Undang-Undang Penerbangan Indonesia: Sebagai Legacy Sebuah Pemerintahan

Jatidiri akan berawal dari sebuah definisi, dimana definisi yang akan mengokohkan posisi dan menjelaskan peran serta fungsi keberadaan sebuah profesi. Dalam Undang-Undang Penerbangan No. 1 Tahun 2009 ternyata belum tertulis definisi penerbang. Dalam pasal 1 ayat 11 hanya menjelaskan definisi Kapten Penerbang. Sedangkan Kapten Penerbang sejatinya bagian dari defisnisi Penerbang yang terdiri dari Kapten Penerbang (Captain Pilot) dan Asisten Kapten Penerbang (Co-Pilot). 

Sehingga Penerbang adalah profesi inti dari sebuah bisnis penerbangan (core bussiness), terdiri dari Kapten Penerbang (Captain Pilot) dan Asisten Kapten Penerbang (Co-pilot) yang memiliki tugas dan tanggung jawab membawa penerbangan dengan jaminan kualitas dan keselamatan penerbangan selama pengoperasian pesawat udara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Penerbang dalam dunia penerbangan sipil yang selama ini dianggap sebagai rakyat terlatih dan komponen cadangan negara pun harus diubah di era supremasi sipil yang terjadi di Indonesia saat ini. Karena bentuk negara Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau, sehingga peran transportasi udara sangat besar sebagai komponen strategis bangsa. Sehingga penerbang adalah profesi yang wajib ditingkatkan sebagai Komponen Utama Ketahanan Ekonomi Negara Indonesia.

            Pembinaan penerbang agar menciptakan penerbang-penerbang yang handal sebagai komponen utama ketahanan ekonomi harus meliputi:

  1. Pembinaan personel penerbangan pada tingkat regulator untuk menciptakan regulator yang bersih, taat dan berpengetahuan tinggi, memiliki leadership manajerial yang baik, fokus pada rangkaian regulasi. 
  2. Pembinaan personel penerbangan pada tingkat operator untuk menciptakan operator yang profesional dan memahami Quality Excellence adalah adalah sebuah tujuan bagi operator. Yang dimaksud dengan Quality Excellence adalah (Good operations + 100% Safety/Security = QUALITY EXCELLENCE). Quality Excellenceadalah sebuah tujuan bagi operator yang harus dicapai, bukan semata hanya mengejar revenue dari operasional dan safety/security yang tidak tegas fungsinya.
  3. Membentuk Majelis Penerbangan, sejatinya pola pembinaan tertinggi untuk dunia penerbangan Indonesia sesuai amanah Undang-Undang No. 1/2009 pasal 364. Di dunia internasional mungkin saja belum ada majelis serupa yang dimaksud, namun, dalam ke-khususan bentuk negara kepulauan terbesar di dunia dimana trasnportasi udara adalah komponen strategis bangsa serta pilot Indonesia sebagai komponen utama di dalamnya ditambah dengan era pandemi saat ini, dirasa perlu bagi pemerintah untuk mewujudkan amanah pasal 364 Undang-Undang Penerbangan untuk membentuk Majelis Penerbangan Indonesia sebagai sebuah legacy sebelum bergantinya kepemimpinan tiga tahun kedepan.

Majelis Penerbangan Indonesia akan membela dan meluruskan hak asasi manusia dimana dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang, pada dasarnya tidak ada satupun manusia yang ingin terjadinya kecelakaan dan jika pun terjadi sudah pasti manusia akan berusaha survive menyelamatkan penumpang dan pesawatnya dan pilot adalah manusia.

Untuk memperkecil grafik kecelakaan transportasi udara, perlu ada induk pembinaan aircrew dan Mejelispenerbangan Indonesia yang akan berdiri sebagai induk pembina sehingga ego sektoral masing-masing maskapai dan almamater bisa dieliminir. Sebagaimana diamanahkan dalam pasal 365 ayat 1 “Menegakkan etika profesi dan kompetensi personel di bidang penerbangan”

            Majelis Penerbangan Indonesia jika sudah terbentuk nanti, harus menjadi lembaga yang independen dan diawaki oleh personel non operator dan non regulator. Diharapkan nantinya berada langsung di bawah Presiden karena ke-khususan kepentingan negara pada transportasi udara sebagai komponen strategis negara demi mempertahankan Ketahanan Ekonomi negara.

Majelis Penerbangan Indonesia adalah amanah Undang-Undang Penerbangan Indonesia yang harus tercipta demi terwujudnya paradigma baru dalam dunia penerbangan Indonesia. Majelis Penerbangan Indonesia akan menjadi sebuah legacy bagi kabinet Indonesia Maju.

