Sebuah Klise, Gap Ekonomi Anggaran Pertahanan

Kecenderungan perkembangan lingstra dalam postur Negara saat ini mengarah kepada beberapa isu global maupun regional dimana dalam permasalahan global terdapat beberapa hal yang menyebabkan pentingnya kekuatan pertahanan Negara demi tercapainya kepentingan dan tujuan nasional bangsa Indonesia, antara lain: kelangkaan energi seperti minyak bumi dan gas alam dimana setiap Negara baik dalam bidang industri maupun pertahanan sektor migas ini adalah termasuk dalam unsur utama untuk keberlangsungan dan berjalannya sistem; kejahatan transnasional seperti human trafficking, penyelundupan senjata hingga isu terorisme pun menjadi masalah serius dalam lingkungan global dunia; serta tak kalah pentingnya adalah permasalahan bencana alam baik gempa bumi, tsunami maupun kebakaran hutan juga menjadi isu global yang dapat menyebabkan stabilitas nasional memerlukan pertahanan yang kuat.

Di atas telah dikatakan selain isu global terdapat pula permasalahan regional yang berpotensi menjadi ancaman baik militer maupun nirmiliter seperti, konflik internal dan eksternal yang diakibatkan dari memanasnya iklim keamanan maritim baik tentang keamanan bersama regional untuk memberantas pembajakan di laut maupun isu perbatasan di perairan kawasan; serta konflik yang disebabkan oleh situasi penguasaan ruang udara yang juga dapat menyebabkan sebuah ancaman bagi kedaulatan bangsa Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya sedikit telah memberikan gambaran sebagai pendahuluan bahwa ancaman baik militer atau nirmiliter sudah berada di depan mata sehingga perlu adanya analisa tentang anggaran pertahanan demi mencapai target pencapaian minimum essential forces TNI sebagai sebuah kebijakan yang diambil pemerintah dengan pembagian masa antara 2009-2014; 2015-2019; dan 2020-2024. Dalam kurun waktu menjelang tahap pertama selesai tentunya telah dapat dilihat pula bahwa beberapa alat utama sistem persenjataan TNI yang dipesan dari luar negeri sudah mulai berdatangan, untuk itu dalam tulisan ini saya mencoba memberikan pandangan yang bersifat umum mengenai permasalahan anggaran tentang beberapa kekuatan baru tersebut agar minimum essential forces yang diharapkan dapat disegerakan menjadi optimum essential forces.

Dengan iklim gegap gempita menanti peralatan baru yang canggih tersebut muncul pertanyaan klise yang selalu hadir sepanjang masa jika kita berbicara tentang perkuatan alutsista TNI. Masalah anggaran, sudah pasti selalu hadir dalam setiap kajian maupun analisa yang membahas tentang pertahanan. Dalam tabel kurva yang tercantum dibawah[1], dapat kita lihat walaupun mulai tahun 2000 hingga 2011 terdapat peningkatan yang signifikan terhadap anggaran militer Indonesia, namun gap ekonomi mengenai anggaran tersebut tetap sangat besar dibandingkan pengajuan kebutuhan anggaran yang disampaikan kepada DPR RI. Sebagai contoh, pada tahun 2011 pihak Kementerian pertahanan maupun TNI telah mengajukan $ 13.68 billion, akan tetapi realisasi yang terjadi anggaran yang di lepas leh DPR hanya sejumlah $ 5.75 Billion.

defence budget

Gap ekonomi yang terjadi pada anggaran pertahanan ini bukan hanya menyebabkan kurang efektifnya operasional TNI sebagai garda terdepan sekaligus benteng terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun juga telah menyebabkan ketidakseimbangan strategi yang telah direncanakan terhadap pelaksanaan dari renstra pertahanan Republik Indonesia. Belum lagi jika dibandingan dengan Negara-negara di Asia Pasifik ternyata anggaran pertahanan Indonesia adalah yang terkecil dihitung dari prosentasi PDB masing-masing Negara. Indonesia hanya tercatat memiliki rata-rata anggaran sebesar $4.72 Billion yang sangat jauh jika dibandingkan dengan China, Korea Selatan, Australia dan Jepang. Bahkan jika dibandingkan Singapura yang mana Negara tersebut hanya seluas kota Jakarta akan tetapi memiliki anggaran sebesar $8.34 Billion atau hampir dua kali lipat Indonesia[2].

