Jogjakarta Seribu Kenangan

September 2003, untuk pertama kalinya meninggalkan Jogjakarta setelah kurang lebih lima tahun di gembleng dalam kawah candhradimuka AAU dengan segala kenangan indah sebagai siswa Sekolah Penerbang TNI AU. Menuju penempatan dinas pertama kali di Skadron Udara kebanggaan masyarakat Riau yakni Skadron Udara 12 yang kemudian mengawaki pesawat tempur taktis Hawk 109/209. Memotong pendek cerita panjang selama tujuh tahun di Kota bertuah Pekanbaru Riau, maka pada pertengahan tahun 2010 Jogjakarta kembali menjadi Kota impian karena suatu kewajiban bagi seorang tentara langit untuk mengabdikan diri sebagai pengajar serdadu udara tentunya dengan suasana lebih berbahagia karena bisa menunjukkan almamater tercinta kepada si Jantung hati dan si buah hati.

Seorang QFI ataupun dalam pengertian bahasa Indonesia sering disebut dengan instruktur penerbang dituntut mampu memberikan alih pengetahuan kepada seluruh siswa penerbang. Kemampuan terbang disertai dengan kemampuan untuk mengajar juga dituntut dapat memahami psikologi manusia manusia yang diajarnya sehingga diharapkan bisa tampil sebagai seorang bapak, kakak maupun instruktur sesungguhnya. Suatu pengalaman berharga adalah ketika mendapatkan kesempatan mengajar siswa latih dasar dimana para siswa tersebut belum memiliki jam terbang sama sekali. Bagaikan memoles dan mengasah kemudian dituntut dapat memberikan hasil yang terbaik dapat bentuk kelukusan siswa yang ditangani tersebut. Rasa puas, haru dan bangga tercampur menjadi satu ketika mereka yang menjadi siswa tetap mendapatkan kelulusan untuk terbang solo pertama kali akibat keberhasilan seorang instruktur dalam melakukan alih pengetahuan dan kemampuan kepada siswanya.

Begitu banyak pengalaman dan pelajaran yang diambil dari penugasan sebagai pengajar tentara langit tersebut. Bisa memahami kemampuan diri sendiri; memahami psikologi pribadi maupun orang lain; dapat mengerti bahwa tidak semua manusia diberi kemampuan yang sama; dan memahami pula bahwa dengan output yang diharapkan memiliki standar yang sama akan tetapi jalan menuju keberhasilan setiap kanusia adalah berbeda.

Jogjakarta pun telah memberikan warna dalam kehidupan ini ketika bertemu dengan sekumpulan rekan rekan yang menyebut diri mereka dengan nama KERIS, yaiti sebuah paguyuban anak anak muda yang sangat peduli dengan kondisi dan situasi kebangsaan dan pertahanan negara. Nama keris diambil dari sebuah senjata tradisonal bangsa Indonesia yang selalu dijadikan senjata pamungkas bagi para Raja Raja Nusantara zaman dahulu kala. Sekumpulan anak muda yang berasal dari berbagai macam dasar ilmu yang berbeda seperti; dokter, ahli sejarah, ahli IT, ahli filsafat, ekonomi, hukum, fisipol dan teknik terapan dan sangat peduli pada pertahanan negara walaupun dasar ilmu sebenarnya tidak bevitu relevan. Ya, kebangkitan bangsa ini akan berawal dari kedai kopi untuk berfikir dan berbuat, bukan omong kosong.

Dua tahun menjalani penugasan di kota budaya namun saat ini harus kembali meninggalkan Jogjakarta dengan seribu kenangan didalamnya. Kita berjuang dapat dimana dan darimana saja. Tetap semangat dan bumi lancang kuning kota bertuah memanggil untuk pengabdian selanjutnya

sseveneleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s