Untaian Kata Hati Untuk Semangat Kebangsaan

Atas dasar ide warung kopi, maka saya laksanakan proyek nekad ini. Mengingat dalam 2 tahun saya telah menghasilkan 80 artikel atau 40 artikel dlm satu tahun atau rata2 4 artikel per bulan, dan semua saya tuangkan dalam blog pribadi saya. Dari 230 juta manusia Indonesia pun tercatat hampir satu juta viewer dan artinya masih ada 229 juta lagi yg menjadi sasaran saya. Maka dari itu saya nekad utk mem-buku-kan artikel2 yg njelimet tersebut. Saya mohon doanya semoga kenekatan saya ini bisa sukses, jika berminat memiliki coretan2 ngawur saya silahkan pesan dan di ganti dgn mahar 45 ribu saja belum termasuk ongkos kirim

 Alhamdulillah…saat ini buku telah selesai cetak dan baru 4 hari sudah laku 76 exp dari 200 cetakan…

 

Dalam rencana buku berikutnya akan diterbitkan awal 2014 (insyaallah jika tidak ada halangan) dengan judul “Macan Hitam Bumi Lancang Kuning” yang bercerita tentang penerbangan militer yang diangkat dari beberapa pengalaman pribadi, senior maupun rekan-rekan saya dimana tempat saya bekerja. Juga disisipkan beberapa tentang ilmu penerbangan dasar bagi seorang penerbang jet tempur yang tentunya bukan sebuah taktik tempur karena setiap ilmu penerbangan pada dasarnya adalah sama.

Dalam beberapa bab dalam buku ini saya juga mengangkat sebuah pendapat pribadi yang kesemuanya saya serahkan kepada pembaca untuk menilai karena pendapat atau opini tersebut adalah murni dari isi otak kiri, kanan dan tengah yang berkedudukan dalam kepala saya, bukan merupakan hasil referensi dari negeri antah berantah. Ketika militer digunakan untuk bertempur maka penerbang tempur adalah prajurit militer yang berada dalam satu sistem yang tak dapat dipisahkan satu sama lain demi terciptanya sinergitas menuju kemenangan dan kejayaan yang hakiki bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang pasti pendapat tersebut tentulah tidak popular namun saya yakin ketika melihat sejarah pesawat ulang alik untuk pertama kalinya diluncurkan dan semua orang pun tidak yakin dengan keberhasilannya. Pada intinya, semua lahir tetap dari obrolan warung kopi.

Rencana Cover depan:

cover

 

Rencana Cover Belakang:

cover belakang

 

Nantikan kehadirannya!!!

 

Salam

 

Seveneleven

Advertisements

Air Power Nasional Indonesia Dalam Kesatuan Komando

cropped-csc0378.jpgAir Power dapat didefinisikan sebagai segala upaya, pekerjaan dan kegiatan untuk menggelar kekuatan pertahanan Negara di udara maupun luar angkasa dengan menggunakan alutsista atau peluru kendali yang dioperasikan dari atas permukaan bumi. Alutsista yang dimaksud adalah berbagai macam tipe pesawat, helicopter maupun pesawat udara dan helicopter tanpa awak (AP 3000).

Kita ketahui bahwa sejak awal abad 20 ditemukannya benda terbang bernama pesawat oleh Wright bersaudara maka tanpa mengurangi peran kekuatan maritim bahwa kekuatan udara telah menambah jarak jangkau dan kemampuan serangan sebuah kekuatan militer sebuah Negara. Menghemat waktu tempuh sehingga menambah daya kejut dari sebuah serangan menuju kemenangan dari sebuah pertempuran. Sustainability dan  Force Protection pun semakin meningkat dengan ketinggian yang dimiliki pesawat terbang karena semakin menambah perhitungan musuh untuk menjangkau daya tangkal terhadap serangan dari udara.

Memang, tidak pula dihindari bahwa beberapa kekurangan dari penggelaran kekuatan udara karena disebabkan oleh anggaran yang mahal; kebutuhan pangkalan udara dan infrastruktur harus memadai; terbatas oleh cuaca dan medan terrain yang dihadapi serta membutuhkan kemandirian produksi alutsista yang memadai sangat dirasakan penting dalam memenuhi Air Power yang diinginkan sesuai dengan harapan sebuah Negara Kepulauan seperti Indonesia sehingga dengan kemandirian pula maka anggaran seyogyanya dapat mudah ditekan karena peralatan tidak membeli dari luar negeri lagi; keterbatasan cuaca dan medan terain dapat diselesaikan dengan teknologi canggih yang dimiliki; infrastruktur serta penyediaan pangkalan-pangkalan udara pun bukan masalah bagi Negara Kepulauan seperti Indonesia.

Keberadaan Air Power  yang kuat dalam pertahanan Negara sangat bermanfaat  dalam rangka mengeksploitasi kemampuan untuk menyerang central of gravity lawan terkait di mana pun mungkin musuh berada menajjdi sangat mudah dijangkau oleh sebuah kekuatan udara dengan tingkat kehancuran yang lebih optimal. Berperan secara signifikan sebagai faktor penentu bagi barisan serangan pasukan darat dalam operasi atau kampanye militer gabungan sehingga memberi kemudahan dan keleluasaan bagi pasukan gabungan untuk masuk ke dalam pusat pertahanan lawan. Namun, kontrol udara berupa ground fac tetap diperlukan jika ops serangan strategis harus dilaksanakan. Biasanya dilakukan setelah pasukan khusus berhasil melakukan infiltrasi untuk mengetahui posisi dan letak target yang akan dihancurkan.

