Zona Identifikasi Pertahanan Udara Indonesia

Oleh : Kapten Pnb Teddy Hambrata Azmir

Tentang ruang udara dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan baik untuk setiap orang yang memahami tentang penguasaan dan kontrol ruang udara maupun bagi orang-orang awam yang hanya bersemangatkan jiwa merah putih berkibar di langit Nusantara. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa para stakeholder  sudah banyak serta memiliki pandangan yang amat luas tentang kedaulatan di ruang udara Indonesia, namun tidak kalah pentingnya bagi setiap warga Negara Indonesia lainnya untuk memahami zona perlindungan ruang udara Nasional Indonesia dikombinasikan dengan pemahaman tentang beberapa regulasi ruang udara internasional yang berlaku saat ini sehingga nantinya akan muncul pemikiran-pemikiran untuk bagaimana aset nasonal di udara dapat dijaga dan dikendalikan dalam suatu zona identifikasi pertahanan udara atau Air Defence Identification Zone (ADIZ)

Indonesia sebagai sebuah Negara kepulauan terbesar dan memiliki garis pantai terpanjang  di dunia sudah sepantasnya memiliki sebuah sistem pertahanan udara yang memadai dalam rangka menjaga keutuhan wilayah kedaulatan nasional. Berbicara tentang pertahanan udara tentunya tidak cukup jika hanya membahas tentang pesawat tempur sergap, radar hanud maupun rudal serang jarak menengah dan jarak jauh saja, melainkan termasuk didalamnya adalah Air Defence Identification Zone (ADIZ) yang merupakan sebuah zona identifikasi pertahanan udara yang harus dan mutlak dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana sebagai sebuah Negara berdaulat dengan batas wilayah sebesar Indonesia saat ini hanya memiliki sebuah wilayah identifikasi pertahanan udara di Pulau Jawa dan sekitarnya saja. Tentunya kondisi yang ada saat ini bisa dikatakan cukup rawan karena wilayah Indonesia seluas 1900000 kilometer persegi dimasa yang akan datang akan menghadapi berbagai macam ancaman yang beragam baik ancaman militer maupun non militer. Terlebih pada masa sekarang dimana kecanggihan teknologi memungkinkan segala macam ancaman tersebut datang melalui jalur udara sehingga dirasa perlu untuk membenahi wilayah identifikasi pertahanan udara Indonesia sehingga ancaman tersebut akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia. Dalam tulisan kali ini penulis ingin membahas maupun mengkaji tentang pertahanan udara nasional Indonesia dalam ruang lingkup zona identifikasi pertahanan udara atau Air Defence Identification Zone demi terwujudnya sebuah pertahanan udara nasional Indonesia yang kuat dan memadai sesuai dengan tujuan dan kepentingan nasional Negara Indonesia.

Dengan Air Defence Identification Zone yang memadai diharapkan dapat diberlakukan sebagai sebuah upaya penangkalan strategis dari masuknya ancaman baik militer maupun non militer dimasa yang akan datang dan dengan sistem penangkalan yang baik tentunya akan memperkuat regulasi wilayah pertahanan udara nasional Indonesia dimata dunia demi tercapainya perdamaian dunia yang abadi. Dasar pemikiran yang diambil adalah ICAO 1944;

‘The contracting States recognize that every State has complete and exclusive sovereignty over the airspace above its territory’ (ICAO, 1944: chapter 1)

Mengatakan bahwa setiap Negara-negara berdaulat memiliki kedaulatan ruang udara secara penuh dan eksklusif di atas sepanjang wilayah territorial negaranya. Tidak terkecuali Indonesia, yang memiliki wilayah kedaulatan dari Sabang hingga Merauke sehingga wilayah ruang udara, kontrol ruang udara serta zona identifikasi pertahanan udara Nasional Indonesia harus mencakup seluruh wilayah kedaulatan Negara Indonesia sesuai yang disebutkan dalam ICAO tahun 1944 diatas.

