Membangun General Aviation Indonesia Untuk Poros Maritim Dan Pagar Hidup Pertahanan Negara

Tanggal: 20 Januari 2017

Perihal: Kajian GAC

Nomor: 02/GAC-Kajian/IPI/1/2017

 Telah ada kesepakatan antara aku dan Adityawarman, kedepan Dharmasraya dan Majapahit harus bersatu, Jika terjadi maka Tartar yang akan meluaskan wilayahnya hingga nusantara ini akan berfikir 1000 kali…

Kedepan, ada pekerjaan besar, memiliki armada yang besar, kirim orang-orang ke Swarnabhumi untuk belajar membuat Jung-Jung besar kepada empu yang menguasai…(sepenggal kisah bahwa pentingnya bagi negara kepulauan untuk saling terhubung satu sama lain sesuai perkembangan zaman)

  • Dari Novel Gadjahmada, 328[i]

 

Oleh : Captain Teddy Hambrata Azmir

(Direktur Teknis 3 General Aviation Ikatan Pilot Indonesia)

 

Pendahuluan

  1. Ikatan Pilot Indonesia adalah sebuah organisasi profesi yang beranggotakan Pilot Indonesia. Merupakan Organisasi yang modern, profesional dan terpercaya yang terbentuk sejak bulan Januari 2016. Lahirnya Ikatan Pilot Indonesia muncul dari keprihatinan Pilot Indonesia yang melihat kondisi penerbangan nasional dan ingin menjadi kompetitor utama di Indonesia. Dunia penerbangan mulai eksis sejak awal abad 20 dimana sebelum itu dominasi perhubungan antar pulau, negara dan lintas benua adalah menggunakan jalur laut.
  2. Indonesia sebagai Negara Kepulauan yang terdiri dari 2/3 lautan, 1/3 daratan serta 3/3 wilayah sejatinya adalah udara, maka dengan berkembangnya teknologi, bernavigasi dekat antar pulau hingga navigasi jauh antar benua dapat lebih mudah dan efisien dengan menggunakan transportasi udara. Hal ini sejalan dengan program pemerintah RI untuk mengembangkan poros maritim nasional Indonesia. Ikatan Pilot Indonesia melalui Komite General Aviation berniat untuk memajukan General Aviation itu sendiri sebagai jembatan udara utama perekonomian Negara hingga ke pelosok negeri dan perbatasan Indonesia.
  3. General Aviation yang terdiri dari penerbangan non berjadwal mulai dari aerosport, medivac, penerbangan perintis hingga penerbangan cargo dengan pesawat jet berbadan besar. Aktivasi dan optimalisasi General Aviation sangat sesuai dengan semangat Poros Maritim Indonesia serta dapat menjadi “pagar hidup” bagi pertahanan Negara dimana pada zaman serba demokratis ini satu butir peluru sama nilainya dengan jutaan dendam. Pasar ekonomi yang merata hingga pelosok negeri jauh lebih efektif dari pada ratusan peleton infanteri mecegah disintegerasi.

 Maksud Dan Tujuan

  1. Dalam tulisan ini, Komite General Aviation bermaksud untuk memberi gambaran kepada para stakeholder bahwa aktivasi General Aviation yang selama ini masih kurang mendapat perhatian dan sangat penting untuk poros maritim hingga pertahanan Negara Indonesia. Dengan tujuan agar dikemudian hari dapat menjadi bahan pertimbangan bagi stakeholer dalam menentukan kebijakan di bidang transportasi udara pada umumnya dan general aviation pada khususnya.

Dasar

  1. Kajian ini dibuat berdasarkan :
  2. Pasal 33 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
  3. Undang Undang No 1 Tahun 2009, tentang Penerbangan.
  4. ICAO Annex 1 Chapter 2 “Lisence and Rating for Pilot” sebagai acuan terhadap Kemampuan dan pengetahuan Pilot pemegang Lisensi terbang.
  5. ICAO Annex 2 Chapter 2, 3 dan 4 “Rules of the Air” sebagai acuan profesionalisme Pilot.
  6. ICAO Annex 6 Chapter 3.1; 3.2 “Compliance with Laws, Regulation and Procedures”
  7. ICAO Annex 19 Chapter 4.2 “International General Aviation – aeroplane”, Safety management System.
  8. CASR 135, sebagai acuan profesi penerbangan perintis dalam “135 AOC”.
  9. CASR 91, sebagai acuan “General Operating and Flight Rules”.
  10. CASR 61, sebagai acuan “Licensing of Pilots and Flight Instructors”.
  11. Program kerja Ikatan Pilot Indonesia Badan Pengurus 2016 – 2019.

Definisi General Aviation

  1. General Aviation adalah segala macam operasional penerbangan selain daripada operator maskapai maupun penerbangan militer, baik berupa angkutan udara bukan niaga; angkutan udara tidak berjadwal[ii] dan angkutan udara perinti[iii]. General Aviation terdiri dari penerbangan bisnis, sightseeing, search and rescue, Flying School, Pariwisata, Survei Udara, Ambulan Udara, cargo, pertanian, aerosport dan penerbangan perintis menuju pelosok negeri[iv].

img-20170122-wa0004

ICAO Classification of Civil Aviation Activities[v]

Kondisi General Aviation Indonesia

Selama bertahun-tahun ini dunia General Aviation normalnya paling padat aktifitasnya di Indonesia bagian timur. Ada salah satu operator misionaris yang sangat banyak membuka jalan dan rute bagi General Avitaion di pegunungan Papua. Namun, seiring berjalannya waktu, telah banyak terjadi perubahan-perubahan baik bentuk serta azimuth runway. Perusahaan operator lainnya saat ini tetap mengadopsi beberapa chart dari operator misionaris tersebut dengan perubahan-perubahan sesuai dengan standar perusahaan masing-masing karena belum adanya standar baku dalam General Aviation itu sendiri di Indonesia.