Menyadari betapa pentingnya menjaga kedaulatan NKRI yang merupakan Negara maritim dengan garis pantai yang sangat panjang. Dapat dibayangkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki 5 bagian pulau besar serta beberapa wilayah kepulauan seperti Bintan, Bangka serta Maluku. Sedangkan pertahanan yang menjadi andalannya sangat kurang memadai baik terutama dari segi jumlah kekuatan udara dan laut dimana sebuah Negara kepulauan yang berbasis maritim seharusnya memiliki kemampuan total defence yang mencakup batas terluar Negara yakni hingga zona ekonomi eksklusif. Memang beberapa sumber telah mengatakan bahwa dari target pencapaian minimum essential forces itu sendiri telah mencapai angka 40% dari 30% yang ditergetkan pada tahu 2014. Namun, harapannya keberhasilan tersebut akan jauh lebih optimal jika pengadaan dapat lebih dipercepat lagi dengan adanya dukungan anggaran dengan memperkecil gap anggaran seperti yang kita lihat pada tabel kurva di atas. Sebuah contoh, melihat dari kekuatan pertahanan udara dalam hal ini adalah skadron pesawat tempur TNI AU, dimana pulau seluas Kalimantan yang berbatasan langsung dengan daratan Malaysia Timur hanya di lindungi oleh satu Skadron Udara saja, walaupun dalam rencana strategis akan ada penambahan satu Skadron UAV dirasakan masih cukup kurang dalam segi penindakan. Mungkin dengan adanya Skadron pesawat Sukhoi di Makasar kemungkinan mampu ikut membantu perkuatan di Pulau Kalimantan, akan tetapi hal tersebut menjadi akan simalakama karena Indonesia bagian timur akan semakin “bolong” pertahanan udaranya. Pesawat tempur tersebut diharapkan dapat melakukan pertahanan udara dalam bentuk pertahanan keluar hingga batas zona ekonomi ekslusif  Indonesia dari pantai terluar. Jika kita semakin melihat kearah pasifik, maka akan terasa semakin lemah pertahanan NKRI kita, karena besar harapannya ada tiga atau empat Skadron Udara tempur yang ditempatkan di Papua sehingga dapat melindungi perbatasan Indonesia dengan pasifik hingga kearah utara maupun selatan. Sedangkan untuk pulau sumatera sendiri yang notabene memiliki banyak objek vital nasional berupa kekayaan alam yang melimpah juga hanya memiliki kekuatan pertahanan udara pesawat tempur satu Skadron saja, walaupun ada perencanaan untuk pengadaan satu Skadron udara F -16, dirasakan belum cukup untuk melindungi Pulau Sumatera secara keseluruhan mengingat Pulau Sumatera bersinggungan langsung dengan samudera Indonesia dengan India; Selat Malaka antara Indonesia, Malaysia dan Singapura; serta di Utara berbatasan dengan Pulau Andaman (India) dan Thailand.

Melihat Kondisi di atas, maka seharusnya akan timbul niat dan keseriusan parlemen di Indonesia untuk dapat memperkecil gap ekonomi yang terjadi terhadap anggaran pertahanan Negara. Masalah klise anggaran pun juga harus disertai pula dengan niat baik untuk menghapus korupsi seluas-luasnya. Memang, peralatan perang canggih tidaklah murah, bahkan beresiko membuat habisnya kantong kas Negara, akan tetapi dengan kerjasama militer yang intensif tentunya akan memberikan banyak kemudahan-kemudahan didalam memperoleh alutsista yang canggih. Kemandirian alutsista pun dapat menjadi sebuah investasi pertahanan dikemudian hari. Ibaratnya, walaupun pasti akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit akan tetapi menggunakan anggaran seoptimal mungkin menuju kemandirian alutsista tentunya akan menguntungkan Indonesia di kemudian hari dengan menghilangkan ketergantungan terhadap industri militer luar negeri. Bebas embargo serta lebih percaya diri dalam berdiplomasi dengan Negara-negara asing di kawasan maupun internasional.

