Finansial Catastrophe Pada Pilot Dalam Era Pandemi

Capt Teddy Hambrata Azmir (Praktisi Penerbangan Indonesia)

            Era pandemi covid 19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun sangat menjadi pukulan telak bagi dunia bisnis penerbangan dunia termasuk Indonesia. Jutaan kursi dari penjualan mengalami penurunan drastis dengan prosentase lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan penjualan normal sebelum pandemi berlangsung.

Nilai investasi yang jumlahnya triliunan rupiah pun membengkak karena bertambahnya hutang dan beban operasional beberapa maskapai hingga terjadi pemotongan gaji yang diluar ekspektasi. Hal ini tentunya dapat menjadi sebuah potensi hazard dalam dunia penerbangan terlebih para pekerja udara yang sejatinya harus bekerja membawa ratusan nyawa menjadi terbebani dengan sebuah ciri-ciri psikologi bernama Finansial Catasrophe dimana potensi kegagalan kontrol emosi dan motivasi akan sangat berakibat negatif.

Finansial Catastrophe, dalam translasi dapat diartikan sebagai sebuah bencana akibat kondisi keuangan yang bukan karena gaya hidup yang berlebihan, melainkan disebabkan oleh penurunan operasional penerbangan sehingga menyebabkan penghasilan sebagai profesi pilot menurun drastis berada di bawah standar kebutuhan dan rencana keuangan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. 

Pandemi yang berkelanjutan ini telah menyebabkan beberapa pilot menjual aset pribadi; menghabiskan tabungan bahkan tidak sedikit yang menjadi sasaran debt collector atau beralih profesi sebagai pebisnis usaha kecil menengah sembari tetap bekerja mengoperasikan pesawat terbang dengan beban yang tidak ringan tersebut.

Di dunia penerbangan, pilot merupakan sebuah profesi sebagai core bussiness dalam sebuah bisnis penerbangan itu sendiri, karena baik dan buruknya kondisi suatu bisnis penerbangan tergantung daripada baik kualitas pilotnya. Pilot juga salah satu pilar penjamin kualitas dalam bisnis penerbangan dimana quality excellent akan dapat tercapai dengan terpenuhinya operasional penerbangan yang baik dilengkapi dengan 100 persen keselamatan dan keamanan terbang.

Finansial catastrophe pada kondisi pandemi yang dialami banyak pilot saat ini, bukan mustahil akan menular kepada pilot lainnya yang mungkin saja saat ini masih memiliki ketahanan ekonomi dalam beberapa tabungan dan aset dalam beberapa tahun, mengingat pandemi covid 19 ini masih akan terus eksis mempengaruhi dunia penerbangan dalam dua atau tiga tahun ke depan .

Peristiwa yang mengganggu secara emosional, termasuk pertengkaran serius, kematian anggota keluarga, perpisahan atau perceraian, kehilangan pekerjaan, dan finansial catastrophe, dapat membuat pilot tidak dapat menerbangkan pesawat dengan aman. Emosi kemarahan, depresi, dan kecemasan dari kejadian-kejadian semacam itu tidak hanya menurunkan kewaspadaan tetapi juga dapat menyebabkan pengambilan risiko yang berbatasan dengan accident/incident. Setiap pilot yang mengalami peristiwa yang mengecewakan secara emosional harus mempertimbangkan untuk tidak terbang sampai pulih secara total.

Perlu sekali untuk dilakukan adalah tes psikologi bagi pilot di penerbangan sipil. Tes psikologi yang terintegerasi dengan medical check up rutin sudah menjadi kebutuhan penting dalam dunia penerbangan saat ini terutama dalam masa pandemi, karena tidak semua pilot yang berani menyampaikan segala permasalahan kepada perusahaan tempat bekerja, tergantung bagaimana sistem pembinaan yang dibentuk oleh suatu maskapai. Namun, jika berbicara kepada ahli psikologi tentunya akan jauh lebih baik dan netral.

Sehingga perlunya menganggap finansial catastrophe dengan sangat serius baik dari sisi operator maupun regulator demi terciptanya quality excellent secara menyeluruh. Menerapkan tinjauan manajemen berkala untuk mengevaluasi sistem manajemen mutu organisasi pada interval yang direncanakan dan untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan efektivitasnya yang berkelanjutan.

Pandemi telah membuat perubahan drastis terhadap kehidupan dunia saat ini, sehingga perlu fleksibilitas regulator untuk “kenyal” terhadap aturan main yang lama dimana kondisi saat ini sangat diperlukan audit keuangan dengan akuntan publik yang independen guna mengetahui kemampuan dan performa suatu maskapai. Logika, ketika komponen gaji sudah sangat menjadi beban perusahaan, artinya bagaimana dengan beban operasional lainnya yang dapat berakibat pada tidak terciptanya quality excellent yang berpotensi accident/incident.

