Komunikasi Sosial Militer Yang Humanis Terhadap Lingkungan Masyarakat Dalam Menjaga Ketetapan Integerasi Bangsa dan Negara

Capt. Teddy Hambrata Azmir

Abstrak: Komunikasi sosial adalah sangat penting untuk untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri serta menciptakan hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar. Dalam kehidupannya, manusia selalu terlibat dalam interaksi dan aktivitas komunikasi. Sebagai salah satu syarat utama dalam kehidupan manusia, sekaligus mengkhultuskan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia sejak lahir sudah membutuhkan interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya, hingga terciptanya sebuah persepsi-persepsi antara sesama manusia sehingga dengan komunikasi sosial yang baik dapat memenuhi kebutuhan emosional manusia serta meningkatkan kesehatan mental. Komunikasi sosial yang memberikan pengakuan diri terhadap orang lain, maupun dari orang lain terhadap diri kita yang kemudian dapat meningkatkan kreativitas manusia dan mengurangi agresivitas negatif. Dalam essay ini bermaksud untuk memberi gambaran kepada semua pihak tentang peran militer di Indonesia untuk melaksanakan komunikasi sosial yang baik dalam masyarakat dengan tujuan agar terciptanya hubungan yang harmonis dengan masyarakat dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Kata Kunci: Komunikasi, Sosial, Security, Pertahanan, NKRI.

1. UMUM
Sebagai garda terdepan sekaligus benteng terakhir pertahanan negara, Tentara Nasional Indonesia senantiasa semaksimal mungkin untuk mempertaruhkan jiwa dan raga demi keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia. Demi kepentingan nasional Tentara Nasional Indonesia pun akan selalu mengawal Bangsa Indonesia menuju tercapainya tujuan nasional negara Indonesia dengan rakyat yang adil dan makmur; mencapai kesejahteraan umum; serta ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Mengingat tanggung jawab yang demikian besar maka telah diatur tugas pokok Tentara Nasional Indonesia sesuai UU TNI Pasal 7 ayat (1), Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Peran komunikasi dalam hubungan sosial antara Tentara Nasional Indonesia dengan rakyat sudah semestinya bukanlah suatu hal yang langka di bumi Indonesia. Dimana sesuai dalam UU TNI pasal 2 pun menyebutkan jati diri Tentara Nasional Indonesia sebagai Tentara Rakyat, Tentara Rakyat dimaksud sebagai prajurit yang berasal dari rakyat; dibentuk oleh rakyat; dan di gunakan kekuatannya untuk kepentingan rakyat. Membangun konsep diri untuk menemukan jati diri yang baik, dengan mengedepankan komunikasi sosial yang humanis. Ketika manusia tidak dapat berkomunikasi dengan manusia lain, maka manusia tersebut tidak akan mempunyai kesadaran diri bahwa dirinya adalah manusia (Yoyon Mudjiono, 3:2012). Suatu kewajaran ketika kemajuan zaman rakyat menghendaki militer sebagai bagian tak terpisah dari rakyat; dapat berbaur dengan rakyat dan dapat dicintai oleh rakyat sebagai komunitas asal Tentara Nasional Indonesia itu sendiri. Karya tulis ini akan menyampaikan berbagai upaya yang dapat di lakukan Tentara Nasional Indonesia sebagai bagian dari rakyat untuk dapat melakukan komunikasi sosial yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. DASAR PEMIKIRAN
​Dalam penyusunan naskah ini, dipergunakan beberapa dasar pemikiran yang terkait dengan pembahasan sebagai berikut :
a. Undang-Undang TNI Pasal 2 ayat (a), tentang jati diri Tentara Nasional Indonesia sebagai Tentara Rakyat yang berasal dari rakyat, dibentuk oleh rakyat dan digunakan kekuatannya untuk melindungi segenap rakyat Indonesia
b. Undang-Undang TNI pasal 6, tentang fungsi Tentara Nasional Indonesia sebagai penangkal, penindak dan pemulih dari segala macam bentuk ancaman yang datang dari luar maupun dalam negeri. Mengingat tren ancaman berbentuk informasi yang gencar mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.
c. Undang-Undang TNI pasal 7 ayat (1), tentang tugas pokok Tentara Nasional Indonesia, menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

