Hai, Borneo! Samar-Samar Tertutup Asap!!!

Dari mata turun ke hati, melalui sumsum tulang belakang memerintahkan otak untuk jemari menari di atas papan kunci (keyboard).

Demikian ketika seorang pemandu terbang menulis dari hati dari apa yang dilihat sehari-hari. Terbang di area kalimantan barat melalui rute Ketapang-Sintang-Ketapang maupun rute serupa dengan tujuan Nangapinoh. Keduanya adalah sebuah daerah di bawah administrasi kabupaten Melawi di Kalimantan barat.

Kabupaten yang dari arah utara berbatasan dengan Malaysia di Utara Borneo ini terlihat dari atas sangat banyak ditanami kelapa sawit selain daripada hutan bebas lainnya. Kalimantan dengan icon “heart of earth” sebuah jantungnya bumi karena terdapat hutan tropis yang begitu beragam dengan satwa khas nusantara.

Sangat disayangkan dalam setiap tahun selalu saja mengalami kebakaran hutan yang tidak semestinya. Lahan gambut bukan sebuah alasan, karena tidak pernah ada asap jika api tidak tersulut. Pembukaan lahan untuk produksi kelapa sawit mungkin juga sebagai salah satu andalan daerah untuk menyumbang devisa bagi negara Indonesia, namun melakukan kebaikan seyogyanya harus dengan kebaikan.

asap-1

Pastinya, dengan membakar lahan untuk membuka lahan adalah jauh lebih hemat dan cepat waktu daripada menggunakan alat berat eskavator atau pun sejenisnya. Namun, banyak sekali efek negatif dari upaya kurang terpuji tersebut dimana asap kebakaran hutan yang terlapisi oleh lahan gambut sangat susah dikendalikan dan mengganggu keselamatan kerja di dunia transportasi udara.

Hal tersebut tentunya kurang baik dan tidak sejalan dengan program poros maritim nasional dimana pesawat udara adalah salah satu komponen penting perhubungan daerah-daerah terpencil termasuk Kalimantan. Sejatinya, pesawat udara akan menghubungkan setiap remote area yang ada di pulau Kalimantan, namun kadang terkendala oleh jarak pandang yang pendek disebabkan oleh asap kebakaran hutan.

Bandara-bandara yang mendukung penerbangan perintis sampai saat ini masih terbatas oleh peralatan navigasi, sehingga dalam setiap operasi penerbangan, setiap pesawat wajib mematuhi peraturan penerbangan Visual Meteorogical Condition (VMC). Ketika “musim” asap datang beberapa kali terjadi jarak pandang tidak lebih dari 50 meter, padahal peraturan mengatakan minimal jarak pandang agar penerbangan aman adalah 5000 meter.

asap-2

Efek domino dari pemikiran singkat pembukaan lahan dengan membakar hutan ternyata dapat menyebabkan lumpuhnya operasional dunia penerbangan. Satu sisi demi meraup untung besar dengan sedikit modal telah menyebabkan kebakaran hutan dan di sisi lainnya akan banyak kerugian perputaran ekonomi daerah dimana sangat bergantung pada transportasi udara.

Berbisnis untuk negeri dengan hati, bukan sekedar menyerap materi tanpa berfikir efek terhadap sisi dari bagian perekonomian lainnya. Ketika hutan terbakar, bukan saja produksi oksigen dunia berkurang, namun juga telah memproduksi jutaan carbon berserta gas berbahaya lainnya.

Bencana telah menjadi musim, dalam arti, dulu kejadian kebakaran hutan adalah sebuah bencana alam, namun saat ini bagaikan sebuah musim yang pasti datang silih berganti sesuai kebutuhan para perusak bumi, karena hampir setiap tahun kebakaran hutan ini terjadi.

asap-3

Bekerja dengan hati untuk sebuah negeri yang indah namun di olah tanpa pengejawantahan isi hati manusia-manusianya. Semoga kedepannya akan dapat lebih baik dengan tetap produksi demi perekonomian Negara namun tanpa melakukan perusakan masiv destruktif dan Kalimantan mendapatkan kembali udara segarnya sehingga penerbangan visual di dunia penerbangan perintis dapat terus melaksanakan operasionalnya dengan lancar dan aman.

