Penakut Diantara Idealisme Dalam Kenyataan

images4Berawal dari sebuah brainstorming yang dilemparkan tentang idealisme versus kenyataan, ketika harus memilih untuk memegang teguh prinsip hidup demi menuju sebuah pembaharuan yang nyata. Berbicara tentang idealisme dan kenyataan merupakan dua bahasa filsafat yang memiliki pengertian yang sangat berbanding terbalik dimana idealisme muncul ke permukaan sejak awal kehidupan manusia sebagai makhluk yang memiliki hati didukung oleh nilai-nilai kebenaran yang diajarkan oleh keyakinan dari berbagai macam kepercayaan. Sedangkan kenyataan pun juga hadir ditengah-tengah kehidupan manusia sejak pertama kali manusia ada di bumi ketika manusia dapat menggunakan panca inderanya untuk berinteraksi secara sosial dengan lingkungan sekitar sehingga dapat melihat kenyataan yang terjadi di sekitarnya selama dia hidup. Dari pemahaman yang beragam bagi setiap insan bahwa idealisme yang sarat dengan attitude penuh kedisiplinan, berkarakter kuat serta taat pada peraturan sedangkan kenyataan sebagai tingkah laku yang cenderung menunggu, melihat kenyataan ataupun menyesuaikan dengan keadaan yang dianggap wajar oleh atmosphere, maka tulisan ini akan memberikan warna yang berbeda dari dua kubu yang bertolak belakang tersebut dimana penggabungan diantara keduanya menumbuhkan sifat penakut adalah kalimat yang tepat untuk menuju sebuah pembaharuan yang nyata.

Mengambil sebuah definisi tentang idealisme maka dapat diartikan sebagai sifat-sifat atau karakter seseorang yang hanya menerima moral dengan standar yang tinggi; memiliki estetika dan menghayati agama dengan baik; dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada. Seorang idealis sering juga melakukan sesuatu program-program yang sulit dicapai dan dianggap oleh orang lain tidak sesuai dengan  fakta-fakta yang berlaku di lingkungannya.Fikiran, akal dan jiwa berada diatas materi, material dan kekuatan (Sudrajat, 18). Dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat pada akhirnya idealisme dapat pula dikelompokan menjadi dua macam, yakni:  idealisme yang melahirkan insipirasi-inspirasi baru yang bisa dilakukan dalam realitas; dan sedangkan idealisme pasif adalah idealisme yang hanya semu, tidak pernah bisa diwujudkan, bersifat utopis saja.

Kenyataan, dengan melihat segala sesuatu di sekitar kita dan memahami kondisi yang ada bukan dalam konteks pasrah, namun lebih kepada “mem-fasilitasi” kekurangan yang ada demi terciptanya idealisme yang diharapkan. Bisa diambil contoh, ketika suatu kelompok yang yang dituntut untuk memiliki kemampuan atau keahlian yang baik dalam bidangnya namun secara penilaian kelompok tersebut masih jauh dari kata “ideal”. Dapat pula kasus ini disebut sebagai kegagalan yang disampingnya terbesit sebuah pertanyaan, “apakah keinginan terhadap tuntutan yang baik tersebut telah mendapatkan dukungan yang memadai?”; “apakah sudah terbentuk sebuah program yang baik pula di dalam tuntutan menuju kebaikan tersebut?”; atau, “apakah sudah ada rasa takut untuk menjadi penakut dalam diri masing-masing yang dituntut atau penuntut?”

Memang, sebagai manusia yang ditakdirkan sebagai makhluk yang ofensif menjadi penakut adalah sebuah keniscayaan yang memalukan, akan tetapi ada beberapa contoh yang baik bahwa menjadi penakut ternyata tidak selamanya memalukan, antara lain: ketika seorang pelajar takut saat ujian tidak dapat menjawab persoalan untuk kelulusannya sehingga dia mempersiapkan pelajaran yang akan diuji dengan matang; disaat seorang anak manusia merasa takut dimasa tuanya menjadi sakit-sakitan sehingga dia rajin berolahraga dimasa mudanya; ketika kehidupan bertetangga kita takut terjadinya “gesekan” yang menyebabkan pertikaian maka kita perbesar toleransi kehidupan sesama; jikalau kita takut ditilang Pak Polisi dijalan raya maka kita siapkan Surat Ijin Mengemudi sebagai lisensi berkendaraan bermotor; dan seandainya umat manusia takut masuk neraka, maka berbuat soleh lah selama hidup di dunia.

blogger-penakut

Sehingga menjadi jelas bahwa menjadi penakut justru perbuatan yang sangat terpuji dimana jika kita kaitkan antara idealisme dan kenyataan akan didapat sebuah kalimat “jika kita takut kehilangan idealisme maka jagalah idealisme tersebut dengan melihat kenyataan”. Disaat kita merasa segala sesuatu harus ideal, apakah pada kenyataannya lingkungan mengijinkan kita untuk menjadi ideal; apakah di dalam setiap langkah menuju ideal kenyataannya sudah kita laksanakan dengan ideal; ataukah hanya diri kita sendiri yang merasa ideal tanpa diiringi rasa takut terhadap kegagalan dengan segala konsekuensinya. Karena terkadang untuk berbicara ideal tidaklah sesulit dalam berbuat padahal didalam perbuatan tersebut terdapat sebuah kenyataan yang harus di “pecut” dengan rasa takut sebagai motivator anti kegagalan.

Sungguh sebuah realita, ternyata menjadi penakut tidak selamanya memalukan dan justru semakin membuat diri waspada serta melihat kenyataan menuju sebuah idealisme yang kita harapkan. Menjadi penakut diantara idealisme dalam kenyataan adalah sebuah alternatif atau jalan lain menuju kesuksesan dalam idealisme bukan sukses sebagai pecundang layaknya penjahat-penjahat kelas wahid dalam jeruji besi Nusakambangan atau Cipinang.

“Don’t be afraid to be a “chicken” as long as keep straight on good parameter”

Salam

SevenEleven

Ref:

A. Sudradjat, Ajat. Filsafat, Idealisme dan Realisme. Bab 3 http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Prof.%20Dr.%20Ajat%20Sudrajat,%20M.Ag./BAB%20%203%20-%20FILSAFAT%20IDEALISME%20DAN%20REALISME.pdf, cited at January 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s