Sebuah Surat Untuk Sang Dokter Taria

Dimuat dalam Majalah Aviasi Edisi 94/2016

Selamat pagi Taria, cuaca begitu indah hari itu di sebuah desa terpencil wilayah utara kaki pegunungan bintang. Dengan elevasi 200 meter dari rata-rata air laut, Air Strip Taria belum termasuk dalam kategori mountainous air strip walaupun hanya berjarak beberapa kilometer saja sudah terlihat gunung-gunung menjulang tinggi.

Dari kejauhan terlihat samar-samar bentuk air strip Taria, karena memang landasan tersebut berupa gravel atau terdiri dari bebatuan kerikil yang di bawahnya merupakan tanah yang dikeraskan. Tepat di atas air strip kemudian sedikit maneuver ke kanan menyusuri sungai kecil yang menuntun pesawat hingga mendarat sebagai tanda-tanda di darat mempermudah pilot menuju landasan.

FullSizeRender

Hari itu saya membawa beberapa bahan bangunan untuk kesekian kalinya ke Taria. Bahan bangunan pesanan seseorang Dokter asal Menado yang konon akan digunakan untuk membangun sebuah Rumah Sakit.  Dalam benak saya, sungguh Dokter yang berwatak mulia karena rela menuju sebuah daerah yang jauh dari “peradaban” untuk membangun Rumah Sakit.

Saya sendiri belum pernah bertemu dengan Dokter tersebut, akan tetapi suatu saat sangat berharap bisa bertemu beliau. Mungkin hanya ada satu di dunia ini seorang berprofesi dokter yang mau melakukan “sesuatu” untuk negeri dengan jalan seperti ini. “Anti Mainstream”, itulah yang terbesit dalam benak pikiran saya, namun tetap dalam koridor yang mulia.

IMG_2527

Hari itu kami membawakan muatan berupa tegel keramik dimana sebelumnya cukup banyak karung semen yang kami hantarkan. Salah satu kenikmatan ketika mendarat di Taria adalah, masih adanya suara-suara hutan baik suara jangkrik hingga suara burung berkicau yang beraneka ragam bentuk dan ciri khasnya.

Seorang teman dari Autralia bahkan rela mengeluarkan kocek untuk meminta penduduk setempat mencari kupu-kupu liar yang beragam warna dan rupa. Terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan ragam flora dan fauna yang belum terjamah di derah yang asli ini.

Seorang bocah dengan lugu bertanya kepada saya “bapak pilot, saya ingin sekali menjadi pilot, agar bisa membangun daerah asal saya ini”. Kontan seperti ada yang mengganjal di tenggorokan saya tak bisa menjawabnya melainkan hanya berkata “bagus nak…belajar yang baik” sambil tersenyum karena saya tahu di Taria hanya ada satu orang ibu guru untuk semua kalangan. Semoga saja cita-cita sang bocah tercapai.

IMG_2528

Membayangkan ketika zaman Raja-Raja Nusantara dahulu kala, mereka membuka suatu daerah dengan istilah “babat alas”, dan saat ini beberapa daerah hasil “bukaan” telah menjadi kota-kota besar modern. Mungkin suatu masa dengan jasa Sang Dokter Mulia ini maka Taria akan menjadi sebuah kecamatan bahkan mungkin kota dengan sebuah niat yang baik dan tulus dari sang Dokter.

Gambar telah berbicara dengan jutaan makna. Maka setiap perjalanan saya menuju setiap sudut Pulau-pulau di Indonesia akan mengabadikan kisah dalam gambar dan tulisan. Semoga Sang Dokter senantiasa diberi kesehatan demikian pula halnya saya dan suatu masa bisa ada rejeki bertemu Sang Dokter mulia dari Taria.

IMG_2526

Biasanya kami melaksanakan tiga flight menuju ke Taria, namun hari itu hanya sekali saja dengan di dukung oleh cuaca yang sangat bersahabat. Masih banyak perjalanan Taria-Taria lainnya menanti di depan hari yang akan menjadi catatan indah dalam perjalanan hidup untuk dikisahkan kepada anak-anak dan istri di rumah.

prihatin

 

Artikel dan Foto : Capt Teddy Hambrata Azmir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s