 

 

 

Advertisements

Peran Pilot Indonesia Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara Dalam Menghadapi Proxy War Untuk Keutuhan NKRI

…Pasukan dari Daha datang menyerang Wijaya pada hari ketujuh bulan itu, Ike Mese dan Gaoxing datang pada hari kedelapan, beberapa prajurit Daha dikalahkan, sisanya kabur ke pegunungan. Pada hari kesembilan belas, pasukan Mongol bersama sekutu mereka tiba di Daha, bertempur melawan lebih dari seratus ribu prajurit, menyerang tiga kali, membunuh 2.000 orang sambil memaksa ribuan lainnya mundur ke sungai lalu meneggelamkan mereka. Jayakatwang mundur kembali ke istananya …(Yuan Shi – 210)

 

Berbagai macam teknik peperangan telah digunakan semasa manusia hidup di muka bumi. Di Indonesia sendiri, para leluhur pernah melakukan sebuah teknik dimana perang dan menang tanpa perlu berperang. Dimana saat itu Raden Wijaya Sang Pendiri Majapahit berhasil merebut kekuasaan pengkhianat Singosari dari Kediri bernama Jayakatwang dengan menggunakan kekuatan pasukan dari Kekaisaran Mongol.

Sehingga berkembangnya teknologi dengan selaras terhadap perkembangan pola pikir manusia, dimana taktik dan strategi menyesuaikan dengan kemampuan persenjataan yang dimiliki sebuah kekuasaan. Memperoleh kemenangan dengan sedikit upaya dan minimal korban jiwa adalah menjadi favorit dalam peperangan zaman modern saat ini. Persenjataan hanya menjadi sebuah simbol kekuatan namun sejatinya tidak murni digunakan dalam perang.

Terutama terhadap Negara seindah dan sekaya Indonesia, dimana penduduknya sangat banyak dan hampir semua “senang berperang”. Kita pelajari sejak zaman penjajahan, dimana wilayah nusantara tidak benar-benar dikuasai dengan kekalahan berperang, namun akibat pengkhianatan dan adu domba musuh; pembodohan umat manusia; dan penghapusan sejarah milenium menjadi sebuah sejarah Negara terjajah.

Hingga saat ini, babak “proxy war” benar-benar telah masuk ke negeri ribuan budaya dan terpisah oleh ribuan pulau sehingga sangat mudah bagi “musuh” Negara untuk menguasai Indonesia melalui doktrin-doktrin ideolodi baru; penyebaran narkotika dan obat-obatan terlarang; perdagangan manusia; sosial media.

Tulisan singkat ini dibuat dengan maksud memberi gambaran kepada Negara bahwa Pilot Indonesia siap berperan langsung dalam menghadapi “proxy war” dan bertujuan untuk membangkitkan jiwa siap bela Negara kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi para Pilot Indonesia.

Ancaman.

1. Narkoba.

Perang proksi, adalah perang yang terjadi ketika suatu pihak berperang dengan menggunakan kekuatan pihak ketiga sehingga pihak tersebut tidak ikut terlibat langsung dalam arena berperang. Perang tersebut tanpa menggunakan kekuatan fisik bagi pihak tertentu melainkan dengan intelijensia, adu domba sehingga aim tercapai untuk penguasaan suatu wilayah secara de facto sehingga dunia memandang perlu diakui secara de jure.

            Di Indonesia, perang proksi sudah sering dibahas tentang bahaya dan ancamannya, dimana bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam ribuan suku dan pulau ini sangat mudah menjadi sasaran perang proksi terlebih begitu banyak potensi sumber daya alam yang potensial untuk dikuasai.

Beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam konteks peran pilot Indonesia sendiri adalah permasalahan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Beberapa kali terdengar dalam berita di media, bahwa beberapa pilot terlibat dalam penggunaaan penyimpang dari obat-obatan terlarang tersebut. Sesungguhnya, melalui dunia penerbangan ini adalah pintu masuk paling mudah bagi musuh-musuh Negara dalam menjalankan aksinya untuk perang proksi tersebut.

Kita ketahui bersama, bahwa narkoba adalah bahan kimia terlarang yang dapat merusak otak dan mental manusia. Dengan mudahnya masuk ke Indonesia, maka akan mudah pula untuk menguasai sebuah Negara yang generasi mudanya lemah mental dan berpikiran mundur akibat dari reaksi narkoba dalam tubuh.

Terlebih pada penerbangan dari dan menuju luar negeri, karena pilot adalah manusia yang memiliki akses mudah untuk mencapai pesawat terbang sehingga sangat rawan untuk dimanfaatkan terhadap ancaman ini. Narkoba adalah ancaman serius bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan saja bagi Pilot, namun, pilot adalah salah satu bagian yang dapat menjadi sasaran empuk sebagai target penyerangan dalam perang proksi.