Saat ini Indonesia bisa dikatakan masih dalam kondisi masa damai, dimana Kohanudnas sebagai pemangku tanggung jawab pertahanan udara nasional Indonesia mengatakan larangan untuk menembak pesawat asing yang melintas ruang udara Indonesia baik dengan atau tanpa ijin, karena menembak jatuh pesawat asing merupakan pernyataan perang sepihak padahal sesuai undang –undang yang berlaku di Indonesia untuk pernyataan perang hanya dapat dikeluarkan oleh Presiden sebagai Panglima tertinggi atas ijin dari DPR (Puspen TNI : 2012) . Namun, masa damai adalah waktu yang paling tepat untuk mempersiapkan pertahanan Negara sebelum ancaman betul-betul menyerang Negara. Beberapa contoh ancaman yang melanggar ruang udara maupun zona pertahanan udara Indonesia antara lain; Insiden Bawean, dimana beberapa pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat memasuki wilayah Bawean yang merupakan bagian dari ADIZ Jawa sebagai wilayah kedaulatan Nasional Indonesia; Pelanggaran pelintasan pesawat asing oleh Pakistan Airlines pada tahun 2011, dimana pesawat asing tersebut melintas tanpa ijin dengan rute Dili – Kualalumpur; Dan beberapa blackflight lainnya namun tidak terpublikasi media yang diduga berpotensi terhadap terjadinya beberapa hal antara lain:

  1. Penyelundupan. Penyelundupan barang-barang dapat mengakibatkan Negara akan berkurang pendapatannya karena terdapat barang-barang berharga yang masuk tanpa pajak. Selain itu, dikhawatirkan terjadinya penyelundupan barang-barang zat aditif psikotropika maupun narkoba yang masuk melalui pesawat/ancaman Low Speed seperti helikopter ataupun UAV yang dikendalikan jarak jauh dan berkemampuan terbang rendah. Peralatan ancaman seperti ini bisa juga berdalih sebagai pesawat survey lahan yang pada akhirnya mendaratkan pesawat tersebut di landasan-landasan kecil di tengah-tengah perkebunan kemudian menurunkan barang-barang seperti narkoba maupun beberapa barang selundupan lainnya.
  2. Penyelundupan manusia. Beberapa kali terjadi penyelundupan manusia maupun penjualan tenaga kerja ilegal yang menggunakan fasilitas ruang udara namun tidak terdeteksi. Kasus semacam ini bukanlah saja tanggung jawab dari Kementrian Sosial maupun Kementrian Tenaga Kerja, akan tetapi perlu adanya regulasi yang tepat tentang penguasaan ruang udara sehingga penyelundupan manusia melalui jalur udara dapat ditiadakan dikemudian hari.

Selain itu, Air Defence Identification Zone Indonesia yang telah diratifikasi saat ini baru mencakup Pulau Jawa dan sekitarnya saja, padahal jika dibandingkan dengan luas daratan dan lautan Pulau Jawa hanya kurang lebih 1/8 dari keseluruhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa dilihat pada gambar di bawah (Sena Afen ;2008), garis putus-putus adalah menunjukkan ADIZ Jawa yang telah diratifikasi, dan garis tebal adalah ADIZ Sumatera dan Kalimantan Timur yang masih dalam proses menuju ADIZ yang diakui oleh Amerika Serikat sebagai Negara Adidaya di dunia saat ini. Kita ketahui bahwa telah ada upaya untuk memperluas ADIZ Indonesia yang kita miliki saat ini dari ADIZ Jawa menjadi tiga zona identfikasi.

Air Defence Identification Zone bisa dikatakan sama artinya kedaulatan suatu Negara di ruang udaranya, karena tanpa ada regulasi yang memadai tentang ADIZ tersebut maka setiap pesawat asing yang melintas hukumnya sah secara de yure. Sedangkan idealnya bagi Negara seluas Indonesia dengan kepulauan terbesar di dunia dalam rangka mendukung Indonesia menuju kejayaan Negara Maritim dengan supremasi kekuatan udara maka kedaulatan Negara Indonesia di udara pun sudah selayaknya mencakup seluruh wilayah mulai dari ujung barat sampai dengan ujung timur Indonesia. Dibawah ini adalah gambaran menuju zona pertahanan udara yang mendekati ideal untuk Indonesia (Hambrata ;2012)

