( Takut ) Bangga Menjadi Kita Dalam Angka 70

Bangga, sebuah kata dalam realita apabila kita telah mencapai sebuah keberhasilan dalam tujuan. Namun, tak bisalah bangga jika terus dalam hidup yang berkesusahan, tertindas dan semua yang kita miliki dirampas orang alias terjajah. Secara harfiah, memang banggalah terlahir di bumi nan indah dengan ribuan satwa dan flora maupun berbagai macam kekayaan alamnya, lalu, bagaima secara lahiriyah, ketika semua tersebut itu tiada lain menjadi milik asing.

Aku bangga menjadi Indonesia, tapi aku sedih dalam keterjajahan ini. Segala ketidakmampuan semakin membuat negeri 1001 mimpi ini terus tergerus kekayaannya, namun entah kemana hasilnya karena belum ada yang bersinggungan dengan tubuh secara langsung hasil dari apa yang disebut dalam pasal 33 UUD 1945.

Tetapi, hidup harus terus berjalan, Sunnatullah pun tak bisa dibendung melainkan hanya dapat merunduk kebawah, menengadahkan telapak tangan dengan beberapa tetesan air mata dan hati kecil tetap dalam tauhid bahwa semua adalah milik Sang Khalik Allah Azza wa Jalla, sehingga dengan begitu berharap Sang Khalik akan kembalikan apa yang indah MilikNya kepada hambaNya yang disayangiNya.

Negeri ini merdeka akibat daripada ulah pemberontakan (baca asli: perjuangan syuhada) para ulama kepada pemerintah Belanda, melawan derasnya arus kezhaliman Bangsa Romawi yang ingin mencari dunia baru dimana telah termasyur kekayaannya sejak zaman dahulu kala hingga saat ini. Ribuan santri yang berlumuran darah tertembus timah panas bersarang di dada hingga melawan genosida terbesar yang dilakukan kelompok “palu arit” menjadi banjir darah milik mereka InsyaAllah Syuhada terhormat.

Sekarang, banyak gedung tinggi megah berhias wanita-wanita indah bekerja di dalamnya. Sebuah casing yang bagus untuk tampilan diluar background seakan-akan kita sedang senang padahal tak kalah jumlahnya dengan yang hidup senang bahwa mereka yang melarat pun hampir dua kali lipat. Haruskah bangga dengan kondisi ini? Sejujurnya saya ingin sekali bangga, tapi pedih juga rasanya untuk bangga padahal ada jutaan pengangguran yang sebentar lagi akan tersaingi oleh datangnya pekerja dari utara nan jauh disana.

Bila tak bangga, nanti aku dipenjara, baiklah jika memang harus bangga. Aku bangga menjadi Indonesia, entah secara harfiyah atau sebagai lahiriyah. Di hari jadi negeri ke 70 semoga bisa menjadi lebih baik dengan kepemilikan Allah Lillahita’ala. Agar adil, agar tak ada perebutan sana sini, hingga Allah Al-Hakim mengambil alih milikNya untuk hamba yang disayangiNya.

Jika bangga dalam sebuah kemenangan, maka aku takut bangga dalam kekalahan. Aku takut bangga ketika semua milikku dimiliki orang lain. Karena hanya kebodohan yang bangga dalam kemunduran. Tetapi aku harus bangga, ya sudahlah, tetap mengucapkan Selamat Ulang Tahun Indonesiaku!

Selamat Ulang Tahun ke – 70 Bangsa Indonesia! Aku Bangga karena Allah menjaga!

Advertisements

Trilogi Tiga Log

Ketika US Dollar melambung tinggi di Indonesia, ternyata beberapa kawan di seberang juga katakan hal yg sama bahwa di seberang US Dolar pun melambung tinggi…- P R O L O G –

Sesaat kemudian diberitakan, bahwa semua adalah akibat ulah China atau Tionghoa atau “Negeri Atas Angin” (jika Sang Gadjahmada menyebutnya) yang sengaja menurunkan nilai mata uang Yuan terhadap dolar sehingga berakibat melambungnya nilai mata uang berwarna hijau buram tersebut…- E P I L O G –

Turunnya nilai mata uang Yuan juga turun terhadap mata uang di Asia, sehingga China akan dengan mudah menjual barangnya di pasaran Asia dan akan meraup keuntungan besar karena warga Asia diharapkan akan berbelanja dengan mata uang Yuan yang tentunya jauh lebih murah daripada Dolar Amriki. Tak salah jika diprediksi nanti Yuan akan menjadi mata uang tandingan US Dolar…- Gob L O G –

Dan siapa yang pintar??? Yaaa…tentu China…atau Tionghoa atau “Negeri Atas Angin”

Demikian trilogi “Tiga L O G”…