3. DINAMIKA KOMUNIKASI SOSIAL MILITER INDONESIA
​Panglima Besar Sudirman pernah mengatakan bahwa ”satu-satunya milik Nasional yang tidak pernah berubah adalah Tentara Nasional Indonesia”. Demikian merupakan suatu amanah dari pendiri Tentara Nasional Indonesia agar TNI tetap berdiri dan berada ditengah-tengah masyarakat Indonesia serta ikut berkontribusi dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Lepas 14 tahun sejak reformasi Nasional Indonesia, saat ini TNI mulai kembali mendapatkan tempat di hati rakyat dimana pasca reformasi hingga tahun 2004, TNI mendapatkan perhatian khusus dari seluruh rakyat Indonesia untuk sesegera mungkin mereformasi tubuhnya agar lebih demokratis humanis terhadap masyarakat Indonesia. Walaupun satu hal yang perlu diingat bahwa untuk menyatukan negeri dan menjadi jembatan untuk kehidupan Indonesia menuju negara yang maju di dunia bukanlah hal yang mudah namun telah dilakukan oleh TNI dengan cukup sukses hingga saat ini. Beberapa contoh bahwa TNI benar-benar telah memenuhi bentuknya sesuai dengan keinginan rakyat melalui komunikasi sosial yang baik antara lain:
a. Dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia mulai tahun 2004, TNI telah benar-benar ikut menjadi pengaman yang netral dari kehidupan politik praktis sehingga agenda Pemilu Nasional yang kemudian dilaksanakan juga pada tahun 2009 juga murni bahwa peran TNI hanya sebagai pengamanan stabilitas Nasional hingga terlaksananya acara Pemilu dapat berhasil dengan aman dan nyaman bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Dwi fungsi ABRI, suatu peran ganda TNI pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dirasakan sudah tidak relevan bagi kehidupan demokrasi Bangsa Indonesia dan kemudian berdasarkan permintaan seluruh rakyat Indonesia TNI juga telah menghapuskan peran dwi fungsi ABRI tersebut diikuti oleh berhentinya Fraksi TNI dalam perwakilan rakyat di legislatif Nasional, sehingga TNI yang benar-benar profesional dapat segera diwujudkan di bumi Indonesia Raya.
c. Senantiasa tetap bekerja sama dan berkoordinasi dengan instansi terkait seperti lembaga pemerintahan pusat maupun daerah dan Non Goverment Organization (NGO), TNI juga terus melaksanakan kegiatan, antara lain:
1. Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD), yaitu suatu bentuk kegiatan sosial yang dilakukan TNI untuk membangun desa-desa tertinggal; pulau terluar dan terdepan; daerah perbatasan; dan daerah rawan konflik, dengan harapan TNI akan selalu menjadi rekan baik untuk rakyat menuju masyarakat adil, makmur, aman dan sejahtera.
2. Sesuai dengan jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat; Tentara Pejuang; Tentara Nasional;dan Tentara Profesional, maka di masa damai TNI senantiasa melaksanakan tugasnya dalam Operasi Militer Selain Perang. Menjadi kekuatan utama dalam operasi penanggulangan bencana alam TNI bisa diyakini sebagai pembangkit kekuatan moral Indonesia sehingga TNI kembali menjadi warga negara idola bukan karena kekuatan ototnya, namun idola karena perannya yang benar-benar berada ditengah-tengah rakyat Indonesia dalam kondisi perang maupun masa damai.
3. Tentara Nasional Indonesia sebagai angkatan perang yang dipersenjatai, namun selain di daerah operasi atau dimasa prajurit damai benar-benar meletakkan senjata di gudang senjata, sebagai wujud bahwa TNI sangat ingin berbaur dengan rakyat dan tidak menakut-nakuti hati rakyat dengan membawa senjata di pinggang sesuai dengan isi delapan wajib TNI yang sungguh-sungguh diamalkan oleh angkatan perang yang dicintai rakyat.
d. Media Sosial. Di era teknologi informasi saat ini, hampir seluruh lapisan masyarakat dunia terjaring dalam media sosial seperti facebook, twitter, path dan lain sebagainya. Dalam beberapa hal media sosial seperti ini sangat bermanfaat apabila digunakan institusi militer untuk mengedepankan sisi humanisnya karena dengan biaya yang relatif murah, semua lapisan masyarakat dapat berinteraksi di dalamnya secara langsung

