Kemitraan Untuk Gaya Kepemimpinan

Anugerah hidup sebagai makhluk Tuhan di muka bumi adalah sebuah karunia yang tidak dapat digantikan oleh apapun juga. Kodrat anak cucu Adam pun terlahir sebagai pemimpin di alam semesta karena manusia adalah satu-satunya makhluk ilahi yang memiliki akal maupun hati nurani. Sedangkan tanggung jawab adalah inti dari sebuah kepemimpinan yang menjadi petunjuk arah menuju kepada sebuah kepastian dalam peradaban.Pemimpin adalah bertanggung jawab untuk dapat menyalurkan jawaban dari sebuah permasalahan, bukan memberikan persoalan; sehingga pemimpin yang hakiki lebih kepada seorang yang memiliki tanggung jawab etis dengan mengutamakan partnership daripada leadership.

Leadership, Management & the Military New Version

Leadership yang selama ini memiliki pengertian sebagai sebuah kepemimpinan yang dilengkapi oleh kemampuan manajerial yang baik ternyata belum cukup lengkap jika tidak disertai oleh partnership. Ketika seorang manusia diberi kepercayaan untuk memimpin, maka yang ada dibenak sebagian dari mereka adalah, bagaimana proses yang mereka lakukan untuk mencapai keberhasilan dari organisasi yang dipimpinnya dapat dikatakan sukses, namun, partnership yang seharusnya menjadi bagian dari leadership  acapkali tertinggal jauh tak terbawa dalam proses kepemimpinan, padahal pada partnership inilah tertelak sebuah tanggung jawab sebagai intisari dari sebuah kepemimpinan. Leadership tanpa partnership atau kepemimpinan tanpa kemitraan akan member beban secara langsung terhadap para followers. Dalam bahasa yang lebih singkat, kepemimpinan yang bertanggung jawab seharusnya disertai dengan kemitraan kepada bawahan dalam wujud seorang pemimpin harus turun langsung dan ikut bekerja membantu beban yang akan diselesaikan sehingga para followers  mendapatkan contoh yang baik dari kepemimpinan yang diterapkan.

Nakhoda, adalah pemimpin di dalam pelayaran sebuah kapal, sebelum nakhoda pergi berlayar tentunya dia akan mempersiapkan segala rencana untuk pelayarannya. Dia akan menyiapkan peta, kompas maupun alat penghitung waktu. Kemudian saat berlayar dia secara langsung akan mengemudikan kapalnya menuju arah yang direncanakan. Nakhoda, sangat kecil kemungkinan untuk menyerahkan tugas pelayarannya kepada anak buah kapal, karena tentu saja akan berakibat fatal bagi pelayarannya. Demikian pula dengan seorang juru terbang dalam menerbangkan pesawatnya. Bukan sebuah keniscayaan bagi seorang juru terbang untuk menyerahkan penerbangan kepada anak buah dalam pesawat terbang karena akan berakibat fatal jika penerbangan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Dua buah contoh di atas membuktikan bahwa kepemimpinan tentu dapat menghasilkan kejayaan jika sang pemimpin langsung berkecimpung dalam setiap permasalahan yang akan dihadapi bersama-sama.

Hakikat seorang pemimpin adalah, dia akan selalu memberi arah yang baik dengan penuh tanggung jawab; pemimpin adalah seorang pelayan yang senantiasa mampu melayani maupun mengatasi kesulitan pengikutnya; pemimpin adalah seorang yang paling mampu dan menguasai bidangnya sehingga dapat menjadi mentor bagi pengikutnya; pemimpin adalah orang yang pandai bukan “pandai-pandai”, memiliki visi dan misi yang baik serta dapat berfikir secara konseptual; pemimpin adalah seorang yang berkemampuan team building, bekerja bersama dan senantiasa memberi pelajaran yang baik kepada pengikutnya; dan seorang pemimpin dituntut mampu untuk berinovasi dalam mengembangkan potensi pengikutnya disertai manajerial yang tertata.