Selain itu, peranan Air Power pun tidak hanya terbatas dalam lingkup Angakatan Udara saja, melainkan juga berperan dalam menghalangi dan mengalahkan serangan udara musuh di wilayah sendiri terhadap serangan udara musuh dalam bentuk Extended Air Defence (EAD) dimana perang pertahanan udara selalu berhadapan dengan teknologi canggih berupa perang elektronika, Rudal Aerodinamika Taktis (TAM), serangan pesawat tempur lawan dan UAV sebagai ancaman kecepatan rendah dalam operasi informasi musuh. Maka Air Power bisa dikatakan memiliki peran yang kuat serta menimbulkan efek langsung pada musuh untuk menetralkan kemampuan dan keinginan perang musuh dan melumpuhkan sasran strategis musuh pula. Anti-Surface Warfare (ASUW) adalah sebuah operasi serangan yang mencakup berbagai target permukaan laut dimana target yang kemungkinan berada pada jarak yang dekat dari kekuatan maritim kawan dan berpotensi mengancam kekuatan maritim kawan. Anti Surface Warfare  ini identik dengan Close Air Support  hanya pelaksanaannya berada di atas permukaan laut.

Manuver udara gabungan terdiri atas pesawat sayap putar dan tetap, dengan pengelompokan operasi dukungan udara, meliputi:

–       Operasi Linud

Sebuah operasi pergerakkan pasukan penerjunan udara menuju sasaran yang telah ditentukan dengan menggunakan pesawat angkutan udara.

–       Air Assault dan Mobilisasi Udara

Sebuah pergerakkan pasukan kawan dari satu poin menuju sasaran yang ditentukan, lazimnya di drop dengan menggunakan helikopter sebagai sumber daya terintegrasi untuk mengoptimalkan mobilitas pasukan darat, termasuk Dukungan Tempur dan memperkuat firepower.

–       Air Mechanised Operation

Sebuah operasi dukungan udara yang bertujuan untuk menambah kemampuan tempur yang menjadi lebih optimal dengan meningkatkan personel tempur dengan menggunakan helikopter transport. Melibatkan kekuatan tempur yang independen dalam dan dari udara tanpa melibatkan elemen kekuatan darat.

–       Operasi Dukungan Amfibi

Dukungan kekuatan udara yang diberikan oleh darat dan laut berdasarkan pada kekuatan udara tergantung pada lokasi dan letak sasaran, biasanya menyertakan peran combat air support, tetapi juga dapat mencakup Air Counter, Anti-Submarine Warfare (ASW) dan Anti Surface Warfare (ASUW), dan Combat Air Suppoert Operation.

–       Anti-Surface Warfare (ASUW)

Melakukan tindakan ofensif atau defensive dalam rangka mencegah serangan efektif ketika musuh menggunakan kekuatan permukaannya terintegrasi dengan reccognaisance dan surveillance sedini mungkin ketika musuh telah terdeteksi oleh kekuatan sendiri.

–       Anti-Submarine Warfare (ASW)

Melaksanakan tindakan ofensif dan defensive dalam rangka melawan efektifitas serangan dari kapal selam musuh. Dalam pelaksanaannya dapat melibatkan pesawat penggunaan fix wing berupa pesawat patroli maritim (MPA), helikopter ASW atau pesawat udara lainnya.

–       Transportasi Udara

Dimana terbagi menjadi transportasi udara strategis yakni dukungan udara untuk pergerakan pasukan dari satu poin menuju medan operasi dan transportasi udara taktis yaitu menyediakan dukungan udara dari satu poin ke poin lainnya di dalam suatu medan operasi.

–       Operasi SAR dan SAR Tempur

Di dalam suatu peperangan dimungkinkan terjadinya pukulan yang menyebabkan kekuatan udara kawan tertembak dan jatuh di daerah lawan. Tugas SAR tempur inilah yang berperan untuk mengevakuasi personel yang terjebak dalam wilayah musuh tersebut karena dimungkinkan personel tersebut dapat bertahan hidup dan menunggu evakuasi pertolingan pihak kawan.

Dari berbagai macam jenis operasi udara di dalam Air Power maka dapat kita lihat betapa pentingnya peran Air Power itu sendiri dalam suatu operasi gabungan dimana peran tiga matra yang terintegerasi sangat memerlukan kesatuan komando yang memadai. Kita ketahui bahwa saat ini didalam mengerahkan kekuatan udara dala pertahanan Negara di Indonesia masih terpecah menjadi beberapa kesatuan komando, dimana Komando Pertahanan Udara Nasional merupakan kotama TNI sedangkan penggunaan kekuatan udaranya berada di dalam struktur TNI AU sendiri. Seperti halnya Angkatan Laut Indonesia yang telah merancang Komando Wilayah Laut Nasional demi mencapai kesatuan komando, maka sudah sepantasnya pula TNI AU sebagai pemegang Air Power nasional juga mengembangkan wilayah pertahanan udara nasional menjadi satu kesatuan komando.

