Pilot: Thanks God, Weather is Always Good

Indonesia yang terhampar pada daerah yang beriklim tropis, memiliki dua musim, yakni musim kering dan hujan. Dalam dunia penerbangan yang semakin didukung oleh teknologi canggih, namun musim hujan tetap menjadi saat-saat yang perlu kewaspadaan, karena keganasan alam hanya dapat direduksi bukan dilawan namun tidak pula dihindari atau kita remuk redam di dalamnya.

Tentunya para penerbang sudah sangat paham akan isi artikel ini, namun artikel singkat ini sekedar reminder. Di penghujung bulan Oktober, lazimnya mulai masuk dalam musim hujan dan berbanding lurus dari itu, penghujung akhir tahun adalah “peak season” bagi dunia penerbangan dimana akan banyak kebutuhan transportasi udara demi mendukung mobilitas liburan akhir tahun.

Bukan untuk dihindari, namun perlu diingat kembali pentingnya “error management” bagi para penerbang dalam menjalankan tugas mulianya yang harus mencapai safety tinggi dengan capaian operasional yang optimal.

Indentifikasi situasi dalam menghadapi cuaca hujan lebat dan badai sangat penting untuk dilakukan, dengan identifikasi yang tepat maka akan dapat mengurangi kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi.

Memperhatikan kembali “take off and landing performance assessment”, inflight performance check dan approach and landing accident reduction toolkit menjadi sangat penting sehingga identifikasi situasi menjadi berdasar untuk memutuskan menghindar atau melanjutkan dan tidak terjebak dalam incorrective action.

Course of action, sebuah dasar penting dalam menentukan keputusan bagi seorang penerbang guna mendapatkan situation awarness yang tepat berdasarkan standard operational procedure yang benar.

Masih banyak hal lain yang tidak disebut dalam artikel ringan ini, namun esensinya adalah, cuaca selalu bagus untuk umat manusia, tapi perlu dingat bahwa anak istri beserta keluarga menunggu dengan setia di rumah menanti sang penerbang kembali dengan senyuman, demikian juga halnya dengan para penumpang.

 

Salam Penerbangan,

 

Teddy Hambrata Azmir

In Love with aviation since Babyborned

Advertisements

Integrated Air Maritime System And Coordination

Sudah jelas posisi Indonesia yang secara geografis berada pada posisi silang jalur perdagangan dan industri dunia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan program poros maritim yang begitu brilian dicanangkan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Pemahaman maritim, dari dulu hingga sekarang hanya dipahami sebagai bidang kelautan, padahal sejak awal abad ke 20 Wright bersaudara telah membuat dunia maritim menjadi lebih efektif, efesien dan tepat waktu dengan keberadaan penerbangan dunia.

Dalam artikel ini, demi menghindari kerancuan terminologi tersebut di atas, maka saya menyampaikan terminologi baru dalam dunia kemaritiman Indonesia, yaitu “Air Maritime” sehingga terminologi yang dalam bahasa internasional ini nantinya dapat dipahami berbagai kalangan dengan lebih mudah tanpa mengurangi arti penting bahasa Indonesia dengan pengertian “Kemaritiman Udara”.

Sebagai negara yang besar secara kuantitas dan luas, namun Indonesia masih belum memiliki sistem terpadu yang dapat mengatur dunia “air maritime” kedirgantaraan nasional. Belum ada sistem terpadu yang dapat mengatur penerbangan Indonesia yang terkoordinasi dengan baik antara sipil dan militer, padahal militer dalam hal ini Kohanudnas adalah komponen utama sebagai efek deteren agar diplomasi Indonesia dapat lebih dipandang dengan baik di dunia internasional terutama mengenai persiapan pengambilalihan FIR Kepri yang saat ini dikuasai Singapura.

Banyak kalangan berkeinginan agar FIR Kepri dapat segera kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun “kaki-kaki” diplomasi belum tertancap dengan kuat. Masih terdapat egosentris antar instansi yang sangat kurang saling berkoordinasi. Dalam hal ini tentunya Kohanudnas dan Airnav Indonesia sebagai pemegang peran utama.

Pesawat-pesawat asing yang sering dan beberapa kali masuk tanpa ijin melintas di angkasa Indonesia, pun ternyata ada kemungkinan karena dalam peta udara Air Defence Identification Zone Indonesia hanya berada di atas pulau Jawa dan Madura, sehingga wilayah lainnya bisa jadi dianggap sebagai jalur internasional yang bebas dapat dilewati oleh siapapun. Padahal dari Sabang hingga Merauke ruang udara Indonesia sangat luas dan berpotensi menghasilkan devisa negara yang besar pula.