Memang, pemimpin bukanlah malaikat yang segala sesuatunya pasti benar, karena pemimpin pun tidak dapat luput dari sebuah kesalahan. Akan tetapi, memilih diantara “mendelegasikan” atau “kemitraan” layaknya sebuah pilihan hidup untuk berhasil atau gagal. Karena “mendelegasikan” tidak selamanya bertanggung jawab, namun, “kemitraan” pun dapat dilaksanakan dengan cara mendelegasikan tetapi bertanggung jawab.

Dwight+D+Eisenhower+eisenhower“The ability to decide what is to be done and then to get others to want to do it.” – Dwight D Eisenhower

Sebuah cuplikan dari seorang maestro kepemimpinan dan pemimpin dunia di zamannya. Tidak mustahil D Eisenhower mampu menggapai puncak posisi orang nomer satu dunia saat itu karena beliau berprinsip bahwa kepemimpinan bukanlah “bakat” namun, lebih kepada sebuah kemampuan untuk melakukan pekerjaan hingga selesai dengan sempurna dan tanpa paksaan sehingga pengikutnya akan mengerjakan dengan ikhlas apa saja yang beliau inginkan. Terlepas dari sebuah posisi atau jabatan, kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan untuk memastikan sebuah organisasi mencapai tujuan, disertai pula keahlian dalam memotivasi orang lain, sehingga untuk membuat keputusan dan berkomunikasi dalam hubungan dinamis antara dirinya dan anggota lain dari kelompok kerja dapat terjalin dengan baik dengan tujuan yang tercapai. Pada akhirnya, pemimpin yang sukses harus mampu memotivasi tim mereka dengan memahami apa saja hal-hal yang memotivasi setiap individu dan memungkinkan mereka untuk memotivasi diri mereka sendiri sebanyak mungkin dalam lingkungan yang sedang berjalan dengan dorongan dan dukungan dari pemimpin.

 

‘The crowd will follow a leader who marches twenty steps in advance; but if he is a thousand steps ahead they do not see or follow him’-George Brandes

Apapun yang diniatkan dengan baik pasti akan berujung kepada kebaikan pula, itulah janji alam kehidupan dalam peradaban manusia. Sedangkan berbanding terbalik dari kalimat sebelumnya bahwa segala yang berbentuk berlebihan hukumnya akan menghasilkan ketidak-sempurnaan. Demikian halnya dengan kepemimpinan yang sangat menggebu-gebu yang seakan-akan berjalan menghadapi rintangan di depan para pengikutnya sehingga terlalu jauh jarak atau dapat pula diartikan sebagai seorang pemimpin yang dalam menerapkan kepintarannya kurang menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki para pengikut, pada akhirnya “si pengikut” hanya dapat memandang dari kejauhan dengan ketidak-mampuan untuk mengimbangi “Sang Pemimpin”. Seorang pemimpin tentunya selain harus mampu turun langsung ke lapangan dia juga harus sesekali melihat ke”belakang” tentang kondisi pengikut yang dia pimpin. Ketidak-mampuan seorang pengikut untuk mengimbangi “langkah” sang pemimpin tidaklah mutlak kesalahan pengikut tersebut, tetapi lebih kepada sejauh mana pemimpin tersebut peduli terhadap kondisi maupun mem-fasilitasi pengikutnya untuk memiliki kemampuan yang diinginkan organisasi demi tujuan menuju keberhasilan.

 

PattonNever tell people how to do things. Tell them what you want them to achieve and they’ll surprise you with their ingenuity. –Gen George Patton-

Kontradiktif, berikan mereka kepercayaan dalam mewujudkan apa yang anda inginkan. Terkadang dengan keseriusan seorang pemimpin yang turun langsung ke lapangan dapat menyebabkan anak buah merasa kurang dipercaya. Seni dalam kepemimpinan inilah yang sangat dibutuhkan untuk melihat celah-celah bagi anak buah agar mereka tidak merasa ditinggalkan namun tetap memiliki kepercayaan yang pasti dari pemimpinnya. Sehingga anak buah akan dapat berfikir lebih independen dalam memberikan ide-ide positif yang sangat berguna bagi pemimpin untuk mencapai keberhasilan. Dengan ide-ide cemerlang akhirnya mereka akan dapat memberikan solusi-solusi yang baik dalam menghadapi tantangan dan halangan yang menghadang, tentu saja menyelesaikan masalah bersama-sama jauh lebih indah daripada mengedepankan egoisme. Dengan begitu maka kepercayaan diri yang timbul segera menimbulkan inovasi dan inisiatif yang gemilang. Setelah itu seorang pemimpin akan mudah menentukan keputusan dengan dukungan penuh dari orang-orang dibelakangnya.