Belum adanya standarisasi kualifikasi kaptensi yang benar-benar standar sesuai dengan medan pegunungan yang dilalui berdasarkan tingkat kesulitan terrain. Standar kualifikasi ini sangat penting, sehingga tidak serta merta seorang kapten dapat dikatakan qualified untuk melakukan penerbangan di semua airstrip yang ada di Papua. Di Papua kita ketahui terdapat ratusan airstrip mulai dari pesisir pantai hingga di atas pegunungan dengan runway slope yang ekstrim maupun perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi. Dibutuhkan seorang pilot yang sangat berpengalaman untuk dapat mengoperasikan penerbangan pada medan yang ekstrim dan sulit tersebut. Salah satu contoh yang sudah ada di salah satu perusahaan penerbangan saat ini dengan pengelompokan kaptensi kualifikasi “low land” dan “high land” ataupun seperti “Mountain 1, 2 dan 3” yang semua itu dikelompokan berdasarkan letak dan tingkat kesulitan yang ada. Sehingga setiap penerbang yang akan menjalankan komitmen berkarir pada penerbangan perintis harus mengikuti “Mountainous Flying Course” yang sesuai standar dan mendapatkan approval licensing dari regulator.

Belum standarnya pengaturan airtraffic pada beberapa daerah seperti di Timika Area, Oksibil Area maupun Nabire Area. Airtraffic yang semakin banyak jumlahnya terlihat “semrawut” karena pengaturan yang kurang baik. Menghindari deconfliction antar pesawat hanya mengandalkan visual mata dan saling tanya seperti di pasar.

Penerbangan di Papua kita ketahui bersama melewati begitu banyak narrow gap. Dengan sempitnya celah di antara pegunungan tersebut akan lebih kompleks ketika cuaca berubah menjadi low visibility. Satu sisi dengan low visibility seorang pilot ingin keep visual sehingga melakukan off track, namun pada sisi yang lain dengan banyaknya traffic sangat potensial collision antar pesawat maupun hit to terrain.

Belum ada standarisasi Pilot Indonesia sejak lulusan dari Sekolah Penerbang tentang ilmu dasar Navigasi Ketinggian Rendah. Perlu diingat adalah, ketika menerbangkan pesawat di atas pengungan yang sangat tinggi sekali pun, hakikatnya seorang penerbang sangat dekat dengan ground sehingga dasar-dasar navigasi ketingian rendah sangat diperlukan. Beberapa penerbang, selama ini hanya melakukan “learning by doing” tanpa bekal ilmu-ilmu penunjang yang memadai[vi].

Masih kurangnya maturity atau kedewasaan seorang penerbang dalam pelaksanaan safety culture. Kurangnya displin dan pengendalian diri mengenai weight and balance berdasarkan pesawat yang dioperasikan. Juga masih terdapat beberapa oknum yang gemar mencari keuntungan sepihak tanpa sepengetahuan resmi perusahaan untuk mengambil load melebihi standar yang diijinkan. Culture ini mungkin akan aman untuk beberapa personel operasional yang ada, namun ketika seorang pilot junior mendapatkan kesempatan untuk menjadi PIC dan dia mengikuti habit tersebut padahal masih diluar kemampuan dirinya hal ini sangat potensial kecelakaan.

Masih kurangnya jumlah inspektor operasi yang ada pada penerbangan perintis Papua, Indonesia. Sangat perlu adanya penambahan frekuensi pengecekan berkala dari regulator agar menge-push semua pihak untuk melakukan segalanya sesuai dengan regulasi yang ada.

Selain itu, beberapa aktifitas General Aviation lainnya seperti aerosport yang selama ini berada pada pembinaan Federasi Aerosport Indonesia juga dirasakan sangat perlu untuk dikembangkan. Aerosport Indonesia sudah seharusnya dapat sejajar dengan aerosport lainnya di dunia seperti aktifitas aerobatic yang masih didominasi oleh TNI AU saja.

Melalui aerosport, sejatinya juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah lulusan pilot baru (abinitio) untuk dapat melakukan penerbangan selama menunggu panggilan bekerja di maskapai Indonesia. Untuk mempertahankan judgement terbang maupun menambah jam terbang. Banyaknya pengangguran lulusan sekolah pilot di Indonesia disebabkan oleh karena satu dekade yang lalu ketika geliat industri bisnis penerbangan meningkat pesat sehingga kebutuhan pilot menjadi defisit.