         

Sedangkan beberapa ADIZ yang dianggap menuju ideal dalam rangka meng-cover­­ seluruh wilayah ruang udara Indonesia maka perlu dibuat suatu sistem zona berlapis, yaitu:

  1. ADIZ domestic, yaitu wilayah identifikasi pertahanan udara nasional yang meliputi seluruh perbatasan wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. ADIZ garis pantai, yakni ADIZ yang meliputi wilayah pertahanan udara sepanjang garis pantai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  3. ADIZ pertahanan darat ke udara, yaitu sebuah wilayah pertahanan udara yang berada di area metropolitan maupun dekat terhadap pusat pemerintahan dan perekonomian Negara yang dapat diaktifkan dan dinon-aktifkan sewaktu-waktu sesuai dengan NOTAM yang berlaku (restricted dan prohibited area).

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam merealisasi pemikiran di atas adalah:

  1. Melakukan publikasi tanpa henti agar semakin banyak Negara-negara di dunia yang mengakui kedaulatan terhadap ruang udara Indonesia, maka akan semakin mudah proses ratifikasi regulasi ruang udara yang kita berlakukan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Menindak dengan tegas setiap pelanggaran terhadap ruang udara Indonesia tanpa tebang pilih pada Negara manapun yang melakukan pelanggaran dengan tetap mengedepankan cara- cara damai.
  3. Meningkatkan kekuatan pertahanan udara Indonesia, mulai dari kemampuan pesawat tempur sergap, radar hanud, artileri rudal jarak dekat, sedang dan jauh, kapal berkemapuan hanud, pesawat berkemampuan Airborne Warning and Control System serta kemampuan pertahanan udara lainnya sebagai detterent bagi Negara-negara yang berniat maupun sedang menuju pelaksanaan pelanggaran terhadap wilayah ruang udara Indonesia.
  4. Melengkapi sistem pertahanan Negara dengan satelit pertahanan yang mandiri dan melengkapi sistem pertahanan Negara dengan broadband networking agar segala komponen pertahanan Negara dapat terintegrasi dengan baik.
  5. Meningkatkan lagi anggaran pertahanan Negara secara bertahap agar beberapa poin di atas dapat tercapai demi kepentingan nasional Bangsa Indonesia.

“Tidak ada satu pun dari wilayah Indonesia yang tidak strategis, karena dimana pun tonggak ditancapkan maka akan berhamburan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya, sehingga “tidak sejengkal tanah pun dari wilayah NKRI bisa direbut, maka tidak satu liter udara pun dari udara Indonesia bisa dikuasai pihak asing.”

Referensi:

ICAO, (1944). Air Navigation: General Principles and Application of The Convention, Chapter 1. Montreal, Canada

http://www.tni.mil.id/index2.php?page=detailpre.html&nw_code=113012006110644

http://angkasasena.blogspot.com/2008/05/air-defence-identification-zone-adiz.html

https://sseveneleven.wordpress.com/2012/03/13/pertahanan-udara-nasional-indonesia-bersinergi-dengan-k4ipp/

Advertisements

AWR Siabu: Antara Kepentingan Nasional Versus Kepentingan Pribadi dan Golongan

Air Weapon Range Siabu atau biasa disebut dengan “Siabu Range” adalah sebuah area yang terletak pada 21 Nm (40 km) dengan arah barat daya dari kota Pekanbaru Riau. Area latihan penembakan udara ke darat yang rutin digunakan oleh Skadron Udara 12 ini dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Mayor. Beberapa kali area tersebut juga kerap kali digunakan untuk latihan-latihan TNI AU seperti “Jalak Sakti” maupun latihan puncak TNI AU yakni “Angkasa Yudha” serta beberapa latihan antar bangsa antara lain; “Elang Malindho” (Malaysia-Indonesia); “Elang Indopura” (Indonesia-Singapura); dan “Elang Thainesia” (Thailand-Indonesia). Latihan Instruktur Tempur atau Fighter Weapon Instuctor Course (FWIC) antara beberpaa negara-negara tetangga pun selalu dilaksanakan di Pangkalan TNI AU Pekanbaru yang tentunya menggunakan fasilitas “Siabu Range”. “Siabu Range” memiliki fasilitas latihan antara lain, dua buah bomb court, sebuah tactical range dan menara control untuk “Range Safety Officer” (RSO). RSO bertugas untuk mengontrol jalannya latihan penembakkan serta bertanggung jawab dalam hal “safety” di sekitar area latihan selama latihan penembakkan berlangsung.