 

Reward dan punishment, sebuah kiasan yang sama arti dengan cash and carry. Memang, sesekali sebuah penghargaan dari sebuah keberhasilan dapat menyebabkan moril anak buah menjadi berlipat-lipat untuk kembali memberikan yang terbaik yang bisa dia lakukan, tetapi tidak jarang pula sebuah penghargaan sebagai motivasi hanya sebatas motivasi saja bagi mereka yang sering berprestasi. Tidak dipungkiri di dalam suatu kelompok anggota sudah dapat mengetahui siapa yang tampil terbaik di antara mereka sehingga bagi mereka yang berkemampuan terbatas sebuah penghargaan bukanlah hal spesial, bahkan sama sekali tidak menjadikan pemerataan kemampuan diantara anggota lainnya. Apalagi untuk sebuah hukuman, akan sangat menyebabkan hasil yang kurang optimal dalam menimbulkan kondusifitas dalam lingkungan bekerja. Demikian dapat diibaratkan kepemimpinan bagai sebuah transaksi. Jika hasil yang baik maka transaksi berhasil, sebaliknya kegagalan menjadi sebuah petaka sepanjang masa (transactional leadership). Sedangkan jenis kedua adalah transformational leadership. Sebuah kepemimpinan yang lebih mengarah pada inovasi seorang pemimpin yang bersifat visionary, selalu berinspirasi, percaya diri dan modern. Pemimpin yang bersifat transformatif ini akan menghasilkan pemerataan kemampuan dari orang-orang yang dipimpinnya. Selalu melakukan check, re-check and final check kepada bawahannya, melihat kemampuan para follower maupun memahami kesulitan yang dihadapi anak buahnya tanpa melihat status dan objektif bukan sesuai selera. Sebagai contoh, jika seorang pemimpin transformatif akan mebuat sebuah kapal, maka yang dia lakukan bukanlah langsung memerintahkan anak buahnya mencari kayu-kayu besar untuk pondasi kapal, melainkan akan mengajari apa saja tantangan yang akan mereka dihadapi di dalam pelayaran berikutnya sehingga akan memancing daya pikir bawahan untuk berbuat yang terbaik dengan segala inovasi maupun inisiatif.

 

‘Leadership is one of the spirit, compounded of personality and vision; its practice is an art’.-Field Marshall Slim-

Pada akhirnya, kepemimpinan adalah seni dan seni adalah pilihan layaknya kehidupan. Apakah yang kita pilih sudah baik kita dan orang lain atau hanya baik menurut kita, mungkinkah kita memilih sesuatu yang kurang baik menurut kita namun baik untuk semua orang, sehingga pilihan pun butuh sebuah pengorbanan. Leadership adalah pilihan dan loyalitas bagi yang dipimpin pun tanpa syarat.

