Pilot Indonesia: Jatidiri Bangsa Luhur

Secara turun menurun, bangsa kepulauan yang bernama Nusantara selalu diajarkan untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal jatidiri sebagai awal dari menuju kemajuan yang lebih besar dan baik bagi anak cucu bangsa. Mengenal asal usul, sehingga tahu arti penting diri sendiri bagi lingkungan sekitar bahkan bagi kebutuhan bangsa yang lebih besar.

Penting pula bagi pilot Indonesia, untuk mengenal jatidiri yang sebenarnya, bahwa sejarah membuktikan bahwa Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan sebagai turunan asli dari Nusantara pada masa lalu hanya dapat dihubungkan oleh kapal laut karena pesawat baru ada pada awal abad ke-dua puluh.

Namun, dari sejarah itu, dapat ditarik sebuah benang merah, bahwa di jaman yang modern saat ini, pesawat udara adalah komponen pokok bangsa Indonesia yang dapat menghubungkan pulau-pulau sejumlah tujuh belas ribuan tersebut dengan lebih mudah, efektif dan efisien.

Ketika telah memahami jatidiri itu, maka sejatinya kita bisa lebih mengenal arti penting profesi Pilot Indonesia sebagai salah satu komponen utama berlangsungnya sebuah Negara. Dengan memahami jatidiri sebagai Pilot Indonesia sebagai indoktrinasi demi menepis banyak permasalahan Pilot Indonesia mulai dari jumlah pengangguran, hingga penyalahgunaan obat terlarang dan psikotropika.

Pilot Indonesia, sebagai pemimpin yang berbudhi luhur, sehingga dalam sebuah penerbangan merupakan manusia yang berkeTuhanan dan selalu berada dalam track yang benar, adil serta memiliki sifat-sifat kesederhanaan. Berbakti pada nusa dan bangsa dengan mendukung cita-cita nasional; menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia; mencintai Negara demi mencapai kebahagiaan rakyat Indonesia.

Pilot Indonesia, adalah manusia yang memiliki keperwiraan, taat dan memegang teguh kesetiaan serta dapat menjadi soko guru bagi bawahannya. Berani karena benar dan bertanggung jawab dalam setiap perbuatan dan tindakannya.

Pilot Indonesia, memiliki keutamaan dan selalu maju serta tampil terdepan sebagai penegak persaudaraan dengan menjunjung tinggi perikemanusiaan. Akan selalu menjunjung tinggi nama korps pilot Indonesia dan membawa harum nama bangsa Indonesia baik bertugas di dalam maupun di luar negeri sehingga kehormatan bangsa terjaga dengan segala prestasi yang terbaik.

Pilot Indonesia akan selalu menjadi korps bisnis utama dalam setiap bisnis aviasi di Indonesia dan memiliki peran penting dalam perekonomian bangsa Indonesia yang berkesatuan luhur tersambung dengan mudah, efektif dan efisien mulai dari Sabang hingga Merauke.

“Budhi, Bakti, Wira, Utama”

 

Salam Penerbangan,

Teddy Hambrata Azmir

 

 

Advertisements

Pancasila: Iya Atau Tidak?

Masih dalam suasana #pekanpancasila dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Subjektifitas mengatakan 1 Juni; 22 Juni; atau 18 Agustus sebagai hari jadi dalam berbagai versi, namun biarlah subjektifitas tenggelam dalam kenyataan bahwa Proklamator telah tetapkan 1 Juni sebagai hari resminya.

Sebagai manusia yang pernah disumpah secara Syar’i dibawah naungan kitab suci untuk selalu setia kepada Pancasila dan UUD 1945, walaupun masa purna dini telah dijalani namun sumpah tetap berlaku selama hayat dikandung badan. Pernah hidup pada rezim orde baru dan menyaksikan perubahan dalam alam reformasi.

Bukan termasuk pendukung rezim orba, karena sangat merasakan hegemoni Javanisme yang begitu dominan pada masa itu, namun juga termasuk kecewa dengan keberadaan era reformasi saat ini yang hampir membawa negeri gemah ripah loh jinawi terjerembab dalam jurang perpecahan.

Nilai-nilai luhur Pancasila yang sedemikian indah terasa sukses dalam 32 tahun Indonesia menjadi negara yang memiliki stabilitas politik yang aman dan tenteram. Penggemblengan otak dalam penataran P 4 dalam setiap edukasi resmi mulai dari Sekolah Dasar hingga pergguruan tinggi maupun semua lini bangsa.

Ada mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang senantiasa membawa moral anak anak bangsa menjadi stabil dan tidak bertindak aneh seperti zaman kalabendo ini. Anak bandel biasa, bawa rantai biasa, celana cutbray pun oke saja, namun semua berada dalam norma-norma kebaikan dan susila yang baik.

Lupa akan sejarah bangsa, apakah masih ada pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa pada anak anak kita hari ini? Hapal kah mereka kepada siapa siapa pahlawan nasional, kemerdekaan dan perjuangan kemerdekaan bangsa? PSPB, sebuah pelajaran pembangkit jati diri cikal bakal penerus bangsa seperti hilang ditelan bumi.

Bukan maksud melihat kebelakang untuk mundur ke masa lalu, namun, sewajarnya membandingkan dua masa yang pernah kita alami. Hampir 20 tahun era reformasi, sudah lebih dari setengah usia berkuasanya rezim orba, namun tren menurun  terjadi mengenai moral bangsa pada setengah dekade terakhir. Bolehkah kita cemas atas kondisi negeri tercinta ini?

Ironi, ketika semua bicara Pancasila, bicara Bhineka Tunggal Ika, tapi sedikit yang mengikuti perkembangan bahwa butir butir Pancasila telah teramandemen beserta UUD 1945 pun serupa. Slogan slogan bertebaran hanya sebagai alat eksistensi dalam sosial media tanpa tahu ISI dan ILMU yang benar. Pun yang benar tertuduh salah, dan yang tidak benar merasa benar.

Jika cinta Pancasila, kenapa tidak kembalikan penataran P 4 seperti sedia kala? Kenapa tidak kembalikan moral bangsa dengan kurikulum PSPB, PMP, Pra Karya dan sebagainya itu. Sejelek jeleknya orde baru, akan tetapi terbukti selama 32 tahun Kesaktian Pancasila terjaga kuat tanpa embel embel media masa. Hanya senyap, bertindak dan aman.

Sejarah bangsa kita adalah kita punya dan kita yang catat serta kita yang banggakan sebagai Jati Diri bangsa merdeka yang berdaulat dan beradab. Kesaktian Pancasila tidak akan pernah kembali hanya dengan tagline atau hastag di media sosial, namun harus di pahami, praktekkan dan diamalkan.

Jadilah sebagai bagian dari ILMU untuk bangsa yang kita cintai.

Selamat Hari Jadi Pancasila

1 Juni 2017

-Dari Pendukung Setiamu-