Kedepan, harapannya anggaran Negara untuk belanja militer dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang diajukan dari Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI. Yang perlu dingat adalah, untuk mencapai target minimum saja kita masih sangat kekurangan, sehingga dengan anggaran yang tepat guna, tepat sasaran dan tepat waktu akan dapat menyegerakan target minimum menuju tingkat optimal bagi pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat dan berwibawa.


[1] Leonard C. Sebastian dan Iisgindarsah, 2013. Taking Stock of Military Reform in Indonesia, Chapter 2. Hal. 15.

[2] Ibid. Hal 15-16.

Advertisements

Api Tanpa Hati Nurani (Kebakaran Hutan Riau)

Kembali Negara kita harus melihat bahwa gambar telah berbicara. Bukan menyalahkan musim panas yang telah datang melanda negeri ini, melainkan lebih mengarah kepada tidak adanya kesadaran dan hati nurani sehingga menyebabkan kebanyakan orang menjadi buta hati, buta mata, buta perasaan dan mati nurani. Kebakaran hutan memang bisa disebabkan oleh keadaan cuaca yang terus menerus tiada hujan, akan tetapi jika hari per hari titik api terus kian bertambah dalam bentuk kotak per kotak atau hektar per hektar bukan sebuah prasangka buruk bahwa saya mengatakan hutan sengaja dibakar untuk membuka lahan.

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat  – UUD’45 Pasal 33 Ayat 3 – 

Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional  – UUD’45 Pasal 33 Ayat 4 –

Mari kita cermati sebuah pasal dan dua buah ayat dalam UUD’45 yang mengatakan bahwa memang segala kekayaan alam baik berada di dalam maupun di luar perut bumi Indonesia hukumnya adalah sah untuk digunakan demi kepentingan kesejahteraan rakyat. Perlu diingat bahwa “kepentingan kesejahteraan rakyat” bukan berarti menghalalkan segala cara dalam pelaksanaannya. Bukan pula menggunakan atas nama rakyat untuk merusak bumi yang sejatinya miliki Sang Khalik. Mungkin saja mereka yang kembali berulah membakar hutan dengan sengaja tersebut berfikir bahwa sebagai rakyat mereka sangat berhak memanfaat isi dari pasal 33 UUD’45 pasal 33 tersebut, namun bukan seharusnya merusak dengan menimbulkan asap hasil pembakaran yang membumbung tinggi hingga pada ketinggian 7000 kaki dari permukaan tanah. Juga menyebabkan beberapa operasional penerbangan sipil dan militer menjadi terganggu karena jarak pandang menjadi sangat pendek, belum lagi ditambah berapa jumlah anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan karena kebodohan segelintir orang yang tidak memikirkan nasib orang lain.

Jelas dalam ayat 4 pada pasal 33 UUD’45 menjelaskan lebih lanjut dari ayat 3 bahwa dalam mengoptimalkan kekayaan alam demi berjalannya roda perekonomian adalah wajib untuk memperhatiikan lingkungan sehingga segala eksplorasi pun harus berwawasan lingkungan. Apa yang terjadi dengan bangsa ini jika rakyat hanya bisa menyalahkan pemerintah padahal dari rakyat juga yang tidak bisa melaksanakan aturan dengan ideal bahkan mendekati ideal pun sangat jauh dari sasaran.

Seyogyanya tidak baik jika mengatakan kebakaran hutan bukan disebabkan oleh factor cuaca melainkan sengaja dibakar demi kepentingan sekelompok orang yang ingin mengeruk harta rakyat tanpa memikirkan kepentingan rakyat yang berhak untuk hidup nyaman tanpa asap. Maka saya tampilkan beberapa gambar menarik sebagai sebuah data menarik bahwa mulai dari hari senin 16 Juni 2013 hingga 18 Juni 2013 terbukti titik api di Sumatera Wilayah Riau kian bertambah sekaligus membuktikan ketiadaan arti sebuah kepedulian sosial berskala Nasional.

