Indonesia: Merajut Pulau Dengan Penerbangan Amfibi

Banyak kalangan mulai menyadari pentingnya peran transportasi udara dalam perhubungan antar pulau di Indonesia. Sejalan dengan program pemerintah Republik Indonesia mengenai Poros Maritim nasional sebagai poros utama penghubung antara dua samudera dan dua benua di dunia. Terlebih Indonesia yang memiliki belasan ribu pulau dengan garis pantai terpanjang di dunia melintas dari Sabang hingga Merauke melingkat dari barat, selatan, timur dan utara.

Bukan hanya slogan, bahwa negeri penggalan surga yang sering disebut dengan “nirwana nusantara” ini bahwa dua per tiga bagian diantaranya adalah lautan dengan wilayah udara meng-cover seluruh bagian cakrawala. Melalui transportasi udara, Indonesia sejatinya dapat terhubung satu sama lain di antara pecahan-pecahan pulau yang perpisah oleh lautan.

Memanfaatkan kekayaan strategis bangsa sudah menjadi keniscayaan yang harus dilakukan demi pemerataan ekonomi rakyat Indonesia itu sendiri. Namun, berbagai permasalahan dalam dunia penerbangan salah satu diantaranya adalah investasi yang mahal dan kurangnya pemanfaatan dari penerbangan amfibi.

Di dunia penerbangan kita mengenal penerbangan amfibi sebagai sebuah aktifitas penerbangan yang dapat melakukan pendaratan dan tinggal landas dari air maupun daratan. Bahyak sekali tipe dari pesawat yang digunakan untuk penerbangan sejenis dengan cirikhas pesawat yang memiliki float yang dapat membuat pesawat tersebut mengapung di air seperti kapal laut.

Dengan penerbangan amfibi, semestinya Indonesia akan lebih dapat mengoptimalkan kebutuhan perhubungan udara tanpa memerlukan airport melainkan seaport. Tentunya, seaport diharapkan tidak memerlukan pembebasan lahan yang memakan waktu dan birokrasi yang cukup panjang. Dalam setiap pulau di Indonesia memiliki banyak pantai yang luar biasa indahnya dan sangat cocok untuk di darati oleh pesawat amfibi.

Hingga saat ini, sudah ada beberapa maskapai swasta yang berusaha mengembangkan sayapnya melalui aktifitas penerbangan amfibi tersebut, walaupun masih belum ada yang fokus berdiri sebagai maskapai ampfibi dengan kekhususan pesawat amfibi. Sudah banyak sebenarnya konsep-konsep mengenai penerbangan amfibi ini, namun sepertinya belum mendapatkan perhatian serta belum dianggap sebagai investasi yang menarik.

Jika pemerintah Republik Indonesia bisa lebih memperhatikan konsep-konsep penerbangan amfibi ini, bukan tidak mungkin akan sangat mendukung dalam hal penambahan lapangan pekerjaan untuk pilot dan non pilot; peningkatan mutu dan frekuensi sektor pariwisata; peningkatan sektor perikanan dan kelautan; dan tentunya mendukung terhadap meningkatnya perhubungan udara Indonesia menjadi lebih mudah dan baik.

Dari segi investasi, tentunya dengan tipikal negara tropis dengan pantai berpasir putih dan air yang jernih, untuk pariwisata, aktifitas penerbangan amfibi tentunya menawarkan investasi yang tidak kalah menarik dengan penerbangan biasa. Demikian halnya dengan sektor perikanan dan kelautan dimana ketika kita mau mengambil ikan ataupun sumber daya alam lautan lainnya akan menjadi semakin mudah, singkat, efektif dan efisien.

Menilai dari empat aspek, Strength, kita mengetahui bahwa kekuatan pada keunggulan produk karena belum ada yg berhijrah secara utuh pada bidang sasaran penerbangan amfibi ini; Weakness, standar dunia penerbangan dimanapun bahwa kelemahan pasti mengenai masalah cuaca, alam dan terrain, namun semuanya dapat diatasi dengan prosedur yang memadai; Opportunity, kesempatan masih sangat luas peluangnya apabila di sokong dgn sumber dana yg baik dan benar; Threats, satu-satunya tantangan terberat adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak mengenai aktifitas penerbangan amfibi yang menarik untuk didukung invetasi non politis.

Indonesia ini milik kita, jika kita mau pasti kita bisa bersama. Laut dan udara dapat berkolaborasi demi mereka yang hidup di daratan. Tentunya, pola fikir sektoral harus dipupuskan jika benar ingin mengembangkan apa yang kita punya di negeri ini. Indonesia tetap memiliki banyak peluang untuk berkembang dan salah satu peluang terbesarnya adalah melalui transportasi udara amfibi.

img-20170305-wa0000

Salam Penerbangan,

Capt Teddy Hambrata Azmir

Technical Director 3 General Aviation

Ikatan Pilot Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s