya terhambat; dan ironis ketika seorang supir truk gandeng yang sedang mencari sesuap nasi dipaksa turun untuk ikut berdemonstrasi, padahal itu adalah kelangsungan hidup dia dan keluarganya; berapa banyak supir taxy, bis kota maupun angkot yang terpaksa meliburkan diri sehingga berkuranglah penghasilannya di bulan maret ini. Saya pribadi pun sangat sedih jika harga bbm naik, akan tetapi jika disadari bbm bersubsidi tersebut sebenarnya dinikmati lebih banyak oleh golongan menengah ke atas bukan orang miskin. Seandainya demonstrasi bisa dialihkan dalam bentuk usaha nyata, seperti; riset mahasiswa dalam mengembangkan kendaraan berbahan bakar gas; riset generasi muda untuk mengembangkan biogas sebagai alternative bahan bakar ataupun minimal belajar yang baik agar dikemudian hari bisa menjadi pemimpin yang baik dan tidak meneruskan keburukkan pendahulunya.

Memang, permasalahan inti negara ini adalah korupsi. Namun, apa bedanya yang dilakukan para koruptor tersebut dengan perusakkan oleh mahademo yang terjadi di berbagai tempat tersebut? ya sama saja toh? bayangkan akibat kerusakan dan kerugian bermiliar-miliar rupiah tersebut pun berasal dari uang rakyat dan perusakkan itu sama artinya dengan membuang percuma uang rakyat dua kali lipat dari kerugian tentunya (kerugian 5 miliar akibar barang yang hancur plus 5 miliar untuk memperbaikinya dengan potensi menjadi lahan korupsi pula). Jika demikian saya bisa sedikit tarik kesimpulan bahwa para mahademo tersebut sama saja dengan koruptor yang sukanya membuang uang rakyat dan berpotensi ketika di masa depan akan menjadi koruptor-koruptor baru. Huff! Ironis!

Kemudian apa bedanya demmonstrasi pada tahun 1998 versus 2012?

1998 : demo kenaikkan harga sembako dll, demo mahasiswa yg benar2 berdasarkan semangat anak bangsa yg ingin keluar dari belenggu diktatorisme.

2012 : demo kenaikkan harga bbm, dilakukan oleh mahademo yg berdasarkan semangat nasi bungkus serta semangat persatuan dan kesatuan partai tertentu.

Sedih bukan? yah, sudah nasib. Akan tetapi saya tetap bangga bisa menjadi orang Indonesia!

MERDEKA!

Salam Indonesia

SevenEleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s