Namun, saat ini lulusan sekolah pilot menjadi surplus disebabkan oleh menurunnya bisnis penerbangan tersebut. Banyak pengusaha yang ingin berinvestasi di bidang General Aviation namun membatalkan niatnya karena setiap pengusaha yang ingin membuka bisnis penerbangan diwajibkan untuk memiliki bank guarantee berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan RI No 45/2015. Peraturan Menteri ini dirasakan kurang realistis karena dengan jumlah biaya ratusan miliar hanya bisa menjadi bank guarantee tanpa terjadi perputaran modal di dalamnya.

Ini hanya salah satu sebab diantara beberapa sebab sehingga tidak bertambahnya lapangan pekerjaan bagi pilot-pilot baru di Indonesia.

Peran General Aviation Dalam Poros Maritim Indonesia

General Aviation dapat menjadi sebuah upaya untuk mendukung Poros Maritim yang diprogramkan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang sangat berkonsentrasi untuk memajukan pemerataan pembangunan Indonesia bagian timur untuk penciptaan pasar ekonomi yang baik. Transportasi udara merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat sibuk di dunia termasuk Indonesia.

Pada dunia penerbangan internasional, Indonesia sebagai jalur yang sering dilewati penerbangan dunia sangat berpengaruh pada perekonomian nasional, regional hingga internasional . Sehingga sangat dirasa perlu bahwa transportasi udara General Aviation menjadi unsur penting dalam pengembangan Poros Maritim yang dicanangkan Pemerintah Indonesia saat ini.

Salah satu contoh adalah, ketika banyak barang ekonomi serta kebutuhan pokok dikirim dari pulau Jawa menuju Pulau Papua baik melalui kapal laut maupun pesawat udara dimana kebanyakan barang-barang hasil produksi tersebut hanya bisa sampai di beberapa daerah seperti Nabire, Jayapura dan Merauke. Untuk menyalurkannya menuju pegunungan tengah Papua paling efektif dan efisien hanya melalui jalur udara.

Penerbangan yang membawa kebutuhan bahan pokok, bahan bakar minyak dan hasil-hasil alam lainnya adalah penerbangan perintis yang merupakan salah satu aktifitas General Aviation. Saat ini, masih dirasakan kurang pengembangan General Aviation itu sendiri dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat yang membutuhkan transportasi udara tersebut hingga antri berminggu-minggu untuk dapat mengirim barangnya ke atas pegunungan.

Peran General Aviation Dalam Pariwisata Indonesia

Indonesia telah menjadi salah satu tujuan wisata dunia yang sangat memukau. Hamparan pantai yang begitu indah melingkari seluruh pulau yang dijuluki dengan sebutan negeri penggalan surga tersebut. Pantai tropis dengan ombak yang bersahabat bagi para penggemar pantai, Indonesia juga menawarkan beragam budaya yang unik sebagai ciri khasnya.

Peran transportasi udara dalam membangun potensi wisata Indonesia lazimnya dengan angkutan udara dari dan menuju tempat wisata seperti Bali. Namun, General Aviation sebagai salah satu kategori dalam penerbangan dapat menawarkan peran lain dari transportasi udara untuk pariwisata.

Terdapat kelas dalam dunia penerbangan dan salah satunya adalah Sea Plane Aircraft yaitu pesawat amphibi yang dapat melakukan takeoff dan landing dari atas air maupun daratan.

Cita-cita untuk membangun sektor pariwisata berkombinasi dengan sektor transportasi udara terutama General Aviation harus mendapatkan dukungan dari Pemerintah RI dan pihak-pihak terkait karena Indonesia memiliki wilayah yang luar disertai dengan pemandangan yang indah tentunya tidak akan kalah bersaing dengan Maladewa.

Sangat unik, ketika kita pengunjung dapat menikmati pemandangan berbagai daerah di Indonesia dengan melihat pulau, hamparan pantai dengan pasir berwarna putih dan keindahan laut dari atas menggunakan pesawat amphibi. Kegiatan wisata semacam ini digemari bagi pecinta keindahan; Aviation Geek; dan fotografer profesional untuk mengambil foto dari udara. Anda akan dibawa berkeliling di atas pulau, dan resort bahkan jika beruntung Anda bisa melihat kawanan ikan paus dan lumba-lumba di beberapa perairan Indonesia.

Memajukan General Aviation adalah tujuan utama selain mengangkat pariwisata dengan cara yang unik. Selama ini, masyarakat hanya mengetahui bahwa sektor penerbangan hanya tentang airliners saja padahal banyak hal dapat di eksplor dari General Aviation ini.

Peran General Aviation Dalam Pertahanan Negara

Indonesia bagian timur yang berkontur pegunungan pada pelosok daerah, dimana peran General Aviation yang sangat tinggi untuk membuka pasar ekonomi yang baik bagi warga pegunungan demi mendapatkan jembatan udara yang memadai. Konsep pertahanan dengan membangun pasar ekonomi lebih baik daripada menggunakan senjata, adalah unggulan yang ingin dibangun dengan peran serta General Aviation.

Serial “Papa Kilo” adalah registrasi penerbangan Indonesia. Ketika regitrasi “Papa Kilo” terus mengudara di wilayah Papua, maka sama artinya mengibarkan Merah Putih di wilayah Papua sebagai “pagar hidup” pertahanan negara. Pembangunan Industri Pesawat Terbang seperti pesawat N 219 yang memiliki performance pesawat yang cocok pada penerbangan pegunungan di Papua sangat serius ditunggu kehadirannya.

