Cerita Di Hari Pilot Dunia

DCEF79B8-3797-4153-AE02-60E94C20FD40

Berangkat dari sebuah cerita film perwira dan ksatria yang diperankan oleh Dede Yusuf di  era tahun 1980-an, kemudian menggemari film-film box office ala Hollywood seperti “Top Gun” ataupun serial iron eagle didukung dengan kehidupan dan lingkungan yang sangat membuat motivasi untuk mewujudkan mimpi dan menjadi kenyataan. Besar di lingkungan Halim Perdanakusuma menjadikan diri semakin termotivasi untuk menjadi penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara.

Tiba pada pengalaman terbang pertama kali dengan menggunakan pesawat layang (glider)  saat menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara, Jogjakarta. Saat itu cukup mengerikan untuk pertama kalinya karena saya membayangkan bagaimana pesawat tanpa mesin tersebut bisa terbang dengan aman, namun setelah instruktur saya mengajarkan dan memberi keyakinan bahwa  selama sayap glider tersebut tidak lepas dari badannya maka saya akan terus aman selama penerbangan.

Melewati masa pendidikan dengan gembira, akhirnya saya terpilih menjadi seorang siswa  sekolah penerbang menjadi sebuah tantangan dengan motivasi tinggi. Terbang solo pertama  dengan call sign siswa “Sierra 6601” yang menandai angka 66 adalah Sekolah Penerbang Angkatan 66 dan 01 adalah siswa dengan predikat solo pertama untuk angkatan 66.

Marmo Tower…Lima Mike 2004; Lima Mike 2004…Marmo Tower Go Ahead!; Lima Mike 2004 Control by Sierra 6601 Ready for Taxi”.

“Ready for Take Off Sierra 6601”…“Throttle Full Open… speed 40  Kias…unstick…”dan mengudaralah sierra 6601 untuk pertama kalinya di angkasa Indonesia Raya.

Subhanallah…Menakjubkan! Melihat cakrawala luas di depan tanpa batas. Hilang sudah  semua keragu-raguan yang pernah membuat angan-angan. Flying is so amazing! Semakin  membulatkan tekad dan cita-cita saya untuk bisa menjadi seorang penerbang pesawat tempur. Optimistik ”kata bisa“ telah men-stimulasi seluruh panca indera untuk terus berikhtiar hingga cita dan asa terpacai.

Dan ketika turun dari pesawat selain mendapatkan ucapan selamat dari para instruktur, saya juga dapat tambahan “gigs sebagai konsekuensi karena terlalu tegang sehingga tidak meng-acknowledge clearance dari Marmo Tower saat final approach. “Saya berjanji agar tidak  mengulangi kecerobohan yang saya lakukan di kemudian hari”. Demikian kalimat yang harus saya tulis berulang sebanyak seratus kali dalam “gigs” tersebut agar saya selalu ingat setiap kesalahan  dan tidak mengulanginya lagi.

Maka gantungkan cita-citamu setinggi langit dan jangan pernah menyerah!. Menjadi seorang penerbang tempur sudah saya jalani selama 12 tahun dan terus mengabdi untuk menghubungkan Indonesia sebagai negara kepulauan. Terus bercita-cita dan pantang menyerah.

“When i was flying away to the cloudy sky…fly to discover of the world… cause you know i  am an officer…for my pride, for my nation and for the truth….”  

59B8EB49-7A1A-42DA-BE2D-543DEF5539F6

Selamat Ulang Tahun Indonesia

BB2CA3A2-583F-4787-98F0-E761BA6F43F4.jpeg

Indonesia menuju ke tujuh puluh empat tahun sejak usai Belanda dan Jepang hengkang dari bumi nan indah permai ini, bukanlah sebuah bangsa muda yang baru saja muncul paska perang dunia kedua usai, namun adalah sebuah bangsa yang memiliki jati diri kuat namun terhambat.

Hampir dari tiga setengah abad berada dalam administratif eropa walaupun hingga awal abad ke dua puluh masih berdiri beberapa Kesultanan berdaulat sebagai sisa-sisa kejayaan masa lampau sebagai proxy safe house peperangan dunia karena memiliki sumber daya penghasil makanan dan uang yang begitu melimpah untuk para pemenang perang.