Mari kita samakan sudut pandang, berikut adalah pemahaman tentang kedaulatan wilayah udara dalam suatu negara. Mengacu pada pasal 2 konvensi Chicago 1944, menyatakan di atas laut territorial sampai ketinggian tidak terbatas adalah kedaulatan suatu Negara. Dalam dunia penerbangan, terdapat dua macam wilayah penerbangan, yakni Flight Information Region (FIR) dan Upper Information Region (UIR). Wilayah udara ditentukan berdasarkan kedaulatan dan keamanan Negara, sedangkan wilayah penerbangan diadakan berdasarkan pertimbangan keselamatan penerbangan.

Apakah Indonesia telah memiliki perangkat lunak sebagai pengatur utama batas-batas wilayah udaranya? Sehingga menjadi pertanyaan besar sejauh mana fiksasi pasti wilayah udara Indonesia yang sah dan diakui oleh dunia. Perangkat lunak dan infrastruktur harus disiapkan untuk menyambut kembali kedaulatan Indonesia di udara dalam bentuk “Integrated Air Maritime System and Coordination”. Sebuah sistem terpadu yang benar-benar terintegerasi antara militer dan sipil demi memperkuat sarana diplomasi menancapkan “kaki-kaki” kedaulatan dengan penuh daya.

“Integrated Air Maritime System and Coordination” sebagai sistem koordinasi terpadu penguat diplomasi internasional indonesia harus didukung dengan pembangunan pangkalan-pangkalan aju TNI menjadi pangkalan utama. Tidak lagi berada di tengah-tengah kota, namun berada pada ujung batas negara menjadi lebih efektif dalam perkuatan “Integrated Air Maritime System and Coordination” nantinya dengan menempatkan pemuda-pemuda yang energik dengan kualifikasi yang memadai.

“Integrated Air Maritime System and Coordination” adalah Indonesia punya gaya dalam propaganda perebutan kembali kedaulatan negara di udara Indonesia baik Flight Information Region (FIR) dan Upper Information Region (UIR) serta Air Defence Identification Zone yang mencakup seluruh wilayah nasional Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari Mianggas hingga Pulau Rote.

Jaya Selalu Tanah, Air dan Udara Indonesia
Salam Penerbangan

Teddy Hambrata Azmir

Pilot Indonesia Menuju 72 Tahun Merdeka

FB_IMG_1502180985081

Peran pilot dalam pembangunan nasional poros maritim Indonesia tentunya sangatlah besar. Negara Kepulauan dengan panjang pantai 99000 kilometer dengan 17500 pulau yang terpisah-pisah oleh banyak perairan, transportasi udara menjadi salah satu komponen utama dalam perekonomian negara dan suplai barang dari Indonesia barat ke timur atau sebaliknya. Keunggulan transportasi udara menjadikan segala kebutuhan ekonomi semakin efektif, efisien, cepat dan tepat waktu.

Menuju perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 72, permasalahan Pilot Indonesia masih tetap sama dalam lima tahun terakhir, yakni masalah suplly and demand yang kurang ter-rasio dengan tepat dimana permintaan akan kebutuhan pilot real dari maskapai lebih kecil daripada jumlah lulusan pilot dengan maraknya sekolah pilot di Indonesia.

Sekolah, adalah salah satu ciri sebuah peradaban pada suatu negara. Keberadaan Sekolah adalah wajib sebagai bagian penting dari pembentukan mental dan pengetahuan generasi penerus bangsa. Demikian halnya dengan Sekolah Pilot, dimana Sekolah Pilot adalah wadah yang baik untuk mencetak generasi pilot Indonesia dimasa yang akan datang.

Akan tetapi, dengan kondisi saat ini, telah terdapat lebih dari 800 lulusan pilot yang belum mendapatkan kesempatan bekerja (data tahun 2016). Bertambahnya waktu, lambat laun jumlah pengangguran ini akan terus bertambah karena pada sisi lain, sekolah pilot juga sebuah bisnis yang menjanjikan dan tidak mungkin ditutup ijin operasionalnya.

Menutup sekolah pilot, adalah solusi yang tidak bijak, namun terus membiarkan sekolah pilot rendah kualitas terus beroperasi justru akan semakin menambah pengangguran. Sekolah dengan kualitas rendah yang dimaksud adalah, ketika suatu sekolah pilot hanya berorientasi bisnis untuk mengejar pengembalian modal investasi tanpa mempertimbangkan hasil output.

