Firaun KW Empat dan Si Penjilat Pantat

Kepada Firaun KW empat dan si Penjilat Pantat…

Mungkin dia merasa kecolongan…

Sehingga tak sanggup menghambat makhluk lemah ini…

Firaun oh Firaun…

Kekecewaanmu atas kecolonganmu itu…

Janganlah kau jadikan bahan untuk menghambat sanakku..

Kau adalah pemimpin, dan setiap detikmu adalah hisab di hadapan Allah…

Hai Firaun KW empat…

Sadar kah kau bahwa Firaun original yang begitu luas kekuasaannya

Seakan langit dan bumi menjadi miliknya…

Ternyata tenggelam beserta pasukan dan harta-hartanya…

Apalagi hanya engkau wahai Firaun KW empat…

Beserta satu penjilat pantat…

Engkau Firaun KW empat dan seorang penjilat pantat…

Tak sadar sisi kanan kirimu tak nyaman bersamamu…

Merasa kuat seakan sesuatu berlaku atas hukum mu…

Engkau merasa amanah dengan kesengsaraan kanan dan kiri…

Atau engkau sedang terbuai oleh jilatan si penjilat pantat…

Hai Firaun KW empat…

Dan si penjilat pantat…

Sadarlah…umur manusia tak lebih dari enam puluh empat…

Sekarang lah waktu yang tepat…

Untuk anda sekalian bertobat…

Bandung…Dua Puluh November Dua Ribu Satu Empat…

———–
Bukan sajak politik…

Advertisements

The Real People Power (Dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat)

Berfikirnya ringkas dan simpel. Mengingat slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga apa yang tidak mungkin dilakukan oleh sebuah bangsa yang kaya dengan sumber daya alam beserta sumber daya manusia.

Hitungannya bukan njelimet ala jetset ekonom yang sering tampil di televisi. Maka anggaplah diantara 250 juta jumlah manusia di negeri ini 50 juta adalah orang tua dan anak bayi, 100 juta adalah orang miskin dan non produkstif sehingga hanya 100 juta kepala saja yang mampu.

Bergeser sedikit ke pasar kampung. Karena hanya di pasar kampung inilah uang senilai 10.000 rupiah masih efektif berguna. Kemudian, buat apa uang ini dimaksudkan? Ya, uang adalah alat pembayaran untuk jual beli yang sah di dunia ini sehingga semua berebut mencarinya.

Menggabungkan dari sedikit data di atas beserta simpelnya pola fikir ini kemudian sambil melihat pemberitaan media mainstream. Bahwa, asik sekali para lakon negeri berburu investor asing untuk kejayaan bangsa dan negara. Sehingga para investor tersebut sejatinya telah membeli “sesuatu” dari apa yang ada di negeri kaya raya ini.

Mari kita bermain matematika sederhana, dimana uang 10.000 ribu rupiah tersebut jika dikumpulkan dari sejumlah 100 juta rakyat yang mampu seperti data ringkas di atas, maka bukan jumlah yang tidak fantastis adalah 1.000.000.000.000 (Satu Triliun Rupiah)

Wow, lumayan bukan? Seminggu saja rakyat patungan 10 ribuan atau di kali tujuh hari akan terkumpul 7 trilun. Bisa buat menambah APBN, atau membiayai penjagaan laut atau biaya anti maling ikan. Daripada minta bantuan asing.

Mari kita tunjukkan “people power” yang positip. Bukan “people power” grusah grusuh bikin rusuh dan berharap chaos dimana-mana. Mengumpulkan 10.000 per kepala selama 7 hari adalah salah satu unjuk kekuatan rakyat yang tidak berkhianat, tidak bikin rusak dan tidak bikin pecah. Dan maaf, bagi yang suka dengan Indonesia pecah pasti sedih melihat tulisan ringkas ini.

10.000 rupiah tidak lebih mahal daripada harga sebugkus Sampoerna Mild Menthol

Dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat

Puisi Minggu Pagi (November 2014)

Aku menulis…

Melalui hati, lewat otak dan sum sum tulang belakang…

Memerintahkan tangan jari jemari dan untuk menekan “papan kunci”

Tanpa ada kepentingan…

Tidak jua Mencari muka untuk jabatan…

Hanya untuk diriku…

Mungkin juga untuk anak-anakku…

Atau keluargaku…

Bisa juga untuk lingkunganku…

Sapa tau juga untuk negeriku…

Bila tidak pun tak mengapa…

Selama bisa terus berkata jujur dari dalam hati…

—————–

Aku menulis…

Melalui hati, lewat otak dan sum sum tulang belakang…

Memerintahkan tangan jari jemari dan untuk menekan “papan kunci”

Tanpa ada kepentingan…

Tidak jua Mencari muka untuk jabatan…

Terus berinstrospeksi…

Walau caci maki terus menghampiri…

Karena nafkahku bukan dari menulis ini…

Melainkan sekedar hobi…

Bukan untuk menghina atau mencaci…

——————

Aku menulis…

Melalui hati, lewat otak dan sum sum tulang belakang…

Memerintahkan tangan jari jemari dan untuk menekan “papan kunci”

Tanpa ada kepentingan…

Tidak jua Mencari muka untuk jabatan…

Karena kepentingan selalu mengalahkan kesucian hati…

Terus mengatasnamakan Ilahirabbi…

Padahal mengidolakan komprador negeri…

Aku menulis dengan kejujuran hati…

Poros Maritim Apa Yang Diharapkan?