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, tugas Angkatan Udara salah satunya adalah bertugas melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara di seluruh Indonesia. Dalam konteks ini TNI AU diharapkan mampu melaksanakan pemberdayaan kewilayahan tentang pertahanan udara dengan mengembangkan serta menyatukan Komando Pertahanan Udara Nasional berada ke dalam ruang lingkup TNI Au sehingga kesatuan komando atau  Unity of Command dapat dimiliki oleh Angkatan Udara di sebuah Negara Kepulauan yang luas Bernama NKRI.

Salam

SevenEleven

Ref:

  1. AP 3000, 2010

SevenEleven’s Blog in 2012 (Happy NewYear Everyone)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for my blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 10,000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 17 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Informasi Geospasial Dalam Mengahadapi Ancaman Terhadap Pertahanan Negara

Menelisik ulang tentang peperangan asimetris dengan berbagai ancaman asimetris di dalamnya terdapat beberapa cara dan solusi yang dapat dilakukan oleh suatu negara. Banyak sekali orang mendefinisikan tentang ancaman asimetris sesuai dengan pemahaman dan ilmu dasar yang didalaminya dan salah satu definisi yang populer adalah dimana suatu peperangan yang terjadi antara suatu negara versus kelompok-kelompok bertentangan ataupun negara sponsor yang berpihak anti terhadap negara kawan yang saling berhadapan dengan kekuatan militer tidak berimbang sehingga salah satu yang lemah menggunakan senjata maupun taktik konvensional seperti terorisme dalam rangka mengeksploitasi kelemahan kekuatan pihak bertentangan. Dalam tulisan singkat kali ini penulis ingin menyampaikan tentang informasi geospasial yang dibutuhkan sebagai salah satu upaya penting untuk menghadapi ancaman asimetris dalam peperangan asimetris yang sesungguhnya sudah terjadi di dunia maupun di Indonesia.

Sebuah pertanyaan besar ketika Amerika Serikat kalah oleh Vietnam (walaupun Negara paman Sam tersebut tak sudi mengakui kekalahan tersebut) sebuah negara super power pemenang perang dunia kedua 1945 dan kembali ke Negaranya dengan protes dari rakyatnya dengan sangat keras. Sebuah kekuatan bawah tanah kombinasi dengan gerilya ternyata cukup untuk melawan sebuah negara besar dengan angkatan perang yang sangat berkuasa di dunia. Sebuah contoh nyata ketika kekuatan tersembunyi dan diremehkan ternyata menjadi primadona kemenangan dalam perang Vietnam. Kedua dan yang cukup kontroversial hingga saat ini adalah tragedi 911, terlepas berbagai analisa berkembang oleh kejadian tersebut, maka anggaplah semua itu benar akibat serangan Osama cs dan dapat kita sebut sebagai kekalahan besar US oleh sebuah gerakan bawah tanah dengan melancarkan aksi terorisme untuk negeri paman Sam tersebut. Belajar dari kekalahan US tersebut maka berkembang sebuah teknologi satelit, informasi dan data yang dalam bahasa populer disebut dengan informasi geospasial.

Sebuah konsep untuk pengumpulan data, ekstraksi informasi, penyimpanan, penyebaran  dan eksploitasi geodesi, geomagnetik, citra satelit, gravimetri, penerbangan, hidrografi, topografi, pesisir, budaya dan data akurat toponymic kemudian di referensikan terhadap lokasi di permukaan bumi sehingga data-data tersebut dapat digunakan untuk perencanaan suatu operasi dan latihan militer termasuk latihan navigasi, perencanaan misi, pemodelan, simulasi dan penargetan yang tepat.

Informasi geospasial juga menyediakan kerangka dasar untuk visualisasi battlespace sebuah informasi yang dihasilkan dan dapat disajikan dalam bentuk peta cetak, grafik dan publikasi, simulasi digital, database pemodelan serta peta digital. Fasilitas geospasial juga termasuk alat yan memungkinkan pengguna untuk mengakses dan memanipulasi data. Informasi geospasial dan servis disebut dengan GI&S.

Berikut adalah situasi maupun permasalahan yang harus diselesaikan dalam strategi dan penghasilan input data, yaitu: Informasi geospasial hendaknya bersifat rahasia namun terbuka untuk keterkaitan dengan satuan-satuan terkait sehingga militer, polisi maupun BIN tidak bekerja sendiri-sendiri; Input data yang ada selama ini hanya terbatas pengambilan data saja namun belum bisa dijadikan data yang langsung dapat dilakukan aksi, sehingga proses menjadi kurang optimal dibandingkan ketika data akurat terkumpul kemudian aksi dapat segera dilakukan.