Dapat kita lihat gambar di atas adalah situasi kebakaran hutan dengan jumlah 115 titik api di Provinsi Riau pada tanggal 16 Juni 2013. Dan jika dicermati untuk wilayah Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan Riau tidak memiliki jumlah titik yang banyak seperti Riau dalam kata lain dapat dijadikan bukti bahwa cuaca yang relatif sama di seluruh wilayah Sumatera bahwa tidak menjadi patokan sebagai penyebab utama kebakaran hutan.

Selanjutnya adalah data sehari berikutnya untuk tanggal 17 Juni 2013 dimana terlihat sedikit pengurangan jumlah titik api yang tidak signifikan dengan 106 titik api juga menunjukkan jumlah titik api masih dalam ketidakwajaran jika dibandingan dengan Provinsi lainnya yang berbatasan dengan Riau dengan suhu dan cuaca yang relatif sama. Kemudian marilah kita pandang baik-baik data opada tanggal 18 Juni 2013 di bawah ini.

Benar sekali, kembali pada hari berikutnya terjadi penambahan titik api menjadi 148 tempat kebakaran. Sedangkan pada provinsi lainnya tetap dalam jumlah kewajaran. Gambar telah berbicara, dan ini adalah perwujudan mentality bangsa kita yang tidak mau peduli lingkungan dan senang membuat kesusahan pada orang lain.

Salam

Sumber gambar: http://www.bmkg.co.id

Untaian Kata Hati Untuk Semangat Kebangsaan

Atas dasar ide warung kopi, maka saya laksanakan proyek nekad ini. Mengingat dalam 2 tahun saya telah menghasilkan 80 artikel atau 40 artikel dlm satu tahun atau rata2 4 artikel per bulan, dan semua saya tuangkan dalam blog pribadi saya. Dari 230 juta manusia Indonesia pun tercatat hampir satu juta viewer dan artinya masih ada 229 juta lagi yg menjadi sasaran saya. Maka dari itu saya nekad utk mem-buku-kan artikel2 yg njelimet tersebut. Saya mohon doanya semoga kenekatan saya ini bisa sukses, jika berminat memiliki coretan2 ngawur saya silahkan pesan dan di ganti dgn mahar 45 ribu saja belum termasuk ongkos kirim

 Alhamdulillah…saat ini buku telah selesai cetak dan baru 4 hari sudah laku 76 exp dari 200 cetakan…

 

Dalam rencana buku berikutnya akan diterbitkan awal 2014 (insyaallah jika tidak ada halangan) dengan judul “Macan Hitam Bumi Lancang Kuning” yang bercerita tentang penerbangan militer yang diangkat dari beberapa pengalaman pribadi, senior maupun rekan-rekan saya dimana tempat saya bekerja. Juga disisipkan beberapa tentang ilmu penerbangan dasar bagi seorang penerbang jet tempur yang tentunya bukan sebuah taktik tempur karena setiap ilmu penerbangan pada dasarnya adalah sama.

Dalam beberapa bab dalam buku ini saya juga mengangkat sebuah pendapat pribadi yang kesemuanya saya serahkan kepada pembaca untuk menilai karena pendapat atau opini tersebut adalah murni dari isi otak kiri, kanan dan tengah yang berkedudukan dalam kepala saya, bukan merupakan hasil referensi dari negeri antah berantah. Ketika militer digunakan untuk bertempur maka penerbang tempur adalah prajurit militer yang berada dalam satu sistem yang tak dapat dipisahkan satu sama lain demi terciptanya sinergitas menuju kemenangan dan kejayaan yang hakiki bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang pasti pendapat tersebut tentulah tidak popular namun saya yakin ketika melihat sejarah pesawat ulang alik untuk pertama kalinya diluncurkan dan semua orang pun tidak yakin dengan keberhasilannya. Pada intinya, semua lahir tetap dari obrolan warung kopi.