Skadron Udara 12 yang rutin melaksanakan latihan penembakkan di “Siabu Range”, didalam setiap siklus latihan selalu berhasil memiliki “Circullar Error Probability” (CEP) yang memuaskan sehingga didalam pelaksanaan tugasnya sebagai Skadron Udara tempur taktis dapat selalu mengamankan dan menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala macam ancaman dan tantangan. Dengan kemampuan penerbang yang profesional tentunya segala tugas negara yang diemban dapat terlaksana dengan optimal dan semua itu dapat terwujud dengan profesionalisme dan latihan yang memadai. Secara langsung “Siabu Range” ini sangat memiliki peran penting dalam menciptakan dan membina penerbang-penerbang TNI AU yang handal serta berkemampuan tinggi. Sehingga menjaga keutuhan wilayah NKRI sebagai suatu kepentingan nasional dapat dilaksanakan dengan baik pula dimana kita pahami bersama bahwa kepentingan nasional Negara berada diatas kepentingan probadi, golongan maupun warisan. TNI AU telah lama menggunakan “Siabu Range” sejak abad ke 20 dimana saat itu Skadron Udara 12 masih mengoperasikan pesawat A-4 Skyhawk. Di abad 21 yang semakin canggih ini Skadron Udara 12 telah menggunakan pesawat tempur buatan British Aerospace dan peran penting “Siabu Range” masih tetap berguna dalam menciptakan operator pesawat jet yang handal sebagai sarana latihan penembakan udara ke darat dalam rangka meningkatkan profesionalisme penerbang TNI AU sesuai dengan jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional.

Riau, sebagai satu-satunya Provinsi di Wilayah Sumatera yang memiliki Skadron Udara Tempur, tentunya sangat penting untuk menjaga wilayah NKRI dan khususnya di Sumatera yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Singapura, Thailand dan India. Terdapat banyak sekali objek vital negara yang berbasis di Pulau Sumatera seperti kilang-kilang minyak, gas alam serta Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan dunia tentunya juga membutuhkan patroli udara dalam penjagaannya. Bersama-sama dengan TNI AL koordinasi pengamatan dan pengintaian dikoordinasikan karena TNI AU memiliki karakteristik “kecepatan”, “daya jangkau” dan fleksibilitas yang tinggi. Peran serta segenap rakyat Indonesia mapupun pemerintah daerah Riau sangatlah dibutuhkan guna pencapaian dari tujuan dan kepentingan nasional Indonesia dalam hal ini turut melestarikan “Siabu Range” sebagai sarana latihan tempur untuk TNI AU karena kami adalah tentara langit yang senantiasa siap sedia menjaga keutuhan wilayah negara demi tercapainya tujuan dan kepentingan nasional yang berkedudukan di atas kepentingan pribadi, golongan mapun warisan.

Kondisi yang terjadi saat ini adalah kita ketahui bersama bahwa perkembangan perekonomian Indonesia telah membawa rakyat Indonesia terus berkembang  dan memajukan perekonomian terutama melalui sektor riil seperti perkebunan kelapa sawit. Namun, disayangkan jika perkebunan kelapa sawit yang ditanam disekitar “Siabu Range” yang notabene sering digunakan untuk penembakkan bombing dan rocketing. Sangat berbahaya jika perkebinan kelapa sawit tersebut berada di area dalam radius penembakkan. Sejak awal TNI AU telah mendapatkan sumbangan dari dinas kehutanan untuk mengelola hutan Siabu menjadi area latihan tembak udara ke darat, namun sangat disayangkan jika saat ini “tanah tak bertuan” tersebut digunakan dan diakui hak milik oleh  orang-orang tak bertanggung jawab yang sedikit melupakan kepentingan nasional negara sebagai tanah warisan maupun oleh pengusaha-pengusaha perkebunan kelapa sawit. Benar sekali, jika antara perkeonomian dan pertahanan seharusnya dapat sinergi dengan baik, akan tetapi kedudukan pertahanan negara sebagai kepentingan nasional tentunya berada jauh posisinya diatas segala macam kepentingan pribadi, golongan maupun warisan.