Komite General Aviation Ikatan Pilot Indonesia berharap peran Pemerintah dalam pengembangan General Aviation yang sangat penting bagi sisi pertahanan sebagai “pagar hidup” timur Indonesia. Program yang harus di dukung semua pihak, karena selama ini mainstream berfikir bahwa pertahanan Negara hanya tentang pesawat tempur dengan berbagai macam rudal dan peluru. Padahal sebutir peluru akan menciptakan ribuan bahkan jutaan dendam.

Penting bagi Komite General Aviation Ikatan Pilot Indonesia untuk menjelaskan bahwa ketika registerasi “Papa Kilo” mengudara di langit Papua, juga akan menumbuhkan rasa bangga penduduk setempat dan akan merasa terlayani dengan baik dari Negara. Secara strategis hal demikian akan pelan namun pasti memulihkan luka lama masyarakat Papua dan kembali kepada rasa cinta pada ibu pertiwi Indonesia.

Selain itu, kita ketahui bersama, bahwa narkoba adalah bahan kimia terlarang yang dapat merusak otak dan mental manusia. Dengan mudahnya masuk ke Indonesia melalui pedalaman di daerah perbatasan, maka akan mudah pula untuk menguasai sebuah Negara yang generasi mudanya lemah mental dan berpikiran mundur akibat dari reaksi narkoba dalam tubuh.

            Pilot adalah manusia yang memiliki akses mudah untuk mencapai pesawat terbang sehingga sangat rawan untuk dimanfaatkan terhadap ancaman ini. Narkoba adalah ancaman serius bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan saja bagi Pilot, namun, pilot adalah salah satu bagian yang dapat menjadi sasaran empuk sebagai target penyerangan dalam perang proksi.

Narkoba adalah musuh dan sampah masyarakat yang harus dibasmi dan diperangi. Ikatan Pilot Indonesia juga ikut serta mendukung peran Kementerian Perhubungan pada peningkatan aviation security di seluruh bandara-bandara yang ada di Indonesia sebagai salah satu pintu masuk utama narkoba ke Indonesia. General Aviation sebagai bidang transportasi udara yang bekerja pada beberapa daerah perbatasan antar Negara juga dapat dijadikan “tameng hidup” Negara demi mencegah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang ingin merusak generasi muda Indonesia melalui “perang candu” saat ini.

Pilot Indonesia melalui General Aviation adalah komponen cadangan yang potensial bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam hal menangkal ancaman yang sedang mengancam Indonesia saat ini. Sehingga jelasnya peran General Aviation dalam pertahanan Negara Indonesia dapat menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai pihak agar mau mengembangkan dunia penerbangan melalui aktifitas General Aviation Indonesia.

Rekomendasi

Dalam Rapat Kerja pada 18 Januari 2017, telah disepakati bahwa Direktorat Navigasi akan menyiapkan chart approach di daerah Papua dan sekitarnya demi memperbaharui data-data yang sudah lama saat ini; akan dibuat standarisasi training pilot untuk operasional General Aviation; aka nada standarisasi air traffic control dengan penambahan personel dan pembagian rute inbound dan outbound dari dan menuju aerodrome. Komite General Aviation merekomendasikan dalam membuat beberapa pembaruan tersebut dalam melibatkan operator maupun Ikatan Pilot Indonesia agar dikemudian hari dapat dimanfaatkan lebih efektif dan efisien untuk perkembangan dunia General Aviation di Indonesia.

Mendukung program pemerintah terhadap program jenjang pembinaan pilot baru untuk melalui penerbangan perintis di Papua. Demi membentuk mental dan building decision sebagai seorang Pilot. Membentuk standar yang sama sejak di Sekolah Penerbang mengenai penambahan kurikulum pelajaran “Navigasi Ketinggian Rendah” maupun “Mountainous Flying”. Sehingga bagi siapa pun yang akan terus melanjutkan karirnya di penerbangan pegunungan sudah dibekali ilmu dasar yang memadai.

Selain itu, perlu adanya penambahan jumlah inspektor operasional penerbang dan Company Check Pilot dimana DKUPPU dalam hal ini berperan tinggi untuk mencetak dan membuka sekolah para calon inspektor dan check pilot khusus Papua area yang sesuai dengan standar sehingga dapat membantu tugas regulator untuk mengendalikan kualifikasi penerbang di Papua.

Sebuah solusi tepat apabila dengan mediator Ikatan Pilot Indonesia duduk bersama antara Federasi Aerosport Indonesia dengan regulator penerbangan Indonesia agar aerosport Indonesia dapat lebih maju dan diakui secara Internasional membahas permasalahan-permasalahan bersama. Juga menelisik seberapa besar potensi aerosport Indonesia dapat berperan dalam menampung para abinitio Indonesia yang sedang menanti pekerjaan yang layak.

Perlu adanya peninjauan ulang terhadap Peraturan Menteri Perhubungan No 45/2015[vii] tentang pemodalan untuk usaha bisnis dibidang penerbangan, sehingga geliat bisnis dan keinginan pengusaha Indonesia untuk mau membuka lapangan pekerjaan menjadi bertambah demi menyalurkan pengangguran abinitio Indonesia.