Advertisements

Penakut Diantara Idealisme Dalam Kenyataan

images4Berawal dari sebuah brainstorming yang dilemparkan tentang idealisme versus kenyataan, ketika harus memilih untuk memegang teguh prinsip hidup demi menuju sebuah pembaharuan yang nyata. Berbicara tentang idealisme dan kenyataan merupakan dua bahasa filsafat yang memiliki pengertian yang sangat berbanding terbalik dimana idealisme muncul ke permukaan sejak awal kehidupan manusia sebagai makhluk yang memiliki hati didukung oleh nilai-nilai kebenaran yang diajarkan oleh keyakinan dari berbagai macam kepercayaan. Sedangkan kenyataan pun juga hadir ditengah-tengah kehidupan manusia sejak pertama kali manusia ada di bumi ketika manusia dapat menggunakan panca inderanya untuk berinteraksi secara sosial dengan lingkungan sekitar sehingga dapat melihat kenyataan yang terjadi di sekitarnya selama dia hidup. Dari pemahaman yang beragam bagi setiap insan bahwa idealisme yang sarat dengan attitude penuh kedisiplinan, berkarakter kuat serta taat pada peraturan sedangkan kenyataan sebagai tingkah laku yang cenderung menunggu, melihat kenyataan ataupun menyesuaikan dengan keadaan yang dianggap wajar oleh atmosphere, maka tulisan ini akan memberikan warna yang berbeda dari dua kubu yang bertolak belakang tersebut dimana penggabungan diantara keduanya menumbuhkan sifat penakut adalah kalimat yang tepat untuk menuju sebuah pembaharuan yang nyata.

Mengambil sebuah definisi tentang idealisme maka dapat diartikan sebagai sifat-sifat atau karakter seseorang yang hanya menerima moral dengan standar yang tinggi; memiliki estetika dan menghayati agama dengan baik; dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada. Seorang idealis sering juga melakukan sesuatu program-program yang sulit dicapai dan dianggap oleh orang lain tidak sesuai dengan  fakta-fakta yang berlaku di lingkungannya.Fikiran, akal dan jiwa berada diatas materi, material dan kekuatan (Sudrajat, 18). Dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat pada akhirnya idealisme dapat pula dikelompokan menjadi dua macam, yakni:  idealisme yang melahirkan insipirasi-inspirasi baru yang bisa dilakukan dalam realitas; dan sedangkan idealisme pasif adalah idealisme yang hanya semu, tidak pernah bisa diwujudkan, bersifat utopis saja.

Kenyataan, dengan melihat segala sesuatu di sekitar kita dan memahami kondisi yang ada bukan dalam konteks pasrah, namun lebih kepada “mem-fasilitasi” kekurangan yang ada demi terciptanya idealisme yang diharapkan. Bisa diambil contoh, ketika suatu kelompok yang yang dituntut untuk memiliki kemampuan atau keahlian yang baik dalam bidangnya namun secara penilaian kelompok tersebut masih jauh dari kata “ideal”. Dapat pula kasus ini disebut sebagai kegagalan yang disampingnya terbesit sebuah pertanyaan, “apakah keinginan terhadap tuntutan yang baik tersebut telah mendapatkan dukungan yang memadai?”; “apakah sudah terbentuk sebuah program yang baik pula di dalam tuntutan menuju kebaikan tersebut?”; atau, “apakah sudah ada rasa takut untuk menjadi penakut dalam diri masing-masing yang dituntut atau penuntut?”

Memang, sebagai manusia yang ditakdirkan sebagai makhluk yang ofensif menjadi penakut adalah sebuah keniscayaan yang memalukan, akan tetapi ada beberapa contoh yang baik bahwa menjadi penakut ternyata tidak selamanya memalukan, antara lain: ketika seorang pelajar takut saat ujian tidak dapat menjawab persoalan untuk kelulusannya sehingga dia mempersiapkan pelajaran yang akan diuji dengan matang; disaat seorang anak manusia merasa takut dimasa tuanya menjadi sakit-sakitan sehingga dia rajin berolahraga dimasa mudanya; ketika kehidupan bertetangga kita takut terjadinya “gesekan” yang menyebabkan pertikaian maka kita perbesar toleransi kehidupan sesama; jikalau kita takut ditilang Pak Polisi dijalan raya maka kita siapkan Surat Ijin Mengemudi sebagai lisensi berkendaraan bermotor; dan seandainya umat manusia takut masuk neraka, maka berbuat soleh lah selama hidup di dunia.