Mencari solusi bukan menambah permasalahan adalah kalimat bijak dalam kasus ini, namun untuk satu kata “mengalah” tentunya akan habis ratusan lembar uang rupiah. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat – pasal 33 UUD 1945. Jadi sangat jelas bahwa induk dari undang-undang di Indonesia mengatakan bahwa segala macam kekayaan negara akan dikuasai oleh negara dan kemudian digunakan untuk kemakmuran rakyat, bukan sebaliknya : “Dikuasai oleh rakyat dan di gunakan untuk kepentingan pribadi, golongan maupun warisan”.

“Swa Bwana Pakca”- Sayap Tanah Air Indonesia

Jayalah Selalu!

Jogjakarta Seribu Kenangan

September 2003, untuk pertama kalinya meninggalkan Jogjakarta setelah kurang lebih lima tahun di gembleng dalam kawah candhradimuka AAU dengan segala kenangan indah sebagai siswa Sekolah Penerbang TNI AU. Menuju penempatan dinas pertama kali di Skadron Udara kebanggaan masyarakat Riau yakni Skadron Udara 12 yang kemudian mengawaki pesawat tempur taktis Hawk 109/209. Memotong pendek cerita panjang selama tujuh tahun di Kota bertuah Pekanbaru Riau, maka pada pertengahan tahun 2010 Jogjakarta kembali menjadi Kota impian karena suatu kewajiban bagi seorang tentara langit untuk mengabdikan diri sebagai pengajar serdadu udara tentunya dengan suasana lebih berbahagia karena bisa menunjukkan almamater tercinta kepada si Jantung hati dan si buah hati.

Seorang QFI ataupun dalam pengertian bahasa Indonesia sering disebut dengan instruktur penerbang dituntut mampu memberikan alih pengetahuan kepada seluruh siswa penerbang. Kemampuan terbang disertai dengan kemampuan untuk mengajar juga dituntut dapat memahami psikologi manusia manusia yang diajarnya sehingga diharapkan bisa tampil sebagai seorang bapak, kakak maupun instruktur sesungguhnya. Suatu pengalaman berharga adalah ketika mendapatkan kesempatan mengajar siswa latih dasar dimana para siswa tersebut belum memiliki jam terbang sama sekali. Bagaikan memoles dan mengasah kemudian dituntut dapat memberikan hasil yang terbaik dapat bentuk kelukusan siswa yang ditangani tersebut. Rasa puas, haru dan bangga tercampur menjadi satu ketika mereka yang menjadi siswa tetap mendapatkan kelulusan untuk terbang solo pertama kali akibat keberhasilan seorang instruktur dalam melakukan alih pengetahuan dan kemampuan kepada siswanya.

Begitu banyak pengalaman dan pelajaran yang diambil dari penugasan sebagai pengajar tentara langit tersebut. Bisa memahami kemampuan diri sendiri; memahami psikologi pribadi maupun orang lain; dapat mengerti bahwa tidak semua manusia diberi kemampuan yang sama; dan memahami pula bahwa dengan output yang diharapkan memiliki standar yang sama akan tetapi jalan menuju keberhasilan setiap kanusia adalah berbeda.

