Selamat Ulang Tahun Indonesia

BB2CA3A2-583F-4787-98F0-E761BA6F43F4.jpeg

Indonesia menuju ke tujuh puluh empat tahun sejak usai Belanda dan Jepang hengkang dari bumi nan indah permai ini, bukanlah sebuah bangsa muda yang baru saja muncul paska perang dunia kedua usai, namun adalah sebuah bangsa yang memiliki jati diri kuat namun terhambat.

Hampir dari tiga setengah abad berada dalam administratif eropa walaupun hingga awal abad ke dua puluh masih berdiri beberapa Kesultanan berdaulat sebagai sisa-sisa kejayaan masa lampau sebagai proxy safe house peperangan dunia karena memiliki sumber daya penghasil makanan dan uang yang begitu melimpah untuk para pemenang perang.

Ada Jayakatwang melawan Kertanegara, Sang Raden WIjaya menantang Jayakatwang dan Gajahmada yang berperang dengan Si Menak Jinggo sebagai gambaran politik masa abad pertengahan Indonesia saat itu. Kepentingan golongan bertahta sekian abad di Negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Jati diri adalah kebutuhan bagi sebuah bangsa yang ingin kembali menjadi besar. Sebagai contoh adalah Negeri Tionghoa yang pernah runtuh pada awal abad ke dua puluh namun kembali bangkit di era milenial saat ini. Karena mereka memiliki jati diri sebagai pencatat sejarah dunia hingga ribuan tahun yang lalu.

Seperti kata Deng Xiao Ping bahwa “crossing the river by feeling its stones” yang sangat berhati-hati namun cermat dalam mengembalikan kejayaan negerinya.

Wujud politik Indonesia yang sarat dengan kepentingan segala arah dan konspirasi hantu tak berwujud kian lama akan membawa negeri tercinta ini semakin terpuruk. Ulama berselisih dengan eksekutif, rakyat pun menghina legislatif, wong tuo tak dihargai dan bocah-bocah pun tak lagi anggap surga ada di telapak kaki ibunda.

Lalu apa solusi untuk negeri? Tidak ada. Karena terlalu banyak orang pinter tanpa karakter yang menyebabkan setiap orang adalah yang paling benar. Anti kritik dan selesai di meja hijau apabila ada masukkan positif dengan berbagai tuduhan.

Kadang aku berpikir, bahwa negeri ini tidak perlu ada partai politik, tak berguna ada legislatif dan percuma ada eksekutif, cukuplah dengan seperangkat Ketua Kelas, Wakil Ketua, Sekertaris dan Bendahara tanpa ada senggolan kanan dan kiri demi sesuap hasrat harta dan tahta.

Kemudian, dari artikel singkat ini, apakah aku akan ikut berjuang memperbaiki negeriku? Jawabannya adalah TIDAK. Aku hanya ingin mencari rejeki dan berguna bagi anak-anakku abang Najim dan adek Faeyza agar kelak mereka menjadi anak-anak yang soleh dan solehah serta hormat lagi patuh pada orang tua.

Namun, apapun kondisinya, aku tetap Cinta Indonesia, Merdeka!!!

Advertisements

Aku Sudah Lebih Baik Sekarang

649109F5-BAA0-4397-A947-F45215160CAD

97F83800-D66E-4409-A1A7-5249E4C7924126990B96-8580-42B7-B8DD-D73B40BF098A

Tanpa ada sebuah perencanaan dalam hidup akan menjadi seperti cerita dalam sinema elektronik, namun semua terjadi begitu saja mengalir bagaikan aliran air kotor yang akan menjadi bersih ketika terus dialiri oleh aliran air yang lebih bersih.

Aku pernah mencintainya dengan sepenuh hati hingga akhirnya semua rasa itu kebas, kelu tak terasa sama sekali. Terlalu sering kata perpisahan yang diucapkan olehnya dan lupa bagaimana rasa seorang lelaki tanpa harga diri dihadapanya.

Aku korbankan semua prestasi gemilang demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik yang begitu diharapkannya, namun semuanya sirna karena syahwat harta tak juga terpuaskan baginya.

Bukan aku tak mau lagi memperbaiki yang sudah retak, namun emosional tak kunjung reda dari dirinya dan semakin hari semakin hilang rasa yang pernah ada itu.

Aku sayang Faeyzaku dan juga Najimku hingga akhirnya kuputuskan untuk berbagi diantara kedua buah hati antara Bandung dan Bekasi. Bagaikan menarik benang dalam tepung, benang ditarik tepung tak tersibak. Pelan namun pasti agar tidak ada yang terlalu terlukai namun aku akant erus berjalan melangkah untuk masa depan yang baru.

Aku tak dendam dan aku memaafkan, namun tak bisa melupakan. Aku tak pernah bisa melupakan setiap detik bersamanya hari-hariku hidup tanpa sebuah harga sebagai pribadi yang tak berarti daripada sebuah harta warisan.

Aku hidup dengan toleransi yang amat besar hingga mengorbankan karir gemilangku untuknya, namun saat ini aku sudah memutuskan dan tak akan mungkin aku pandang ke belakang untuk kembali mengurai kesedihan bertahun-tahun.

Ijinkan aku untuk melangkah kedepan dengan kehidupanku yang sedang aku upayakan tanpa kesedihan di dalamnya dengan seseorang yang membuatku bahagia pagi, siang dan malam, mau mengurus mayatku jika aku nanti mati dan yang tak pernah merasa kekurangan atas sebuah syahwat harta.

Aku yakin, kamu akan temukan sesuatu kehidupan yang kamu harapkan dan sesuai dengan yang kamu butuhkan. Kamu muda dan bertalenta dan aku akan kunjungi Faeyza dikemudian hari maka janganlah kamu sembunyikan si gemasku itu dari hadapanku.

 

Dari ketinggian 35000 kaki kuutarakan isi hatiku yang kelu.

Love Unicorn