Coretan super singkat ini muncul ketika membaca cuitan seorang sesepuh bangsa berkata:

@chappyhakim: Poros Maritim, RI sangat membutuhkan kekuatan laut,sayangnya, kekuatan laut tidak banyak gunanya tanpa Air Superiority & Air Suprermacy !
https://mobile.twitter.com/chappyhakim/status/530501669977849857

——————–

Definitely agree, Sir!!!

Pada hakikatnya, Air superiority dan Air supremacy adalah transformasi dari kekuatan maritime yang di modern kan.

Kenapa, pada saat zaman majapahit dan sriwijaya kita kuat dengan kekuatan maritim? Karena saat itu belum ada pesawat terbang.

——————–

Poros maritim! Totally agree!

Tapi hendaknya pahami dulu hakikat dari maritim modern zaman ini…

Butuh kedewasaan yang baik untuk memahami domain per domain. Kita bisa lihat, bagaimana kekuatan US Navy?

——————-

Idenya simple dan sebenarnya semua orang sudah tahu, bahwa dahulu kala sebuah kapal perang adalah sarana terkuat sebuah negara untuk ekspansi keluar dari masa kegelapan.

Lambat laun, dari sebuah kapal layar, ketidakpuasan manusia ingin kembali kapalnya menjadi lebih cepat daripada milik musuhnya?

Hingga terciptalah sebuah mesin yang dipasang disebuah kapal…

Kemudian, ide dari sebuah burung, dimana secepat apapun kapal melaju ternyata masih kalah cepat dengan burung2 yang bertransmigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hingga, singkat cerita terjadilah sebuah kapal terbang, bukan sebuah kebetulan, bahwa bahasa kapal terbang hanya ada di Indonesia yang merupakan sebuah negara maritim pada saat itu.

Sehingga pesawat atau aeroplane dalam bahasa Inggris disebut sebagai kapal terbang sebagai bahasa ibu yang tanpa disadari melekat dalam bahasa keseharian kita.

Karena melihat atau terobsesi sebuah benda melayang dengan cepat bermimpi sebagai sebuah kapal.

——————–

Kembali ke domain…apakah domain kita sebenarnya? Domain AU? AL?atau AD? Merupakan domain-domain kecil dan domain besarnya jauh lebih penting adalah domain NKRI?

Memang, semua masih dalam rabaan, bahwa ditakutkan menjadi sebuah kegamangan oleh program “anak emas” kelautan sehingga besar harapan domain-domain kecil tersebut tidak saling cemburu, padahal sesungguhnya program “trimatra terpadu” dari yang terdahulu sudah mengarah ke poros maritim yang sesungguhnya.

——————–

Poros maritim akan kuat jika ketiga domain tersebut menjadi satu dan kuat pula.

——————–

Kembali alur mundur pada sejarah pertahanan yang ada di dunia. Pada awalnya, sebuah negara tumbuh dan hidup dari daerah pesisir dimana sumber kehidupan melimpah di dalamnya.

Dilanjutkan dengan majunya pola berfikir sehingga dari daerah pesisir yang sering terjadi pergolakan dengan kehidupannya yang keras, maka bangsa-bangsa tersebut memindahkan pusat pemerintahannya ke arah pedalamanyang memliki sungai dengan harapan, tetap ada jalur cepat menuju pesisir tetapi dalam lingkup aman dan tidak mudah diserang lawan.

Dari sungai terciptalah sarana yang bernama kapal untuk menuju lautan, sehingga benteng di daratan diperkuat oleh sebuah pertahanan yang kita sebut saat ini dengan “defensif aktif” yang sangat sederhana. Ide bangsa pesisir yang penuh dengan lautan memang hidup kasar dengan perang, perang, dan perang.

Ekspansi, sebagai jawaban pasti, bahwa negara aman tidak akan diserang lawan apabila kita yang terlebih dahulu menyerang. Yang patuh menjadi kawan dan yang melawan luluh lantak terbakar bagaikan arang.

Manusia semakin pintar dan pesawat terbang menjadi jawaban pasti bahwa jarak dan waktu bukan lagi penghalang.

——————–

Poros maritim, yang tepat adalah dengan mengembangkan air superiority dan air supremacy di permukaan laut bukan lagi di atas daratan. Menggantikan peran the seventh fleet milik negeri paman Sam yang selalu berkeliaran di seputaran garis batas negara.

The seven fleet tidak lagi kita butuhkan, tetapi armada-armada pembawa kekuatan udara milik origin lah yang dibutuhkan. Armada kapal induk yang dahulu disebut tidak dibutuhkan karena kita punya banyak lahan untuk pangkalan udara, itu sebuah slogan usang karena poros maritim adalah pertahanan udara harus dari atas permukaan laut berlapis hingga daratan.

Singkat kata, sebuah harapan besar adalah kembalinya bangsa maritim yang jaya bukan sekedar mampu mengusir kapal-kapal ilegal dengan kapal perang saja, melainkan kemampuan sekaligus untuk mengusir kapal-kapal asing dan pesawat-pesawat asing sekaligus dari batas negara sebelum mereka berhasil memasuki wilayah kedaulatan kita dan terus berlapis hingga ke daratan.

Terus maju trimatra terpadu tanpa ego sektoral per domain untuk sebuah poros maritim demi kembalinya bangsa maritim yang jaya.

——————–

Paham dengan kodrat sebagai negara maritim pun harus paham dengan perkembangan zaman dan kemutakhiran teknologi.

Untuk mengulang sebuah kejayaan masa sejarah, bukan berarti harus kembali ke zaman sejarah…kembali ke hitungan hari per hari ketika semua sudah berpacu dengan hitungan per detik.

Karena kapal laut hanyalah sebuah titik tak bergerak bila dilihat dari angkasa…