Jogjakarta pun telah memberikan warna dalam kehidupan ini ketika bertemu dengan sekumpulan rekan rekan yang menyebut diri mereka dengan nama KERIS, yaiti sebuah paguyuban anak anak muda yang sangat peduli dengan kondisi dan situasi kebangsaan dan pertahanan negara. Nama keris diambil dari sebuah senjata tradisonal bangsa Indonesia yang selalu dijadikan senjata pamungkas bagi para Raja Raja Nusantara zaman dahulu kala. Sekumpulan anak muda yang berasal dari berbagai macam dasar ilmu yang berbeda seperti; dokter, ahli sejarah, ahli IT, ahli filsafat, ekonomi, hukum, fisipol dan teknik terapan dan sangat peduli pada pertahanan negara walaupun dasar ilmu sebenarnya tidak bevitu relevan. Ya, kebangkitan bangsa ini akan berawal dari kedai kopi untuk berfikir dan berbuat, bukan omong kosong.

Dua tahun menjalani penugasan di kota budaya namun saat ini harus kembali meninggalkan Jogjakarta dengan seribu kenangan didalamnya. Kita berjuang dapat dimana dan darimana saja. Tetap semangat dan bumi lancang kuning kota bertuah memanggil untuk pengabdian selanjutnya

sseveneleven

Yogyakarta “Pelangi Nusantara” Festival Olahraga Dirgantara 2012

Jogjakarta Pelangi Nusantara

Sebuah hajatan Nasional yang diselenggarakan oleh Pangkalan Udara Adisutjipto ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Februari 2012 di pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta. Menampilkan beberapa event olahraga kedirgantaraan antara lain; paralayang, gantole, spot landing, beberapa kesempatan joyflight dengan menggunakan pesawat, milik Federasi Aerosport Indonesia (FAI). Juga menampilkan aksi dari band lokal yang ikut meramaikan berlangsungnya acara.

1329026700690987653

Beberapa atlit FAI nasional dari Pekanbaru, Jakarta, Jawa Timur dan berbagai Kota lainnya turut berpartisipasi dalam festival kedirgantaraan ini. Teriknya matahari pun tidak mengurangi semangat para atlit tersebut untuk tetap beratraksi serta menunjukan kebolehan dalam mengendalikan peralatan masing-masing cabang olahraga yang mereka geluti.

13290268131355176115

Landasan pacu yang digunakan dalam pelaksanaan take off dan landing untuk pelaksanaan joy flight adalah landasan pacu FAI di pantai depok yang terletak dalam 2 kilo meter dari pantai parangtritis. Sehingga dalam event ini diselenggarakan dalam tiga tempat yakni, pantai parangtritis, pantai parangkusumo dan pantai depok.

132902695568280972

Acara seperti ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan oleh Pangkalan Udara Adisutjipto. Beberapa acara yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat terhadap dunia kedirgantaraan pernah juga dilakukan di Taxiway Lanud Adisutjipto dalam event funbike yang juga menampilkan kebolehan Jupiter Aerobatic Team pada tahun 2011 yang lalu. Diharapkan acara demikian dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang sehingga masyarakat kedirgantaraan Indonesia dapat semakin bertambah seperti di negara-negara maju lainnya.

13290271161255660357

Reportase

Seveneleven

Catatan Seorang Pengajar Tentara Langit III ( First Solo Flight )

Pertengahan tahun 2002 adalah saat yang membahagiakan sekaligus cukup membuat hati berdebar-debar bagi saya, karena pada waktu itu telah dibuka Sekolah Penerbang Angkatan 66 di Pangkalan TNI AU Jogjakarta. Bahagia telah terpilih sebagai salah satu calon penerbang TNI AU dan dengan hati berdebar seakan tidak percaya dapat melewati dan lulus dalam seleksi yang cukup ketat persaingannya. Akan tetapi ini adalah awal dari sebuah kepercayaan yang amat besar yang diberikan Negara kepada saya sehingga dengan langkah tegap saya memasuki Ksatrian Wirambara sebagai tempat tinggal selama menjadi siswa Sekolah Penerbang TNI AU. Kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kali dan tak ada rasa ingin menjadikan kesempatan tersebut sia-sia.