Secara prinsip ekonomi, General Aviation harus berkembang dan sangat dibutuhkan peran pemerintah dalam hal ini, karena dengan semakin banyak pesawat yang mengudara seiring dengan semakin banyaknya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi itu sendiri. Namun, ketika persaingan menjadi semakin banyak secara otomatis harga akan ikut menurun dan hal ini akan sangat berguna daripada peran General Aviation Indonesia sebagai “jembatan udara” penghubung utama dalam program Poros Maritim yang sedang dijalankan oleh pemerintah.

Menawarkan konsep bisnis yang berpadu dengan nasionalisme untuk membangun General Aviation untuk pariwisata kepada pengusaha Indonesia karena terdapat potensi yang tak terhingga sebagai investasi kekayaan negeri Indonesia adalah hal yang membanggakan jika dapat dikembangkan pada daerah Bali; Lombok; Raja Ampat; Pulau Derawan, Pulau Bintan dan berbagai daerah wisata lainnya di Indonesia, semoga kedepannya perkembangan General Aviation berpadu dengan pariwisata bisa terwujud pada daerah-daerah tersebut.

General Aviation sebagai aktifitas penerbangan dunia dapat menjadi “pagar hidup” bagi pertahanan Negara Republik Indonesia. Merekomendasikan Kementerian Pertahanan beserta jajaran Tentara Nasional Indonesia untuk dapat berkolaborasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memanfaatkan komponen cadangan Negara[viii] di dirgantara Indonesia untuk merumuskan kerjasama pertahanan berpadu dengan transportasi udara.

Penutup

Demikian dari uraian diatas mengenai kondisi real pada dunia General Aviation beserta potensi-potensi positif dalam berbagai peran yang dapat dioptimalkan demia kepentingan ekonomi, sosial budaya, pertahanan hingga pariwisata di Indonesia. Dimana sangat perlu adanya duduk bersama antara pemerintah dan berbagai pihak untuk merumuskan pengembangan dunia General Aviation. Bahwa, dunia penerbangan bukan hanya milik airliners yang hidup dari bandara besar menuju bandara bonafit lainnya. Indonesia yang sangat kaya dan perlu adanya pengibaran Merah Putih melalui serial “Papa Kilo” sebagai wujud peduli bangsa mencapai poros maritim dunia yang sesungguhnya.

 

 

 

 

 

 

 

[i] Hariadi, Langit Kresna, Gadjahmada, Tiga Serangkai, 2012

[ii] Prof DR H. K. Martono, 2012. “Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik. Hal 238 – 241. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

[iii] UURI No. 1 Tahun 2009, Pasal 91 – 104

[iv] iaopa.org, “What is GA?”. Retrieved 17 November 2012

[v] ICAO, “Classification of Civil Aviation Activities”,Apendix A, STA/10-WP/7

[vi] Hambrata, Teddy, 2017,’ Optimalisasi Keselamatan Operasional Transportasi Udara Perintis Di Daerah Papua, Litbang IPI, 01/GAC/IPI/I/2017.

 

[vii] PM No 45, 2015, “Persyaratan Kepemilikan Modal Badan Usaha Di Bidang Transportasi”, Kemenhub RI.

[viii] Suryohadiprojo, Sayidiman, 2005. “Si Vis Pacem Para Belum”,hal 50, Gramedia, Jakarta.

Advertisements

Nilai-Nilai Kepemimpinan (Leadership Values)

Sangat banyak artikel-artikel yang menuliskan tentang prinsip-prinsip kepemimpinan, namun masih sedikit sekali pemimpin yang mengaplikasikan teori-teori kepemimpinan tersebut. Bebebrapa pemimpin biasa mengandalkan gaya kepemimpinan berdasarkan pengalaman yang mendasari hidupnya selama beranjak membangun kedewasaan sebagai follower hingga matang sebagai pemimpin.

Pola leading by example sejatinya sering diterapkan bagi mereka yang berpengalaman bertahun-tahun menjadi follower hingga indah masanya dapat menjadi pemimpin yang baik dan disegani. Leadership Value yang mereka terapkan adalah tanpa teori, akan tetapi ketika dalam memimpin setiap pengikutnya dapat merasakan value yang luar biasa.

Leadership Value sejatinya dapat memotivasi follower dengan menghubungkan maintanance of aim (asas tujuan) organisasi dengan nilai-nilai pribadi karyawan atau dikenal dengan maintanance of morale (asas moril yang baik). Mereka dapat melakukan manajerial terhadap asas tujuan dan moril ini sehingga karyawan dengan sendirinya dapat memahami kepastian tujuan sebuah organisasi dengan moril yang kuat serta merasa perlu untuk terus melakukan yang terbaik dan mengidentifikasi kekuatan yang dimilikinya dengan sukarela untuk keberhasilan organisasi serta misi-misinya.

Respect. Menghormati bawahan adalah hal yang sangat jarang dilakukan seorang pemimpin. Beberapa pemimpin merasa sebagai on top position sehingga hak untuk dihormati seakan-akan adalah milik murni dirinya sebagai pemimpin. Perasaan senioritas paling sering dijadikan alasan dalam kasus kepemimpinan seperti itu. Padahal sejatinya setiap manusia memiliki value dari setiap dirinya. Pemimpin tidak akan bisa menjalankan sebuah organisasi tanpa timbal balik kerjasama yang bagus dari anak buahnya. Value ini akan berbalas indah ketika seorang pemimpin bisa melakukan eksplorasi value dari follower-nya bahkan anak buah sedia membela pemimpinnya dengan jiwa raga yang dimilikinya. Harga diri, memahami dan menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan; memperlakukan orang lain dengan penuh martabat, berempati dan kasih sayang; akan mendapatkan kemampuan untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain.

