Geliat Maju Penerbangan Amfibi Indonesia

Indonesia sebagai Negara Kepulauan, memiliki fakta sejarah sejak jaman sejarah bahwa dengan penguasaan maritime menghantarkan Nusantara mencapai kejayaan. Wilayah Indonesia yang terdiri dari dua per tiga lautan menjadikan perilaku budaya masyarakat yang akrab dengan tradisi maritim.

Sebelum awal abad ke 20, transportasi dengan kapal laut telah menghubungkan jarak yang memisahkan pulau-pulau di dunia. Kemajuan teknologi menuntut manusia untuk selalu ingin lebih cepat dan efisien sehingga pesawat udara yang tercipta bisa membantu peran transportasi antar pulau hingga antar benua dengan waktu relatif lebih singkat dan memiliki efisiensi tinggi.

Terminologi pesawat sebagai benda yang lebih berat dari udarabersayap tetap atau putar, dan dapat terbang dengan tenaga sendiri. Secara umum istilah pesawat terbang sering juga disebut dengan pesawat udara atau kapal terbang atau cukup pesawat dengan tujuan pendefenisian yang sama sebagai kendaraan yang mampu terbang di atmosfer atau udara. Sedangkan kapal laut adalah kendaraan air dengan jenis dan bentuk tertentu yang dapat mengangkut penumpang dan barang melalui perairan menuju kawasan tertentu.

Memadukan dua alat transportasi udara dan laut dengan terminologi pesawat amfibi sebenarnya bukan hal baru di negeri maritim Indonesia, sebagaimana artikel sebelumnya di tahun 2015 membayangkan indahnya Maladewa padahal kita Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan spot Maladewa yang sangat memukau keindahannya.

Menunggu kejutan terbitnya sebuah regulasi yang ramah terhadap aviasi amfibi menawarkan iklim investasi yang baik untuk pariwisata; evakuasi medis; pengembangan general aviation dan sarana pendukung pemerataan ekonomi di pulau terluar serta terpencil Indonesia. 

Keunggulan pengoperasian pesawat amfibi adalah sebagai sarana perpaduan antara program “tol laut” dan “tol udara” dalam sistem maritim terpadu. Selain memiliki keunggulan efisiensi kecepatan waktu juga sangat efektif dalam fungsinya yang dapat mendarat di daratan maupun di perairan. 

Potensi wisata di Indonesia dengan satu koma sembilan juta kilometer panjang pantai yang dimiliki akan sangat berpotensi menghasilkan devisa negara jika didukung bersamaan dengan pengembangan sektor pariwisata. Dari sisi regulasi yang dalam tahap “penggodokan” juga membangkitkan semangat untuk mencetak para pilot dengan kualifikasi “sea class” seperti yang dicanangkan Akademi Penerbangan Indonesia di Banyuwangi.

Kelak, jika regulasi berpihak, harapannya seperti helikopter dengan “any open area”  dapat melakukan operasi penerbangan takeoff dan landing maka dengan diperbolehkannya pesawat amfibi untuk beroperasi takeoff dan landing pada “any open water area” sehingga evakuasi medis pun dapat dilakukan dimanapun selama ada garis pantai yang dapat digunakan untuk takeoff dan landing.

Bisnis Seaplane pernah eksis pada beberapa perusahaan sejenis seperti:

  • Bali Seaplane (Dec 2016) JO with Bali Air Adventure (Juli 2017) rute Bali-Lombok
  • Blue Water Seaplane (2016) rute Bali-Lombok
  • Dimonim Air (2016) rute Bali – Lombok
  • Omni Marine (Seaplane 2017) rute Bali-Lombok
  • Airfast Indonesia (2018) rute Batam –Pulau Bawah

Namun, eksistensi tersebut menjadi lesu karena belum didukung oleh iklim investasi yang ramah dengan regulasi yang mudah namun tetap dalam margin kualitas yang baik.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang hidup di daratan sehingga dunia aviasi selalu memiliki resiko yang tidak kecil dengan tantangan melawan cuaca, ombak, arus tinggi dan terrain. Namun, resiko ini akan dapat dengan mudah dimitigasi dengan sistem pendidikan, pelatihan dan peralatan yang memenuhi sarat serta mengedepankan quality excellent yang baik serta dilengkapi insurance yang memadai.

“…Perkuat Wisata Bahari, Indonesia Siapkan Seaplane”maka Indonesia bisa mengalahkan pariwisata bahari di Maladewa. Dengan menggunakan seaplane maka waktu yang ditempuh akan lebih cepat sehingga turis asing tak bosan menunggu terlalu lama untuk sampai dipulau yang diinginkan (Arief Yahya, Mantan Menteri Pariwisata RI)

Eksotisme pulau-pulau cantik yang menjadi kekuatan Pesona Nusantara akan makin terhubung, setelah Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub mengeluarkan Certificate Water Aerodrome melalui Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 83 tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulation Part 139) Tentang Bandar Udara (Aerodrome). Ini adalah sebuah terobosan aksesibilitas udara yang sangat ditunggu-tunggu untuk destinasi wisata di kepulauan Indonesia.

Capt Teddy Hambrata Azmir

Mambewor Aviation Consultant