Semesta Mendukung (Mestakung)

Tahukah anda, ternyata terbang dengan membentuk formasi huruf “V” bagi sekumpulan angsa yang hidup di kutub dapat menghemat energy bagi mereka. Ini adalah bagian dari kebutuhan mempertahankan hidup bagi angsa-angsa kutub tersebut. Ketika angsa tersebut kedinginan karena suhu yang membeku maka mereka terbang untuk menghangatkan diri, namun untuk terbang dalam jangkauan jauh menuju daratan benua sangat tidak memungkinkan karena jarak yang jauh, sehingga terbang dengan formasi “V” ini adalah formula yang tepat dalam keluar dari kondisi kritis bagi mereka.

bukit_pasir

Kemudian mari kita coba perhatikan gambar di atas ini, terlihat sebuah tangan sedang mengumpulkan tumpukan pasir yang sedikit demi sedikit menjadi sebuah bukit pasir. Ketika semakin lama tumpukan pasir meninggi maka gaya gravitasi bumi lambat laun akan memaksa gundukan pasir tersebut runtuh sedikit namun pasti. Akan tetapi hukum alam telah membentuk sebuah kekuatan sama rata dalam gundukan pasir tersebut sehingga bentuk simetrisnya akan menjadi asimetris atau melengkung kesamping karena tanpa diperintah keajaiban telah mempertahankan bukit pasir tersebut tidak runtuh seluruhnya melainkan tetap berdiri walaupun kehilangan simterisnya. Dalam kondisi kritisnya bukit pasir tersebut berhasil tidak runtuh dalam bentuk asimtris namun kokoh dengan kebersamaan (Surya, Yohanes).

Upaya setiap makhluk untuk dapat berhasil keluar dari sebuah kondisi kritis, dimana molekul-molekul; syaraf-syaraf dalam tubuh; lingkungan sekitar; maupun kondisi alam, dalam berbagai elemen bekerja untuk proses pengaturan diri secara bersamaan, disebut semesta mendukung (mestakung). Pada kondisi point of no return, ketika tidak ada kesempatan untuk kembali kecuali terus maju melangkah, walaupun berat beban dan rintangan yang dihadapi, maka yakinlah bahwa sel-sel tubuh kita telah ter-setup dengan otomatis terhadap anti kegagalan. Dikatakan bahwa sebuah sugesti positif akan membawa hasil yang positif, namun kontradiksi bahwa sugesti negatif pun akan menjadikan hasil yang tidak baik pula.

Semesta mendukung, semesta itu sendiri bukanlah satu bentuk yang dapat berdiri sendiri. Semua pendukung “semesta” harus dihadirkan dalam setiap kesempatan demi anti negatif yang tidak kita harapkan. Memang, mungkin saja manusia telah mengatur dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dia inginkan, namun apakah lingkungan maupun kondisi alam menginginkan bukanlah nilai kepastian untuk jawaban pertanyaan tersebut. Sering kali manusia telah berupaya se-optimal mungkin untuk mendapat hasil yang terbaik dari apa yang dia inginkan, tetapi segala upaya tersebut seakan-akan sirna ketika keberhasilan tidak kunjung hadir malahan sebuah kegagalan. Jika sudah pada titik nadir atau dalam kondisi kritis maka sudah seharusnya kita memperhatikan “semesta” agar nilai-nilai positif segera hadir dalam sebuah bentuk pil anti-kegagalan.

Memperhatikan “mestakung”, semesta mendukung bisa dikatakan sebuah keniscayaan bagi umat manusia untuk senantiasa introspeksi diri ke arah dalam bukan membenarkan selera. Disaat mestakung dalam hal negatif telah berulang kali mengingatkan manusia, maka yang perlu dilakukan sebagai manusia segeralah perbaiki diri serta berdoa pada Ilahi “semoga murka Ilahi tidak melewati kami, bagi kaum-kaum yang masih menginginkan kebaikkan berdiri diatas kejahatan”.

Saat ini mestakung bagi saya adalah: “Harga seonggok daging bernama Manusia yang jumlahnya ¼ miliar di sebuah Negeri Bernama Indonesia, jauh lebih murah daripada barang usang yang sudah sakit-sakitan”.

SevenEleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s