Maukar dan Makar: Sisi Lain Sebuah Sejarah

Labda Gegana Nirwesthi

Coretan kali ini akan menceritakan sedikit sejarah sisi lain dari Skadron Udara 12, sebagai sebuah kisah tertulis untuk motivator generasi berikutnya dalam berjuang demi Negara Kesatuan Repiblik Indonesia.

Daniel Alexander Maukar, pria kelahiran Bandung, 20 April 1932, adalah seorang perwira TNI AU yang bertugas di Skadron Udara 12 (era awal), Kemayoran (pada saat itu). Telah mencatatkan sebuah kejadian pada tahun 1960an yang bertepatan dengan penjadwalan rutin sonic boom pesawat mig 17 dengan sasaran Lanud Halim Perdanakusuma.

Daniel mendapatkan jatah terakhir setelah Letnan Satu Goenadi, Letnan Dua Sapoetro dan Letnan Satu Sofjan Hamsjah. Belakangan diketahui bahwa sonicboom Daniel ternyata berada lebih jauh dari yang direncanakan.

Sasaran pertama setelah mengudara adalah tangki bensin BPM. Daniel tahu persis bahwa kawasan BPM adalah daerah tertutup dan sepi. Tidak sulit untuk mengetahui kawasan itu karena Herman Maukar (kakak kandung Daniel) bekerja di BPM. Dari ketinggian 800 meter dengan sudut 30 derajat Daniel melakukan penembakan (bukan sonic boom)

Setelah sasaran pertama, Daniel bergerak ke Istana Merdeka. Sebelumnya, Daniel telah mendapati informasi bahwa tiap hari kerja, Presiden Soekarno selalu berada di ruangan sebelah kanan istana sehingga dari ketinggian 600 meter, Daniel menembaki  Istana Merdeka. Setelahnya, Daniel mengaku langsung menuju Bogor dan melepaskan lagi tembakan di Istana Bogor.

Pesawat MiG-17 tunggangan Daniel mendarat secara darurat di Leles, sekitar pukul 2 siang. Menurut kesaksian Kapten udara Dudi Rahaju Kamarudin, sayap kiri pesawat itu terputus, sayap kanan tertutup lumpur, dan airbrake-nya rusak. Daniel, pemuda kelahiran Bandung, 20 April 1932 itu mengaku telah merusak pesawatnya dengan cara pendaratan darurat di landasan udara.

Meskipun pada awalnya diseret ke pengadilan militer dan terancam hukuman mati, Daniel Maukar akhirnya menerima pengampunan dari Soekarno setelah menjalani hukuman penjara selama 8 tahun dan bahkan tetap mendapatkan dana pensiun dari pemerintah.

Sejak saat itu, setiap kegiatan yang menentang Pemerintah Indonesia selalu disebut dengan tindakan MAKAR yang diambil dari nama Daniel MAUKAR agar jangan sekali-sekali kita melupakan sejarah.

Jaya di Udara Tanpa Halangan

12 September 1963

2 Mei 1983 – 2020