Ada Jayakatwang melawan Kertanegara, Sang Raden WIjaya menantang Jayakatwang dan Gajahmada yang berperang dengan Si Menak Jinggo sebagai gambaran politik masa abad pertengahan Indonesia saat itu. Kepentingan golongan bertahta sekian abad di Negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Jati diri adalah kebutuhan bagi sebuah bangsa yang ingin kembali menjadi besar. Sebagai contoh adalah Negeri Tionghoa yang pernah runtuh pada awal abad ke dua puluh namun kembali bangkit di era milenial saat ini. Karena mereka memiliki jati diri sebagai pencatat sejarah dunia hingga ribuan tahun yang lalu.

Seperti kata Deng Xiao Ping bahwa “crossing the river by feeling its stones” yang sangat berhati-hati namun cermat dalam mengembalikan kejayaan negerinya.

Wujud politik Indonesia yang sarat dengan kepentingan segala arah dan konspirasi hantu tak berwujud kian lama akan membawa negeri tercinta ini semakin terpuruk. Ulama berselisih dengan eksekutif, rakyat pun menghina legislatif, wong tuo tak dihargai dan bocah-bocah pun tak lagi anggap surga ada di telapak kaki ibunda.

Lalu apa solusi untuk negeri? Tidak ada. Karena terlalu banyak orang pinter tanpa karakter yang menyebabkan setiap orang adalah yang paling benar. Anti kritik dan selesai di meja hijau apabila ada masukkan positif dengan berbagai tuduhan.

Kadang aku berpikir, bahwa negeri ini tidak perlu ada partai politik, tak berguna ada legislatif dan percuma ada eksekutif, cukuplah dengan seperangkat Ketua Kelas, Wakil Ketua, Sekertaris dan Bendahara tanpa ada senggolan kanan dan kiri demi sesuap hasrat harta dan tahta.

Kemudian, dari artikel singkat ini, apakah aku akan ikut berjuang memperbaiki negeriku? Jawabannya adalah TIDAK. Aku hanya ingin mencari rejeki dan berguna bagi anak-anakku abang Najim dan adek Faeyza agar kelak mereka menjadi anak-anak yang soleh dan solehah serta hormat lagi patuh pada orang tua.

Namun, apapun kondisinya, aku tetap Cinta Indonesia, Merdeka!!!

Aku Sudah Lebih Baik Sekarang

649109F5-BAA0-4397-A947-F45215160CAD

97F83800-D66E-4409-A1A7-5249E4C7924126990B96-8580-42B7-B8DD-D73B40BF098A

Tanpa ada sebuah perencanaan dalam hidup akan menjadi seperti cerita dalam sinema elektronik, namun semua terjadi begitu saja mengalir bagaikan aliran air kotor yang akan menjadi bersih ketika terus dialiri oleh aliran air yang lebih bersih.

Aku pernah mencintainya dengan sepenuh hati hingga akhirnya semua rasa itu kebas, kelu tak terasa sama sekali. Terlalu sering kata perpisahan yang diucapkan olehnya dan lupa bagaimana rasa seorang lelaki tanpa harga diri dihadapanya.

Aku korbankan semua prestasi gemilang demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik yang begitu diharapkannya, namun semuanya sirna karena syahwat harta tak juga terpuaskan baginya.

Bukan aku tak mau lagi memperbaiki yang sudah retak, namun emosional tak kunjung reda dari dirinya dan semakin hari semakin hilang rasa yang pernah ada itu.

Aku sayang Faeyzaku dan juga Najimku hingga akhirnya kuputuskan untuk berbagi diantara kedua buah hati antara Bandung dan Bekasi. Bagaikan menarik benang dalam tepung, benang ditarik tepung tak tersibak. Pelan namun pasti agar tidak ada yang terlalu terlukai namun aku akant erus berjalan melangkah untuk masa depan yang baru.

Aku tak dendam dan aku memaafkan, namun tak bisa melupakan. Aku tak pernah bisa melupakan setiap detik bersamanya hari-hariku hidup tanpa sebuah harga sebagai pribadi yang tak berarti daripada sebuah harta warisan.

Aku hidup dengan toleransi yang amat besar hingga mengorbankan karir gemilangku untuknya, namun saat ini aku sudah memutuskan dan tak akan mungkin aku pandang ke belakang untuk kembali mengurai kesedihan bertahun-tahun.

Ijinkan aku untuk melangkah kedepan dengan kehidupanku yang sedang aku upayakan tanpa kesedihan di dalamnya dengan seseorang yang membuatku bahagia pagi, siang dan malam, mau mengurus mayatku jika aku nanti mati dan yang tak pernah merasa kekurangan atas sebuah syahwat harta.