blogger-penakut

Sehingga menjadi jelas bahwa menjadi penakut justru perbuatan yang sangat terpuji dimana jika kita kaitkan antara idealisme dan kenyataan akan didapat sebuah kalimat “jika kita takut kehilangan idealisme maka jagalah idealisme tersebut dengan melihat kenyataan”. Disaat kita merasa segala sesuatu harus ideal, apakah pada kenyataannya lingkungan mengijinkan kita untuk menjadi ideal; apakah di dalam setiap langkah menuju ideal kenyataannya sudah kita laksanakan dengan ideal; ataukah hanya diri kita sendiri yang merasa ideal tanpa diiringi rasa takut terhadap kegagalan dengan segala konsekuensinya. Karena terkadang untuk berbicara ideal tidaklah sesulit dalam berbuat padahal didalam perbuatan tersebut terdapat sebuah kenyataan yang harus di “pecut” dengan rasa takut sebagai motivator anti kegagalan.

Sungguh sebuah realita, ternyata menjadi penakut tidak selamanya memalukan dan justru semakin membuat diri waspada serta melihat kenyataan menuju sebuah idealisme yang kita harapkan. Menjadi penakut diantara idealisme dalam kenyataan adalah sebuah alternatif atau jalan lain menuju kesuksesan dalam idealisme bukan sukses sebagai pecundang layaknya penjahat-penjahat kelas wahid dalam jeruji besi Nusakambangan atau Cipinang.

“Don’t be afraid to be a “chicken” as long as keep straight on good parameter”

Salam

SevenEleven

Ref:

A. Sudradjat, Ajat. Filsafat, Idealisme dan Realisme. Bab 3 http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Prof.%20Dr.%20Ajat%20Sudrajat,%20M.Ag./BAB%20%203%20-%20FILSAFAT%20IDEALISME%20DAN%20REALISME.pdf, cited at January 2013

Diantara Pemahaman (Understanding) Dan Intelijen

Abstrak

j0316767Memahami dan mengembangkan sebuah pengetahuan untuk dapat memperoleh pemikiran yang baik sehingga kita dapat mengetahui apa yang telah dan sedang terjadi di lingkungan sekitar kita serta memperkirakan sesuatu yang terjadi untuk dapat mengenal dan mengantisipasi apa yang mungkin mengimbas sebagai sebuah proses pengolahan informasi yang akurat adalah peran penting dari sebuah proses intelijen. Terutama jika dikaitkan dengan konteks kepentingan dan tujuan nasional sebuah Negara maka “memahami, kekuatan dan mempengaruhi” adalah sesuatu yang dapat menjawab intelijen question yang terdiri dari “siapa, apa, bilamana,dimana, bagaimana dan mengapa”. Situation awareness, untuk mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang kemudian dianalisa menjadi sebuah pemikiran yang luas dalam memandang sebuah permasalahan sehingga menjadi sebuah hasil yang berdasarkan pemikiran tersebut dan menjadikan siapa pun dapat memperkirakan sebuah cara untuk penyelesaian dari sebuah permasalahan.

Memahami (Understanding)

Sedangkan “pemahaman” dalam konteks pertahanan dapat pula didefinisikan sebagai persepsi dan interpretasi dari situasi khusus dalam rangka membentuk sebuah pemikiran dan perkiraan untuk mendukung efektifitas intelijen dalam men-support  penentu kebijakkan dalam memuat sebuah keputusan. Dalam mengembangkan sebuah pemahaman yang perlu diperhatikan adalah: kemampuan seorang atasan untuk dapat mengartikulasikan sejelas mungkin tentang requirement  yang dia butuhkan sehingga tidak ada kesalahan didalam proses intelijen yang akan dilaksanakan; kemampuan untuk dapat mengembangkan jaringan dan sistem dalam segala lingkungan dan kalangan serta adaptable didalam situasi dan kondisi apapun; memiliki pengetahuan yang baik tentang domain kebutuhan manusia bukan untuk memanipulasi melainkan untuk dapat “memahami, kekuatan dan mempengaruhi” menjadi sebuah situation awareness yang diharapkan; sehingga situation awareness dapat memberiikan gambaran secara umum di dalam medan operasi; mampu untuk dapat mengatur dan mengeksploitasi dengan jelas dan terintegrasi satu sama lain baik secara konvensional maupun secara penguasaan teknologi informasi dan komunikasi.