Rencana Cover depan:

cover

 

Rencana Cover Belakang:

cover belakang

 

Nantikan kehadirannya!!!

 

Salam

 

Seveneleven

Dua Hawk 209 TNI AU Intersep F – 5 Singapura

Pagi hari Rabu 29 Mei 2013, disaat matahari mulai naik dari cakrawala perintah terbang menuju arah timur laut kota Pekanbaru, Riau sekitar pesisir timur Pulau Sumatera mendekati Selat Malaka merupakan sebuah perintah yang tidak dapat ditolak maupun dibantah. Deru mesin jet Adour MK 871 buatan Rollroyce terdengar melaju dan melesat memanggil panggilan tugas yang berat tapi luhur.

BFI

Terdapat dua area sasaran yang ditentukan adalah JTA 1 dan JTA 2 yang kemudian dari area tersebut dua buah Hawk 209 milik TNI AU mendapat tuntunan dari radar Ground Control Intercept 232 Dumai yang mengatakan terdapat titik dari timur bergerak cepat menuju kearah barat. Dari identifikasi transponder diketahui benda bergerak tersebut adalah dua buah pesawat jet F – 5 Tiger miliki Republic Singapore Airforce yang memasuki wilayah Pulau Sumatera.

IMG-20130529-01199

Setelah mendapatkan informasi tiga dimensi berupa jarak, arah dan ketinggian maka dua Hawk 209 segera menuju arah sasaran yang dituju. Ditemukan dua buah titik hitam di kejauhan, maka dua Hawk dengan callsign “Bigfoot” tersebut segera mengambil ancang-ancang untuk pengejaran. Menyadari bahwa F – 5 memiliki kecepatan supersonic sedangkan Hawk 209 hanya subsonic maka “Bigfoot” flight mengambil sudut pengejaran dari samping dan ambil posisi lead dari kedua F – 5 yang kemudian diketahui menggunakan callsign “Black Kite”. Setelah berhasil membayangi dua buah F – 5 Singapura tersebut menandakan akhir sebuah skenario latihan hari pertama Bilateral Fighter Interaction and Training yang dilaksanakan antara TNI AU dan RSAF di Lanud RSN Pekanbaru, Riau. Latihan yang dilaksanakan mulai hari rabu hingga kamis  (29 – 30 Mei 2013) berjalan dengan lancar yang terdiri dari air interception, dissimilar air combat training 1 versus 1 serta 2 versus 2.

IMG-20130529-01191

Salam

SevenEleven

Air Power Nasional Indonesia Dalam Kesatuan Komando

cropped-csc0378.jpgAir Power dapat didefinisikan sebagai segala upaya, pekerjaan dan kegiatan untuk menggelar kekuatan pertahanan Negara di udara maupun luar angkasa dengan menggunakan alutsista atau peluru kendali yang dioperasikan dari atas permukaan bumi. Alutsista yang dimaksud adalah berbagai macam tipe pesawat, helicopter maupun pesawat udara dan helicopter tanpa awak (AP 3000).

Kita ketahui bahwa sejak awal abad 20 ditemukannya benda terbang bernama pesawat oleh Wright bersaudara maka tanpa mengurangi peran kekuatan maritim bahwa kekuatan udara telah menambah jarak jangkau dan kemampuan serangan sebuah kekuatan militer sebuah Negara. Menghemat waktu tempuh sehingga menambah daya kejut dari sebuah serangan menuju kemenangan dari sebuah pertempuran. Sustainability dan  Force Protection pun semakin meningkat dengan ketinggian yang dimiliki pesawat terbang karena semakin menambah perhitungan musuh untuk menjangkau daya tangkal terhadap serangan dari udara.