Salam Sehat, dengan Akal Pikiran dan Hati Nurani !

Ruang Udara Yang Fleksibel Untuk Konsep Tol Udara

Untuk memenuhi permintaan publik yang terus meningkat akan transportasi udara dan kebutuhan yang meningkat akan layanan lalu lintas udara sudah saatnya Indonesia mengadopsi konsep terpadu antara penerbangan sipili dan militer berkaitan dengan ruang udara.

Tujuan utama Manajemen Ruang Udara adalah penerapan Konsep Penggunaan Ruang Udara yang Fleksibel (flexible use of airspace, FUA). Konsep FUA ini diperkenalkan pada bulan Maret 1996 setelah dikembangkan oleh perwakilan sipil dan militer dari Negara-negara ECAC yang dihadiri oleh beberapa operator pesawat udara di eropa.

Pengenalan Konsep FUA didasarkan pada prinsip fundamental bahwa ruang udara adalah satu kontinum yang dialokasikan untuk digunakan sehari-hari guna mengakomodasi kebutuhan transportasi udara. Sebagai perwujudan “tol udara” yang berkembang dari “tol laut” dimana transportasi udara memiliki keunggulan dalam hal “kecepatan, efisiensi, dan fleksibilitas yang dinamis.

Wilayah udara tidak lagi ditetapkan sebagai wilayah udara “sipil” atau “militer” murni, tetapi dianggap sebagai satu kesatuan dan dialokasikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Segregasi wilayah udara yang diperlukan bersifat sementara, berdasarkan penggunaan waktu nyata dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan pada saat penggunaanya saja, sehingga tidak akan memperbesar risiko pertahanan udara dalam suatu wilayah udara di atas objek vital negara (selain istana negara).

“Wilayah udara harus dianggap sebagai satu kesatuan, direncanakan dan digunakan dengan cara yang fleksibel setiap hari oleh semua kategori pengguna wilayah udara.” Maksud dari FUA adalah untuk meningkatkan kinerja jaringan dan untuk menyediakan arus informasi / data yang aman, efisien dan akurat.

Alokasi ruang udara diperbarui secara dinamis dan informasi terus dibagikan kepada semua peserta yang berperan. Contohnya adalah memberi tahu pengguna wilayah udara ketika lintasan yang mereka inginkan terjadi permintaan penggunaan wilayah udara yang dibuat oleh pengguna militer atau sebaliknya ketika pengguna sipil akan melewati batas-batas prohibited area karena alasan heavy traffci maupun cuaca yang tidak bersahabat pada rute normal.

Lintasan penggunaan kemudian dapat update by request. Pengguna militer harus diberi tahu tentang dampak permintaan mereka pada lintasan yang direncanakan sehingga mereka dapat memilih solusi yang meminimalkan dampak yang terjadi. Agar pendekatan ini berhasil, proses baru untuk negosiasi perlu ditentukan. Disini akan sangat diperlukan peran Military Civil Coordination yang harus diawaki oleh para personel handal, berintegeritas serta militan.

Penerapan Konsep FUA akan sangat baik dan menguntungkan penerbangan sipil dan militer, sebagai contoh: Peningkatan ekonomi penerbangan ditawarkan melalui pengurangan jarak, waktu dan bahan bakar; Pembentukan jaringan rute Air Traffic Services (ATS) yang ditingkatkan dan sektorisasi terkait yang menyediakan; Peningkatan kapasitas Air Traffic Control (ATC); Pengurangan penundaan Lalu Lintas Udara Umum; Cara yang lebih efisien untuk memisahkan Lalu Lintas operasional Udara dan General Aviation; dan Peningkatan koordinasi sipil / militer secara real-time; Pengurangan kebutuhan pemisahan ruang udara;

“Salam Sehat, Akal, Pikiran dan Hati Nurani”

Finansial Catastrophe Pada Pilot Dalam Era Pandemi

Capt Teddy Hambrata Azmir (Praktisi Penerbangan Indonesia)

            Era pandemi covid 19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun sangat menjadi pukulan telak bagi dunia bisnis penerbangan dunia termasuk Indonesia. Jutaan kursi dari penjualan mengalami penurunan drastis dengan prosentase lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan penjualan normal sebelum pandemi berlangsung.

Nilai investasi yang jumlahnya triliunan rupiah pun membengkak karena bertambahnya hutang dan beban operasional beberapa maskapai hingga terjadi pemotongan gaji yang diluar ekspektasi. Hal ini tentunya dapat menjadi sebuah potensi hazard dalam dunia penerbangan terlebih para pekerja udara yang sejatinya harus bekerja membawa ratusan nyawa menjadi terbebani dengan sebuah ciri-ciri psikologi bernama Finansial Catasrophe dimana potensi kegagalan kontrol emosi dan motivasi akan sangat berakibat negatif.