Intelijen

catur_3Intelijen dapat diartikan sebagai sebuah analisa informasi yang terarah dan terakuisisi dengan baik yang dikerjakan berdasarkan leader intention untuk membantu seorang leader didalam membuat sebuah keputusan, sedangkan informasi adalah sebuah data yang belum diolah dari deskripsi yang didapat dan akan digunakan dalam produk intelijen. Peran intelijen itu sendiri adalah untuk  mengembangkan pemahaman tentang informasi yang diperoleh; memberi dukungan pada seorang pengambil keputusan agar mendapatkan keputusan yang cepat dan tepat; dan mendukung monitoring dan evaluasi. Intelijen didalam sebuah Negara berbasis demokrasi merupakan bagian dari elemen nasional bangsa yang terdiri dari, Diplomasi; Informasi, Militer; dan Ekonomi. Intelijen termasuk dan memiliki peran diantara keempat elemen tersebut. Terutama di zaman berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi, tanpa peran intelijen dan pengolahan informasi maka institusi Negara tidak akan dapat berjalan secara efektif dan hal ini berlaku di semua Negara. Jika ada slogan “hancurkan suatu Negara maka hancurkan militernya”, dan “untuk hancurkan militernya, perlu dihancurkan intelijennya terlebih dahulu” sehingga sedemikian pentingnya setiap insan memahami tentang kepentingan nasional yang akan selalu tetap terjaga dengan adanya kegiatan intelijen Negara.

Implikasi Pemahaman bagi Pimpinan dan Staf Intelijen

Pemahaman yang baik dapat ditunjukkan bukan melalui perkataan, melainkan dapat dilihat melalui sikap dan aktifitas seseorang didalam melaksanakan tugasnya. Jika seseorang memiliki pemahaman yang baik maka kemungkinan besar dia akan memiliki etos kerja yang baik dibidangnya karena pemahaman telah membuat dirinya yakin dalam menghadapi permasalahan apa pun; sangat besar pula peran pemahaman (understanding) untuk dapat mempengaruhi diri sendiri, kawan bahkan musuh sekali pun; dapat merasa nyaman bekerja dalam lingkungan dengan permasalahan yang kompleks disertai hal-hal yang bersifat ambigu; mudah beradaptasi sehingga senantiasa menghasilkan keputusan yang bagus dengan tetap melaksanakan fungsi monitoring dan evaluate untuk mempelajari konsekuensi dan efek dari keputusan yang telah dikeluarkan.

Diantara memahami kemudian menciptakan sebuah analisa dari informasi yang diolah sehingga menjadi suatu bentuk pemikiran atau wawasan dan menciptakan situation awareness dalam bentuk perkiraan-perkiraan yang menjadi saran dan masukkan bagi seorang pemimpin didalam menentukan keputusan demi menuju pencapaian tujuan dan kepentingan nasional sebuah Negara. Demikian peran intelijen yang membutuhkan pemahaman dari seluruh warga Negara dengan harapan intelijen bukan saja milik institusi pertahanan, keamanan maupun badan intelijen saja melainkan sudah sewajarnya bahwa warga Negara adalah insan intelijen yang dapat mendukung kerahasiaan Negara; kepentingan nasional; tujuan nasional. Menjaga keutuhan Negara dengan pemahaman intelijen dan apabila tidak bisa, “diam adalah aksi” terbaik.

Bukan untuk membungkam arus demokrasi, namun hanya sekedar memberi pemahaman (understanding) dan intelijen untuk kepentingan dan tujuan nasional Bangsa.

Salam

SevenEleven

Ref:

  1. JDP 2-00, 3rd Ed, 2011

Air Power Nasional Indonesia Dalam Kesatuan Komando

cropped-csc0378.jpgAir Power dapat didefinisikan sebagai segala upaya, pekerjaan dan kegiatan untuk menggelar kekuatan pertahanan Negara di udara maupun luar angkasa dengan menggunakan alutsista atau peluru kendali yang dioperasikan dari atas permukaan bumi. Alutsista yang dimaksud adalah berbagai macam tipe pesawat, helicopter maupun pesawat udara dan helicopter tanpa awak (AP 3000).

