Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Apakah Tradisi Kalah Dalam Sepak Bola Wajib Dipertahankan?

Credit Foto by http://www.wartanews.com

Memang belum rejekinya Timnas kita menang melawan Bahrain maupun Iran. Rakyat dan seluruh pendukung Sang Merah Putih sangat  menginginkan Dwiwarna berkibar di kancah Piala Dunia yang akan datang.  Ada aksi maka selalu akan ada reaksi, puluhan tahun para pendukung timnas menantikan kemenangan Indonesia dan tentunya bukan harapan para pejuang lapangan hijau untuk selalu kalah, karena terlihat usaha yang begitu keras walaupun diluar kemampuan. Kemudian, ada apa dengan suporter kita? Membakar mercon dan menakut-nakuti pemain Barhain kah? Saya rasa pemain Bahrain cuma bisa tertawa mendengar mercon meletus, toh mereka dari tanah Arab yang notabene kanan-kiri depan belakang Negaranya sering meletus bom-bom perang.

Beberapa pertanyaan muncul dari hasil pertandingan Sepak Bola antara Indonesia dan Bahrain. Apakah Bangsa kita memang ditakdirkan menjadi bangsa yang selalu kalah? Tegas saya mengatakan “TIDAK”!! karena sejarah membuktikan bahwa  Bangsa kita termasuk salah satu Bangsa yang tidak bisa ditaklukan oleh tentara Khan Agung dari Mongol. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Bangsa kita tercipta dengan kodrat sebagai Bangsa yang bodoh? “TENTU TIDAK”. Faktor Habibie, metode Habibie merupakan teori yang digunakan Perusahaan Penerbangan seperti Airbus maupun Fokker, sedangkan Habibie adalah orang asli Indonesia dan masih banyak Habibie-Habibie lain di bumi Indonesia ini. Pertanyaan ketiga adalah, apakah Bangsa kita termasuk keturunan Bangsa Barbar yang brutal? “TIDAK”. Bangsa kita adalah keturunan dari ras Mongoloid, sedangkan bangsa barbar adalah dari ras kaukasoid.

Kemudian mengapa dalam hampir setiap pertandingan sepak bola bangsa kita sering kalah, bahkan terakhir ketika melawan Bahrain di “kandang” sendiri pun kalah sehingga membakar emosional supporter yang akhirnya membakar mercon kampungan. Jangan jadikan penonton sebagai kambing hitam dengan mengatakan “mental pemain turun, fisik melemah karena pertandingan ditunda 15 menit sehingga badan dingin, moril pemain turun karena suara mercon dll”, karena dari awal pertandingan berlangsung aman dan supporter pun 100% mendukung  timnas Indonesia. Realitanya dukungan dijawab dengan Gol  1-0 diparuh waktu pertama dan Gol 0-2 dibabak kedua. Kembali ke teori antara aksi dan reaksi. Rakyat yang sudah hidup susah hanya ingin sekedar melihat Bendera nya berkibar di Brazil saja masa juga tidak bisa???

Ayo…Bangkit! Bangkit! Bangkit!

Sepak Bola Indonesia harus diawaki oleh pemain-pemain yang pandai dan fisik prima sehingga bisa mengatur strategi serta mengolah bola dengan taktik, bukan oleh orang-orang yang “aji mumpung” tenar buat cari nafkah. Sepak Bola Indonesia harus diisi oleh orang-orang yang pintar dan rela berkorban untuk mengatur oraganisasi PSSI dengan optimal, bukan oleh orang-orang yang menggunakan kepintaran untuk berseteru berebut kursi “panas” Sang Ketua”. Huff…What to say? Nasi sudah menjadi bubur, tetapi makan bubur pun kita tak “Mati”. Mari kita “masak” lagi “berasnya”  agar menjadi “Nasi” yang enak dan matang untuk dinikmati Bangsa Indonesia.

 

Wassalam

 

SevenEleven

Advertisements

Pasukan Garuda Timnas Indonesia (Football Nationalism)

Pasukan Garuda Timnas Indonesia (Football Nationalism)

Garuda…didadaku…Garuda…kebanggaanku…

Ketika mendengarnya seketika otak mengirim signal ke susunan  syaraf tulang belakang dan sampai ke syaraf panca indera sehingga  membangkitkan emosi rasa cinta tanah air serta membuat bulu roma berdiri karena rasa bangga. Pertengahan tahun 2010 dirasakan sebagai tonggak kebangkitan persepakbolaan di tanah air, ketika saat itu pasukan timnas Garuda dengan kostum Merah Putihnya bertarung di lapangan hijau dalam pertandingan sesama Negara ASEAN.

Mulai dari tukang sapu sampai pejabat daerah, PNS bawahan sampai anggota DPR, artis, dokter, pilot dan profesi lainnya disatukan oleh penampilan timnas yang memukau. Mulai dari radio 12 band sampai dengan televisi 50 inch pada saat itu menampilkan acara pertandingan sepak bola dengan penuh harapan. Harapan kemenangan tim nasional Indonesia di tengah-tengah bangsa yang sedang “panas” oleh situasi politik dan korupsi. Bahkan saya yakin koruptor paling kelas kakap pun saat itu ikut menyaksikan pertandingan dari dalam jeruji besi dan berharap Indonesia tampil sebagai juara. Indonesia tampil kembali di ajang Internasional, terutama piala dunia 2014.

Seorang teman berkata, “saya paling tidak suka nonton sepak bola, karena hanya menghabiskan waktu istirahat saja” tetapi saat pertandingan tersebut berlangsung, teman tersebut duduk di kursi paling depan dalam acara “nonton bareng” pertandingan Indonesia vs Malaysia. Indonesia ternyata masih bisa bersatu, Indonesia masih bisa melupakan persaingan dan perebutan kekayaan dan kakuasaan, Indonesia ternyata masih bisa berada dalam satu visi, tim nasional sepak bola Indonesia menyatukan apa yang terpisah dari bangsa ini.

Indonesia Menang! Indonesia Menang! Demikian sorak sorai rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, sorak sorai seorang mantan GAM di Provinsi NAD sampai suara seorang OPM di Papua Barat. Semua terpacu oleh nasionalisme yang tidak dibuat-buat. Pertanyaannya, kenapa nasionalisme seperti ini belum bisa diterapkan dalam bidang politik dan ekonomi? Dimana para lakon bangsa memiliki visi yang sama untuk saling mendukung, bahu membahu membangun bangsa ini, agar Bangsa Indonesia tampil di muka dunia sebesar dan seluas Negaranya. Bisakah? Mampukah? Kenapa tidak?

Credit foto by Google

Garuda…didadaku…Garuda…kebanggaanku…

Walaupun malam ini kalian menerima kemenangan yang tertunda ketika melawan Iran dalam pra piala dunia 2014, maju terus persepakbolaan Nasional. Pacu terus semangatmu! Agar semua komponen bangsa ini bersatu dengan nasionalisme yang kalian ciptakan. Pejuang tidak selalu lahir di medan peperangan, tetapi juga lahir di lapangan hijau. Mari kita jawab tantangan ini.

Wassalam

Seven Eleven