4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
​Beberapa hal diatas merupakan suatu gerakan positif yang telah dilakukan TNI dalam rangka menunjukkan perannya dalam kehidupan sosial dengan masyarakat Indonesia demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan komunikasi sosial militer negara terhadap lingkungannya, antara lain:
a. Geopolitik. Perubahan suhu dan iklim politik negara yang mengalami pancaroba dari orde lama kepada orde baru kemudian memasuki fase reformasi, tentunya menjadi pengaruh yang sangat besar bagi komunikasi sosial militer negara dengan rakyat. Dimana sebelum bergulirnya reformasi, semua serba dibatasi dengan aturan-aturan tidak tertulis sehingga semua rakyat dan termasuk militer di dalamnya tidak bebas menyampaikan ide positifnya. Setelah era reformasi, militer dituntut untuk tampil lebih humanis luar dan dalam, dimana komunikasi dari dalam keluar harus bisa diterima oleh rakyat secara baik.
b. Geoekonomi. Indonesia yang menjadi sorotan pandang dunia sebagai suatu wilayah yang begitu memukau, sehingga semua masyarakat dunia menginginkan untuk berperan dari segi ekonomi di negeri Indonesia tercinta ini. Segala potensi ekonomi menuntut masyarakat untuk bersaing secara apapun caranya dan dalam berinteraksi pada akhirnya memunculkan komunikasi sosial antara seluruh rakyat termasuk militer di dalamnya.
c. Budaya. Beragam budaya yang berasal dari ribuan adat istiadat yang berada di bumi Nusantara, sehingga secara langsung mempengaruhi corak dan ragam komunikasi msayarakat dimana militer dalam hal ini TNI termasuk dalam rakyat yang mau tidak mau ikut berinteraksi dalam komunikasi sosial di dalamnya.

5. VISI KOMUNIKASI SOSIAL MILITER INDONESIA
​Walaupun TNI telah melakukan berbagai hal yang terasa langsung di hati masyarakat, untuk meningkatkan peran komunikasi sosial militer negara maka beberapa hal yang diharapkan kedepannya, antara lain:
a. Peran pengawalan demokrasi menuju kembali kepada demokrasi Pancasila. Satu-satunya institusi yang berdemokrasi masih sesuai dengan Pancasila adalah TNI, demokrasi yang bertanggung jawab serta tidak kebablasan. Di era reformasi, pimpinan TNI telah berupaya mengubah paradigma dengan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para prajurit yang mampu untuk menyampaikan gagasan dan ide positif dengan tetap berada dalam jalur dan kaidah-kaidah yang Pancasilais. Mengawal era reformasi dibawah panji-panji demokrasi berasas Pancasila yang ber-KeTuhanan, berkemanusiaan, persatuan dan kesatuan, penuh jiwa kerakyatan dalam musyawarah untuk mufakat demi terciptanya keadilan sosial bagi bangsa dan Negara.
b. Mengembalikan peran komunikasi sosial yang ada dalam dwifungsi ABRI. Kita pahami bahwa dwifungsi ABRI memang sudah tidak relevan di era reformasi dan kebebasan berpendapat saat ini. Namun dalam hal komunikasi sosial demi menjaga keharmonisan antara militer dan rakyat, ada beberapa hal yang tetap perlu dilestarikan dari warisan dwifungsi ABRI tersebut, yaitu: peran politik militer dalam urusan pemerintahan. Namun, yang diharapkan bukan mengembalikan peran militer dalam politik itu sendiri, melainkan, militer harus mampu menjadi kaki pondasi yang kuat dalam menjaga kestabilitasan dan dinamika politik negara. Prajurit TNI tetap dilarang untuk berpolitik, namun mereka harus memahami dan menguasai peta politik negara agar dapat ikut serta membatasi kebebasan berpendapat yang seringkali menyebabkan perkelahian memalukan diantara anggota parlemen dengan pemerintahan.
c. Menjalin komunikasi positif kepada Organisasi non pemerintah agar dengan komunikasi sosial yang humanis diharapkan dapat merangkul mereka untuk menjadi mitra TNI dalam ikut serta menjaga kestabilitasan dan dinamika politik negara yang terjadi. Bersama-sama mereka untuk membantu rakyat yang mengalami kesulitan dan bencana serta memberi penyuluhan-penyuluhan agar dikemudian hari, seluruh organisasi non pemerintahan benar-benar memahami perannya untuk ikut serta melakukan peran bela negara.
d. Kesadaran Keamanan Informasi. Dalam setiap tindakan komunikasi selalu memiliki suatu tujuan. Dan dalam era saat ini di tengah-tengah dunia sosial media yang sedang marak sudah pasti komunikasi sosial dapat dengan mudah dan cepat disampaikan melalui surat kabar, majalah, radio, televisi baik berupa konvensional maupun elektronik media seperti facebook, youtube, twitter maupun google share. Melalui media serba cepat tersebut pun dapat dilakukan suatu upaya propaganda di dalamnya melalui pembentukan opini-opini (M. Shoelhi, 107:2012). Dari kondisi ini sangat diharapkan kesadaran setiap personel militer untuk menjaga keamanan diri masing-masing daripada serangan media sosial agar dapat lebih berhati-hati dan menempatkan sisi positif dari kecanggihan teknologi informasi saat ini.