Integritas. Lebih dari sekedar pengakuan untuk bersatu, namun layaknya budaya timur yang ada di Indonesia maka Integritas bukanlah hal asing untuk gaya kepemimpinan yang ada di Indonesia. Beberapa hal seperti yang ditunjukkan oleh keberanian moral, kekuatan etika, dan kepercayaan; menepati janji dan memenuhi harapan. Dimana hal-hal tersebut dilakukan dengan perencanaan yang baik dan lebih menghargai ketepatan waktu, pemahaman kegunaan dari sebuah rencana dan mengetahui sasaran maupun tujuan dari sebuah organisasi. Integritas yang baik harus memiliki kekuatan diri untuk bertindak dengan niat atas nama kepentingan umum; mengambil sikap dalam menghadapi kesulitan; bertindak berani dalam pelayanan inklusi dan keadilan.

Kompetensi. Kepemimpinan bukan hal yang dapat dibuat-buat terutama hanya untuk pencitraan diri. Perlu adanya konsistensi, kongruensi dan transparansi dalam menunjukan kompetensinya sebagai leader. Dalam hal ini sangat kontradiski antara sebuah kompetisi yang sering dilakukan dalam pola pemilihan pemimpinan dalam sebuah Negara demokrasi, namun melupakan kompetensi dalam nilai-nilai, keyakinan dan tindakan. Kompetensi seharusnya dapat mengintegrasikan value dan prinsip-prinsip untuk menciptakan nature organisasi yang terarah dan berkontribusi terhadap perkembangan follower. Kompetensi sejatinya bagi seorang pemimpin untuk dapat menciptakan pemimpin-pemimpin baru lainnya sebagai proses regenerasi dalam sebuah organisasi hingga berkomitmen pada hal-hal yang melampaui kepentingan diri sendiri; kerendahan hati pribadi demi tujuan yang lebih besar.

Wisdom. Manusia bijaksana sudah pasti sangat nyaman untuk dijadikan pemimpin. Namun, value of wisdom yang diharapkan harus disertai kecerdasan. Bijaksana, dan cerdas sehingga akan selalu mampu menentukan cara bertindak maupun alternatif cara bertindak yang terbaik demi terlaksananya sebuah program kerja sebuah organisasi. Bijaksana dengan pemahaman yang luas dari dinamika anak manusia dan kemampuan untuk menyeimbangkan kepentingan berbagai pemangku kepentingan yang lebih atas daripada dirinya bersinergi dengan value of followers ketika membuat keputusan serta dapat mengambil perspektif jangka panjang dalam pengambilan sebuah keputusan.

Dan value yang paling penting dari semua itu adalah “good leader always coming from good follower”. Jika anda bukan good follower maka kemungkinan dikemudian hari anda bukanlah seorang good leader. Namun sebaliknya, jika saat ini anda belum menjadi good leader maka mungkin saja saat dulu anda sebagai follower anda bukanlah seorang good follower.

Sumber:

http://masonleads.gmu.edu/about-us/core-leadership-values/

Optimalisasi Keselamatan Transportasi Udara di Papua

Pendahuluan.

Penerbangan perintis adalah opsi terbaik untuk memperlancar perhubungan antara suatu daerah menuju daerah lainnya seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua. Terutama di pulau Papua, dimana setiap suku terpisah oleh gunung-gunung yang luas sehingga satu-satunya alat transportasi yang efektif dan efisien sampai saat ini hanyalah melalui jalur udara. Penerbangan perintis di Indonesia sedang berkembang dengan pesat karena kebutuhan pembangunan daerah maupun kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Namun, kurun waktu lima tahun terakhir tercatat telah banyak terjadi kecelakaan transportasi udara di daerah timur Indonesia hingga Papua dan sekitarnya. Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia merasa perlu dan konsentrasi dalam menanggapi permasalahan ini, karena transportasi udara adalah penghubung andalan masyarakat Indonesia Timur yang terpisah-pisah oleh kepulauan maupun pegunungan, dimana keselamatan penumpang maupun penerbangan menjadi keutamaan dalam kampanye keselamatan penerbangan sebagai program dari Pemerintah Republik Indonesia.

Kami menyampaikan kondisi yang terjadi mengenai keselamatan operasional transportasi udara di Indonesia bagian timur dengan maksud memberi gambaran kepada para stakeholder mengenai kondisi yang terjadi dengan tujuan memberikan beberapa saran yang membangun untuk dapat dijadikan pertimbangan bagi stakeholder dalam menentukan kebijakan bagi perkembangan dunia Penerbangan Umum Indonesia secara umum dan penerbangan perintis pada khususnya.

Kecelakaan Transportasi Udara Yang Terjadi.          

Kecelakaan pada dunia penerbangan Indonesia terutama di Bumi Papua sudah menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar operator maupun pengguna jasa transportasi udara, walaupun kehadirannya tetap sangat dibutuhkan masyarakat demi kelancaran dan pemerataan pembangunan, terutama di daerah pengunungan Papua.