Kualitas rendah sekolah tersebut akan menghasilkan lulusan sebagai pilot berkualitas rendah yang sama sekali tidak dibutuhkan oleh maskapai dalam operasional penerbangannya. Perlu adanya audit menyeluruh pada sekolah-sekolah yang rendah kualitas dan melakukan merger diantaranya sehingga dengan permodalan yang lebih sehat maka akan menambah kualitas pendidikan yang diberikan.

Beberapa instansi sipil maupun pemerintah ada yang membuat program master degree untuk pilot, namun sejatinya lulusan Sekolah Pilot hanya setingkat diploma  dan entah bagaimana mereka bisa sekolah hingga strata master namun tingkatan yang mereka miliki terbatas pada diploma 2.

Dunia penerbangan umum atau sering didengar dengan sebutan General Aviation yang paling dominan dengan penerbangan perintis maupun charter cargo hingga tahun ini juga masih dominan oleh pekerja asing. Pilot-pilot asing tersebut biasanya hanya mengambil pengalaman dan jam terbang untuk memenuhi requirement bekerja di daerah asalnya seperti Asutralia dan beberapa negara Eropa. Ekspatriat tersebut terus silih berganti dan pilot-pilot muda Indonesia hanya menanti.

Diakhir tulisan, Pilot Indonesia belum memiliki sebuah wadah bersama yang peduli, efektif dan konsisten serta diakui legal aspeknya oleh pemerintah untuk menaungi segala profesi pilot. Ada organisasi pilot yang terakhir diakui sesuai oleh Keputusan Menteri pada saat orde baru namun telah ditinggalkan oleh anggotanya, adapun reformasi terhadap organisasi  tersebut dalam bentuk yang baru juga masih belum efektif dan efisien untuk melakukan sebuah program nyata dengan kinerja yang nyata pula. But, The Pilots must Go On!!! Jayalah selalu Tanah, Air dan Udara Indonesia!!!

Salam Penerbangan Indonesia

Teddy Hambrata Azmir

 

 

Pilot Indonesia: Jatidiri Bangsa Luhur

Secara turun menurun, bangsa kepulauan yang bernama Nusantara selalu diajarkan untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal jatidiri sebagai awal dari menuju kemajuan yang lebih besar dan baik bagi anak cucu bangsa. Mengenal asal usul, sehingga tahu arti penting diri sendiri bagi lingkungan sekitar bahkan bagi kebutuhan bangsa yang lebih besar.

Penting pula bagi pilot Indonesia, untuk mengenal jatidiri yang sebenarnya, bahwa sejarah membuktikan bahwa Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan sebagai turunan asli dari Nusantara pada masa lalu hanya dapat dihubungkan oleh kapal laut karena pesawat baru ada pada awal abad ke-dua puluh.

Namun, dari sejarah itu, dapat ditarik sebuah benang merah, bahwa di jaman yang modern saat ini, pesawat udara adalah komponen pokok bangsa Indonesia yang dapat menghubungkan pulau-pulau sejumlah tujuh belas ribuan tersebut dengan lebih mudah, efektif dan efisien.

Ketika telah memahami jatidiri itu, maka sejatinya kita bisa lebih mengenal arti penting profesi Pilot Indonesia sebagai salah satu komponen utama berlangsungnya sebuah Negara. Dengan memahami jatidiri sebagai Pilot Indonesia sebagai indoktrinasi demi menepis banyak permasalahan Pilot Indonesia mulai dari jumlah pengangguran, hingga penyalahgunaan obat terlarang dan psikotropika.

Pilot Indonesia, sebagai pemimpin yang berbudhi luhur, sehingga dalam sebuah penerbangan merupakan manusia yang berkeTuhanan dan selalu berada dalam track yang benar, adil serta memiliki sifat-sifat kesederhanaan. Berbakti pada nusa dan bangsa dengan mendukung cita-cita nasional; menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia; mencintai Negara demi mencapai kebahagiaan rakyat Indonesia.

Pilot Indonesia, adalah manusia yang memiliki keperwiraan, taat dan memegang teguh kesetiaan serta dapat menjadi soko guru bagi bawahannya. Berani karena benar dan bertanggung jawab dalam setiap perbuatan dan tindakannya.

Pilot Indonesia, memiliki keutamaan dan selalu maju serta tampil terdepan sebagai penegak persaudaraan dengan menjunjung tinggi perikemanusiaan. Akan selalu menjunjung tinggi nama korps pilot Indonesia dan membawa harum nama bangsa Indonesia baik bertugas di dalam maupun di luar negeri sehingga kehormatan bangsa terjaga dengan segala prestasi yang terbaik.

