Kasonaweja (Irian Jaya)

Bandara Di Tepian Sungai

Berangkat dari Bandara Sentani menuju arah 273 derajat menempuh jarak sekitar 270 kilometer menghabiskan satu jam penuh. Adalah Kasonaweja, sebuah bandara di daerah Memberamo Tengah, Kabupaten Memberamo Raya. Tidak seperti bandara-bandara lainnya di Papua yang berada di tengah gunung, Kasonaweja berada pada elevasi 75 meter, namun tetap berbukit pada kontur sekitarnya.

Kaso 1

Hanya memiliki panjang landasan 457 meter dengan lebar 20 meter, sebagaimana ciri khas landasan di daerah perintis. Walaupun tidak termasuk landasan dengan elevasi tinggi, Kasonaweja tetap dikelilingi perbukitan dimana seorang pilot yang akan mendaratkan pesawat di Bandara ini wajib untuk mengikuti “minima” yang telah ditentukan dalam “MAF Bible of Papua”.

Siapa pun kontan bertanya, “MAF Bible of Papua”, sejenis kitab suci apakah buku tersebut, karena buku yang dibuat oleh para penerbang misionaris berambut jagung (red: berambut pirang) adalah buku yang berisi tentang informasi dan tata cara “approach” terlengkap dan di “approve” oleh dinas perhubungan udara Indonesia beserta segala informasi lainnya tentang berbagai macam bandara di Papua.

Kembali kepada Kasonaweja, dimana ilusi pendaratan yang sering terjadi sebagai “common error” adalah cara pandang terhadap landasan yang super pendek dimana ujung landasannya berupa sungai namun terdapat semacam tanggul yang sedikit terlihat tinggi jika dari terlihat atas. Percaya pada parameter yang telah ditentukan adalah sebuah solusi yang tepat, karena apabila pendekatan mendarat terlalu tinggi akan berakibat fatal terjadi “overshoot landing”.

Jangan pernah berharap bahwa Bandara di pedalaman Papua dapat dipasang peralatan instrument pendekat pendaratan. Selain jumlah Bandara sejenis yang sangat banyak, juga kontur berbukit bahkan bergunung sepertinya akan mengacaukan pancaran sinyal peralatan secanggih apapun kecuali dengan solusi memotong gunung. Sampai saat ini, gelar penerbang visual masih dengan bangga disandang oleh para penerbang perintis di Papua, walaupun standarisasi instrument rating tetap sebuah requirement dalam lisensi pilot perintis.

kaso 2

Landasan dengan permukaan tanah keras berbatu ini terkadang menjadi lembek permukaannya saat hujan maupun setelah hujan. Tak jarang pesawat Caravan yang dioperasikan ketika berangkat bersih, namun saat kembali ke base di Sentani sudah membawa lumpur kering di sekitar body pesawat. Seyogyanya, ketika Bandara benar-benar basah karena habis hujan para penerbang melakukan maneuver melalui low level overhead sekedar memastikan apakah landasan bisa di darati atau membahayakan pesawat dan penumpang.

Tidak ada yang dipaksakan dalam melakukan penerbangan perintis di pedalaman Papua. Kadang ilusi terjadi ketika hari selepas hujan, air tergenang di atas landasan tanah terlihat seperti biasa saja padahal aslinya tanah menjadi lembek dan berlumpur saat tergenang air. Walaupun pesawat Caravan maupun beberapa pesawat perintis lainnya sudah di desain untuk dapat menghadapi medan yang sangat menantang serta dapat melakukan short field takeoff and landing, namun landasan tanah yang berair adalah sebuah contoh gejala alam yang tidak patut untuk dilawan.

Jangan pula pernah berharap ketika menunggu pesawat datang anda bisa duduk di sebuah ruang tunggu bandara yang mewah lengkap dengan pengeras suara, alat pendingin ruangan, televisi kabel maupun sebuah lounge yang bisa bagi penumpang untuk mengambil makanan sepuasnya melainkan hanya berupa rumah papan beratap seng serta ketika kita bertanya kepada petugas bandara dimana ruang toilet, dengan ringan mereka menjawab “sudah buang saja bawah pohon bapa…”

_DSC0372

Sesaat setelah mendarat di Kasonaweja, sebuah pemandangan yang sering terjadi juga pada bandara-bandara sejenis di pedalaman Papua, adalah datangnya anak-anak belia remaja berlarian mendekati pesawat untuk sekedar ingin menyentuh badan pesawat maupun minta berfoto bersama walaupun mereka tidak memiliki kamera melainkan menggunakan kamera ponsel milik pilot dan mereka bilang “tidak apa-apa bapa pailot yang bawa sudah foto kita ke kota” (dengan dialeg khas Papuans). Tersenyum melihat apa yang mereka lalukan, tetapi yakin bahwa dalam hati kecil mereka, bahwa mereka sangat ingin daerahnya menjadi lebih maju dikemudian hari.

(Pernah dimuat dalam majalah Aviasi edisi 92/ April 2016)

Credit Foto: Pribadi

Capt Teddy Hambrata Azmir

Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s