Finansial Catastrophe, dalam translasi dapat diartikan sebagai sebuah bencana akibat kondisi keuangan yang bukan karena gaya hidup yang berlebihan, melainkan disebabkan oleh penurunan operasional penerbangan sehingga menyebabkan penghasilan sebagai profesi pilot menurun drastis berada di bawah standar kebutuhan dan rencana keuangan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. 

Pandemi yang berkelanjutan ini telah menyebabkan beberapa pilot menjual aset pribadi; menghabiskan tabungan bahkan tidak sedikit yang menjadi sasaran debt collector atau beralih profesi sebagai pebisnis usaha kecil menengah sembari tetap bekerja mengoperasikan pesawat terbang dengan beban yang tidak ringan tersebut.

Di dunia penerbangan, pilot merupakan sebuah profesi sebagai core bussiness dalam sebuah bisnis penerbangan itu sendiri, karena baik dan buruknya kondisi suatu bisnis penerbangan tergantung daripada baik kualitas pilotnya. Pilot juga salah satu pilar penjamin kualitas dalam bisnis penerbangan dimana quality excellent akan dapat tercapai dengan terpenuhinya operasional penerbangan yang baik dilengkapi dengan 100 persen keselamatan dan keamanan terbang.

Finansial catastrophe pada kondisi pandemi yang dialami banyak pilot saat ini, bukan mustahil akan menular kepada pilot lainnya yang mungkin saja saat ini masih memiliki ketahanan ekonomi dalam beberapa tabungan dan aset dalam beberapa tahun, mengingat pandemi covid 19 ini masih akan terus eksis mempengaruhi dunia penerbangan dalam dua atau tiga tahun ke depan .

Peristiwa yang mengganggu secara emosional, termasuk pertengkaran serius, kematian anggota keluarga, perpisahan atau perceraian, kehilangan pekerjaan, dan finansial catastrophe, dapat membuat pilot tidak dapat menerbangkan pesawat dengan aman. Emosi kemarahan, depresi, dan kecemasan dari kejadian-kejadian semacam itu tidak hanya menurunkan kewaspadaan tetapi juga dapat menyebabkan pengambilan risiko yang berbatasan dengan accident/incident. Setiap pilot yang mengalami peristiwa yang mengecewakan secara emosional harus mempertimbangkan untuk tidak terbang sampai pulih secara total.

Perlu sekali untuk dilakukan adalah tes psikologi bagi pilot di penerbangan sipil. Tes psikologi yang terintegerasi dengan medical check up rutin sudah menjadi kebutuhan penting dalam dunia penerbangan saat ini terutama dalam masa pandemi, karena tidak semua pilot yang berani menyampaikan segala permasalahan kepada perusahaan tempat bekerja, tergantung bagaimana sistem pembinaan yang dibentuk oleh suatu maskapai. Namun, jika berbicara kepada ahli psikologi tentunya akan jauh lebih baik dan netral.

Sehingga perlunya menganggap finansial catastrophe dengan sangat serius baik dari sisi operator maupun regulator demi terciptanya quality excellent secara menyeluruh. Menerapkan tinjauan manajemen berkala untuk mengevaluasi sistem manajemen mutu organisasi pada interval yang direncanakan dan untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan efektivitasnya yang berkelanjutan.

Pandemi telah membuat perubahan drastis terhadap kehidupan dunia saat ini, sehingga perlu fleksibilitas regulator untuk “kenyal” terhadap aturan main yang lama dimana kondisi saat ini sangat diperlukan audit keuangan dengan akuntan publik yang independen guna mengetahui kemampuan dan performa suatu maskapai. Logika, ketika komponen gaji sudah sangat menjadi beban perusahaan, artinya bagaimana dengan beban operasional lainnya yang dapat berakibat pada tidak terciptanya quality excellent yang berpotensi accident/incident.

Performa keuangan yang buruk dalam bisnis penerbangan adalah potensi yang sangat besar terhadap kontribusi meningkatnya grafik kecelakaan penerbangan di Indonesia, karena finansial catastrophe juga berlaku bagi pelaku bisnis penerbangan itu sendiri. Jika ditemukan kondisi keuangan yang sudah tidak baik, ada baiknya beberapa bisnis digabungkan (merge) sehingga dapat saling  meringankan beban. Bangkit dari Pandemi, menatap kenyataan! 

Salam Sehat!!