Disorientasi dan Dislokasi dalam Kehidupan Multikultur Indonesia

Disorientasi dan Dislokasi Didalam Kehidupan Multikultur Indonesia

Suatu anugerah tak terhingga bisa hidup di sebuah negara dengan segala macam keragaman kekayaan budaya, sumber daya manusia dan sumber daya alam yang bernama Indonesia. Sebuah kemegahan dunia yang hanya dapat diperoleh di Indonesia sebagai bekal utama menjadi sebuah negara yang besar dan unggul di kawasan maupun internasional. Namun, menjadi pertanyaan besar ketika bangsa yang terdiri lebih dari 300 etnis serta hampir 700 keragaman bahasa berada di dalam kehidupan demokrasi yang notabene sangat menuntut kebebasan berbicara walaupun disertai batas-batas hukum tetapi tetap kerap kali kebablasan. Era reformasi ditengah-tengah globalisasi dunia seakan-akan membawa kehidupan bangsa ini masuk dalam euphoria menyampaikan ide serta berbondong-bondong ingin tampil sebagai ksatria piningit sehingga siapa pun yang memiliki kesempatan untuk memimpin bangsa ini selalu berada dalam posisi terpojok dan ingin dijatuhkan oleh lawan-lawannya padahal aslinya mereka bersaudara. Saya yakin semua manusia di negara ini menyadari bahwa sangat berat untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu tanpa dukungan positive dari 230 juta otak manusia yang selalu berbeda visi dan misi. Sangat setuju sekali jika perbedaan pendapat itu terjadi, tetapi sewajarnya tetap dalam visi dan misi yang sama tanpa “muatan” apapun didalamnya sehingga negara ini bisa terus maju.

Hidup adalah pilihan, menjadi Indonesia pun sebuah pilihan. Sebuah pilihan tepat yang diusung para pendiri bangsa dengan sebuah kekuatan doktrin dasar negara yaitu Pancasila. Semboyan Bhineka Tunggal Ika pun dirumuskan dengan suatu tujuan yakni mengutamakan persatuan diatas segala perbedaan dan keragaman. Sebuah kepastian bahwa the founding father telah menyadari betapa sulitnya menyatukan pikiran ratusan jiwa dan raga anak bangsa ini. Demokrasi Pancasila adalah suatu faham demokrasi yang dibuat dan disesuaikan dengan budaya kebangsaan Indonesia dengan mengatur suatu sistem demokrasi tetap berada dalam kendali yang terarah. Namun, apa yang kita rasakan saat ini rasanya telah jauh dari harapan para pendiri bangsa tersebut dengan lebih mengadopsi demokrasi bangsa barat. Tentunya sangatlah berbeda budaya yang tercipta di masing masing bangsa dimana secara historis kita bisa mempelajari bahwa kemajemukan budaya bangsa barat bisa dikatakan kecil sekali dibandingkan oleh BANGSA NUSANTARA atau sekarang bernama Indonesia. Dalam tulisan ini sama sekali tidak mengedepankan bahwa demokrasi adalah salah, tetapi lebih mendukung dikembalikannya demokrasi pancasila yang selama satu dekade terakhir terasa mem-blur. Kecuali dengan hadirnya common enemy maka bangsa ini bersatu menjadi kuat sekali, akan tetapi apakah bagus jika harus menunggu negara ini perang kemudian baru bisa bersatu rakyatnya? tentu tidak, karena Pancasila dan UUD 1945 mengajarkan bahwa perdamaian dunia lebih diutamakan daripada kondisi terpaksa untuk berperang.

Pelajarilah apa yang telah terjadi oleh bangsa Majapahit, suatu negara adidaya berkuasa di selatan Asia namun hancur berkeping-keping bukan karena kalah perang melainkan rusak dari dalam karena konflik internal politik dalam negaranya sehingga pecah menjadi kerajaan kerajaan kecil. Beruntung sekali di abad 19-20 kita memiliki Bung Karno dan Bung Hatta yang kembali menyatukan kerajaan kerajaan kecil tersebut menjadi suatu negara berdaulat dengan keringat dan darah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka berdua anti terhadap politik negara boneka yang diciptakan bangsa imperialisme sehingga Indonesia mampu berdiri mandiri sampai saat ini. Kemudian mereka pun menyadari kemajemukkan suku bangsa yang menjadi sebuah bahaya laten perpecahan negara tercinta dan pada akhirnya terciptalah ideologi Pancasila dimana Pancasila bisa dikatakan ideologi yang sangat lengkap karena didalamnya mengutamakan Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial dan musyawarah untuk mufakat sebagai embrio dari demokrasi Pancasila.

Pancasila adalah ideologi negara yang sangat dapat menyesuaikan dengan perkembagan zaman. Ideologi yang dibangun dengan perjuangan the founding father tidak lekang oleh waktu serta sangat ampuh jika diterapkan dalam menghadapi segala macam ancaman perang informasi di era globalisasi saat ini karena para pendiri bangsa yang benar benar memahami kepentigan nasional Indonesia sampai ratusan tahun kemudian. Penulis mengajak kita semua untuk sedikit flash back menuju alam 10-15 tahun yang lampau, walaupun bangsa ini hidup dalam belenggu anti ekspresi, namun stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional Indonesia sangat terjaga rapih dari segala ancaman dari luar dengan segala keragaman permasalahan. Bandingkan dengan saat sekarang, dimana setiap manusia Indonesia bebas berekspresi, bebas berbicara dan opini. Sayangnya, ekspresi, berbicara dan opini tersebut terbatas tanpa aksi atau dengan kata lain semua orang telah hebat menjadi pengkritisi namun tiada yang berbuat.

Sekali lagi, sebenarnya tiada yang salah dengan apa yang kita alami saat ini asalkan pemikiran dan opini disertai oleh tindakan nyata dan memahami bahwa untuk menjadikan negara ini hebat tidaklah mudah ditengah tengah 230 juta otak manusia terlebih disertai oleh PR dari masa lalu yang pastinya tidak sedikit.

Talkless and Works In Hands is better than Speaking Without Any Action

Untuk saya, bukan anda!

SevenEleven

3 thoughts on “Disorientasi dan Dislokasi dalam Kehidupan Multikultur Indonesia

  1. Setuju sekali mas, sampai kapan lagi masih mempan sama isu2 yang bisa memecah persatuan. Apa mungkin nasib kita sudah sejak jaman belanda mudah dipecah-pecah dengan isu-isu tertentu?

  2. betul sekali mas, sampai kapan kita masih mempan dihasut isu2 pemecah kesatuan. Apa sudah nasib kita sejak jaman belanda mudah dihasut isu2 tertentu

    • Bukan sejak zaman belanda, tetapi dari dahulu kala. Akan tetapi itu cuka nasib yg bisa di rubah dengan kemauan keras penuh kesadaran. Nasib bisa dirubah tetapi takdir tidak. Dan takdir kita midah2an menjadi bangsa yg hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s