Tahap awal dalam pendidikan adalah melaksanakan fase ground school dimana sebuah fase untuk mempelajari beberapa pelajaran seperti; type rating dari kedua pesawat yang digunakan dalam latihan dasar-dasar penerbangan dengan pesawat AS 202 Bravo dan T 34 Charlie; melakukan latihan teori dan praktik jungle and sea survival sebagai bekal awal terhadap suatu kondisi emergency serta memupuk mental kejuangan pantang menyerah; pembinaan kepribadian dan communication skill yang nantinya sangat berguna sebagai melatih kejujuran serta keterbukaan yang sangat bermanfaat didalam dunia penerbangan; serta beberapa teori-teori penting lainnya yang berkaitan dengan ilmu penerbangan (aerodinamika, PLLU dan weather forecast).

Tidak terasa tiga bulan waktu berjalan di sela-sela kesibukan dan kepadatan jadwal sebagai seorang siswa sekbang dan akhirnya kami digeser menuju kota Solo untuk melaksanakan praktik terbang dengan menggunakan pesawat AS 202 Bravo. Kembali sedikit kebimbangan membayang-bayangi pikiran antara ketakutan “mampu” atau “tidak mampu”. Namun, saya harus bisa membunuh semua negative thinking tersebut, karena pasti apapun itu yang manusia pikirkan, yang akan terjadi adalah sesuai dengan apapun yang mereka pikirkan. Jika manusia berpikir “tidak bisa” maka hasilnya akan menjadi “tidak bisa”, sebaliknya jika manusia berpikir “bisa” maka hasilnya pasti akan “bisa” dan tentunya harus diwujudkan dengan usaha yang optimal. YAKIN! Itu saja yang menjawab semua keraguan yang mengganggu pikiran saya.

“Marmo Tower…Lima Mike 2004, Lima Mike 2004…Marmo Tower Go Ahead! Lima Mike 2004 Control by Sierra 6601 Ready for Taxi”.

Demikian call procedure yang saya gunakan setalah lulus cek solo flight untuk pertama kali di dunia penerbangan militer, karena setelah cek tersebut Instruktur checker tanpa shutdown engine (tentunya angin yang dihasilkan dari posisi idle power AS 202 Bravo cukup aman untuk tubuh manusia) segera turun dari pesawat dan meninggalkan saya sendirian di dalam pesawat sehingga saya tidak perlu request for start engine kembali. “Sierra” merupakan callsign siswa Sekolah Penerbang TNI AU yang diambil dari kata singkatan “siswa” atau “S”. Dan dalam dunia penerabanga huruf “S” selalu dibaca dengan kata “sierra”. 6601 adalah sierra number dari siswa Sekolah Penerbang TNI AU Angkatan ke 66 dan “01” hanya melambangkan siswa yang berhasil melaksanakan penerbangan solo untuk pertama kali diangkatannya.

“Ready for Take Off Sierra 6601”…
“Throttle Full Open…speed 40 Kias…unstick…” dan mengudaralah sierra 6601untuk pertama kalinya di angkasa Indonesia Raya. Subhanallah…Menakjubkan! Melihat cakrawala luas ke depan, tanpa batas. Hilang sudah semua keragu-raguan yang pernah menjamuri otak dan pikiran saya di awal memasuki Sekolah Penerbang TNI AU. Flying the aircraft is so amazing! Semakin membulatkan tekad dan cita-cita saya untuk dapat lulus menjadi seorang penerbang pesawat tempur. Sebuah cita-cita saya dari sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama yang merupakan efek dari keracunan film “Perwira dan Ksatria” yang dibintangi aktor Dede Yusuf saat itu. Selalu berpikir “BISA” sehingga otak selalu menstimulasi panca indera untuk terus mau berikhtiar serta diiringi doa orang tua.