2. Pelanggaran Ruang Udara.

Selain daripada ancaman narkoba, ancaman yang sering terjadi di dunia penerbangan dan sedang hangat dibicarakan beberapa saat lalu adalah pelanggaran wilayah udara. Dimana sesuai Undang Undang penerbangan no 1 tahun 2009, terdapat wilayah-wilayah ruang udara terlarang dan terbatas yang tidak boleh dilewati oleh penerbangan sipil untuk kepentingan pertahanan Negara.

Perihal pelanggaran wilayah ruang udara ini, potensial memecah belah antara dunia penerbangan sipil dengan TNI sebagai instansi yang bertanggung jawab mengenai pertahanan udara nasional. Sejatinya kedua belah pihak adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan sebagai Komponen Utama (TNI) dan Komponen Cadangan (Pilot Sipil) dalam pertahanan nagara Indonesia.

Kita bisa mengambil contoh peristiwa 911 tahun 2001, walaupun banyak versi menceritakan analisa kejadian tersebut, pastinya perlu menjadi contoh baik bahwa perlunya sinergi antara Komando Pertahanan Udara Nasional RI dengan dunia penerbangan sipil guna menghindari terjadinya hal-hal serupa yang membahayakan ribuan bahkan jutaan nyawa.

Bukan untuk saling mencurigai, namun dengan terpadunya antara penerbangan sipil dan komponen pertahanan Negara, akan dapat menangkal segala ancaman peperangan proksi yang menjadi ancaman Negara. Tidak hanya pilot Indonesia, namun juga terhadap pihak pemandu lalu lintas udara dimana peran military civil coordination sangatlah penting dan harus ditingkatkan.

Upaya Penangkalan.

1. Narkoba.

Pilot Indonesia melalui Ikatan Pilot Indonesia telah melakukan audiensi dan menyatakan berperang terhadap Narkoba kepada Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. Audiensi dihadiri oleh Ketua Umum Ikatan Pilot Indonesia beserta para badan pengurus yang diterima langsung oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol Budi Waseso

Bahwa pilot Indonesia adalah insan berakal dan bermental baik yang anti terhadap narkoba dan akan terus memberikan penyuluhan kepada seluruh anggota Ikatan Pilot Indonesia untuk terus berperang melawan Narkoba yang bisa merusak mental bangsa Indonesia.

Menganggap bahwa Narkoba adalah musuh dan sampah masyarakat yang harus dibasmi dan diperangi. Ikatan Pilot Indonesia juga ikut serta mendukung peran Kementerian Perhubungan pada peningkatan aviation security di seluruh bandara-bandara yang ada di Indonesia sebagai salah satu pintu masuk utama narkoba ke Indonesia.

2. Pelanggaran Ruang Udara.

Telah diadakannya forum komunikasi ATC dan Pilot Indonesia oleh komite ATS Ikatan Pilot Indonesia bekerja sama dengan PT Airnav Indonesia dimana turut mengundang personel dari Kohanudnas untuk membahas pelanggaran wilayah ruang udara terbatas dan terlarang. Telah dipaparkan juga oleh Asisten Operasi Kohanudnas, Kolonel Pnb Palito Sitorus mengenai pentingnya menjaga wilayah ruang udara terlarang dan terbatas tersebut.

Untuk sebuah kepentingan pada masa-masa khusus misalnya jika terjadi emergency pada penerbangan pesawat sipil, masih akan dilakukan kesepakatan mengenai FUA (flexible use of airspace) sehingga kedepannya antara penerbangan sipil dan militer pertahanan Negara dapat lebih sinkron dan tercipta hubungan yang baik demi menangkal ancaman perang proksi yang ingin memecah belah rakyat Indonesia.

Kesimpulan.

Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pilot Indonesia adalah Komponen Cadangan yang potensial bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam hal menangkal ancaman perang proksi yang sedang mengancam Indonesia saat ini. Baik Narkoba maupun miss komunikasi mengenai pelanggaran wilayah ruang udara nasional Indonesia adalah potensi untuk memecah belah antara Komponen Utama (TNI) terhadap Komponen Cadangan (Pilot Sipil) yang seharusnya bersinergi demi kepentingan bangsa dan Negara dalam menangkal segala ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan bagi Negara di kemudian hari.

