Mayor: Tabrak, Tatap Atau Kikis Tembok Tersebut

1 April 2013,

Tepat 12 tahun lebih 3,5 bulan pengabdian kami di dalam kedinasan serta melayani, mengayomi segenap rakyat dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah ukuran yang masih termasuk singkat bagi masa pengabdian seorang abdi Negara, karena kami bukanlah apa-apa dan juga bukan siapa-siapa. Kami dibina dan ditempa dengan menyandang keperwiraan, kami pun menamakan diri dengan Perwira Muda Angkasa Angkatan 2001 atau Pamungkas ’01.

Mengarungi pengabdian dengan penuh keikhlasan, saat ini, 1 April 2013, kami dipercaya untuk menerima anugerah dari Negara dengan kenaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi serta satu level lebih tinggi. Selain kenaikkan Kapten menjadi Mayor dan level pun meningkat dari perwira pertama menjadi perwira menengah.

Namun, pantas atau tidaknya sebuah anugerah yang diberikan Negara tersebut kami terima sejujurnya adalah tergantung dari apa yang kami lakukan untuk Negara ini, tentunya loyalitas kami adalah pada urutan teratas, tapi sayang jika loyalitas kami hanya digunakan untuk loyalitas menurut selera bukan software yang telah kami buat sendiri. Perlu diketahui, untuk mewujudkan perubahan yang hakiki bagi Negara Indonesia tercinta ternyata kami pun belum sanggup untuk merelakan kepala kami dibenturkan pada sebuah tembok besar nan amat keras karena tubuh kami hanya berupa seonggok daging lembek dan tak mampu menahan kerasnya tembok batu besar tersebut.

Sewajarnya, jika ingin berubah maka janganlah setengah hati, menunggu nanti ataupun pasrah menunggu tumbal yang lain. Siapakah yang ikhlas jika melihat sebuah Negara yang gemah ripah loh jinawi berada di Kepulauan Nusantara nan amat luas disertai kicauan burung-burung yang beraneka ragam, tumbuhan yang manis buahnya dan isi laut yang begitu memukau dunia kemudian menjadi ikon “Meksiko atau Kolombia” dari Asia. Kita ketahui bersama bahwa dua negara Amerika Latin tersebut adalah sebuah Negara besar namun kerdil dikarenakan kehidupan hukum rimba yang berlaku di sana. Akankah kami harus terus menyalahkan sistem yang berlaku, padahal sistem yang jika dilakukan saja dengan sebaik-baiknya akan jauh lebih bermanfaat daripada sibuk merubah software atau sistem tetapi tetap saja pelaksanaannya sesuai selera.

Ya, memang betul, Mayor bukanlah segalanya bagi kami, karena kami selalu dididik untuk mengabdi demi kepentingan Negara bukan kepentingan yang lain. Singkatnya, loyal kepada organisasi bukan kepada pribadi atau seseorang karena seseorang tersebut pasti juga akan mati, tetapi organisasi akan tetap berdiri selama Negara ini tetap berdiri.

Kemudian, kesejahteraan pun bukan hanya nominal uang yang ada dalam benak kami, melainkan kami sangat senang dan bangga jika harga kami sebagai manusia sedikit ditingkatkan dibandingkan barang rongsokkan yang sudah usang tersebut. Seperempat miliar atau 230 juta jumlah penduduk Indonesia tentunya semakin membuat murah harga nyawa kami karena jika hilang satu diantara kami masih ada 229 juta pengganti kami. Kepastiannya, kami bukanlah bangsa cengeng, tetapi kami adalah prajurit yang wajib dijaga moril tempurnya.

Nama Pamungkas ’01 sama sekali tidak mewakili apa yang saya sebutkan dalam artikel ini, melainkan hanya memberi gambaran bahwa kami dididik dan ditempa untuk menjadi pintar bukan “pintar-pintar”, sehingga bisa membawa bangsa ini kepada arah yang lebih baik.

Selalu berfikir positif dan membuang prasangka buruk serta bunuh rasa sukuisme dalam setiap hubungan sosial akan jauh lebih penting daripada hanya membanggakan kejayaan masa lampau padahal aslinya dari dulu bangsa ini memang gemar berkelahi. Sebuah slogan bahwa kita adalah bangsa yang damai dan sampai saat ini pun itu hanya sebuah slogan karena bukanlah damai melainkan “damai-damai”, yakni berdamai jika memiliki kepentingan yang sama dan jika tujuan sudah berbeda autoenemy (otomatis menjadi musuh) akan muncul.

Dan, pilihannya cukup jelas. Menjadi Mayor yang pintar? atau pintar-pintar? senang damai? atau damai-damai?

Kemudian, tantangan pun jelas, “menabrak tembok”, “menatap tembok”, atau “mengikis tembok”. Karena sekeras apa pun tembok besar tersebut, jika dikikis pelan-pelan lambat laun akan hancur juga. Asal ada kemauan.

SevenEleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s