Dalam menentukan arah perjalanan menuju tujuan yang diinginkan kebutuhan utama manusia adalah Peta. Informasi geospasial dalam hal ini dapat dikatakan sebagai peta utama dalam menangkal dan menghindari segala kemungkinan ancaman yang tidak berbentuk serta tidak jelas wujudnya tersebut. Berikut ini adalah beberapa komponen utama yang seharusnya dimiliki sebuah negara sebesar Indonesia, antara lain; surveys, maps, charts; remote sensing data and image; dan aerial photographic services. Dari kebutuhan tersebut maka sewajarnya pula Indonesia memiliki satelit militer yang mandiri dimana Indonesia sebagai negara yang memiliki geostasionery orbite terbesar di dunia akan menjadi hal yang sangat penting dan menguntungkan bagi keamanan internal maupun eksternal. Dalam mewujudkan sistem pertahanan udara yang optimal satelit militer dirasakan sangat dibutuhkan dalam menjaga wilayah udara Indonesia yang sangat besar sehingga akan menambah kecepatan dalam proses identifikasi dalam lalu lintas udara nasional Indonesia. Kepemilikan Unmanned Aerial Vehicles maupun Unmanned Aerial Hellycopter  adalah suatu kepentingan yang sangat mendesak mengingat pentingnya untuk mendapatkan data yang akurat dan tepat secara rahasia untuk menghadapi ancaman baik yang hadir dari negara tetangga maupun secara internal. Ancaman yang datang dari negara lain adalah berbentuk dan jelas oleh kasat mata, namun ancaman internal adalah tidak terlihat dan justru sangat berbahaya untuk keamanan internal dalam negeri. Persenjataan yang dibutuhkan bukan hanya kecanggihannya saja, namun dalam menghancurkan suatu target, data koordinat dan bentuk sasaran sangat dibutuhkan untuk optimalisasi penentuan kemenangan dalam pertempuran dengan small target dihancurkan oleh amunisi yang presisi hasil data akurat dari UAV, UAH maupun satelit militer. Hal ketiga yang sangat di butuhkan dalam informasi geospasial dalam pertahanan negara terhadap ancaman asimetris adalah kepemilikan broadband networking system militer yang mandiri dimana dalam menghadapi perang informasi saat ini militer Indonesia hanya mendapatkan suplai dari telkomsel dan indosat yang notabene beberapa sahamnya dimiliki oleh pihak asing sehingga sedikit-banyaknya akan mengurangi unsur kerahasiaan dalam perolehan data dan informasi untuk kepentingan militer.

Kebutuhan akan geospasial informasi juga menjadi hal yang sangat berguna dalam menghadapi serangan teroris. Kita ketahui bahwa kebanyakan sindikat teror beraksi pada pusat keramaian masyarakat; area terbuka; objek vital; infrasuktur penting masyarakat dan sistem massa yang ramai seperti terminal; bandara; pelabuhan; hotel; maupun perkantoran. menghadapi ancaman yang unik tersebut sangat dibutuhkan data yang akurat tentang posisi musuh; rencana musuh maupun kegiatan harian musuh sehingga apa yang teroris rencanakan dapat dihindari agar tidak terjadi korban yang menyebabkan orang-orang tidak bersalah terbunuh.

Selain beberapa kasus diatas, TNI yang dalam tugasnya juga beropeasi  misi-misi kemanusian seperti penanggulangan bencana alam. Informasi geospasial ini juga sangat membantu dalam hal pencegahan, perlindungan, respon dan penanggulangan bencana alam dimana melalui satelit dapat dengan mudah diterima data akurat tentang terrain serta mempermudah dalam pemilihan jalur escape masal. Teknologi geospasial pun dapat menyediakan kecepatan dalam pendeteksi dan respon dalam hal penanggulangan bencana alam sehingga dapat lebih efektif untuk pencegahan serata melindungi infrasuktur maupun aset nasional terhadap bencana alam.

Akhir dari tulisan ini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Means dari pentingnya informasi geospasial serta aplikasinya yang berfungsi sebagai pencegahan;pendeteksian; perencanaan; mitigasi; respon; serta penanggulangan dalam rangka mengurangi jumlah korban nyawa dan kerugian harta benda dari ancaman teroris; senjata pemusnah masal; serangan inteijen dan propaganda negara tetangga; bencana alam.

Dirgahayu ke 67 TNI

Seveneleven

Dokumentasi Seminar Pertahanan 2012

Terselenggara atas kerjasama Akademi Angkatan Udara, Lembaga Kajian Pertahanan “KERIS” dan Pamungkas AAU 2001 beserta beberapa elemen mahasiswa Jogjakarta lainnya

Jogja Tribun

Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Akademi Angkatan Udara sebagai lembaga pendidikan pembentuk calon pemimpin Bangsa menyadari arti penting dari kepentingan nasional dalam rangka menyelenggarakan pertahanan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersamaan dengan rangkaian memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-65 Tahun 2012, Akademi Angkatan Udara dan Ikatan Alumni Akademi Angkatan Udara Tahun 2001 (PAMUNGKAS) AAU 2001.

Bersama elemen generasi muda sipil yang sangat peduli dengan pertahanan Negara yaitu Lembaga Kajian Pertahanan untuk Kedaulatan NKRI “KERIS”, Lembaga Mahasiswa Filsafat (LMF) Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyelenggarakan sebuah Seminar Nasional Pertahanan yang bertemakan “Konsep Pertahanan Negara Kepulauan Dalam Menghadapi Peperangan Asimetris”. Kegiatan akan berlangsung pada Sabtu, 2 Juni jam 08.00-16.00 di Gedung Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara, jalan Laksda Adi Sutjipto Kesatrian AAU Yogyakarta.