Memang, tidak pula dihindari bahwa beberapa kekurangan dari penggelaran kekuatan udara karena disebabkan oleh anggaran yang mahal; kebutuhan pangkalan udara dan infrastruktur harus memadai; terbatas oleh cuaca dan medan terrain yang dihadapi serta membutuhkan kemandirian produksi alutsista yang memadai sangat dirasakan penting dalam memenuhi Air Power yang diinginkan sesuai dengan harapan sebuah Negara Kepulauan seperti Indonesia sehingga dengan kemandirian pula maka anggaran seyogyanya dapat mudah ditekan karena peralatan tidak membeli dari luar negeri lagi; keterbatasan cuaca dan medan terain dapat diselesaikan dengan teknologi canggih yang dimiliki; infrastruktur serta penyediaan pangkalan-pangkalan udara pun bukan masalah bagi Negara Kepulauan seperti Indonesia.

Keberadaan Air Power  yang kuat dalam pertahanan Negara sangat bermanfaat  dalam rangka mengeksploitasi kemampuan untuk menyerang central of gravity lawan terkait di mana pun mungkin musuh berada menajjdi sangat mudah dijangkau oleh sebuah kekuatan udara dengan tingkat kehancuran yang lebih optimal. Berperan secara signifikan sebagai faktor penentu bagi barisan serangan pasukan darat dalam operasi atau kampanye militer gabungan sehingga memberi kemudahan dan keleluasaan bagi pasukan gabungan untuk masuk ke dalam pusat pertahanan lawan. Namun, kontrol udara berupa ground fac tetap diperlukan jika ops serangan strategis harus dilaksanakan. Biasanya dilakukan setelah pasukan khusus berhasil melakukan infiltrasi untuk mengetahui posisi dan letak target yang akan dihancurkan.

Selain itu, peranan Air Power pun tidak hanya terbatas dalam lingkup Angakatan Udara saja, melainkan juga berperan dalam menghalangi dan mengalahkan serangan udara musuh di wilayah sendiri terhadap serangan udara musuh dalam bentuk Extended Air Defence (EAD) dimana perang pertahanan udara selalu berhadapan dengan teknologi canggih berupa perang elektronika, Rudal Aerodinamika Taktis (TAM), serangan pesawat tempur lawan dan UAV sebagai ancaman kecepatan rendah dalam operasi informasi musuh. Maka Air Power bisa dikatakan memiliki peran yang kuat serta menimbulkan efek langsung pada musuh untuk menetralkan kemampuan dan keinginan perang musuh dan melumpuhkan sasran strategis musuh pula. Anti-Surface Warfare (ASUW) adalah sebuah operasi serangan yang mencakup berbagai target permukaan laut dimana target yang kemungkinan berada pada jarak yang dekat dari kekuatan maritim kawan dan berpotensi mengancam kekuatan maritim kawan. Anti Surface Warfare  ini identik dengan Close Air Support  hanya pelaksanaannya berada di atas permukaan laut.

Manuver udara gabungan terdiri atas pesawat sayap putar dan tetap, dengan pengelompokan operasi dukungan udara, meliputi:

–       Operasi Linud

Sebuah operasi pergerakkan pasukan penerjunan udara menuju sasaran yang telah ditentukan dengan menggunakan pesawat angkutan udara.

–       Air Assault dan Mobilisasi Udara

Sebuah pergerakkan pasukan kawan dari satu poin menuju sasaran yang ditentukan, lazimnya di drop dengan menggunakan helikopter sebagai sumber daya terintegrasi untuk mengoptimalkan mobilitas pasukan darat, termasuk Dukungan Tempur dan memperkuat firepower.

–       Air Mechanised Operation

Sebuah operasi dukungan udara yang bertujuan untuk menambah kemampuan tempur yang menjadi lebih optimal dengan meningkatkan personel tempur dengan menggunakan helikopter transport. Melibatkan kekuatan tempur yang independen dalam dan dari udara tanpa melibatkan elemen kekuatan darat.

–       Operasi Dukungan Amfibi

Dukungan kekuatan udara yang diberikan oleh darat dan laut berdasarkan pada kekuatan udara tergantung pada lokasi dan letak sasaran, biasanya menyertakan peran combat air support, tetapi juga dapat mencakup Air Counter, Anti-Submarine Warfare (ASW) dan Anti Surface Warfare (ASUW), dan Combat Air Suppoert Operation.

