Ruang Udara Yang Fleksibel Untuk Konsep Tol Udara

Untuk memenuhi permintaan publik yang terus meningkat akan transportasi udara dan kebutuhan yang meningkat akan layanan lalu lintas udara sudah saatnya Indonesia mengadopsi konsep terpadu antara penerbangan sipili dan militer berkaitan dengan ruang udara.

Tujuan utama Manajemen Ruang Udara adalah penerapan Konsep Penggunaan Ruang Udara yang Fleksibel (flexible use of airspace, FUA). Konsep FUA ini diperkenalkan pada bulan Maret 1996 setelah dikembangkan oleh perwakilan sipil dan militer dari Negara-negara ECAC yang dihadiri oleh beberapa operator pesawat udara di eropa.

Pengenalan Konsep FUA didasarkan pada prinsip fundamental bahwa ruang udara adalah satu kontinum yang dialokasikan untuk digunakan sehari-hari guna mengakomodasi kebutuhan transportasi udara. Sebagai perwujudan “tol udara” yang berkembang dari “tol laut” dimana transportasi udara memiliki keunggulan dalam hal “kecepatan, efisiensi, dan fleksibilitas yang dinamis.

Wilayah udara tidak lagi ditetapkan sebagai wilayah udara “sipil” atau “militer” murni, tetapi dianggap sebagai satu kesatuan dan dialokasikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Segregasi wilayah udara yang diperlukan bersifat sementara, berdasarkan penggunaan waktu nyata dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan pada saat penggunaanya saja, sehingga tidak akan memperbesar risiko pertahanan udara dalam suatu wilayah udara di atas objek vital negara (selain istana negara).

“Wilayah udara harus dianggap sebagai satu kesatuan, direncanakan dan digunakan dengan cara yang fleksibel setiap hari oleh semua kategori pengguna wilayah udara.” Maksud dari FUA adalah untuk meningkatkan kinerja jaringan dan untuk menyediakan arus informasi / data yang aman, efisien dan akurat.

Alokasi ruang udara diperbarui secara dinamis dan informasi terus dibagikan kepada semua peserta yang berperan. Contohnya adalah memberi tahu pengguna wilayah udara ketika lintasan yang mereka inginkan terjadi permintaan penggunaan wilayah udara yang dibuat oleh pengguna militer atau sebaliknya ketika pengguna sipil akan melewati batas-batas prohibited area karena alasan heavy traffci maupun cuaca yang tidak bersahabat pada rute normal.

Lintasan penggunaan kemudian dapat update by request. Pengguna militer harus diberi tahu tentang dampak permintaan mereka pada lintasan yang direncanakan sehingga mereka dapat memilih solusi yang meminimalkan dampak yang terjadi. Agar pendekatan ini berhasil, proses baru untuk negosiasi perlu ditentukan. Disini akan sangat diperlukan peran Military Civil Coordination yang harus diawaki oleh para personel handal, berintegeritas serta militan.

Penerapan Konsep FUA akan sangat baik dan menguntungkan penerbangan sipil dan militer, sebagai contoh: Peningkatan ekonomi penerbangan ditawarkan melalui pengurangan jarak, waktu dan bahan bakar; Pembentukan jaringan rute Air Traffic Services (ATS) yang ditingkatkan dan sektorisasi terkait yang menyediakan; Peningkatan kapasitas Air Traffic Control (ATC); Pengurangan penundaan Lalu Lintas Udara Umum; Cara yang lebih efisien untuk memisahkan Lalu Lintas operasional Udara dan General Aviation; dan Peningkatan koordinasi sipil / militer secara real-time; Pengurangan kebutuhan pemisahan ruang udara;

“Salam Sehat, Akal, Pikiran dan Hati Nurani”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s