6. PENUTUP
Tulisan ini telah mengemukakan empat hal dalam rangka menciptakan komunikasi sosial yang humanis antara militer negara dengan seluruh rakyat Indonesia yang nantinya bertujuan terhadap tetap terjaganya integrasi dan keutuhan NKRI. Mengawal jalannya proses demokrasi agar tetap berada dalam gerbong Pancasila; memperkuat kaki pondasi politik negara dengan komunikasi sosial; menjalin komunikasi positif terhadap organisasi non pemerintahan; serta menumbuhkan kesadaran personel untuk menjaga keamanan informasi. Diawali dengan komunikasi sosial yang baik maka militer yang lebih humanis di mata rakyat Indonesia sehingga benar-benar menjadi garda terdepan dan benteng terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Shoelhi, Mohammad. 2012. Propaganda Dalam Komunikasi Internasional. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. 107-117
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang TNI Pasal 2 ayat (a)
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang TNI Pasal 6
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang TNI Pasal 7 ayat 1
Mudjiyono, Yoyon., 2012. Komunikasi Sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol.2, No.1, April 2012

Advertisements

Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit

                               Catatan Safety Seorang Pengajar Tentara Langit                                 
 

Berada di ketinggian 12.000 kaki dari permukaan tanah dengan kecepatan rendah sekitar 180 Kias membawa sebuah pesawat latih dalam penerbangan Navex dari Jogjakarta menuju pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Semua procedure mulai dari brifing pagi sampai dengan cek kesiapan pesawat berlangsung lancar dan aman. Penerbangan dari Adisujtipto menuju Selaparang short stop di Lanud Abdurrahman saleh malang. Catatan satelit cuaca dalam rute Abd-Mtm memang tidak begitu bagus, di beberapa check point terlihat berawan dan berpotensi hujan dengan thunderstorm. Akan tetapi dengan persiapan yang matang penulis memutuskan untuk melanjutkan penerbangan walaupun menggunakan peralatan navigasi konvensional.

Melewati check point “Entas” menuju “Agung” terlihat dari arah tenggara berkumpul awan “CB” dan diprediksi berada di ketinggian 8000 kaki. Penulis menyadari bahwa itulah medan juang yang harus dilewati sebelum landing di Bandara Selaparang. Air Traffic Controller menyampaikan pesan untuk segera turun di ketinggian 6000 kaki dan holding beberapa saat di atas “MTM” yaitu stasiun “VOR” Bandara Selaparang. Entah mengapa sequence landing yang seharusnya sequence number two dimundurkan menjadi sequence number four dan jatah landing “diserobot pesawat lain. Suatu kondisi yang tidak menguntungkan karena seharusnya pihak ATC memahami bahwa pesawat latih ini memasuki cuaca buruk dengan peralatan navigasi seadanya dan dikendalikan oleh siswa walaupun ada seorang Instruktur di kursi belakang bahkan sebelumnya sudah sempat diberi sequence kedua ternyata dimundurkan tanpa alasan yang jelas. Dengan keterbatasan peralatan, jumlah fuel yang semakin menipis dan cuaca buruk penulis ingin  ke Bandara Ngurah Rai yang sesuai perhitungan cukup untuk menuju ke sana, tetapi dengan jarak yang tidak jauh antara Lombok dan Bali sehingga cuaca di sana pun tidak jauh berbeda dengan di Lombok, belum lagi traffic di Bandara Ngurah Rai lebih padat.

Foto doc pribadi

Tanpa protes kepada pihak ATC akhirnya penulis mencoba untuk mengikuti apa yang telah ditentukan walaupun dengan emosi yang mulai membara. Ketidakpercayaan terhadap siswa di kursi depan pun mulai tumbuh karena ada pepatah dalam penerbangan bahwa “pembunuhmu adalah siswa pandaimu”. Terasa berat stick control  karena penulis beranggapan siswa terlalu tegang karena situasi kurang menguntungkan tersebut. Seakan-akan siswa dari depan menarik stick control terus ke posisi climbing, referensi dari artificial horizon pun menunjukan posisi climbing, sebaliknya penulis menahan stick terus ke depan sambil menginstruksikan “siswa agar jangan tegang!” ternyata diluar dugaan siswa tersebut mengatakan dia menahan stick karena posisi pesawat sudah menukik dengan percepatan 2500 ft/menit ke bawah. Bisa dikatakan jika kesadaran terlambat tidak sampai dua menit pesawat sudah masuk dalam bumi “naudzubillah”. Segera dengan kesadaran dan berpatokan pada vertcal speed indicator penulis mengangkat pesawat sesuai dengan limitasi  performance yang diijinkan.   Alhamdulillah masih dilindungi Allah dan diberi keselamatan. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat walaupun dalam kondisi below weather minima.

