Yogyakarta “Pelangi Nusantara” Festival Olahraga Dirgantara 2012

Jogjakarta Pelangi Nusantara

Sebuah hajatan Nasional yang diselenggarakan oleh Pangkalan Udara Adisutjipto ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Februari 2012 di pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta. Menampilkan beberapa event olahraga kedirgantaraan antara lain; paralayang, gantole, spot landing, beberapa kesempatan joyflight dengan menggunakan pesawat, milik Federasi Aerosport Indonesia (FAI). Juga menampilkan aksi dari band lokal yang ikut meramaikan berlangsungnya acara.

1329026700690987653

Beberapa atlit FAI nasional dari Pekanbaru, Jakarta, Jawa Timur dan berbagai Kota lainnya turut berpartisipasi dalam festival kedirgantaraan ini. Teriknya matahari pun tidak mengurangi semangat para atlit tersebut untuk tetap beratraksi serta menunjukan kebolehan dalam mengendalikan peralatan masing-masing cabang olahraga yang mereka geluti.

13290268131355176115

Landasan pacu yang digunakan dalam pelaksanaan take off dan landing untuk pelaksanaan joy flight adalah landasan pacu FAI di pantai depok yang terletak dalam 2 kilo meter dari pantai parangtritis. Sehingga dalam event ini diselenggarakan dalam tiga tempat yakni, pantai parangtritis, pantai parangkusumo dan pantai depok.

132902695568280972

Acara seperti ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan oleh Pangkalan Udara Adisutjipto. Beberapa acara yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat terhadap dunia kedirgantaraan pernah juga dilakukan di Taxiway Lanud Adisutjipto dalam event funbike yang juga menampilkan kebolehan Jupiter Aerobatic Team pada tahun 2011 yang lalu. Diharapkan acara demikian dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang sehingga masyarakat kedirgantaraan Indonesia dapat semakin bertambah seperti di negara-negara maju lainnya.

13290271161255660357

Reportase

Seveneleven

Advertisements

Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Credit Foto by http://www.wartanews.com

Memang belum rejekinya Timnas kita menang melawan Bahrain maupun Iran. Rakyat dan seluruh pendukung Sang Merah Putih sangat  menginginkan Dwiwarna berkibar di kancah Piala Dunia yang akan datang.  Ada aksi maka selalu akan ada reaksi, puluhan tahun para pendukung timnas menantikan kemenangan Indonesia dan tentunya bukan harapan para pejuang lapangan hijau untuk selalu kalah, karena terlihat usaha yang begitu keras walaupun diluar kemampuan. Kemudian, ada apa dengan suporter kita? Membakar mercon dan menakut-nakuti pemain Barhain kah? Saya rasa pemain Bahrain cuma bisa tertawa mendengar mercon meletus, toh mereka dari tanah Arab yang notabene kanan-kiri depan belakang Negaranya sering meletus bom-bom perang.

Beberapa pertanyaan muncul dari hasil pertandingan Sepak Bola antara Indonesia dan Bahrain. Apakah Bangsa kita memang ditakdirkan menjadi bangsa yang selalu kalah? Tegas saya mengatakan “TIDAK”!! karena sejarah membuktikan bahwa  Bangsa kita termasuk salah satu Bangsa yang tidak bisa ditaklukan oleh tentara Khan Agung dari Mongol. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Bangsa kita tercipta dengan kodrat sebagai Bangsa yang bodoh? “TENTU TIDAK”. Faktor Habibie, metode Habibie merupakan teori yang digunakan Perusahaan Penerbangan seperti Airbus maupun Fokker, sedangkan Habibie adalah orang asli Indonesia dan masih banyak Habibie-Habibie lain di bumi Indonesia ini. Pertanyaan ketiga adalah, apakah Bangsa kita termasuk keturunan Bangsa Barbar yang brutal? “TIDAK”. Bangsa kita adalah keturunan dari ras Mongoloid, sedangkan bangsa barbar adalah dari ras kaukasoid.

Kemudian mengapa dalam hampir setiap pertandingan sepak bola bangsa kita sering kalah, bahkan terakhir ketika melawan Bahrain di “kandang” sendiri pun kalah sehingga membakar emosional supporter yang akhirnya membakar mercon kampungan. Jangan jadikan penonton sebagai kambing hitam dengan mengatakan “mental pemain turun, fisik melemah karena pertandingan ditunda 15 menit sehingga badan dingin, moril pemain turun karena suara mercon dll”, karena dari awal pertandingan berlangsung aman dan supporter pun 100% mendukung  timnas Indonesia. Realitanya dukungan dijawab dengan Gol  1-0 diparuh waktu pertama dan Gol 0-2 dibabak kedua. Kembali ke teori antara aksi dan reaksi. Rakyat yang sudah hidup susah hanya ingin sekedar melihat Bendera nya berkibar di Brazil saja masa juga tidak bisa???

Ayo…Bangkit! Bangkit! Bangkit!

Sepak Bola Indonesia harus diawaki oleh pemain-pemain yang pandai dan fisik prima sehingga bisa mengatur strategi serta mengolah bola dengan taktik, bukan oleh orang-orang yang “aji mumpung” tenar buat cari nafkah. Sepak Bola Indonesia harus diisi oleh orang-orang yang pintar dan rela berkorban untuk mengatur oraganisasi PSSI dengan optimal, bukan oleh orang-orang yang menggunakan kepintaran untuk berseteru berebut kursi “panas” Sang Ketua”. Huff…What to say? Nasi sudah menjadi bubur, tetapi makan bubur pun kita tak “Mati”. Mari kita “masak” lagi “berasnya”  agar menjadi “Nasi” yang enak dan matang untuk dinikmati Bangsa Indonesia.

 

Wassalam

 

SevenEleven