Kita ketahui bahwa sejak awal abad 20 ditemukannya benda terbang bernama pesawat oleh Wright bersaudara maka tanpa mengurangi peran kekuatan maritim bahwa kekuatan udara telah menambah jarak jangkau dan kemampuan serangan sebuah kekuatan militer sebuah Negara. Menghemat waktu tempuh sehingga menambah daya kejut dari sebuah serangan menuju kemenangan dari sebuah pertempuran. Sustainability dan  Force Protection pun semakin meningkat dengan ketinggian yang dimiliki pesawat terbang karena semakin menambah perhitungan musuh untuk menjangkau daya tangkal terhadap serangan dari udara.

Memang, tidak pula dihindari bahwa beberapa kekurangan dari penggelaran kekuatan udara karena disebabkan oleh anggaran yang mahal; kebutuhan pangkalan udara dan infrastruktur harus memadai; terbatas oleh cuaca dan medan terrain yang dihadapi serta membutuhkan kemandirian produksi alutsista yang memadai sangat dirasakan penting dalam memenuhi Air Power yang diinginkan sesuai dengan harapan sebuah Negara Kepulauan seperti Indonesia sehingga dengan kemandirian pula maka anggaran seyogyanya dapat mudah ditekan karena peralatan tidak membeli dari luar negeri lagi; keterbatasan cuaca dan medan terain dapat diselesaikan dengan teknologi canggih yang dimiliki; infrastruktur serta penyediaan pangkalan-pangkalan udara pun bukan masalah bagi Negara Kepulauan seperti Indonesia.

Keberadaan Air Power  yang kuat dalam pertahanan Negara sangat bermanfaat  dalam rangka mengeksploitasi kemampuan untuk menyerang central of gravity lawan terkait di mana pun mungkin musuh berada menajjdi sangat mudah dijangkau oleh sebuah kekuatan udara dengan tingkat kehancuran yang lebih optimal. Berperan secara signifikan sebagai faktor penentu bagi barisan serangan pasukan darat dalam operasi atau kampanye militer gabungan sehingga memberi kemudahan dan keleluasaan bagi pasukan gabungan untuk masuk ke dalam pusat pertahanan lawan. Namun, kontrol udara berupa ground fac tetap diperlukan jika ops serangan strategis harus dilaksanakan. Biasanya dilakukan setelah pasukan khusus berhasil melakukan infiltrasi untuk mengetahui posisi dan letak target yang akan dihancurkan.

Selain itu, peranan Air Power pun tidak hanya terbatas dalam lingkup Angakatan Udara saja, melainkan juga berperan dalam menghalangi dan mengalahkan serangan udara musuh di wilayah sendiri terhadap serangan udara musuh dalam bentuk Extended Air Defence (EAD) dimana perang pertahanan udara selalu berhadapan dengan teknologi canggih berupa perang elektronika, Rudal Aerodinamika Taktis (TAM), serangan pesawat tempur lawan dan UAV sebagai ancaman kecepatan rendah dalam operasi informasi musuh. Maka Air Power bisa dikatakan memiliki peran yang kuat serta menimbulkan efek langsung pada musuh untuk menetralkan kemampuan dan keinginan perang musuh dan melumpuhkan sasran strategis musuh pula. Anti-Surface Warfare (ASUW) adalah sebuah operasi serangan yang mencakup berbagai target permukaan laut dimana target yang kemungkinan berada pada jarak yang dekat dari kekuatan maritim kawan dan berpotensi mengancam kekuatan maritim kawan. Anti Surface Warfare  ini identik dengan Close Air Support  hanya pelaksanaannya berada di atas permukaan laut.

Manuver udara gabungan terdiri atas pesawat sayap putar dan tetap, dengan pengelompokan operasi dukungan udara, meliputi:

–       Operasi Linud

Sebuah operasi pergerakkan pasukan penerjunan udara menuju sasaran yang telah ditentukan dengan menggunakan pesawat angkutan udara.