Kebutuhan pemerataan pembangunan yang semakin bertambah setiap tahun, membutuhkan frekuensi transportasi udara yang cukup tinggi. Akan tetapi, berdasarkan data dari rilis resmi KNKT November 2016, membuktikan bahwa peningkatan jumlah penerbangan tersebut belum berbanding lurus dengan peningkatan keselamatan transportasi udara itu sendiri. Bahkan dalam kurun waktu enam tahun terakhir telah terjadi tren fluktuasi meningkat dari jumlah investigasi yang dilakukan oleh KNKT.

Dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2016 terhitung terjadi 212 investigasi kecelakaan transportasi udara di Indonesia, dimana 82 diantaranya adalah berupa accident dan 130 serious incident. Data yang diambil dari press release KNKT tersebut tercatat merenggut 375 nyawa meninggal dunia dan 140 lainnya terluka.

Dari jumlah tersebut terinvestigasi 75 kecelakaan transportasi udara terjadi di Papua dengan 25 diantaranya adalah accident dan 30 berupa serious incident selama kurun waktu tahun 2010 hingga 2016. Sedangkan untuk tahun 2016 saja telah terjadi 8 accident dan 5 serious incident. Jumlah pada 2016 ini menyatakan bahwa kecelakaan transportasi udara di Papua selama enam tahun adalah 20 persen dari total jumlah rata-rata kecelakaan. Prosentase terbesar kejadian adalah terjadi runway excursion dan yang paling memakan banyak korban tewas di tempat adalah flight into terrain.[1]

Dari data yang tertulis sebelumnya, menyakinkan bahwa sebuah kata “keselamatan” adalah mahal harganya. Safety dapat mengakibatkan tertundanya sebuah operasi penerbangan, safety dapat menyebabkan jam terbang sebagai sumber nafkah para pilot berkurang dan safety juga dapat menyebabkan bisnis merugi akibat harus menunggu alam yang tak terkalahkan oleh manusia.

Preventetive action dari berbagai pihak harus dapat diwujudkan secara nyata, bukan hanya sebatas bahasa “keprihatinan” atau “pengumuman dan himbauan”. Sehingga duduk bersama antara stakeholder, operator dan profesi penerbang sudah berada pada tingkatan urgensi tinggi untuk dilaksanakan demi mencegah kejadian-kejadian serupa menyangkut keselamatan transportasi udara terjadi lagi dan menekan hingga pada “zero accident” untuk penerbangan Indonesia.

Kendala Transportasi Udara di Papua.

Berdasarkan pandangan di lapangan sehingga kami Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia merasa perlu menyampaikan beberapa hal mengenai kondisi yang potensial menjadi kendala, dalam peningkatan keselamatan transportasi udara di Papua, antara lain:

  1. Selama bertahun-tahun ini dunia transportasi udara sangat mengandalkan perangkat yang digunakan oleh MAF. MAF adalah salah satu operator misionaris yang sangat banyak membuka jalan dan rute bagi penerbangan perintis di pegunungan Papua. Namun, seiring berjalannya waktu, telah banyak terjadi perubahan-perubahan baik bentuk serta azimuth. Perusahaan operator lainnya saat ini tetap mengadopsi beberapa chart dari MAF dengan perubahan-perubahan sesuai dengan standar perusahaan masing-masing.
  2. Belum adanya standarisasi kualifikasi kaptensi yang benar-benar standar sesuai dengan medan pegunungan yang dilalui berdasarkan tingkat kesulitan. Standar kualifikasi ini sangat penting, sehingga tidak serta merta seorang kapten dapat dikatakan qualified untuk melakukan penerbangan di semua airstrip yang ada di Papua. Di Papua kita ketahui terdapat ratusan airstrip mulai dari pesisir pantai hingga di atas pegunungan dengan runway slope yang ekstrim maupun perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi. Dibutuhkan seorang pilot yang sangat berpengalaman untuk dapat mengoperasikan penerbangan pada medan yang ekstrim dan sulit tersebut. Salah satu contoh yang sudah ada di salah satu perusahaan penerbangan saat ini dengan pengelompokan kaptensi kualifikasi “low land” dan “high land” ataupun seperti “Mountain 1, 2 dan 3” yang semua itu dikelompokkan berdasarkan letak dan tingkat kesulitan yang ada. Sehingga setiap penerbang yang akan menjalankan komitmen berkarir pada penerbangan perintis harus mengikuti “Mountainous Flying Course” yang sesuai standar dan mendapatkan approval licensing dari DKUPPU.
  3. Belum standarnya pengaturan airtraffic di Timika Area, Oksibil Area maupun Nabire Area. Airtraffic yang semakin banyak jumlahnya terlihat “semrawut” karena pengaturan yang kurang baik. Menghindari deconfliction antar pesawat hanya mengandalkan visual mata dan saling tanya seperti di pasar.
  4. Penerbangan di Papua kita ketahui bersama melewati begitu banyak narrow gap. Dengan sempitnya celah di antara pegunungan tersebut akan lebih kompleks ketika cuaca berubah menjadi low visibility. Satu sisi dengan low visibility seorang pilot ingin keep visual sehingga melakukan off track, namun pada sisi yang lain dengan banyaknya traffic sangat potensial collision antar pesawat maupun hit to terrain.
  5. Belum ada standarisasi Pilot Indonesia sejak lulusan dari Sekolah Penerbang tentang ilmu dasar Navigasi Ketinggian Rendah. Perlu diingat adalah, ketika menerbangkan pesawat di atas pengungan yang sangat tinggi sekali pun, hakikatnya seorang penerbang sangat dekat dengan ground sehingga dasar-dasar navigasi ketingian rendah sangat diperlukan. Beberapa penerbang, selama ini hanya melakukan “learning by doing” tanpa bekal ilmu-ilmu penunjang yang memadai.
  6. Masih kurangnya maturity atau kedewasaan seorang penerbang dalam pelaksanaan safety culture. Kurangnya displin dan pengendalian diri mengenai weight and balance berdasarkan pesawat yang dioperasikan. Juga masih terdapat beberapa oknum yang gemar mencari keuntungan sepihak tanpa sepengetahuan resmi perusahaan untuk mengambil load melebihi standar yang diijinkan. Culture ini mungkin akan aman untuk beberapa personel operasional yang ada, namun ketika seorang pilot junior mendapatkan kesempatan untuk menjadi PIC dan dia mengikuti habit tersebut padahal masih diluar kemampuan dirinya hal ini sangat potensial kecelakaan.
  7. Masih kurangnya jumlah inspektor operasi yang ada pada penerbangan perintis Papua, Indonesia. Sangat perlu adanya penambahan frekuensi pengecekan berkala dari regulator agar pushing semua pihak untuk melakukan segalanya sesuai dengan regulasi yang ada.

