Langkah Kaki Kanan Dengan Bismillah…

Saya secara pribadi telah menyampaikan ataupun syiar yang gamblang, bahwa militer yang mengabdi melalui jalur penerbang tempur dalam hidupnya selalu penuh dengan kehormatan dan kebanggaan. Ketika berjuang dan bertempur bahkan berusaha semaksimal mungkin untuk melawan peralatan tempur yang sudah tua dan mudah rusak. Moril bagi mereka bukanlah berupa angka-angka dalam bentuk uang ataupun materi serupa lainnya, melainkan, cukup ketika berhasil “tepuklah dada” mereka, karena tidak jarang para aset bangsa tersebut tewas atau gugur bukan dalam pertempuran melainkan dalam kondisi latihan yang disebabkan bukan oleh sebab keterbatasan-keterbatasan kemampuan mereka.

Pentingnya bagi bangsa ini untuk menjaga dan memelihara aset penting dan strategis milik Negara dalam bentuk sumber daya manusia terutamanya seorang penerbang, karena mendidik mereka bukan dalam waktu yang singkat dan mudah. Saya ambil sebuah ilustrasi, seandainya setiap orang memiliki aset berupa emas atau berlian yang mahal, tentunya memelihara dan menjaga semaksimal mungkin keberadaannya agar tetap berada dalam jangkauan dan milik kita adalah sesuatu yang sangat penting.

Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, mencegah diartikan dalam hal menahan-nahan aset dengan berbagai cara padahal selama ini jarang dijaga dan dipelihara morilnya. Ingat, moril sekali lagi bukan hanya materi, melainkan kesejahteraan hati agar aset merasa dibutuhkan, dihargai dan mahal nyawanya dibandingkan barang usang yang sudah tua tersebut.

Bukankah, Indonesia memiliki 230 juta manusia, sehingga demikian banyaknya manusia sehingga nyawa-nyawa tersebut tiada berharga dan ketika nyawa hilang paling lama satu minggu semua sudah melupakannya. Menyelamatkan barang usang tersebut memang sebuah kewajiban dan bila disertai dengan kehormatan jauh lebih membanggakan. Semoga semuanya akan dapat menjadi lebih baik dan lebih dihargai.

(Gambar dari Google)

Melihat gambar di atas menunjukan bahwa betapa lucunya negeriku. Setelah berhasil menyelamatkan pesawat yang kehilangan daya thrust tersebut, bagi saya merupakan pengabdian terakhir saya di militer. Cita-cita saya memang selalu ingin membaktikan diri untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan hanya pengabdian pada satu institusi. Sehingga dimana pun saya berada tetap membawa misi pengabdian demi Indonesia yang saya cintai walaupun terlalu banyak kelucuan negeri yang kadang membuat saya berpikir bagaikan hidup di atas panggung lawak atau sebuah bangsa lawak atau semoga bangsaku tidak berubah menjadi Negara lawaK Republik Indonesia, naudzubillah…

Sehingga hijrah adalah sebuah pilihan demi mencapai kemurnian hati yang hakiki. Alhamdulillah. Langkah kaki kanan dengan Bismillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s