–       Anti-Surface Warfare (ASUW)

Melakukan tindakan ofensif atau defensive dalam rangka mencegah serangan efektif ketika musuh menggunakan kekuatan permukaannya terintegrasi dengan reccognaisance dan surveillance sedini mungkin ketika musuh telah terdeteksi oleh kekuatan sendiri.

–       Anti-Submarine Warfare (ASW)

Melaksanakan tindakan ofensif dan defensive dalam rangka melawan efektifitas serangan dari kapal selam musuh. Dalam pelaksanaannya dapat melibatkan pesawat penggunaan fix wing berupa pesawat patroli maritim (MPA), helikopter ASW atau pesawat udara lainnya.

–       Transportasi Udara

Dimana terbagi menjadi transportasi udara strategis yakni dukungan udara untuk pergerakan pasukan dari satu poin menuju medan operasi dan transportasi udara taktis yaitu menyediakan dukungan udara dari satu poin ke poin lainnya di dalam suatu medan operasi.

–       Operasi SAR dan SAR Tempur

Di dalam suatu peperangan dimungkinkan terjadinya pukulan yang menyebabkan kekuatan udara kawan tertembak dan jatuh di daerah lawan. Tugas SAR tempur inilah yang berperan untuk mengevakuasi personel yang terjebak dalam wilayah musuh tersebut karena dimungkinkan personel tersebut dapat bertahan hidup dan menunggu evakuasi pertolingan pihak kawan.

Dari berbagai macam jenis operasi udara di dalam Air Power maka dapat kita lihat betapa pentingnya peran Air Power itu sendiri dalam suatu operasi gabungan dimana peran tiga matra yang terintegerasi sangat memerlukan kesatuan komando yang memadai. Kita ketahui bahwa saat ini didalam mengerahkan kekuatan udara dala pertahanan Negara di Indonesia masih terpecah menjadi beberapa kesatuan komando, dimana Komando Pertahanan Udara Nasional merupakan kotama TNI sedangkan penggunaan kekuatan udaranya berada di dalam struktur TNI AU sendiri. Seperti halnya Angkatan Laut Indonesia yang telah merancang Komando Wilayah Laut Nasional demi mencapai kesatuan komando, maka sudah sepantasnya pula TNI AU sebagai pemegang Air Power nasional juga mengembangkan wilayah pertahanan udara nasional menjadi satu kesatuan komando.

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, tugas Angkatan Udara salah satunya adalah bertugas melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara di seluruh Indonesia. Dalam konteks ini TNI AU diharapkan mampu melaksanakan pemberdayaan kewilayahan tentang pertahanan udara dengan mengembangkan serta menyatukan Komando Pertahanan Udara Nasional berada ke dalam ruang lingkup TNI Au sehingga kesatuan komando atau  Unity of Command dapat dimiliki oleh Angkatan Udara di sebuah Negara Kepulauan yang luas Bernama NKRI.

Salam

SevenEleven

Ref:

  1. AP 3000, 2010

Tahun Baru 2013

22.50,

Tepat waktu ditunjukkan ketika saya ketik awal coretan ini. Sambil mengingat-ingat beberapa kejadian yang telah lewat selama 12 bulan; 365 hari; 54 minggu; 8760 harii; 525600 menit; dan 31536000 detik nafas kehidupan telah terlewati baik itu secara sempurna ataupun sia-sia.

Pernahkah terbayang oleh kita hamba Sang Khalik yang bebas menghirup udara dariNya di dunia ini bahwa berapa banyak waktu terbuang dan berapa persenkah waktu tersebut berguna bagi kita maupun lingkungan sekitar kita? Jika rata-rata umur hidup manusia di muka bumi ini adalah 60 tahun, sedangkan dalam satu hari 24 jam kita membagi waktu 8 jam untuk istirahat/tidur sehingga sama artinya selama hidup 60 tahun rata-rata manusia menggunakan waktu 20 tahun untuk tidur; 8 jam untuk bekerja (20 tahun); 4 jam (10 tahun) untuk hang out menunggu  macet di jalan raya; dan 4 jam (10 tahun) untuk bermalas-malasan. Maka anda bisa perkirakan berapa pentingnya hidup anda di dunia yang fana ini untuk kemaslahatan lingkungan, teman dan keluarga anda.