Pilot Indonesia akan selalu menjadi korps bisnis utama dalam setiap bisnis aviasi di Indonesia dan memiliki peran penting dalam perekonomian bangsa Indonesia yang berkesatuan luhur tersambung dengan mudah, efektif dan efisien mulai dari Sabang hingga Merauke.

“Budhi, Bakti, Wira, Utama”

 

Salam Penerbangan,

Teddy Hambrata Azmir

 

 

Pancasila: Iya Atau Tidak?

Masih dalam suasana #pekanpancasila dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Subjektifitas mengatakan 1 Juni; 22 Juni; atau 18 Agustus sebagai hari jadi dalam berbagai versi, namun biarlah subjektifitas tenggelam dalam kenyataan bahwa Proklamator telah tetapkan 1 Juni sebagai hari resminya.

Sebagai manusia yang pernah disumpah secara Syar’i dibawah naungan kitab suci untuk selalu setia kepada Pancasila dan UUD 1945, walaupun masa purna dini telah dijalani namun sumpah tetap berlaku selama hayat dikandung badan. Pernah hidup pada rezim orde baru dan menyaksikan perubahan dalam alam reformasi.

Bukan termasuk pendukung rezim orba, karena sangat merasakan hegemoni Javanisme yang begitu dominan pada masa itu, namun juga termasuk kecewa dengan keberadaan era reformasi saat ini yang hampir membawa negeri gemah ripah loh jinawi terjerembab dalam jurang perpecahan.

Nilai-nilai luhur Pancasila yang sedemikian indah terasa sukses dalam 32 tahun Indonesia menjadi negara yang memiliki stabilitas politik yang aman dan tenteram. Penggemblengan otak dalam penataran P 4 dalam setiap edukasi resmi mulai dari Sekolah Dasar hingga pergguruan tinggi maupun semua lini bangsa.

Ada mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang senantiasa membawa moral anak anak bangsa menjadi stabil dan tidak bertindak aneh seperti zaman kalabendo ini. Anak bandel biasa, bawa rantai biasa, celana cutbray pun oke saja, namun semua berada dalam norma-norma kebaikan dan susila yang baik.

Lupa akan sejarah bangsa, apakah masih ada pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa pada anak anak kita hari ini? Hapal kah mereka kepada siapa siapa pahlawan nasional, kemerdekaan dan perjuangan kemerdekaan bangsa? PSPB, sebuah pelajaran pembangkit jati diri cikal bakal penerus bangsa seperti hilang ditelan bumi.

Bukan maksud melihat kebelakang untuk mundur ke masa lalu, namun, sewajarnya membandingkan dua masa yang pernah kita alami. Hampir 20 tahun era reformasi, sudah lebih dari setengah usia berkuasanya rezim orba, namun tren menurun  terjadi mengenai moral bangsa pada setengah dekade terakhir. Bolehkah kita cemas atas kondisi negeri tercinta ini?

Ironi, ketika semua bicara Pancasila, bicara Bhineka Tunggal Ika, tapi sedikit yang mengikuti perkembangan bahwa butir butir Pancasila telah teramandemen beserta UUD 1945 pun serupa. Slogan slogan bertebaran hanya sebagai alat eksistensi dalam sosial media tanpa tahu ISI dan ILMU yang benar. Pun yang benar tertuduh salah, dan yang tidak benar merasa benar.

Jika cinta Pancasila, kenapa tidak kembalikan penataran P 4 seperti sedia kala? Kenapa tidak kembalikan moral bangsa dengan kurikulum PSPB, PMP, Pra Karya dan sebagainya itu. Sejelek jeleknya orde baru, akan tetapi terbukti selama 32 tahun Kesaktian Pancasila terjaga kuat tanpa embel embel media masa. Hanya senyap, bertindak dan aman.

Sejarah bangsa kita adalah kita punya dan kita yang catat serta kita yang banggakan sebagai Jati Diri bangsa merdeka yang berdaulat dan beradab. Kesaktian Pancasila tidak akan pernah kembali hanya dengan tagline atau hastag di media sosial, namun harus di pahami, praktekkan dan diamalkan.

Jadilah sebagai bagian dari ILMU untuk bangsa yang kita cintai.

Selamat Hari Jadi Pancasila

1 Juni 2017

-Dari Pendukung Setiamu-

Indonesia: Merajut Pulau Dengan Penerbangan Amfibi

Banyak kalangan mulai menyadari pentingnya peran transportasi udara dalam perhubungan antar pulau di Indonesia. Sejalan dengan program pemerintah Republik Indonesia mengenai Poros Maritim nasional sebagai poros utama penghubung antara dua samudera dan dua benua di dunia. Terlebih Indonesia yang memiliki belasan ribu pulau dengan garis pantai terpanjang di dunia melintas dari Sabang hingga Merauke melingkat dari barat, selatan, timur dan utara.