Saran Dan Rekomendasi.           

Dari beberapa kendala tersebut, sehingga Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia menyampaikan beberapa saran dan rekomendasi, yaitu:

  1. Perlu duduk bersama antara beberapa pihak, dalam hal ini adalah Regulator; Operator; dan Ikatan Pilot Indonesia untuk membentuk tim kelompok kerja guna melakukan standarisasi dari apa yang telah diadopsi beberapa operator dari MAF untuk kemudian dikumpulkan menjadi satu standar yang sama. Sehingga lokal prosedur transportasi udara di Papua dapat seragam tanpa perbedaan dan semua pihak akan mengacu dari “rilis” yang akan dibuat Kelompok Kerja Prosedur Lokal Papua.
  2. Perlu dibentuk kelompok kerja human performance untuk membuat standarisasi kualifikasi pilot pada operasional penerbangan di Papua. Sehingga kedepannya akan lebih ketat bagi seorang Kapten Pilot di Papua untuk dapat mengoperasionalkan pesawat pada daerah tertentu.
  3. Perlu adanya standarisasi area traffic controlling. Dengan menempatkan para ahli controller seperti layaknya pada bandara-bandara besar adalah sebuah realita yang sesuai dengan kenyataan. Lulusan terbaik dari sekolah controller sebaiknya ditempatkan di Papua sehingga dapat melatih situation awareness mereka tentunya dengan pendampingan para controller ahli yang sudah senior. Selain itu, perlu ada penekanan kepada operator, agar setiap pesawat yang dioperasikan dilengkapi dengan Terrain Awareness Warning System dan Traffic Collision Avoidance System.
  4. Perlu adanya renewal chart yang sering digunakan saat ini (MAF Bible). Salah satu contohnya adalah runway azimuth di Sinak dan Ilaga, karena setelah pembangunan landasan baru, runway azimuth juga berubah drastis.
  5. Mendukung program pemerintah terhadap program jenjang pembinaan pilot baru untuk melalui penerbangan perintis di Papua. Demi membentuk mental dan building decision sebagai seorang Pilot. Membentuk standar yang sama sejak di Sekolah Penerbang mengenai penambahan kurikulum pelajaran “Navigasi Ketinggian Rendah” maupun “Mountainous Flying”. Sehingga bagi siapa pun yang akan terus melanjutkan karirnya di penerbangan pegunungan sudah dibekali ilmu dasar yang memadai.
  6. Selain itu, perlu adanya penambahan jumlah inspektor operasional penerbang dan Company Check Pilot dimana DKUPPU dalam hal ini berperan tinggi untuk mencetak dan membuka sekolah para calon inspektor dan check pilot khusus Papua area yang sesuai dengan standar sehingga dapat membantu tugas regulator untuk mengendalikan kualifikasi penerbang di Papua.

Penutup.

Demikian dari uraian diatas mengenai kondisi real pada dunia transportasi udara di Papua. Dimana sangat perlu adanya duduk bersama antara regulator, operator maupun Ikatan Pilot Indonesia untuk merumuskan standarisasi yang baru dimana dapat digunakan oleh seluruh operator penerbangan di Papua. Dengan standar yang sama sehingga menghilangkan keragu-raguan dalam operasional penerbangan di Papua. Papua adalah wilayah dari Indonesia yang sangat kaya dan perlu adanya pengibaran Merah Putih melalui serial “Papa Kilo” sebagai wujud peduli bangsa pada Papua dan harus disertai dengan keselamatan terbang yang memadai.

End Note:

[1] Media Release KNKT, 2016. “http://knkt.dephub.go.id/knkt/ntsc_home/Media_Release/Media%20Release%20KNKT%202016/Media%20Release%202016%20-%20IK%20Penerbangan%2020161130.pdf”

Oleh: Capt Teddy Hambrata Azmir

Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia