Renungan Dalam Ramadhan

Usai sudah perhelatan akbar ala demokrasi berbentuk kampanye pemilihan Presiden di negeri seribu satu mimpi dengan segala mimpi indah yang dijanjikan para pemangku kepentingan serta diharapkan hasilnya oleh penerima entah itu janji atau hanya sebuah bualan semata.

Bagaimana pun nanti hasilnya adalah sebuah kenyataan yang harus dilalui bangsa ini. Pun jika sang idola gagal memenangkan kepentingannya, kepentingan umat hanyalah dapat tetap melaksanakan syariat dengan damai.

Tak apalah hidup dalam keminoran bumi Indonesia asal dakwah tetap dapat dilakukan sebaik-baiknya bagi umat yang hidup dalam kuantitas besar namun kecil kualitasnya.

Benar, bahwa kepentingan demi persatuan adalah di atas segala-galanya, namun, dakwah dan syariah adalah kebutuhan. Sebuah kebutuhan dimana ketika tanpa gangguan tentunya dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Kehidupan, memang tercipta dengan berbagai lapis. Ketika disebutkan di atas langit selalu ada langit, maka di atas sebuah kepentingan pun selalu ada kepentingan yang lebih besar. Sejak awal penciptaan manusia pun ternyata kehidupan manusia tetap tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh Sang Penciptanya.

Hingga manusia sendiri yang selalu tidak menginginkan dirinya selalu dikaitkan dengan fitrahnya sendiri. Dan menjadi berbagai paham atau ideologi atau kelas-kelas atau apalah namanya.

Seandainya, manusia diberi kemampuan oleh Sang Khalik untuk dapat mengingat janjinya sebagaimana fitrahnya diciptakan di muka bumi, sehingga proses “iqra” menjadikan dakwah sebagai kebutuhan makanan bagi tubuh yang sejatinya tidak akan pernah utuh.

Kenyataan ketika sensus penduduk menyatakan jumlah yang besar sebagai dominasi yang kuat, namun, selalu hidup dalam keterpojokan bahkan untuk menjalankan aqidah pun butuh perjuangan melalui cacian, makian atau mungkin harus melepaskan jati diri sebenarnya agar dapat ikut bergaul dan berteman dengan lingkungan.

Keinginan pun bukan berupa kemenangan egosentris dalam pengelompokan diri yang eksklusif, melainkan hanya sebatas ingin kembali sebagaimana fitrahnya saja.

Semoga, jika Sang Idola memenangkan pertandingan akbar itu, mereka bisa benar-benar mewujudkan Indonesia yang benar bukan sekedar baik.

Dan semoga juga, jika mereka-mereka itu terpilih, sehingga kata-kata “dihapusnya perda syariah”, “penghalalan kehidupan sesuka sesama jenis”,”pembiaran terhadap penjualan diri”,”mensuriahkan negeri tercinta”, hanya sebuah janji bohong atau candaan di siang bolong.

Minoritas di dalam mayoritas, ketika sesuatu yang harusnya satu telah terpecah pecah menjadi bagian bagian yang tak tersatukan.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s