Turut hadir dalam seminar, Panglima KODAM V / Diponegoro, Mayjen TNI Muhlim Asyrof yang akan memimpin diskusi panel I bertemakan “Kondisi Keamanan Wilayah Jawa Tengah dan DIY terkait Ancaman Asimetris”. Sementara Panglima Armada RI kawasan Timur, Laksamana Muda TNI Agung Pramono akan membawakan materi tentang Kondisi Keamanan Laut Indonesia. Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, Marsda TNI JFP Sitompul juga akan memberikan materi tentang Kondisi Keamanan Ruang Udara Indonesia terkait Ancaman Asimetris.

Pada diskusi panel II, Sekretaris Jenderal Kementrian Pertahanan RI, Marsekal Madya TNI Eris Herryanto akan memberikan materi tentang Kebijakan, Strategi dan Penyiapan Pertahanan Indonesia dalam mengatasi Ancaman Asimetris. Selain pemateri di atas, seminar ini juga akan mengundang Gubernur DIY, Sri Sultan HB X sebagai penyampai keynote dengan tema Implementasi Visi Indonesia sebagai Negara Kepulauan.

Untuk mengikuti rangkaian kegiatan ini,peserta hanya dibebani biaya Rp 25 ribu untuk pelajar, Rp 50 ribu untuk mahasiswa dan Rp 100 ribu untuk umum. Adapun Ketua OSIS dan Pradana Ambalan Pramuka SMA/SMK/MA, dapat mengakses seminar ini dengan gratis. Fasilitas seminar meliputi seminar kit, materi seminar, coffee break dan makan siang.

http://jogja.tribunnews.com/2012/06/01/aau-gelar-seminar-nasional-pertahanan

Kemhan RI

Yogyakarta, DMC –Wujud kesatuan pertahanan dalam menghadapi perang asimetris adalah perlunya sistem pertahanan yang fleksibel. Hal itu dilaksanakan dengan melakukan perumusan doktrin nirmiliter dan Strategi Pertahanan Negara guna memperkuat pertahanan militer dan nirmiliter.

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto S.IP, Sabtu (2/6), saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pertahanan bertemakan “Konsep Pertahanan Negara Kepulauan Dalam Menghadapi Peperangan Asimetris”, di Ksatrian Akademi Angkatan Udara, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lebih lanjut Sekjen Kemhan menekankan bahwa dalam mengatasi perang asimetris diperlukan kesamaan visi dengan melakukaan konsultasi publik baik dengan DPR maupun dengan masyarakat sehingga keberadaannya jelas dan mudah diimplementasikan. Selain itu, peningkatan edukasi masyarakat adalah salah satu faktor penentu kualitas unsur utama dalam menghadapi berbagai ancaman nirmiliter dalam perang asimetris.

Dijelaskan oleh Sekjen Kemhan bahwa perang asimetris sangat sulit diawasi karena tidak terlihat bentuknya. Maka tidak ada cara lain selain melakukan pertahanan berlapis dengan menggunakan komponen cadangan yaitu segenap bangsa Indonesia. Hal itu dapat dilakukan dengan penanaman rasa Bela Negara untuk menghadapi ancaman asimetris tersebut. Pada awal paparannya Sekjen Kemhan mengharapkan hasil seminar ini dapat melengkapi konsep pertahanan yang disusun oleh Kementerian Pertahanan.

Gubernur Provinsi D.I Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam seminar ini yang menjadi pembicara kunci mengangkat tema “Implementasi Visi Indonesia Sebagai Negara Kepulauan”. Pembicara dalam Seminar Nasional yang dibagi dalam dua sesi diskusi panel ini antara lain ; Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Ir Mulhim Asyrof, Panglima Armada RI Kawasan Timur Laksda TNI Agung Pramono SH, M.Hum, Panglima Komando Pertahanan Udara Marsda TNI J.F.P Sitompul, dan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Achmad Charris Zubair.

Seminar Nasional ini diharapkan dapat menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme bagi seluruh lapisan Bangsa Indonesia terutama generasi mudanya. Seminar ini juga diharapkan memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai konsep pertahanan Indonesia sebagai Negara kepulauan dalam menghadapi ancaman peperangan asimetris. Sehingga melalui seminar ini dapat dibangkitkan kesadaran akan pentingnya pertahanan (defence awareness) terutama menghadapi ancaman nirmiliter atau ancaman asimetris.

Seminar ini diadakan oleh AAU, Perwira Muda Angkasa (Pamungkas) AAU 2001 bekerjasama dengan Lembaga Kajian Pertahanan untuk Kedaulatan NKRI (KERIS) dan Lembaga Mahasiswa Filsafat (LMF) Fakultas Filsafat UGM, serta Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI) Universitas Muhammaddiyah Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Bhakti TNI Angkatan Udara ke-65 Tahun 2012. Seminar Nasional Pertahanan ini juga diikuti oleh pelajar, Mahasiswa dan Taruna Akademi TNI, Pemerintah Daerah, TNI, Polri dan Akademisi.

http://www.dmc.kemhan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1222%3Amenghadapi-perang-asimetris-diperlukan-sistem-pertahanan-yang-fleksibel&catid=36%3Aiptek-a-pendidikan&Itemid=61

Jogja TV

Yogyakarta,www.jogjatv.tv –Dalam rangka rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhakti TNI Angkatan Udara ke-65, Akademi  Angkatan Udara (AAU), ikatan alumni AAU tahun 2001, dan lembaga kajian pertahanan untuk kedaulatan NKRI, Sabtu pagi, menyelenggarakan Seminar Nasional Pertahanan. Seminar tersebut mengambil tema Konsep Pertahanan Negara Kepulauan Dalam Menghadapi Peperangan Asimetris.