Aku yakin, kamu akan temukan sesuatu kehidupan yang kamu harapkan dan sesuai dengan yang kamu butuhkan. Kamu muda dan bertalenta dan aku akan kunjungi Faeyza dikemudian hari maka janganlah kamu sembunyikan si gemasku itu dari hadapanku.

 

Dari ketinggian 35000 kaki kuutarakan isi hatiku yang kelu.

Love Unicorn

Matahati Matahariku

20190520_175702

Mengejar matahari dalam sebuah bentuk kerinduan akan kebahagiaan dan ku telah temukan matahati matahariku…

Entah apa atau mengapa? Kutemukan matahatiku dalam sebuah rotasi matahariku dan dia yang telah membuat semuanya berubah kembali menjadi untaian keindahan hidupku…

Dan aku bercerita kepada dunia, bahwa aku begitu bahagia tanpa peduli bahwa yang salah akan menjadi benar dengan luluhnya keraguan dari sang pelita hati…

Dalam ribuan hingga tak terhingga hitungan langkahku berjalan untuk menemukan matahari, yang selalu menepati janji untuk tenggelam di petang dan kembali bersinar di pagi hari hingga tak tergantinya sebuah janji yang selalu ditepati sang matahati matahari…

Yang membuat kembalinya semangat-semangatku, hingga aku mampu untuk meneteskan air mata dari kerasnya hatiku dan tersenyum dikala memandang indahnya matahati matahari kala fajar maupun petang…

Dalam sebuah keniscayaan panjangnya cakrawala tak mampu menahan turunnya sang petang dan juga tak kuasa membendung naiknya sang fajar, namun demikian matahatiku beranjak pelita bersinar tersenyum dalam penghujung hujan badai dan memastikan semuanya tetap baik-baik saja…

Dalam hatiku, telah ada matahati dari Sang Matahari yang membawa kebahagiaan kembali memenuhi sanubari dan tersenyum bahagia…

Sorong, 9 April 2019

Tangerang 25 Mei 2019

 

 

 

 

Pilot: Thanks God, Weather is Always Good

Indonesia yang terhampar pada daerah yang beriklim tropis, memiliki dua musim, yakni musim kering dan hujan. Dalam dunia penerbangan yang semakin didukung oleh teknologi canggih, namun musim hujan tetap menjadi saat-saat yang perlu kewaspadaan, karena keganasan alam hanya dapat direduksi bukan dilawan namun tidak pula dihindari atau kita remuk redam di dalamnya.

Tentunya para penerbang sudah sangat paham akan isi artikel ini, namun artikel singkat ini sekedar reminder. Di penghujung bulan Oktober, lazimnya mulai masuk dalam musim hujan dan berbanding lurus dari itu, penghujung akhir tahun adalah “peak season” bagi dunia penerbangan dimana akan banyak kebutuhan transportasi udara demi mendukung mobilitas liburan akhir tahun.

Bukan untuk dihindari, namun perlu diingat kembali pentingnya “error management” bagi para penerbang dalam menjalankan tugas mulianya yang harus mencapai safety tinggi dengan capaian operasional yang optimal.

Indentifikasi situasi dalam menghadapi cuaca hujan lebat dan badai sangat penting untuk dilakukan, dengan identifikasi yang tepat maka akan dapat mengurangi kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi.

Memperhatikan kembali “take off and landing performance assessment”, inflight performance check dan approach and landing accident reduction toolkit menjadi sangat penting sehingga identifikasi situasi menjadi berdasar untuk memutuskan menghindar atau melanjutkan dan tidak terjebak dalam incorrective action.

Course of action, sebuah dasar penting dalam menentukan keputusan bagi seorang penerbang guna mendapatkan situation awarness yang tepat berdasarkan standard operational procedure yang benar.

Masih banyak hal lain yang tidak disebut dalam artikel ringan ini, namun esensinya adalah, cuaca selalu bagus untuk umat manusia, tapi perlu dingat bahwa anak istri beserta keluarga menunggu dengan setia di rumah menanti sang penerbang kembali dengan senyuman, demikian juga halnya dengan para penumpang.

 

Salam Penerbangan,

 

Teddy Hambrata Azmir

In Love with aviation since Babyborned

Integrated Air Maritime System And Coordination

Sudah jelas posisi Indonesia yang secara geografis berada pada posisi silang jalur perdagangan dan industri dunia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan program poros maritim yang begitu brilian dicanangkan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Pemahaman maritim, dari dulu hingga sekarang hanya dipahami sebagai bidang kelautan, padahal sejak awal abad ke 20 Wright bersaudara telah membuat dunia maritim menjadi lebih efektif, efesien dan tepat waktu dengan keberadaan penerbangan dunia.