–       Air Assault dan Mobilisasi Udara

Sebuah pergerakkan pasukan kawan dari satu poin menuju sasaran yang ditentukan, lazimnya di drop dengan menggunakan helikopter sebagai sumber daya terintegrasi untuk mengoptimalkan mobilitas pasukan darat, termasuk Dukungan Tempur dan memperkuat firepower.

–       Air Mechanised Operation

Sebuah operasi dukungan udara yang bertujuan untuk menambah kemampuan tempur yang menjadi lebih optimal dengan meningkatkan personel tempur dengan menggunakan helikopter transport. Melibatkan kekuatan tempur yang independen dalam dan dari udara tanpa melibatkan elemen kekuatan darat.

–       Operasi Dukungan Amfibi

Dukungan kekuatan udara yang diberikan oleh darat dan laut berdasarkan pada kekuatan udara tergantung pada lokasi dan letak sasaran, biasanya menyertakan peran combat air support, tetapi juga dapat mencakup Air Counter, Anti-Submarine Warfare (ASW) dan Anti Surface Warfare (ASUW), dan Combat Air Suppoert Operation.

–       Anti-Surface Warfare (ASUW)

Melakukan tindakan ofensif atau defensive dalam rangka mencegah serangan efektif ketika musuh menggunakan kekuatan permukaannya terintegrasi dengan reccognaisance dan surveillance sedini mungkin ketika musuh telah terdeteksi oleh kekuatan sendiri.

–       Anti-Submarine Warfare (ASW)

Melaksanakan tindakan ofensif dan defensive dalam rangka melawan efektifitas serangan dari kapal selam musuh. Dalam pelaksanaannya dapat melibatkan pesawat penggunaan fix wing berupa pesawat patroli maritim (MPA), helikopter ASW atau pesawat udara lainnya.

–       Transportasi Udara

Dimana terbagi menjadi transportasi udara strategis yakni dukungan udara untuk pergerakan pasukan dari satu poin menuju medan operasi dan transportasi udara taktis yaitu menyediakan dukungan udara dari satu poin ke poin lainnya di dalam suatu medan operasi.

–       Operasi SAR dan SAR Tempur

Di dalam suatu peperangan dimungkinkan terjadinya pukulan yang menyebabkan kekuatan udara kawan tertembak dan jatuh di daerah lawan. Tugas SAR tempur inilah yang berperan untuk mengevakuasi personel yang terjebak dalam wilayah musuh tersebut karena dimungkinkan personel tersebut dapat bertahan hidup dan menunggu evakuasi pertolingan pihak kawan.

Dari berbagai macam jenis operasi udara di dalam Air Power maka dapat kita lihat betapa pentingnya peran Air Power itu sendiri dalam suatu operasi gabungan dimana peran tiga matra yang terintegerasi sangat memerlukan kesatuan komando yang memadai. Kita ketahui bahwa saat ini didalam mengerahkan kekuatan udara dala pertahanan Negara di Indonesia masih terpecah menjadi beberapa kesatuan komando, dimana Komando Pertahanan Udara Nasional merupakan kotama TNI sedangkan penggunaan kekuatan udaranya berada di dalam struktur TNI AU sendiri. Seperti halnya Angkatan Laut Indonesia yang telah merancang Komando Wilayah Laut Nasional demi mencapai kesatuan komando, maka sudah sepantasnya pula TNI AU sebagai pemegang Air Power nasional juga mengembangkan wilayah pertahanan udara nasional menjadi satu kesatuan komando.

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, tugas Angkatan Udara salah satunya adalah bertugas melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara di seluruh Indonesia. Dalam konteks ini TNI AU diharapkan mampu melaksanakan pemberdayaan kewilayahan tentang pertahanan udara dengan mengembangkan serta menyatukan Komando Pertahanan Udara Nasional berada ke dalam ruang lingkup TNI Au sehingga kesatuan komando atau  Unity of Command dapat dimiliki oleh Angkatan Udara di sebuah Negara Kepulauan yang luas Bernama NKRI.

Salam

SevenEleven

Ref:

  1. AP 3000, 2010