Dalam seminar tersebut, Gubernur AAU, Marsekal Muda Tni Bambang Samoedro menyampaikan, Indonesia selain memiliki posisi yang strategis, ternyata juga memiliki aspek-aspek yang dapat mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah. Ancaman tersebut digolongkan dalam ancaman militer dan nirmiliter atau ancaman asimetris. Dengan penyelenggaraan seminar, diharapkan akan melahirkan beragam ide kreatif dan inovatif dalam mengembangkan dan membangun konsep pertahanan negara kepulauan dalam menghadapi peperangan asimetris tersebut.

Sementara itu, pembicara dalam seminar, Mayor Jenderal Tni, Mulhim Asyrof menegaskan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan memiliki kekayaan yang sangat berlimpah. Namun bangsa ini seringkali lupa akan kekayaan tersebut, sedangkan kondisi demografi dan geografi indonesia sangat mudah dimasuki apa saja, termasuk faham radikalisme yang efektif untuk memicu terorisme.

http://www.jogjatv.tv/berita/02/06/2012/konsep-pertahanan-negara-kepulauan

Pen AU

(30/5), AAU menjadi tuan rumah bersama (co-host) dalam seminar pertahanan yang mengambil tema “Konsep Pertahanan Negara Kepulauan dalam Menghadapi Perang Asimetris”. Seminar ini diprakarsai oleh Alumni AAU 2001 (Pamungkas) yang bekerjasama dengan Lembaga kajian pertahanan untuk kedaulatan NKRI (Keris), lembaga Mahasiswa Filsafat (LMF), Fakultas Filsafat UGM, Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jelas Kapten Lek panca Prawira, S.T. salah satu panitia.

Seminar yang berlangsung sehari ini akan menampilkan Keynote Speaker Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur Propinsi DIY. Dengan tema “Implementasi Visi Indonesia sebagai Negara Kepulauan”.

Seminar Nasional ini akan menampilkan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Ir. Mulhim Asrof dengan tema “Kondisi Keamanan Wilayah Jawa tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta Terkait Ancaman Asimetris.”

Pangkoarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum dengan tema Kondisi keamanan laut Indonesia terkait ancaman Asimetris”. Sedang dari Angkatan Udara diwakili oleh Pangkohanudnas Marsekal Muda TNI. J.F.P Sitompul dengan tema “Kondisi Keamanan ruang udara Indonesia terkait ancaman Asimetris.”

Seminar nasional Pertahanan ini bertujuan untuk melahirkan ide, gagasan yang kreatif nan cerdas guna mengembangkan dan membangun sebuah konsep Pertahanan Negara kepulauan dalam menghadapi perang Nirmiliter.

http://tni-au.mil.id/berita/jelang-hari-bhakti-tni-au-ke-65-aau-gelar-seminar-nasional-pertahanan

Pen AAU

YOGYAKARTA, (PRLM).- AAU menjadi tuan rumah bersama (co-host) dalam seminar pertahanan yang mengambil tema “Konsep Pertahanan Negara Kepulauan dalam Menghadapi Perang Asimetris”. Seminar ini diprakarsai oleh Alumni AAU 2001 (Pamungkas) yang bekerja sama dengan Lembaga Kajian Pertahanan untuk Kedaulatan NKRI (Keris), Lembaga Mahasiswa Filsafat (LMF), Fakultas Filsafat UGM, Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Perwakilan panitia, Kapten Lek panca Prawira, S.T. mengatakan, seminar yang berlangsung sehari ini akan menampilkan keynote speaker Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur Provinsi DIY yang menyampaikan materi “Implementasi Visi Indonesia sebagai Negara Kepulauan”. Selain itu ada Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Ir. Mulhim Asrof yang menyampaikan materi “Kondisi Keamanan Wilayah Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta Terkait Ancaman Asimetris.”

Tidak ketinggalan Pangkoarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum yang menyampaikan materi “Kondisi Keamanan Laut Indonesia Terkait Ancaman Asimetris”. Sedangkan dari Angkatan Udara diwakili oleh Pangkohanudnas Marsekal Muda TNI. J.F.P Sitompul yang menyampaikan materi “Kondisi Keamanan Ruang Udara Indonesia Terkait Ancaman Asimetris.”