“Sierra 6601 Clear to Land”…demikian clearance yang berikan Marmo Tower kepada saya sesaat sebelum mendaratkan pesawat terbang sendirian untuk pertama kali. Tanpa acknowledge clearance saya mendaratkan pesawat tersebut (karena terlalu konsentrasi terhadap speed final approach). Pastinya operator Marmo Tower senior-senior penerbangan sipil yang sedang menunggu giliran landing sangat memahami common error siswa “bermata kuda” ini. Landing safe…keep nose on landing attitude…keep center runway and direction…dan Alhamdulillah. Dan ketika turun dari pesawat selain mendapatkan ucapan selamat dari Instruktur yang mengajari saya sejak awal, ternyata ada tambahan “gigs” sebagai konsekuensi tidak meng-acknowledge clearance dari Marmo Tower saat di final approach. Besar ataupun kecil apapun kesalahan yang saya buat harus ada “bayarannya” agar selalu mengingat kesalahan yang kita buat untuk tidak diulangi lagi dikemudian hari. “Saya berjanji agar tidak mengulangi kecerobohan yang saya lakukan dikemudian hari”. Demikian kalimat yang harus saya tulis berulang-ulang sebanyak seratus kalimat dalam “gigs” tersebut. Hikmahnya adalah saya selalu ingat kesalahan saya tersebut hingga detik ini.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Dan jangan pernah menyerah dengan segala bentuk keragu-raguan. Menjadi seorang penerbang jet tempur sudah saya dapatkan selama hampir sembilan tahun dan ribuan kali terbang solo dengan segala dinamika yang terjadi, walaupun wajah tak setampan Dede Yusuf, tetapi cerita dalam film beliau sudah saya lampaui saat ini. Terus bercita-cita dan pantang menyerah.

“When i was flying away to the cloudy sky…fly to discover of the world…cause you know i am an officer…for my pride, for my nation and for the truth….”

Dari

Seveneleven

CATATAN SAFETY PENGAJAR TENTARA LANGIT II (SELAMAT JALAN BANG…)

Kelompok Pelatihan (Kopel) penaikan bendera Akademi Angkatan Udara telah mengikat hubungan saya dengan beliau. Kelompok nomer sembilan, Sermatar Ali Mustofa (alm) adalah salah satu kakak asuh dalam pelatihan tersebut. Putra asli Tuban kelahiran Mei 1979, saat ini telah pergi meninggalkan kita dengan senyuman untuk selama-lamanya menuju kehidupan yang abadi dan hakiki dengan pangkat terakhir Kapten Penerbang.

Selalu tampil dengan kesederhanaan, bertutur kata halus dan sopan dan ahli ibadah adalah ciri khas beliau. Saya rasa baik senior, junior maupun rekan-rekan beliau setuju dengan apa yang saya rasakan terhadap beliau. “Selama apapun itu niatnya karena untuk ibadah kepada Allah, jangan pernah takut melakukan kebenaran dan dengan luasnya ilmu Allah jangan takut untuk berbuat kesalahan menuju kebaikan”, demikian nasihat beliau yang jelas masih terngiang di telinga saya.

Menghargai manusia siapa pun itu adalah salah satu karakter beliau semasa hidupnya. Empat bulan lalu sebelum saya berangkat sekolah, sempat dua kali dalam satu cockpit bersama beliau dalam misi Sekolah Instruktur Penerbang dan betapa beliau dengan sangat hormat menghargai saya sebagai Pilot in Command sehingga semakin membuat saya sepenuh hati untuk berbagi apapun yang saya mampu.

Allah telah menetapkan jalan beliau, Jumat, 6 Januari 2012 dengan pesawat Charlie tail number LD 3417 beliau telah terbang tinggi dan tanpa pernah kembali di tengah-tengah kita semua. Hanya menyisakan sebuah senyuman penuh arti di jumat pagi sebelum saat saya terbang ke kota Solo untuk mengajar di Sekolah Penerbang Angkatan 83, sebuah senyuman tanpa kata-kata dan tak akan pernah dapat bertemu kembali, seakan hendak berkata “tiada manusia yang berumur pendek, yang ada adalah manusia hidup di dunia untuk mempersiapkan diri di kehidupan yang amat panjang. Subhanallah, di hari jumat, diawali dengan Dhuha beliau pergi, sebuah logika mengatakan bahwa dengan kondisi pesawat hancur menandakan impact yang cukup kuat, akan tetapi tubuh beliau utuh, lengkap dan tak tampak luka luar, Wallahualam, InsyaAllah dengan niat yang tulus saya mendoakan beliau pergi sebagai Syuhada, sebagai pasukan langit, sebagai serdadu Allah.

Selamat Jalan Bang…

Wassalam,

SevenEleven