 

 

Assalamu’alaikum Jakarta

Ketika memutuskan untuk menulis artikel ini diantara beberapa laporan kerja dan berbagai artikel penerbangan yang menanti, bukanlah sebuah keinginan ekspos berlebihan atau ikut menyelam dalam kampanye hitam di era pilkada di seluruh Indonesia dalam kurun waktu empat bulan kedepan.

Hanya ingin sekali turut menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari beberapa banyak kejadian tersebut. Sebut saja peristiwa “411” yang ternyata susunan angka ini adalah lafaz Allah dimana kegiatan ini sejati mendapatkan ridha yang sangat besar sehingga berjalan lancar, damai dan aman hingga akhir malam ada beberapa insiden.

Mengapa insiden, terlalu banyak hal konspirasi untuk menjelaskannya bahkan menjadi “blunder” antar kalangan jika membahasnya. Namun, yang perlu diketahui adalah, tidak ada ada satu pun yang seharusnya menakutkan, karena aksi Ilahi adalah murni, walaupun ada yang “menunggangi” adalah bahasa politik pembesar Negara demi eksistensinya.

Islam, bukanlah agama baru di dunia ini. Sebuah agama yang dianut oleh Sang Adam berdasarkan Tauhid Ilahi Rabbi manusia pertama di bumi yang indah ini. Hingga dalam perjalan sejarahnya selalu diterpa angin, gelombang dan badai yang tidak mudah dihadapi. Islam, sejatinya akan menjaga manusia apapun yang ia yakini dalam naunganNya.

Umat yang ditakdirkan berjumlah banyak, menang kuantiti namun bagaikan “riak-riak ombak” tidak kuat dan kokoh sama sekali. Sehingga apa yang perlu ditakutkan dari Islam? Sebuah umat yang lemah karena telah terpecah-pecah. Apa yang kalian takutkan? Bersatunya kami tentunya alasan kalian terus melemahkan kami. Sehingga membuat kami dituduh sebagai “biang” penyebab masalah oleh kawan-kawan berbeda aliran lainnya.

Islam, tidak melarang umatnya bermuamalah, berhubungan sesama manusia kepada siapapun Ras dan Kepercayaannya, sedemikian halnya dengan aksi damai 4 November 2016, dimana Islam tidak menyasar kepada Non Islam maupun etnis Tionghoa. Mereka teman-teman kami, mereka halal untuk bermuamalah bagi kami, namun yang disasar adalah seorang pemimpin yang gemar berkata kotor yang telah menistakan Al Quran sebagai kitab suci yang kami jadikan pedoman hidup kami.

Disitulah letak permasalahannya dan jangan dibiaskan ke arah perbedaan antar keyakinan. Perbedaan antar keyakinan itu adalah hal yang pasti, karena takdir mengatakan bahwa setiap keyakinan pasti memiliki kitab yang isinya berbeda walaupun semua mengajak pada kebaikan umatnya.

Penistaan kitab suci serta penghinaan kepada ulama adalah sebuah hal yang prinsip bagi umat Islam, karena kepada ulamalah umat belajar dan mendengarkan hingga melakukan kebenaran yang hakiki. Sehingga tidaklah perlu kawan-kawan keturunan Tionghoa takut ataupun mengungsi demi menghindari Jakarta. Justru bersatulah dengan kami demi menuntut keadilan kepada si penista agama tersebut.

“Sudah minta maaf”, benar sekali, Islam adalah pemaaf, namun ada sebuah ilustrasi,”ketika ada sanak saudara kita diperkosa, dirampok dan dibunuh”, apakah kita sebagai keluarganya ikhlas masalah diselesaikan hanya dengan “maafkan saya khilaf”, apakah permintaan maaf Jessica bisa menghidupkan kembali Mirna? Tentunya hukum yang harus ditegakkan.

Kawan-kawan non muslim, Tionghoa dan Arab, ayolah bersatu dengan objektif melihat masalah ini, jangan provokasi diri anda sendiri oleh emosional minoritas yang sejatinya dijadikan “tameng” oleh si penista itu sendiri. Dia yang bersembunyi dari isu SARA dan minoritas tersebut dan ingin memecah belah kita yang sudah saling berdampingan tangan erat selama ini. Kami hanya tuntut SATU orang saja, bukan etnisnya.