Seminar nasional pertahanan ini bertujuan untuk melahirkan ide, gagasan yang kreatif nan cerdas guna mengembangkan dan membangun sebuah konsep pertahanan negara kepulauan dalam menghadapi perang Nirmiliter.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/190500

 

 

PemProv DIY

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X Bekali Karbol DIY Olah Pikir Dan Wawasan Negara Kepulauan PDF Cetak Email
Ditulis oleh Satya Legowo
Senin, 04 Juni 2012 00:13
 

Gubernur Hamengku Buwono X Bekali Karbol DIY Olah Pikir Dan Wawasan Negara Kepulauan

SLEMAN,(2/6/2012) pemda-diy.go.id, – Membicarakan Indonesia dengan melupakan perhatian pada pulau dan lautan, sesungguhnya berlawanan dengan keadaan sebenarnya, ini disadari bahwa konvensi kelautan nusantara adalah sumber kemakmuran bagi masyarakat Indonesia, bagi Negara kepulauan, laut ibarat mata telinga, sekaligus sumber pengharapan akan masa depan yang lebih baik, maka yang perlu mendapatkan perhatian seharusnya bagaimana memanfaatkan laut demi kesejahteraan rakyat, keadilan dan perdamaian

Hal demikian dikemukan Gubernur DIY Sri Sultan HB X pada Keynote speakernya yang ber tajuk “Implementasi Visi Indonesia sebagai Negara Kepulauan” pada Seminar Nasional Pertahanan, dalam rangka memperingati Hari Bhakti TNI AU ke 65, di gedung Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara, sabtu (02/06) dihadapan perwira muda TNI, anggota forum komunikasi, taruna AAU (Karbol), mahasiswa dan pelajar,

Dikatakan Sultan Hamengku Buwono X bahwa Konsep wawasan bahari yang diperjuangkan sejak 1957 lewat deklarasi Juanda, akirnya diakui dunia dengan batas wilayah territorial laut 12 mil yang seharusnya hanya 3 mil, dari garis pantai terluar kepulauan Indonesia saat air laut surut, dan zona ekonomi eklusif 200 mil dari wilayah territorial Indonesia, dengan diterimanya konvensi hukum laut PBB tahun 1982, memantapkan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar didunia,

lebih lanjut Gubernur DIY menambahkan , bahwa semua itu memperlihatkan adanya upaya untuk meneguhkan kesadaran sebagai Bangsa dan Negara maritim sebagai menempatkan laut sebagai yang utama, dan memegang peran sentral peran itu sudah diakui kebenaranya, dalam sejarah peradaban bangsa, dalam kenyataanya tidak diikuti kebijakan-kebijakan yang lebih berorientasi pembangunan bermatra kelauatan, juga dalam bentuk memperkuat peningkatan kapasitas ankatan laut yang memadai, untuk merealisaikan klaim sebagai Negara kepulauan tersebut, apalagi untuk mewujudkan kejayaan Negara maritim yang unggul, mampu menguasai wilayah laut kita sendiri, pada masa lalu Indonesia adalah Negara besar yang disegani dikawasan asia, bahkan mungkin diseluruh dunia,

Pengalaman sejarah menunjukan bahwa kota pelabuhan harus didukung oleh hasil pertanian yang menjadi komoditas unggul dari wilayah pedalaman, dimasa kini ketangguahan agrarian dan maritime yang modern adalah pilar utama kejayaan sebuah Negara maritime, Kejayaan tersebut seakan tertutup oleh potret kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia, kecintaan terhadap laut juga semakin dangkal, ini terjadi karena belum adanya visi yang jelas, sehingga laut diposisikan sebagai halaman belakang, sehingga pertahanan laut kadang terabaikan.

Paradigma baru organisasi tempur sebenarnya lebih pada pasukan campuran, dari ketiga unsur, AD,AL,AU, dan dipimpin oleh Panglima Komando gabungan, untuk komando wilayah pertahanan tertentu, jadi bagaimana menggunakan ketiga angkatan dalam sistim pertahan yang tepat, sehingga kalau terjadi perubahan foundamental dengan lompatan paradigmatic berubah harapan akan menjadi jaminan sisitem building sub stansibilitas NKRI dimasa depan. tandasnya.

Demikian pula, Gubernur AAU, Marsekal Muda TNI, Bambang Samoedro, S.Sos dalam sambutannya pada seminar yang bertema “Konsep Pertahanan Negara Kepulauan dalam menghadapi Peperangan Asimetris” mengatakan, bahwa Deklarasi Juanda 1957 dan unclos 1982 menempatkan Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan luas wilayah laut 5,2 Km2 terdiri atas teritoriral dan wilayah zone ekonomi eklusif Indonesia (ZEEI), hal ini menjadikan Indonesia Negara maritime dan daratan terbesar didunia, disamping posisi yang setrategis, pada saat yang sama terdapat pula aspek-aspek ancaman bagi kedaulatan RI, baik ancaman bersenjata, maupun ancaman Asimetris, yang berdimensi ideologi, politik sosial dan budaya, teknologi dan informasi.

Seminar Nasional Pertahana ini juga menghadirkan beberapa nara sumber diantaranya Sekjen Kementrian Pertahanan RI, Marsdya TNI Eris Haryanto,MA, Pangdam IV/Diponegoro Majen TNI Ir. Mulhom Asyrof, Pangkohanudnas Marsda TNI JFP Sitompul, Pangarmatim Laksda TNI Agung Pramono, SH. MHum, dan Prof,Achmad Charris Zubair, dosen filsafat UGM.

http://portal.jogjaprov.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=720&Itemid