Dari kasus tersebut dapat dianalisa bahwa saat itu telah tejadi dispartial orientation pada diri penulis dikarenakan cuaca buruk dan artificial horizon pesawat di kursi belakang sebagai instrument utama yang menujukkan posisi pesawat terhadap sumbu horizontal error. Sehingga penulis tidak mendapatkan referensi yang benar dari indicator tersebut. Beruntung instrument di kursi depan milik siswa masih bagus dan siswa memiliki reaksi yang baik terhadap kondisi tersebut. Suatu pengalaman yang haram untuk dirahasiakan karena tentunya akan sangat berguna bagi dunia penerbangan jika hal-hal demikian dijadikan pelajaran untuk selalu allert dikemudian hari.

Alhamdulillah…Allah telah selamatkan kami….

Wassalam

SevenEleven

Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

Tentang Ruang Udara Bangsa Bertuah

 Setiap Negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif terhadap ruang udara di atas wilayahnya, dan tidak dikenal adanya hak lintas damai (sesuai dengan Konvensi Geneva 1944). Membaca pernyataan tersebut maka akan timbul beberapa pertanyaan penting bagi kita rakyat Indonesia. Seberapa luaskah ruang udara yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia? Seberapa kuatkah kemampuan bangsa Indonesia untuk menjaga wilayah dirgantaranya?

Berbicara tentang batas wilayah ruang udara suatu negara maka tidak lepas dari istilah GSO (Geo Stationery Orbit). GSO adalah ruang udara dimana suatu ruang udara yang dapat digunakan sebagai garis orbit satelit. GSO hanya berada pada ruang udara yang berada di atas garis Khatulistiwa seperti Indonesia, Kolombia, Ekuador, Brazil, Zaire, Uganda dan Kenya. Sedangkan Menurut Prof DR H Priyatna Aburrasyid, SH (mantan  Direktur International Institue of Space Law) panjang GSO yang melintas di atas ruang udara NKRI sejauh sekitar 35 ribu kilometer.

 

                           Credit Foto by Google

Melihat betapa luasnya GSO yang kita miliki, tidak salah jika penulis katakan bahwa kekayaan NKRI di wilayah udara pun sangat besar. Seandainya negara-negara maju yang menggunakan ruang udara NKRI memberikan kontribusi untuk devisa negara. Semua peralatan seperti televisi, radio maupun GPS bahkan persenjataan militer mutakhir pasti menggunakan  teknologi yang berkaitan dengan satelit. Maka sangat besar keuntungan yang akan masuk ke kas negara. Kenyataan berkata sebaliknya, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kita dimasa lampau maka hukum rimba yang berlaku “first come first serve”.

Harus diakui ketidakmampuan bangsa kita sampai saat ini untuk menjaga dan memanfaatkan kekayaan dirgantara Indonesia yang begitu besar. Semua tidak lepas dari peran kekuatan militer yang kita miliki. Kemungkinan besar bangsa yang besar ini tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa di dunia karena tidak mampu bersaing dalam hukum rimba yang telah berjalan puluhan tahun karena kekuatan militer yang masih lemah. Jika dilihat dari data yang ada saat ini, memang alutsista yang Indonesia miliki tergolong banyak, tetapi masih kurang banyak jika dibandingkan dengan luasnya negara ini.

Tidak terlalu muluk-muluk sebenarnya jika kita bermimpi NKRI akan menjadi kekuatan utama di dunia dan menguasai kekuatan dunia, karena potensi yang kita miliki memang sangat besar. Dengan menguasai ruang udara yang seharusnya milik kita maka semua negara-negara didunia akan sangat bergantung pada bangsa yang bertuah ini. Karena Kekaisaran Mongol saja membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat menguasai ¾ wilayah Euroasia dan kekhalifahan muslim dimasa lampau pun untuk dapat menguasai konstantinopel membutuhkan berabad-abad. Jadi bukan mustahil NKRI pun bisa jika mempunyai komitmen berbangsa dan tanah air.

“Hanya sebuah pemikiran awam seseorang yang ingin menjadi lebih baik dari hari ini”

 

Wassalam

SevenEleven