Bukan hanya slogan, bahwa negeri penggalan surga yang sering disebut dengan “nirwana nusantara” ini bahwa dua per tiga bagian diantaranya adalah lautan dengan wilayah udara meng-cover seluruh bagian cakrawala. Melalui transportasi udara, Indonesia sejatinya dapat terhubung satu sama lain di antara pecahan-pecahan pulau yang perpisah oleh lautan.

Memanfaatkan kekayaan strategis bangsa sudah menjadi keniscayaan yang harus dilakukan demi pemerataan ekonomi rakyat Indonesia itu sendiri. Namun, berbagai permasalahan dalam dunia penerbangan salah satu diantaranya adalah investasi yang mahal dan kurangnya pemanfaatan dari penerbangan amfibi.

Di dunia penerbangan kita mengenal penerbangan amfibi sebagai sebuah aktifitas penerbangan yang dapat melakukan pendaratan dan tinggal landas dari air maupun daratan. Bahyak sekali tipe dari pesawat yang digunakan untuk penerbangan sejenis dengan cirikhas pesawat yang memiliki float yang dapat membuat pesawat tersebut mengapung di air seperti kapal laut.

Dengan penerbangan amfibi, semestinya Indonesia akan lebih dapat mengoptimalkan kebutuhan perhubungan udara tanpa memerlukan airport melainkan seaport. Tentunya, seaport diharapkan tidak memerlukan pembebasan lahan yang memakan waktu dan birokrasi yang cukup panjang. Dalam setiap pulau di Indonesia memiliki banyak pantai yang luar biasa indahnya dan sangat cocok untuk di darati oleh pesawat amfibi.

Hingga saat ini, sudah ada beberapa maskapai swasta yang berusaha mengembangkan sayapnya melalui aktifitas penerbangan amfibi tersebut, walaupun masih belum ada yang fokus berdiri sebagai maskapai ampfibi dengan kekhususan pesawat amfibi. Sudah banyak sebenarnya konsep-konsep mengenai penerbangan amfibi ini, namun sepertinya belum mendapatkan perhatian serta belum dianggap sebagai investasi yang menarik.

Jika pemerintah Republik Indonesia bisa lebih memperhatikan konsep-konsep penerbangan amfibi ini, bukan tidak mungkin akan sangat mendukung dalam hal penambahan lapangan pekerjaan untuk pilot dan non pilot; peningkatan mutu dan frekuensi sektor pariwisata; peningkatan sektor perikanan dan kelautan; dan tentunya mendukung terhadap meningkatnya perhubungan udara Indonesia menjadi lebih mudah dan baik.

Dari segi investasi, tentunya dengan tipikal negara tropis dengan pantai berpasir putih dan air yang jernih, untuk pariwisata, aktifitas penerbangan amfibi tentunya menawarkan investasi yang tidak kalah menarik dengan penerbangan biasa. Demikian halnya dengan sektor perikanan dan kelautan dimana ketika kita mau mengambil ikan ataupun sumber daya alam lautan lainnya akan menjadi semakin mudah, singkat, efektif dan efisien.

Menilai dari empat aspek, Strength, kita mengetahui bahwa kekuatan pada keunggulan produk karena belum ada yg berhijrah secara utuh pada bidang sasaran penerbangan amfibi ini; Weakness, standar dunia penerbangan dimanapun bahwa kelemahan pasti mengenai masalah cuaca, alam dan terrain, namun semuanya dapat diatasi dengan prosedur yang memadai; Opportunity, kesempatan masih sangat luas peluangnya apabila di sokong dgn sumber dana yg baik dan benar; Threats, satu-satunya tantangan terberat adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak mengenai aktifitas penerbangan amfibi yang menarik untuk didukung invetasi non politis.

Indonesia ini milik kita, jika kita mau pasti kita bisa bersama. Laut dan udara dapat berkolaborasi demi mereka yang hidup di daratan. Tentunya, pola fikir sektoral harus dipupuskan jika benar ingin mengembangkan apa yang kita punya di negeri ini. Indonesia tetap memiliki banyak peluang untuk berkembang dan salah satu peluang terbesarnya adalah melalui transportasi udara amfibi.

img-20170305-wa0000

Salam Penerbangan,

Capt Teddy Hambrata Azmir

Technical Director 3 General Aviation

Ikatan Pilot Indonesia