Pancasila: Sebuah Ideologi Pemersatu Perbedaan Bangsa

1 Juni, Untuk Indonesia Raya,

Sejenak flashback menuju masa 7 abad yang lampau dimana sebuah ambisi besar yang dikumandangkan oleh “Sang Panglima Besar” Mahapatih Gadjahmada dalam Sumpah Palapa untuk mempersatukan wilayah Nusantara menjadi suatu Negara Kesatuan di bawah Panji-Panji Kerajaan Majapahit. Keberhasilan Sang Mahapatih tentuna sudah kita ketahui dengan tunduknya sebagian besar wilayah pesisir Nusantara pada pangkuan Majapahi Sang Ibu Pertiwi pada saat itu. Selatan Negeri Siam, Semenanjung Melayu, Pesisir Kalimantan serta sebagian dari Kepulauan Sunda Kecil (Indonesia Bagian Timur saat ini) mengakui wilayahnya sebagai bagian ataupun vasal vasal Negara Majapahit. Namun, semua itu berlangsung lebih dari dua abad dalam kekuasaannya yang disebabkan bukan karena kalah perang oleh Negara musuh, melainkan hancur tak berbekas karena pertikaian antar sesama bangsa dalam bentuk perang saudara, pengkhianatan dan ketidakjujuran ekonomi.

Pertikaian antara sesama saudara di Negeri Nusantara ini sepertinya bukanlah barang baru bagi siapa pun yang menonton maupun orang-orang yang berada di dalamnya. Sehingga kaum imperialisme barat pun menggunakan kesempatan tersebut sebagai senjata yang ampuh untuk menaklukkan Nusantara dan bukan karena perang melainkan membiarkan kaum pribumi berperang satu sama lain. Sehingga kaum barat mengklaim penjajahan mereka di tanah air tercinta ini selama 3,5 abad adalah sebuah pembodohan belaka demi kepentingan politis bangsa penjajah (Aceh diawal abad 20 masih berbentuk kesultanan berdaulat).

Sejarah, baik dan buruk bukan sekedar suatu hal untuk disesali maupun dikenang saja, akan tetapi dengan mengenal sejarah bangsa ini bisa menyadari identitas dan jati dirinya sebagai bangsa yag besar tetapi dikerdilkan oleh musuh-musuh laten bangsa. Para pendiri bangsa Indonesia tentunya sangat memahami sejarah yang tidak pernah tercatat bahwa Indonesia pernah menjadi Negara Adi Daya  di belahan bumi selatan. Sehingga beliau para pakar dimasa kemerdekaan menyiapkan kemerdekaan bangsa ini dengan suatu konsep ideologi yang bernama Pancasila, dimana Pancasila tersebut merupakan suatu konsep untuk mempersatukan Bangsa Indonesia agar kebesarannya tidak tercabik-cabik kembali seperti negara-negara Nusantara pendahulunya. Konsep ke-Tuhanan yang maju terdepan sebagai wujud sebuah Negara beradab dengan mengedepankan moral-moral agama sebagai penangkal sifat dan karakter negatif setiap manusia. Konsep kemanusiaan, dimana membentuk dan mendoktrin seluruh warga Negara untuk memahami arti manusia sebagai makhluk Tuhan yang sempurna dan anti terhadap penindasan serta menjaga hak-hak dasar sebagai anugerah Sang Khalik kepada kita semua. Konsep persatuan bangsa yang merupakan penangkal dari segala macam perbedaan dan kemajemukan bangsa yang terdiri dari 17508 pulau dengan 700 bahasa serta 300 etnis sehingga diharapkan manusia-manusia Indonesia akan menjadi manusia yang saling menghargai, tidak saling bermusuhan dan meninggalkan sifat pikir sektoral yang merupakan salah satu unsur penghancur bangsa-bangsa terdahulu. Konsep keempat yaitu suatu kerakyatan, kebersamaan dan kegotong royongan antara sesama rakyat Indonesia agar yang kuat membantu yang lemah dan yang lemah maju terus berusaha menjadi kuat, agar yang kaya membantu yang miskin dan yang miskin mau membunuh kemalasannya serta siapa pun yang berada di atas mau untuk terus mengangkat saudaranya yang berada di bawah dan yang di bawah mau untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Yang terakhir adalah konsep keadilan untuk bersama dimana segala sesuatu yang berharga menjadi objek vital bangsa dilindungi oleh Negara dan diolah oleh Negara untuk pemerataan pembangunan bangsa Indonesia menuju kejayaan kembali sebagai bangsa yang besar tetapi tidak kerdil.

 

1 Juni 2012,

Berapa dari komponen bangsa ini yang ingat dan menyadari bahwa 67 tahun yang lalu konsep perumusan ideologi bangsa yang bernama Pancasila disahkan sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia. Indonesia memang berbeda, disaat bangsa lain berlomba-lomba dan bersaing memenangkan perang ideologi kapitalis, liberalis dan komunis tetapi Indonesia tidak bergeming dengan ideologi Pancasila kecuali bagi mereka-mereka yang kurang memahami konsep berbangsa dan bertanah air Indonesia. Sebuah ciri yang masih tersisa dari kebesaran masa lampau dimana kekuatan prinsip pedoman hidup Pancasila yang mencerminkan kebesaran Indonesia dimasa yang akan datang. Tugas bangsa dalam generasi masa kini hanyalah mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia dengan memahami konsep dasar berbangsa dan bertanah air bukan mengotorinya dengan paham-paham lain dari negeri antah berantah.

Untuk Indonesia,

Sriwijaya telah menjadi Majapahit, Majapahit telah menjadi NKRI, maka pertahankanlah Pancasila untuk Merah Putih agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap bernama Indonesia.

SevenEleven