Performa keuangan yang buruk dalam bisnis penerbangan adalah potensi yang sangat besar terhadap kontribusi meningkatnya grafik kecelakaan penerbangan di Indonesia, karena finansial catastrophe juga berlaku bagi pelaku bisnis penerbangan itu sendiri. Jika ditemukan kondisi keuangan yang sudah tidak baik, ada baiknya beberapa bisnis digabungkan (merge) sehingga dapat saling  meringankan beban. Bangkit dari Pandemi, menatap kenyataan! 

Salam Sehat!!

Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit

                               Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit                                 
 

Berada di ketinggian 12.000 kaki dari permukaan tanah dengan kecepatan rendah sekitar 180 Kias membawa sebuah pesawat latih dalam penerbangan Navex dari Jogjakarta menuju pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Semua procedure mulai dari brifing pagi sampai dengan cek kesiapan pesawat berlangsung lancar dan aman. Penerbangan dari Adisujtipto menuju Selaparang short stop di Lanud Abdurrahman saleh malang. Catatan satelit cuaca dalam rute Abd-Mtm memang tidak begitu bagus, di beberapa check point terlihat berawan dan berpotensi hujan dengan thunderstorm. Akan tetapi dengan persiapan yang matang penulis memutuskan untuk melanjutkan penerbangan walaupun menggunakan peralatan navigasi konvensional.

Melewati check point “Entas” menuju “Agung” terlihat dari arah tenggara berkumpul awan “CB” dan diprediksi berada di ketinggian 8000 kaki. Penulis menyadari bahwa itulah medan juang yang harus dilewati sebelum landing di Bandara Selaparang. Air Traffic Controller menyampaikan pesan untuk segera turun di ketinggian 6000 kaki dan holding beberapa saat di atas “MTM” yaitu stasiun “VOR” Bandara Selaparang. Entah mengapa sequence landing yang seharusnya sequence number two dimundurkan menjadi sequence number four dan jatah landing “diserobot pesawat lain. Suatu kondisi yang tidak menguntungkan karena seharusnya pihak ATC memahami bahwa pesawat latih ini memasuki cuaca buruk dengan peralatan navigasi seadanya dan dikendalikan oleh siswa walaupun ada seorang Instruktur di kursi belakang bahkan sebelumnya sudah sempat diberi sequence kedua ternyata dimundurkan tanpa alasan yang jelas. Dengan keterbatasan peralatan, jumlah fuel yang semakin menipis dan cuaca buruk penulis ingin  ke Bandara Ngurah Rai yang sesuai perhitungan cukup untuk menuju ke sana, tetapi dengan jarak yang tidak jauh antara Lombok dan Bali sehingga cuaca di sana pun tidak jauh berbeda dengan di Lombok, belum lagi traffic di Bandara Ngurah Rai lebih padat.

Foto doc pribadi

Tanpa protes kepada pihak ATC akhirnya penulis mencoba untuk mengikuti apa yang telah ditentukan walaupun dengan emosi yang mulai membara. Ketidakpercayaan terhadap siswa di kursi depan pun mulai tumbuh karena ada pepatah dalam penerbangan bahwa “pembunuhmu adalah siswa pandaimu”. Terasa berat stick control  karena penulis beranggapan siswa terlalu tegang karena situasi kurang menguntungkan tersebut. Seakan-akan siswa dari depan menarik stick control terus ke posisi climbing, referensi dari artificial horizon pun menunjukan posisi climbing, sebaliknya penulis menahan stick terus ke depan sambil menginstruksikan “siswa agar jangan tegang!” ternyata diluar dugaan siswa tersebut mengatakan dia menahan stick karena posisi pesawat sudah menukik dengan percepatan 2500 ft/menit ke bawah. Bisa dikatakan jika kesadaran terlambat tidak sampai dua menit pesawat sudah masuk dalam bumi “naudzubillah”. Segera dengan kesadaran dan berpatokan pada vertcal speed indicator penulis mengangkat pesawat sesuai dengan limitasi  performance yang diijinkan.   Alhamdulillah masih dilindungi Allah dan diberi keselamatan. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat walaupun dalam kondisi below weather minima.

Dari kasus tersebut dapat dianalisa bahwa saat itu telah tejadi dispartial orientation pada diri penulis dikarenakan cuaca buruk dan artificial horizon pesawat di kursi belakang sebagai instrument utama yang menujukkan posisi pesawat terhadap sumbu horizontal error. Sehingga penulis tidak mendapatkan referensi yang benar dari indicator tersebut. Beruntung instrument di kursi depan milik siswa masih bagus dan siswa memiliki reaksi yang baik terhadap kondisi tersebut. Suatu pengalaman yang haram untuk dirahasiakan karena tentunya akan sangat berguna bagi dunia penerbangan jika hal-hal demikian dijadikan pelajaran untuk selalu allert dikemudian hari.

Alhamdulillah…Allah telah selamatkan kami….

Wassalam

SevenEleven