Kekuatan Versus Jebakan (Moril dan Mentalilty)

Dalam suatu organisasi perang, memiliki semangat kerja yang tinggi disertai dorongan moril yang baik adalah suatu hal yang sangat berarti didalam mensukseskan organisasi tersebut. Kita ketahui bahwa moril seorang militer lebih condong kepada harapan untuk berjuang tetap hidup dan menang dalam pertempuran daripada harus kalah bersimbah darah ditangan musuh. Melawan atau mati, adalah sesuatu hal yang tidak dapat ditawar lagi. Namun, disisi lain dari moril tempur prajurit adalah suatu tujuan atau pun objektifitas dari perang yang dilakukannya, sehingga mereka berfikir untuk apa mereka berperang dan apakah manfaat yang dia rasakan dikemudian hari untuk bangsa dan negara.

Perihal menjaga moril tempur prajurit amatlah penting dimana terdapat empat kondisi moril prajurit yang membedakan kondisi seorang prajurit tersebut yakin untuk loyal bertempur atau mendapatkan pilihan lain untuk berhenti membela pertempuran yang sedang dialaminya, antara lain:

a. Kondisi moril prajurit yang begitu tinggi dengan motivasi tetap memenangkan pertempuran dengan mengembangkan taktik dan strategi perang kemudian memiliki harapan-harapan positif dikemudian hari terhadap dirinya, keluarga maupun bangsa dan negaranya.

b. Kondisi moril prajurit yang tetap melakukan pertempuran karena tidak mempuyai pilihan selain daripada “melawan atau mati”, bertempur dengan membabi buta tanpa tujuan yang memadai.

c. Sikap mental prajurit yang lemah sehingga ketika dihadapkan pada medan tempur yang berat ditambah kurangnya motivasi dari atasannya sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi disersi (lari dari medan pertempuran), karena seorang prajurit seperti ini tidak memiliki tujuan yang pasti ketika berangkat ke medan perang dan menganggap segala sesuatunya akan menjadi sia-sia.

d. Memiliki mental yang baik, namun tidak disertai dengan ketangkasan maupun kemampuan yang baik, sehingga ada juga beberapa prajurit yang maju ke medan laga hanya bermodalkan semangat tanpa perhitungan, tidak perduli akan menang atau akan mati dalam pertempuran tersebut.

“Pada hari mereka diperintahkan untuk berangkat berperang, mungkin sebagian prajurit anda akan menangis, mereka duduk menangis dalam pakaian mereka, dan mereka berbaring membiarkan air mata mengalir di pipi mereka. Tapi biarkan mereka sesekali berada dalam situasi di mana mereka tidak bisa berlindung, dan mereka akan menampilkan keberanian seorang Chu atau Kuei”-Sun Tzu.

Kekuatan Moril
Pada dasarnya, seperti yang dikatakan Panglima Sun Tzu, bahwa mentality ataupun moril manusia ketika dihadapkan oleh kondisi yang mengancam hidupnya adalah akan diliputi oleh rasa takut. Untuk siap kehilangan nyawa; untuk siap meninggalkan sanak dan keluarga;maupun siap untuk membunuh manusia lainnya walaupun itu adalah musuh. Namun, dibalik semua perasaan tersebut akan tersimpan suatu karakter keberanian yang tidak diduga memiliki kekuatan untuk memenangkan peperangan pada pihaknya. Implikasi dari hal tersebut adalah ketika tentara sekutu menyerang Normandia pada 6 Juni 1944, dimana suatu kemenangan dapat diraih ketika seorang komandan dapat memanfaatkan situasi kondisi serta mampu untuk mengolah dan mengontrol moril pasukannya. Demikian halnya dengan Air Marshall Sir Hugh Dowding dalam memimpin fighter command Royal Airforce dari Inggris, ketika mampu meninggikan moril tempur penerbang-penerbangnya dengan begitu memperhatikan “isi hati” prajurit untuk survive dalam bertempur, karena dimana pun manusia berada jika dia merasa dijaga dan lindungi maka dengan sukacita dia akan mengorbankan jiwa dan raganya untuk sesuatu yang diinginkan bangsa dan rakyat bukan dalam konteks materi namun dalam bentuk perhatian terhadap orang-prang yang akan ditinggalkannya sudahlah cukup.

Jebakan Moril Bagi Leader
Memang akan menjadi kontradiktif ketika dikatakan moril sebagai kekuatan yang tak terduga dalam memenangkan perang, namun begitu kuatnya moril karena semangat yang berlebihan pun akan menjadi “senjata makan tuan” dalam suatu pertempuran. Anda sangat yakin dan percaya dengan harapan-harapan dalam perang yang anda alami disertai keyakinan dari ketangkasan yang dimiliki oleh pasukan yang anda pimpin sehingga anda lupa pada saran-saran yang disampaikan mungkin dari orang-orang terdekat anda. Rasa percaya diri yang melampaui batas akhirnya menyebabkan anda lupa batasan-batasan moril dari pasukan yang anda pimpin. Selain itu terkadang bagi beberapa pimpinan dalam perang yang juga mungkin sudah memiliki pengalaman demikian besar dengan segenap kemenangan dalam setiap pertempuran yang dia raih, mejadikan kebanggaan diri atau kebanggan korps tersendiri dan sesungguhnya berpotensi untuk membunuh anda dengan pasukan anda. Dengan kata lain rutinitas menghilangkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan terjebak dalam pola sektoral dengan menganggap diri anda adalah segala-galanya padahal nothing tanpa pertimbangan dari sisi dan sudut pandang lain dari orang-orang disekitar anda.

Namun, apabila anda sanggup memerankan prinsip-prinsip seperti yang diajarkan Sun Tzu, Sir Hugh Dowding maupun maestro-maestro battlefield lainnya, maka anda akan menjadi seorang pimpinan perang yang termashyur jika tidak melupakan bahwa selain ada kekuatan moril yang harus tetap terjaga terdapat juga jebakan moril yang harus anda hindari dalam pertempuran yang anda alami.

Hanya sebuah upaya untuk belajar

Salam

Seven Eleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s