Dalam artikel ini, demi menghindari kerancuan terminologi tersebut di atas, maka saya menyampaikan terminologi baru dalam dunia kemaritiman Indonesia, yaitu “Air Maritime” sehingga terminologi yang dalam bahasa internasional ini nantinya dapat dipahami berbagai kalangan dengan lebih mudah tanpa mengurangi arti penting bahasa Indonesia dengan pengertian “Kemaritiman Udara”.

Sebagai negara yang besar secara kuantitas dan luas, namun Indonesia masih belum memiliki sistem terpadu yang dapat mengatur dunia “air maritime” kedirgantaraan nasional. Belum ada sistem terpadu yang dapat mengatur penerbangan Indonesia yang terkoordinasi dengan baik antara sipil dan militer, padahal militer dalam hal ini Kohanudnas adalah komponen utama sebagai efek deteren agar diplomasi Indonesia dapat lebih dipandang dengan baik di dunia internasional terutama mengenai persiapan pengambilalihan FIR Kepri yang saat ini dikuasai Singapura.

Banyak kalangan berkeinginan agar FIR Kepri dapat segera kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun “kaki-kaki” diplomasi belum tertancap dengan kuat. Masih terdapat egosentris antar instansi yang sangat kurang saling berkoordinasi. Dalam hal ini tentunya Kohanudnas dan Airnav Indonesia sebagai pemegang peran utama.

Pesawat-pesawat asing yang sering dan beberapa kali masuk tanpa ijin melintas di angkasa Indonesia, pun ternyata ada kemungkinan karena dalam peta udara Air Defence Identification Zone Indonesia hanya berada di atas pulau Jawa dan Madura, sehingga wilayah lainnya bisa jadi dianggap sebagai jalur internasional yang bebas dapat dilewati oleh siapapun. Padahal dari Sabang hingga Merauke ruang udara Indonesia sangat luas dan berpotensi menghasilkan devisa negara yang besar pula.

Mari kita samakan sudut pandang, berikut adalah pemahaman tentang kedaulatan wilayah udara dalam suatu negara. Mengacu pada pasal 2 konvensi Chicago 1944, menyatakan di atas laut territorial sampai ketinggian tidak terbatas adalah kedaulatan suatu Negara. Dalam dunia penerbangan, terdapat dua macam wilayah penerbangan, yakni Flight Information Region (FIR) dan Upper Information Region (UIR). Wilayah udara ditentukan berdasarkan kedaulatan dan keamanan Negara, sedangkan wilayah penerbangan diadakan berdasarkan pertimbangan keselamatan penerbangan.

Apakah Indonesia telah memiliki perangkat lunak sebagai pengatur utama batas-batas wilayah udaranya? Sehingga menjadi pertanyaan besar sejauh mana fiksasi pasti wilayah udara Indonesia yang sah dan diakui oleh dunia. Perangkat lunak dan infrastruktur harus disiapkan untuk menyambut kembali kedaulatan Indonesia di udara dalam bentuk “Integrated Air Maritime System and Coordination”. Sebuah sistem terpadu yang benar-benar terintegerasi antara militer dan sipil demi memperkuat sarana diplomasi menancapkan “kaki-kaki” kedaulatan dengan penuh daya.

“Integrated Air Maritime System and Coordination” sebagai sistem koordinasi terpadu penguat diplomasi internasional indonesia harus didukung dengan pembangunan pangkalan-pangkalan aju TNI menjadi pangkalan utama. Tidak lagi berada di tengah-tengah kota, namun berada pada ujung batas negara menjadi lebih efektif dalam perkuatan “Integrated Air Maritime System and Coordination” nantinya dengan menempatkan pemuda-pemuda yang energik dengan kualifikasi yang memadai.

“Integrated Air Maritime System and Coordination” adalah Indonesia punya gaya dalam propaganda perebutan kembali kedaulatan negara di udara Indonesia baik Flight Information Region (FIR) dan Upper Information Region (UIR) serta Air Defence Identification Zone yang mencakup seluruh wilayah nasional Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari Mianggas hingga Pulau Rote.

Jaya Selalu Tanah, Air dan Udara Indonesia
Salam Penerbangan

Teddy Hambrata Azmir