Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit

                               Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit                                 
 

Berada di ketinggian 12.000 kaki dari permukaan tanah dengan kecepatan rendah sekitar 180 Kias membawa sebuah pesawat latih dalam penerbangan Navex dari Jogjakarta menuju pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Semua procedure mulai dari brifing pagi sampai dengan cek kesiapan pesawat berlangsung lancar dan aman. Penerbangan dari Adisujtipto menuju Selaparang short stop di Lanud Abdurrahman saleh malang. Catatan satelit cuaca dalam rute Abd-Mtm memang tidak begitu bagus, di beberapa check point terlihat berawan dan berpotensi hujan dengan thunderstorm. Akan tetapi dengan persiapan yang matang penulis memutuskan untuk melanjutkan penerbangan walaupun menggunakan peralatan navigasi konvensional.

Melewati check point “Entas” menuju “Agung” terlihat dari arah tenggara berkumpul awan “CB” dan diprediksi berada di ketinggian 8000 kaki. Penulis menyadari bahwa itulah medan juang yang harus dilewati sebelum landing di Bandara Selaparang. Air Traffic Controller menyampaikan pesan untuk segera turun di ketinggian 6000 kaki dan holding beberapa saat di atas “MTM” yaitu stasiun “VOR” Bandara Selaparang. Entah mengapa sequence landing yang seharusnya sequence number two dimundurkan menjadi sequence number four dan jatah landing “diserobot pesawat lain. Suatu kondisi yang tidak menguntungkan karena seharusnya pihak ATC memahami bahwa pesawat latih ini memasuki cuaca buruk dengan peralatan navigasi seadanya dan dikendalikan oleh siswa walaupun ada seorang Instruktur di kursi belakang bahkan sebelumnya sudah sempat diberi sequence kedua ternyata dimundurkan tanpa alasan yang jelas. Dengan keterbatasan peralatan, jumlah fuel yang semakin menipis dan cuaca buruk penulis ingin  ke Bandara Ngurah Rai yang sesuai perhitungan cukup untuk menuju ke sana, tetapi dengan jarak yang tidak jauh antara Lombok dan Bali sehingga cuaca di sana pun tidak jauh berbeda dengan di Lombok, belum lagi traffic di Bandara Ngurah Rai lebih padat.

Foto doc pribadi

Tanpa protes kepada pihak ATC akhirnya penulis mencoba untuk mengikuti apa yang telah ditentukan walaupun dengan emosi yang mulai membara. Ketidakpercayaan terhadap siswa di kursi depan pun mulai tumbuh karena ada pepatah dalam penerbangan bahwa “pembunuhmu adalah siswa pandaimu”. Terasa berat stick control  karena penulis beranggapan siswa terlalu tegang karena situasi kurang menguntungkan tersebut. Seakan-akan siswa dari depan menarik stick control terus ke posisi climbing, referensi dari artificial horizon pun menunjukan posisi climbing, sebaliknya penulis menahan stick terus ke depan sambil menginstruksikan “siswa agar jangan tegang!” ternyata diluar dugaan siswa tersebut mengatakan dia menahan stick karena posisi pesawat sudah menukik dengan percepatan 2500 ft/menit ke bawah. Bisa dikatakan jika kesadaran terlambat tidak sampai dua menit pesawat sudah masuk dalam bumi “naudzubillah”. Segera dengan kesadaran dan berpatokan pada vertcal speed indicator penulis mengangkat pesawat sesuai dengan limitasi  performance yang diijinkan.   Alhamdulillah masih dilindungi Allah dan diberi keselamatan. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat walaupun dalam kondisi below weather minima.

Dari kasus tersebut dapat dianalisa bahwa saat itu telah tejadi dispartial orientation pada diri penulis dikarenakan cuaca buruk dan artificial horizon pesawat di kursi belakang sebagai instrument utama yang menujukkan posisi pesawat terhadap sumbu horizontal error. Sehingga penulis tidak mendapatkan referensi yang benar dari indicator tersebut. Beruntung instrument di kursi depan milik siswa masih bagus dan siswa memiliki reaksi yang baik terhadap kondisi tersebut. Suatu pengalaman yang haram untuk dirahasiakan karena tentunya akan sangat berguna bagi dunia penerbangan jika hal-hal demikian dijadikan pelajaran untuk selalu allert dikemudian hari.

Alhamdulillah…Allah telah selamatkan kami….

Wassalam

SevenEleven

Advertisements

Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

 Setiap Negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif terhadap ruang udara di atas wilayahnya, dan tidak dikenal adanya hak lintas damai (sesuai dengan Konvensi Geneva 1944). Membaca pernyataan tersebut maka akan timbul beberapa pertanyaan penting bagi kita rakyat Indonesia. Seberapa luaskah ruang udara yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia? Seberapa kuatkah kemampuan bangsa Indonesia untuk menjaga wilayah dirgantaranya?

Berbicara tentang batas wilayah ruang udara suatu negara maka tidak lepas dari istilah GSO (Geo Stationery Orbit). GSO adalah ruang udara dimana suatu ruang udara yang dapat digunakan sebagai garis orbit satelit. GSO hanya berada pada ruang udara yang berada di atas garis Khatulistiwa seperti Indonesia, Kolombia, Ekuador, Brazil, Zaire, Uganda dan Kenya. Sedangkan Menurut Prof DR H Priyatna Aburrasyid, SH (mantan  Direktur International Institue of Space Law) panjang GSO yang melintas di atas ruang udara NKRI sejauh sekitar 35 ribu kilometer.

 

                           Credit Foto by Google

Melihat betapa luasnya GSO yang kita miliki, tidak salah jika penulis katakan bahwa kekayaan NKRI di wilayah udara pun sangat besar. Seandainya negara-negara maju yang menggunakan ruang udara NKRI memberikan kontribusi untuk devisa negara. Semua peralatan seperti televisi, radio maupun GPS bahkan persenjataan militer mutakhir pasti menggunakan  teknologi yang berkaitan dengan satelit. Maka sangat besar keuntungan yang akan masuk ke kas negara. Kenyataan berkata sebaliknya, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kita dimasa lampau maka hukum rimba yang berlaku “first come first serve”.

Harus diakui ketidakmampuan bangsa kita sampai saat ini untuk menjaga dan memanfaatkan kekayaan dirgantara Indonesia yang begitu besar. Semua tidak lepas dari peran kekuatan militer yang kita miliki. Kemungkinan besar bangsa yang besar ini tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa di dunia karena tidak mampu bersaing dalam hukum rimba yang telah berjalan puluhan tahun karena kekuatan militer yang masih lemah. Jika dilihat dari data yang ada saat ini, memang alutsista yang Indonesia miliki tergolong banyak, tetapi masih kurang banyak jika dibandingkan dengan luasnya negara ini.

Tidak terlalu muluk-muluk sebenarnya jika kita bermimpi NKRI akan menjadi kekuatan utama di dunia dan menguasai kekuatan dunia, karena potensi yang kita miliki memang sangat besar. Dengan menguasai ruang udara yang seharusnya milik kita maka semua negara-negara didunia akan sangat bergantung pada bangsa yang bertuah ini. Karena Kekaisaran Mongol saja membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat menguasai ¾ wilayah Euroasia dan kekhalifahan muslim dimasa lampau pun untuk dapat menguasai konstantinopel membutuhkan berabad-abad. Jadi bukan mustahil NKRI pun bisa jika mempunyai komitmen berbangsa dan tanah air.

“Hanya sebuah pemikiran awam seseorang yang ingin menjadi lebih baik dari hari ini”

 

Wassalam

SevenEleven