Empat Solusi Alternatif Untuk Mempertahankan Garuda Indonesia

Oleh: Capt Teddy Hambrata Azmir

Mambewor Aviation Consultant

Armada pertama Garuda Indonesia adalah pesawat Dakota RI 001 Seulawah yang diambil dari bahasa Aceh yang berarti “Gunung Emas” sekaligus sumbangan dari masyarakat Aceh untuk mendukung kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Garuda Indonesia adalah produk akuisisi dari Pemerintah kolonial yang sebelumnya berbagi kepemilikan dengan Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) dan kemudian menjadi milik Indonesia seutuhnya sejak tahun 1953 dengan sejumlah armada dan tenaga profesional.

Garuda Indonesia, bisa dikatakan sebagai perangkat utama kemerekaan Indonesia dan menjadi trade mark tidak ternilai dalam perkembangan sejarah berdirinya republik ini serta khususnya sebagai cikal bakal bisnis aviasi di Indonesia. Namun, disayangkan jika ternyata maskapai plat merah ini akan mencapai ambang batas usianya di era pembangunan saat ini. Haruskah Garuda Indonesia dipailitkan demi meringankan beban APBN negara? 

Ups, mengapa sumber bisnis negara yang seharusnya memberikan kontribusi pembangunan ekonomi justru menjadi beban negara? Apapun itu alasannya, bukan baik jika kita mencari kesalahan yang terjadi, namun, baik jika tampil dengan gagasan. Kita tahu bahwa selain Garuda Indonesia, Indonesia memiliki beberapa flag carrier lainnya yaitu Merpati Nusantara yang sudah lebih dulu “tertidur” sejak tahun 2013 lalu dan Pelita Air Service sebuah anak perusahaan milik Pertamina yang saat ini digadang-gadang akan menggantikan Garuda Indonesia sebagai “New Flag Carrier”

Dengan “mengalahkan” Merpati Nusantara diharapkan bisa menyelamatkan Garuda Indonesia, namun sayangnya Garuda Indonesia hampir diujung usia. Mempailitkan Garuda Indonesia dan menjadikan Pelita Air Service flag carrier baru (Jawa Pos, 2021) layaknya DEJAVU, karena kehilangan Merpati Nusantara juga tak menyelamatkan Garuda Indonesia.

Empat solusi yang dituliskan pada lembaran ini adalah alternatif upaya yang dapat dilakukan selain harus mem-pailitkan Garuda Indonesia:

1. Restukturisasi hutang seperti yang sedangkan diupayakan Pemerintahan RI saat ini dan kita sedang menunggu hasil baik dari negosiasi dengan para stakeholder pendanaan. Investor memerlukan kepastian dan prediktabilitas serta kemudahan birokrasi agar mereka yakin bahwa ber-investasi di Garuda Indonesia potensial profitable. Pasti! Karena kebutuhan akan transportasi udara di Negara Kepulauan adalah salah satu contributing factor dari tercapainya pembangunan ekonomi Negara. Diperlukan tim kerja yang solid untuk dapat menghasilkan hasil optimal.

2. New Model Costing Strategy. Yang dimaksud adalah, Garuda Indonesia harus memiliki strategi keuangan dan pengaturan keuangan yang baru dimana keberadaan reserved cost (dana cadangan) harus mampu menahan gejolak perekonomian sampai 3 tahun kedepan (pembelajaran dari pandemi covid 19 yang terjadi hampir 2 tahun berjalan), dan dana cadangan tersebut harus masuk dalam pengajuan nilai investasi jangka panjang sesuai dengan kebutuhan operasional pesawat, aircrew dan management, kepastian biaya perawatan dan asuransi. Reserved cost multak dikelola oleh Negara dan semaksimal mungkin digunakan untuk kepastian berlangsungnya treatment dalam usaha bukan digunakan untuk development. Juga dibutuhkan tim kerja yang solid serta independen dengan pelaksanaan audit finansial secara berkala.

Menggunakan produk-produk dalam negeri serta UMKM adalah sebuah keniscayaan dalam sub-bisnis di dalam Garuda Indonesia seperti souvenir; alat pokok pekerja (seragam, alat kerja kantor, dll); hingga produksi makanan dan minuman. Dan juga, perlu ditinjau ulang segala fasilitas, bonus dan pengeluaran operasional lainnya hingga Garuda Indonesia benar-benar kembali bangkit.  

3. Re-Organisasi Total. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang sedang berjalan saat ini, bahwa restruktur manajemen dan personel adalah kebutuhan yang sangat mendesak demi keberlangsungan. Tidak perlu banyak pejabat teras dalam organisasi untuk Garuda Indonesia reborn. Mengurangi posisi Direksi adalah salah satu upaya untuk efisiensi salary cost, walaupun dalam CASR 121 mengatakan posisi-posisi key person yang harus dipenuhi, perubahan dapat dilakukan dengan mengeluarkan advisory circular sehingga seorang Direktur Utama adalah satu-satunya direktur dan membawahi General Manager demikian selanjutnya, bidang-bidang quality operasional, safety, security dan perawatan pesawat berada dalam satu naungan akuntabel manager yakni Direktur Utama.

4. Sumber Pendanaan Alternatif. Sovereign Wealth Fund, adalah kendaraan finansial yang dimiliki negara dengan mengatur dan menginvestasikan kepada aset-aset yang luas dan beragam, kelebihan dana dari hasil investasi ini yang dapat digunakan untuk investasi baru untuk mendapatkan return yang lebih besar lagi (Website: DJKN Kemenkeu, 2021). 

Saat ini Kementerian BUMN telah mendirikan sebuah holding BUMN baru yang bernama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (PT API), walaupun Garuda Indonesia bukan bagian dari holding baru tersebut, namun PT API ini memiliki potensi pembangunan infrastruktur untuk transportasi udara; kebandaraan; pariwisata; perhotelan; dll dimana potensi tersebut dapat menghasilkan nilai investasi yang besar dari pembangunan infrastruktur yang dalam kontrol PT API. Return dari kelebihan keuntungan-nya dapat digunakan bagi Garuda Indonesia membangun dan mengembangkan usahanya tanpa mengganggu APBN seperti yang terjadi selama ini.

Masih banyak yang menginginkan Garuda Indonesia berdiri tegak karena Garuda Indonesia adalah bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan-nya adalah legacy bagi Pemerintahan yang berlangsung dan sepanjang masa.

Merdeka !