Namun, hidup ini bukan sekedar hitungan matematika melainkan hidup sebagai hitungan seberapa indahnya sikap dan tingkah laku anda dalam pergaulan. Apakah baik yang anda lakukan sudah pasti baik menurut orang lain atau apakah yang anda anggap jelek pun disetujui jelek oleh orang sekitar dan ternyata seumur hidup hanya anda gunakan 20 tahun untuk berbuat yang menurut anda baik.

23.10,

Setiap yang baik jika dilakukan dengan baik serta dilengkapi dengan niat yang baik maka akan menghasilkan output yang baik pula. Saya berfikir tentang “menanti tahun baru”, menanti sesuatu yang sudah pasti datang karena waktu tetap berputar selama hayat dikandung badan. Jika saya tidur malam ini pun, dengan otomatis “tahun baru” tetap hadir ketika saya terjaga di subuh hari.

Tepat satu tahun yang lalu terhitung kalimat ini tertulis (23.15, 31 desember 2011), saya pun sedang merenung hal yang sama, tahun 2012 kah tahun yang akan membawa diri pribadi saya menjadi lebih baik? Dan bahkan ketika 2012 ini hampir habis saya tetap merasakan hal yang sama sekali tidak menjadi lebih baik kecuali niat baik yang tetap diangan-angan. 23.17, 31 Desember 2012 pun saya berfikir kembali tenang hal yang sama disertai satu pertanyaan,”apakah 31 Desember 2013 saya sedang berangan-angan tetap dengan sebuah niat baik ataukah niat baik tersebut sudah menjadi gagasan yang baik dalam kemasan berbentuk baik pula?”

8 jam dalam sehari untuk bekerja sebagai wujud berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara. Jika saja 2 jam waktu hang out bisa saya tranformasikan kepada waktu yang lebih bermanfaat karena 2 jam tetap saya alokasikan untuk macet di jalan raya; serta 4 jam waktu untuk bermalas-malasan pun saya tiadakan, maka akan bertambah 20 tahun hidup saya lebih bermanfaat sepanjang usia ini. Tanpa mengurangi waktu istirahat, saya bisa gunakan 6 jam waktu untuk berbuat sesuatu sehingga semakin tidak ada penghalang bagi diri pribadi untuk berbuat lebih baik lagi di tahun-tahun yang akan datang.

prihatin

23.30,

Hiruk pikuk di setiap ujung kota dan desa semua bergembira dengan datangnya tahun 2013, namun perlu dingat bahwa umur kita bertambah dan durasi hidup telah berkurang.  Sebagian kelompok Hang Out di jalanan; muda-mudi berpacaran; atau keluarga yang asik nonton acara pilihan televisi. Akan lebih baik bagi bangsa ini jika bertausiah, berdoa dan mengingat Sang Khalik agar bangsa dijauhi dari segala bencana alam maupun bencana manusia.

23.35,

Menjadi pribadi lebih baik dari hari sebelumnya hukumnya adalah wajib dalam keyakinan agama manapun. Segala sesuatu yang sudah terjadi tidak perlu diulangi dari titik Nol, akan tetapi lanjutkan dengan perbuatan bukan sekedar ucapan “Talkless and Works in Hands”. 

23.47,

Saya berdoa kepada Sang Khalik agar kelak di tahun-tahun berikutnya selalu diberikan kemudahan dalam menghadapi kejahatan setan jin dan setan manusia. Diberikan berkah lahir dan dan bathin untuk keluarga dengan kesehatan jasmani dan jiwa raga.

Wallahu’alam

Salam

SevenEleven