Jumat Munajat Akhir Ramadhan 1435 Hijriah

Sila ketiga Pancasila “persatuan Indonesia”, sudah merupakan hal yg harus dijaga demi keutuhan bangsa dan negara.

Akan tetapi, mengapa semua lupa dengan Sila Pertama sebagai sendi sendi kehidupan manusia yang tidak dapat dilepaskan dengan Penciptanya.

KeTuhanan Yang Maha Esa, sebagai sumber dari sebuah kata agama…

Dimana agama selalu mengatur sendi sendi kehidupan manusia…

Mulai dari lahir hingga mati…

Mulai dari bangun tidur hingga terlelap larut malam…

Dari awal terbit matahari hingga terbenam di ufuk barat…

Kemudian, bagaimana mungkin kehidupan kapitalisme yg sarat dengan pluralisme ingin memisahkan kehidupan manusia dengan nilai nilai keTuhanan…

Tanpa agama kehidupan korupsi dianggap biasa karena tiada pembatas yg jelas…

Melupakan agama sodomi berlaku luas dikalangan homoseksual dan pedofilia…

Memisahkan agama dari kehidupan menjadikan pelacuran sebagai pekerjaan tetap yang dibela mati2an…

Saya tidak yakin bangsa Nusantara ini menjadi hedonis dimana budaya hedonis ini adalah bawaan kaum pendatang yang saat ini juga telah menjelma menjadi raja raja korup yg kabur keluar negeri…

Kembali kepada fitrah manusia sebagai manusia yang taat beragama dan bernafaskan keTuhanan Yang Maha Esa adalah solusi untuk majunya Indonesia di hari hari yang akan datang…

Beragama dan berTuhan bukan berarti anti terhadap perbedaan. Karena setiap perbedaan itu tanggung jawab nya ada pada diri pribadi kepada Tuhan masing masing…

Justru dengan beragama dan berTuhan maka akan semakin indah perbedaan sesamanya…

Mari pahami sila pertama Pancasila sebagai dasar pemahaman sila sila berikutnya…

Berikut ini petikan yang saya kutip dari Hasil penelitian Litbang Departemen Agama terhadap paham Islam Liberal tentang al-Qur’an yang berkembang di Yogyakarta; didiskusikan tanggal 14 November 2006:

“Al-Qur’an bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah kepada Muhammad , melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvesional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di nusantara ini hermeneutika makin digemari”

Dan benar sekali bahwa zaman ini terlalu banyak yg mengaku Islam namun pemahaman nya sebatas budaya arab…naudzubillah…

Yuk kembali pada fitrah…kembali akan merindukan Ramadhan…

#bukanantiPancasila
#bukanstatuspilpres
#menggugahHatiSesama
#antiKomunis
#antiKapitalis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s