Tak perlulah kita siapkan paspor karena pecahnya negeri ini, tetapi rapatkan saja barisan kita kawan-kawan. Tidak perlu berpikir konspirasi yang membingungkan itu kawan-kawan, karena dengan rapatnya barisan kita telah punya anti-proxy itu sendiri. Percayalah, trauma ’98 itu hanya menakuti anda dan tidak akan ada lagi!!! Jangan Takut Kawanku!!! Kita tetap bisa maju bersama!!! Luruskan niât kita bersama!!!

Peran Transportasi Udara Dalam Poros Maritim Nasional Indonesia

Dalam deklarasi Juanda yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Sekaligus menjadikan Indonesia menjadi sebuah Negara Kepulauan dimana dari setiap pulau-pulau tersebut dikelilingi oleh laut yang begitu luas.

Bentuk Negara Kepulauan bagi Indonesia, sejatinya tidak terlepas oleh sebuah konsep kemaritiman dimana wilayah nusantara beberapa kali mencapai puncak kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit dengan konsep kemaritiman. Wilayah Indonesia yang terdiri dari 2/3 lautan dimana 1/3 tersebut sebagai daratan, namun wilayah udara adalah 3/3 bagian dari seluruh wilayah Nasional tak terbatas hingga vertikal keatas.

Pesawat udara baru saja eksis sejak “Wright” bersaudara mewujudkan ide brilian mereka menjadi kenyataan dengan sebuah benda bergerak memiliki sayap dan bisa melayang di udara selama 10 detik. Sehingga teknologi menjadi terus berkembang dan terciptalah pesawat udara hingga saat ini.

Sebelum awal abad ke 20, semua transportasi hingga ekspansi menggunakan kapal laut untuk menghubungkan jarak yang memisahkan pulau-pulau di dunia. Kemajuan teknologi menuntut manusia untuk selalu ingin lebih cepat dan efisien sehingga pesawat udara yang tercipta bisa membantu peran transportasi antar pulau-pulau hingga antar benua dengan waktu relatif lebih singkat dan memiliki efisiensi tinggi.

Bisa dibayangkan, untuk zaman modern saat ini, ketika barang dari Jakarta maupun Surabaya dikirim ke Irian Jaya dan transit di kota Jayapura, Nabire dan Merauke. Untuk membawanya ke pegunungan tengah satu-satunya transportasi yang tepat hanyalah pesawat udara perintis dan helikopter yang memiliki kemampuan mendarat pada medan berat dan landasan yang relatif pendek.

Transportasi udara kian penting perannya dalam menghubungkan pulau-pulau yang ada di Indonesia demi terwujudnya pemerataan pembangunan serta memfasilitasi segala kebutuhan hidup hingga juga menjadi aset pariwisata kebudayaan sebagai salah satu fasilitas pengiriman kerajinan-kerajinan berbudaya dari timur Indonesia menuju pusat Nasional Indonesia.

Melakukan penerbangan pada media udara yang penuh dengan terrain tentunya bukan perkara yang mudah, sehingga membutuhkan beberapa peralatan pendukung dengan teknologi terkini seperti Performance Base Navigation (PBN). PBN adalah sebuah teknologi baru untuk aireal navigation dimana teknologi berbasis ABAS (Aircraft Based Augmentation System) dan GNSS (Global Navigation Satellite System)

Dengan teknologi PBN, dimana sebelumnya sangat sulit untuk memasang alat pemandu pendaratan di daerah remote dengan kontur pegunungan maupun bagi helikopter yang melakukan pendaratan di kilang-kilang minyak di tengah laut dimana bagaikan mencari jarum dalam pasir untuk menemukan kilang di tengah-tengah lautan lepas yang luas maka akan sangat berperan penting teknologi PBN tersebut dalam mendukung peran transportasi udara di sebuah Negara seperti Indonesia dengan program poros maritim.

Demikian peran sesungguhnya dari dunia penerbangan perintis dan helikopter dalam program “poros maritim” pemerintah yang sedang dijalankan saat ini, dimana “tol laut” tidak akan pernah sampai ke tujuan di Pegunungan tengah Papua tanpa adanya peran penerbangan perintis dan helikopter Nasional dengan dukungan fasilitas Performance Base Navigation.

Berikut adalah files dari hasil Seminar yang telah dilaksanakan,

Silahkan didownload dan Selamat membaca,

tor-final-edited

presentasi-chappy-hakim-indodefence-3-november-2016

presentation-r80-airtec-2016-ver-1-0-copy

ilham-habibie

runway-excursion-knkt-03112016

presentation-capt-sigit-latest

seminar-poros-maritim-nasional-indonesia-bpk-joko